MAKNA BAPAK DALAM PENDEKATAN PSIKOLOGIS DAN HAKIKAT BERJABAT TANGAN
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi, 29 Ramadhan 1438 Hijriyah
Beruntunglah kalian yang masih bisa mencium tangan seorang bapak, bercengkrama dengan nya sambil menceritakan suka duka nya menjalani kehidupan. Bahkan disaat lebaran nanti, kalian masih bisa sungkem kepada nya sambil meminta doa restu agar dipermudah dalam segala hal. Dia adalah seorang laki-laki paruh baya yang mendambakan dan berusaha seoptimal mungkin dalam mendidik putra putri nya agar menjadi permata yang elok, shaleh nan cerdas iman, hati, pikiran dan tindakan. Seorang laki-laki yang bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya dalam bingkai ridha illahi Rabbi serta laki-laki yang merindukan pelukan hangat dari putra putri tercinta nya.
Begitu besar jasa, perjuangan dan pengorbanan seorang bapak, sehingga grup band Seventeen pun mengabadikan namanya dalam sebuah lirik lagu “Ayah”, berikut cuplikan nya :
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah.
Waktu ibarat pedang. Yang sudah berlalu, tidak akan pernah dapat kembali seperti sedia kala. Oleh karenanya, selagi masih ada sosok nya maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyayangi, menghormati dan berbakti kepada nya, yang dapat dimanifstasikan dengan berbagai macam hal sebagai wujud rasa sayang dan hormat kita pada sosok bapak, yang kemungkinan antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Ada yang menjadikan tolak ukur untuk membahagiakan bapak nya ialah dengan menjadi orang kaya yang kemudian mencukupi segala kebutuhan nya, ada pula yang memberikan tolak ukur kebahagiaan untuk seorang bapak dengan manut (sami’na wa atho’na) dengan perintah bapak (perintah yang ma’ruf) sehingga term shalih/shalihah melekat dalam dirinya. Semuanya baik, dan semuanya tidak salah.
Oleh karenanya, mumpung masih diberi kesempatan melihat wajahnya, ungkapkanlah apa yang terbesit dalam benak. Karena hidup itu singkat, maka sampaikanlah apa yang terpendam di dalam hati. Sampaikan rasa terimakasih kepada nya karena telah membimbingmu untuk menemukan rencana Tuhan untuk diri mu.
Bahkan dalam pendekatan psikologis dengan berdasar pada pengalaman empirik, kedekatan emosional seorang anak kepada bapak dan ibu nya tergantung pada usia si anak. Bayi sampai umur 17 tahun mungkin ia lebih dekat kepada ibu nya, akan tetapi ketika umur 17 tahun keatas bahkan ketika seorang anak telah menikah, kedekatan emosional si anak cenderung kepada ayah nya. Sehingga wajar jika ada seorang anak (apalagi) anak perempuan yang bapak nya telah tiada, dia seneng banget kalau melihat bapak-bapak. Ketika melihat mereka, maka ia terbayang wajah bapak nya dan ingat akan curahan kasih sayang yang telah bapak berikan kepadanya.
Saya jadi teringat ketika teman saya presentasi tentang akhlaq kepada guru dan orangtua yang ketika itu berbicara mengenai adab seorang murid dan anak dalam paradigma islam. Ia mengatakan bahwa “salah satu bentuk penghormatan seorang murid kepada gurunya ialah dengan Bersalaman (berjabat tangan). Akan tetapi, berjabat tangan harus disesuaikan dengan jenis kelamin. Boleh bersalaman ketika guru laki-laki dengan murid laki-laki, tetapi jika guru tersebut laki-laki sedangkan muridnya itu perempuan, maka jangan bersalaman”.
Dalam konteks tersebut, ketika kita kembalikan kepada Al Qur’an dan hadits mungkin tekstual nya seperti itu. Akan tetapi, marilah kita kaji lebih dalam dengan pendekatan psikologis, emosional dan kontekstual kehidupan agar lebih berkesan nan bermakna. Menurut hemat saya, tidak selamanya bersalaman dengan lawan jenis (dalam konteks ini antara guru dengan murid) tidak diperbolehkan. Akan tetapi, kita harus melihat konteks (situasi dan kondisi). Ada kalanya seorang murid mengajak salaman kepada guru nya karena bapak dan atau ibu nya telah meninggal dunia, atau bahkan si murid tersebut lama tidak berjumpa dengan bapak/ibu nya karena mereka kerja diperantauan. Begitu pula ketika seorang guru mengajak salaman kepada muridnya, mungkin bisa jadi ia belum mempunyai buah hati atau bahkan guru tersebut sangat menyayangi dan mencintai murid-muridnya.
Marilah, kita melihat sesuatu lebih dalam. Jangan hanya menyimpulkan sesuatu berdasar pada satu paradigma akan tetapi haruslah memposisikan diri dengan berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Bukankah dalam nya laut bisa di tebak, namun dalam nya hati manusia siapa yang tau? Karena hakikat kebahagiaan ialah melihat orang lain bahagia.
Jika engkau seorang guru, ulurkan lah tanganmu dan ikhlaskan untuk dipegang erat oleh tangan-tangan kecil muridmu. Bisa jadi satu diantara mereka akan selalu mengingat dan mendoakanmu. Begitu pula Jika engkau seorang murid, berbahagialah jika sedang berjabat tangan dengan gurumu, karena faktanya bukan kecerdasan, bukan pula materi ataupun fisik yang menjadikan seorang sempurna serta dapat mengantarkan pada keberhasilan hidup, tetapi karena barakah ilmu yang didapat dengan ta’dzim kepada guru.
Dan pada akhirnya, berjabat tangan merupakan salah satu cara sederhana untuk mengobati rindu sekaligus merupakan simpul perdamaian, simpul kasih sayang, simpul keakraban dan simpul penghormatan.
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi, 29 Ramadhan 1438 Hijriyah
Beruntunglah kalian yang masih bisa mencium tangan seorang bapak, bercengkrama dengan nya sambil menceritakan suka duka nya menjalani kehidupan. Bahkan disaat lebaran nanti, kalian masih bisa sungkem kepada nya sambil meminta doa restu agar dipermudah dalam segala hal. Dia adalah seorang laki-laki paruh baya yang mendambakan dan berusaha seoptimal mungkin dalam mendidik putra putri nya agar menjadi permata yang elok, shaleh nan cerdas iman, hati, pikiran dan tindakan. Seorang laki-laki yang bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya dalam bingkai ridha illahi Rabbi serta laki-laki yang merindukan pelukan hangat dari putra putri tercinta nya.
Begitu besar jasa, perjuangan dan pengorbanan seorang bapak, sehingga grup band Seventeen pun mengabadikan namanya dalam sebuah lirik lagu “Ayah”, berikut cuplikan nya :
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah.
Waktu ibarat pedang. Yang sudah berlalu, tidak akan pernah dapat kembali seperti sedia kala. Oleh karenanya, selagi masih ada sosok nya maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyayangi, menghormati dan berbakti kepada nya, yang dapat dimanifstasikan dengan berbagai macam hal sebagai wujud rasa sayang dan hormat kita pada sosok bapak, yang kemungkinan antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Ada yang menjadikan tolak ukur untuk membahagiakan bapak nya ialah dengan menjadi orang kaya yang kemudian mencukupi segala kebutuhan nya, ada pula yang memberikan tolak ukur kebahagiaan untuk seorang bapak dengan manut (sami’na wa atho’na) dengan perintah bapak (perintah yang ma’ruf) sehingga term shalih/shalihah melekat dalam dirinya. Semuanya baik, dan semuanya tidak salah.
Oleh karenanya, mumpung masih diberi kesempatan melihat wajahnya, ungkapkanlah apa yang terbesit dalam benak. Karena hidup itu singkat, maka sampaikanlah apa yang terpendam di dalam hati. Sampaikan rasa terimakasih kepada nya karena telah membimbingmu untuk menemukan rencana Tuhan untuk diri mu.
Bahkan dalam pendekatan psikologis dengan berdasar pada pengalaman empirik, kedekatan emosional seorang anak kepada bapak dan ibu nya tergantung pada usia si anak. Bayi sampai umur 17 tahun mungkin ia lebih dekat kepada ibu nya, akan tetapi ketika umur 17 tahun keatas bahkan ketika seorang anak telah menikah, kedekatan emosional si anak cenderung kepada ayah nya. Sehingga wajar jika ada seorang anak (apalagi) anak perempuan yang bapak nya telah tiada, dia seneng banget kalau melihat bapak-bapak. Ketika melihat mereka, maka ia terbayang wajah bapak nya dan ingat akan curahan kasih sayang yang telah bapak berikan kepadanya.
Saya jadi teringat ketika teman saya presentasi tentang akhlaq kepada guru dan orangtua yang ketika itu berbicara mengenai adab seorang murid dan anak dalam paradigma islam. Ia mengatakan bahwa “salah satu bentuk penghormatan seorang murid kepada gurunya ialah dengan Bersalaman (berjabat tangan). Akan tetapi, berjabat tangan harus disesuaikan dengan jenis kelamin. Boleh bersalaman ketika guru laki-laki dengan murid laki-laki, tetapi jika guru tersebut laki-laki sedangkan muridnya itu perempuan, maka jangan bersalaman”.
Dalam konteks tersebut, ketika kita kembalikan kepada Al Qur’an dan hadits mungkin tekstual nya seperti itu. Akan tetapi, marilah kita kaji lebih dalam dengan pendekatan psikologis, emosional dan kontekstual kehidupan agar lebih berkesan nan bermakna. Menurut hemat saya, tidak selamanya bersalaman dengan lawan jenis (dalam konteks ini antara guru dengan murid) tidak diperbolehkan. Akan tetapi, kita harus melihat konteks (situasi dan kondisi). Ada kalanya seorang murid mengajak salaman kepada guru nya karena bapak dan atau ibu nya telah meninggal dunia, atau bahkan si murid tersebut lama tidak berjumpa dengan bapak/ibu nya karena mereka kerja diperantauan. Begitu pula ketika seorang guru mengajak salaman kepada muridnya, mungkin bisa jadi ia belum mempunyai buah hati atau bahkan guru tersebut sangat menyayangi dan mencintai murid-muridnya.
Marilah, kita melihat sesuatu lebih dalam. Jangan hanya menyimpulkan sesuatu berdasar pada satu paradigma akan tetapi haruslah memposisikan diri dengan berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Bukankah dalam nya laut bisa di tebak, namun dalam nya hati manusia siapa yang tau? Karena hakikat kebahagiaan ialah melihat orang lain bahagia.
Jika engkau seorang guru, ulurkan lah tanganmu dan ikhlaskan untuk dipegang erat oleh tangan-tangan kecil muridmu. Bisa jadi satu diantara mereka akan selalu mengingat dan mendoakanmu. Begitu pula Jika engkau seorang murid, berbahagialah jika sedang berjabat tangan dengan gurumu, karena faktanya bukan kecerdasan, bukan pula materi ataupun fisik yang menjadikan seorang sempurna serta dapat mengantarkan pada keberhasilan hidup, tetapi karena barakah ilmu yang didapat dengan ta’dzim kepada guru.
Dan pada akhirnya, berjabat tangan merupakan salah satu cara sederhana untuk mengobati rindu sekaligus merupakan simpul perdamaian, simpul kasih sayang, simpul keakraban dan simpul penghormatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar