Rabu, 10 Januari 2018


HAKIKAT PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA 
Oleh Mukaromah Asy Syarmidi

Satu hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 9 Januari 2018 didepan bangunan megah nan mewah ada seorang anak kisaran umur 20 th, ia berlari kencang sekencang-kencangnya dan mencium tangan seorang ibu yang (kira-kira) berusia 39 tahun, memakai sepatu, berpakaian rapi dan ‘kelihatanya’ berpendidikan formal. Anak itu mengucap ‘minta maaf’ sambil penuh penyesalan dan butuh dampingan psikologis (seharusnya di ayem-ayemi). Namun ibu itu berkata kasar sambil mendoakan anak itu dengan doa (yang menurut saya) sangat buruk dan tidak etis diucapkan oleh seorang yang ‘berpendidikan’. Beribu-ribu maaf terlontar dari bibir anak itu dengan tetesan air mata. Sedangkan ibu itu tetap’ngotot’ dengan amarahnya yang meldak-ledak dan tetap terlontar dari bibirnya doa-doa yang jelek. Karena tidak tahan, anak itu pergi berlari dan kemudian meninggalkan tempat itu.

Saya sebagai penulis kisah diatas (berdasar realita empirik) bergumam dalam hati, kok tega-teganya sseeorang marah-marah kepada orang orang lain, menyakiti hatinya, bahkan mendoakan anak tersebut dengan doa yang sangat jelek. Apakah ibu itu tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, apakah ucapan yang terlontar tersebut diluar kesadaran dan kendali-nya? Ibu itu tidak tau, anak tersebut siang-malam berkumpul dengan orang-orang shaleh nan berilmu, ia selalu meminta doa kepada orang-orang yang ia bantu dan ia temui bahkan orang yang baru di kenalpun ia ajak untuk saling mengingat dan saling mendoakan, ia mengabdikan dirinya dijalan Allah dan bukankah Allah telah berjanji bahwa orang yang memuliakan agama-Nya akan Allah muliakan? Allah saja memuliakan anak tersebut, lalu apakah pantas seorang ‘manusia biasa’ memarahi, berkata kasar dan mendoakan yang jelek-jelek?

Penulis teringat pesan dari Ayahanda tercinta (Alm), bahwa salah satu dari banyak hal kunci hidup ialah berkata baik. Karena ucapan adalah doa. Bapak juga mengilustrasikan bahwa hidup ini saling terkait antara satu dengan yang lain. Antara sub sistem satu dengan sub sistem yang lain saling berkorelasi sehingga membentuk suatu sistem yang saling bersinergi. Hidup bukan soal pendidikan tinggi atau tidak, bukan soal seberapa kaya harta dan seberapa mulia nasab seorang manusia. Orang lain/masyarakat tidak memandang hal itu, namun mereka melihat ‘seberapa baik akhlaq kita’, seberapa besar kita memuliakan dan memanusiakan manusia secara manusiawi. Begitupula hidup, penulis percaya dengan adanya berkah dalam hidup. Hidup enak, urusan-urusan dipermudah oleh Allah, istri/suami enak dipandang mata (nyenengke), mempunyai anak keturunan yang shaleh dan cerdas hati, iman, pikiran dan tindakan, badan sehat, punya saudara banyak dll. Hal itu bukan merupakan sesuatu yang instan dan begitu saja terjadi dalam kehidupan seorang manusia. Namun tentu karena ada “sebab yang menyebabkan suatu akibat”. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam banyak ayat yakni didalam Qs. Al Isra’ : 7, Qs. Az-Zalzalah :7-8, Qs. Luqman : 16, Qs. Al Anbiya’ : 7 tentang hukum kausalitas dalam kehidupan. Oleh dasar itu, Allah senantiasa memerintahkan kepada hamba-hamba Nya agar berbuat baik kepada makhluk-makhluk Nya, karena setiap perbuatan akan selalu dimintai pertanggungjawaban oleh Nya. Adanya kemudahan dan kebahagiaan hidup yang dijalani oleh seseorang karena berkah. Berkah itu ziyadatul khair (kebaikan yang selalu bertambah). Tentu berkah tidak datang secara instan namun karena perbuatan baik manusia dan doa dari orang-orang shaleh nan berilmu.

Sehingga tak ayal jika manusia merasa ‘terdzalimi’, hidupnya kacau balau, tidak aman dan tidak tentram mungkin (bisa jadi) ia pun juga mendzalimi orang lain, berbuat keji dan tidak baik kepada oranglain. Sehingga perbuatan baik dan atau buruk BUKAN merupakan taqdir yang telah Allah gariskan kepada manusia. Namun karena “kehendak bebas dari diri manusia itu sendiri”, sehingga manusia-lah yang dapat mengusahakannya.   Hal ini Allah tegaskan dengan firman Nya dalam Qs. 'Ali `Imran: 182, Qs. An-Nisa’: 40, Qs. Al-'Anfal : 51, Qs.Yunus : 44, Qs. Al-Haj: 10, Qs. Al-`Ankabut : 40 bahwa Allah tidak pernah mendzalimi dan berbuat kejelakan kepada manusia, namun manusia itu sendiri yang berbuat jelek kepada dirinya. Tentu term “kepada dirinya” bukan berarti secara kongkrit manusia mencabik-cabik tubuhnya sampai keluar darah, akan tetapi karena manusia berbuat keburukan dan mendzalimi orang lain sehingga hal itu berimbas kepada diri manusia tersebut.

Inilah yang terkadang sering dilupakan oleh mayoritas orang (termasuk saya). Adanya sesuatu karena adanya sesuatu yang lain. Jika hidup ingin dipermudah oleh Nya, maka permudahlah urusan orang lain, jika ingin disayang dan dicintai Allah maka sayangilah, hormatilah, muliakanlah dan cintailah makhluk-makhluk Nya. Inilah visi dari Islam, yakni Rahmatan lil ‘alamin. Bahkan Allah SWT memberikan rambu-rambu kepada manusia bahwa ibadah (Hubungan manusia dengan penciptaNya) tidak-lah sempurna, jika tidak dibarengi dengan muamalah (hubungan sesama manusia) yang baik.
Noorcholis Madjid (Bapak HMI Indonesia, pemikir, cendekiawan dan intelektual) mengatakan bahwa wujud dari Iman kepada Tuhan ialah memberikan keamanan, kenyamanan dan pelindungan kepada orang lain. Sehingga Iman tidak hanya dimaknai sekedar Percaya kepada Tuhan. Namun yang lebih utama dan pertama ialah mentransformasikan nilai-nilai keimananan dan keislaman itu dalam kehidupan sehari-hari.

Jika hal itu ditelisik lebih dalam sesungguhnya Inti dari semua ajaran agama adalah tentang kebaikan dan kemanusiaan. Marilah kita senantiasa berbuat baik dan memanusiakan manusia secara manusiawi. Jangan pernah menyakiti hatinya, karena kita tidak akan pernah mengetahui “nasib” orang lain seperti apa dan bagaimana, barangkali kita suatu saat butuh bantuannya, kan malu kalau udah nyakitin hatinya. Hehe.

Terakhir, saat kita marah dan kesal kepada orang lain, Ingatlah bahwa bisa jadi hati-nya terpaut dan terpatri kepada Allah SWT dan ia merupakan orang yang dekat dan sangat dekat dengan-Nya.
Anak jaman now mengatakan, meski sakit hati itu ibarat kaca pecah dan dapat disambung lagi tapi tidak bisa kembali seperti sedia kala, namun memaafkan jauh lebih besar manfaatnya bagi diri setiap manusia. Karena kebahagiaan berawal dari memaafkan, dan kebahagiaan itu letaknya ada didalam diri manusia dengan cara mengolah hati, akal, pikiran dan iman dengan sebaik-baiknya sehingga memanifestasikan tindakan (Akhlaq) yang baik dalam segala lini kehidupan untuk menuju insan paripurna. Seperti ngendikanipun dosen ilmu kehidupan saya, Dr. Radino. "Marilah kita belajar seperti air mengalir yang selalu mengaliri apapun yang ada disekitarnya, artinya membawa kesejukan dan kedamaian bagi makhluk-makhluk Nya. Itulah hakikat kehidupan dan kebahagiaan sejati".

Rabu, 03 Januari 2018

PERLINDUNGAN TERHADAP DISABILITAS DALAM HAL PENDIDIKAN
                                                     Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi




Setiap 3 Desember diperingati sebagai hari Difabel Internasional. Berbagai hak dan perlindungan terhadap disabilitas telah diatur dalam UU No.8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Karena tak bisa dipungkiri bahwa penyandang disabilitas mempunyai peran dan kontribusi besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak orang hebat yang terlahir dalam keadaan difabel (berdasar pengamatan empirik) contohnya : Dr. Sholeh yang telah menyelsaikan studi S3 nya hingga bergelar doktor, Anisa Kusuma W (Mahasiswi semester 5 Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) yang telah menjuarai berbagai macam perlombaan, Mas Anes yang telah menyelesaikan wisuda sarjananya dengan predikat Cumlaude, Mas Akbar yang telah menulis berbagai macam buku, Pak Asmu’i yang sekarang sedang menempuh pendidikan S2 nya di PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta kawan-kawan saya di PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang tidak bisa disebut satu persatu.

Semangat dan optimisme mereka-lah yang menuntun mereka untuk menemukan jati diri, kepercayaan diri dan kesadaran diri yang akhirnya mempunyai skill komparatif yang terkadang “belum” dimiliki oleh orang normal pada umumnya. Dalam perspektif agama, Allah SWT menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk (Qs. At-Tin:4). Ayat tersebut merupakan ayat universal yang mencakup seluruh manusia, tanpa membedakan difabel ataupun normal. Dibalik kekurangan/kelemahan manusia, pasti ada sisi kelebihan-nya, termasuk penyandang disabilitas. Kekurangan dan kelemahan akan hilang dengan sendirinya manakala ia setia dan bersabar dalam berproses, berjuang dan berusaha. Allah selalu mengingatkan kepada hamba-hamba Nya untuk senantiasa melihat potensi di dalam dirinya (Qs. Adz-Dzariyat:21). Inilah hakikat dari self continous improvement yang selalu diapilikasikan oleh orang yang sadar dan paham terhadap dirinya, salah satunya oleh penyandang disabilitas.

Berdasar pengamatan serta pengalaman empirik yang penulis dapatkan saat bergabung di PLD (Pusat Layanan Difabel) UIN Sunan Kalijaga, mereka sangat antusias dan optimis dalam menatap masa depan. Semangat mereka menggelora, keyakinan mereka tak pernah padam dan terus bergerak ke arah yang lebih baik, salah satunya dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebagai akademisi, enterpreunership dan pengayom masyarakat (seperti yang dilakukan oleh sahabat saya yang semangatnya selalu berkobar, yakni Mas Tri Wibowo dkk).

Tak hanya itu, mereka (kawan-kawan penyandang disabilitas UIN Sunan Kalijaga) menjadi pelopor berdirinya KKI (Komunitas Keluarga Inklusi) untuk mengembangkan potensi, bakat dan minat serta semangat untuk hidup mandiri). Dan kini, mereka telah memiliki warung koboi atau angkringan di dekat Kampus Cokroaminoto) serta menghhidupkan kembali TPA yang sempat vacum di sekitar tempat tersebut.

Ungkapan syukur serta terimakasih sedalam-dalamnya saya haturkan kepada Bapak Muhammad Yasin yang “telah dan pernah” memberikan kesempatan kepada saya untuk lebih dekat dengan penyandang disabilitas yang ada di SLB Bina Anggita. Saya belajar banyak ilmu kehidupan bersama bapak dan ibu guru serta adik-adik di SLB Bina Anggita.

Pembaca yang setia, perlu kita ketahui bahwa setiap orang mempunyai ciri khas dan keunikan tersendiri, begitupula untuk meraih keberhasilan hidup (dunia dan akhirat) setiap orang mempunyai cara, proses dan jalan-nya sendiri yang kemungkinan anatara satu dengan yang lain berbeda-beda, termasuk penyandang disabitas (pelajar/pun mahasiswa). Tugas seorang pendidik adalah membimbing, mengarahkan dan memotivasi mereka untuk percaya diri, maju dan berprestasi. Karena “Semua anak adalah hebat, hanya saja belum bertemu guru hebat nan menginspirasi” (Pengantar kuliah dari Prof. Dr. Sutrisno, M.Ag).

Dengan adanya UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang disabilitas semoga pemerintah dapat lebih memperhatikankan hak-hak disabilitas baik hak hidup, stigma, kesehatan, politik, pendidikan, keagamaan, kebudayaan, pelayanan publik, rehabilitasi, hidup secara mandiri, aman dari tindakan diskriminasi hingga kebebasan berekspresi serta mempunyai hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Dan marilah bersama-sama mengayomi, menjadi kawan pelindung serta inspirator dan motivator bagi mereka, saudara kita yang difabel. Karena MEREKA adalah KITA. Seperti halnya tubuh, ada kiri juga kanan, begitupula dengan kehidupan. Selalu ada sisi lain yang harus kita pikirkan selain diri sendiri. Semangati diri untuk hadirkan kebahagiaan bagi orang –orang disekeliling kita dengan memberikan yang terbaik yang tidak hanya untuk diri kita, namun untuk semua makhluk Nya. Semangat dan peduli merupakan elemen terpenting manusia untuk merealisasikan peran dan tanggungjawabnya sebagai ‘ibad sekaligus khalifatullahu fil ardhi sebagai manifestasi dari keimanan, keislaman serta penghayatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan wujud cinta kepada tanah air. Yakinlah akan kuasa dan kasih sayang-Nya kepada setiap hamba-hamba Nya.

Teruslah berjuang dan berproses, kawaaaan....
Yakin. Usaha. Sampai...
Talkshow Leadership and motivation for self improvement With PC IPNU IPPNU Bantul
Oleh Mukaromah Asy-Syarmidi



Pada tanggal 10/12/2017 telah terselenggara talkshow alkshow Leadership and motivation for self improvement dan pra-Rakercab IPNU IPPNU PC Kabupaten Bantul bersama Rekan @ilmi_fikri Pengurus Demisioner PC IPNU Bantul dan rekan @andriyan_nova45 di Aula PC IPNU IPPNU Bantul.

Mereka berdua merupakan sosok enterpreunership sukses dalam bidang kewirausahaan. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang sukses dalam segala lini kehidupan, termasuk sukses dalam berdakwah dan berdagang meski butuh pengorbanan dan perjuangan yang luar biasa. Penulis jadi teringat quote dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bahwa "Tuhan tidak menuntut hamba Nya untuk sukses, tapi Tuhan menyuruh hamba-hamba Nya untuk terus dan senantiasa berjuang".

Hal ini karena Allahh telah memberikan signal kepada manusia, bahwa usaha yang digenapkan dengan doa dan tawakkal akan menuntun manusia kepada keberhasilan hidup, baik di dunia maupun akhirat. Senada dengan firman Nya dlm Qs. Al Anfal:53, Qs. Ar-Ra'du:11.

Allah tegaskan lagi dengan Firman Nya dalam Qs. An Najm: 39-42 bahwa manusia hanya akan memperoleh apa yang telah diusahakanya dan Allah akan memberikan balasan yang sempurna atas usaha dari manusia tsb (dita'kid dg Qs. Az-Zalzalah :7-8, Qs. Al An'am:160). "Nikmati proses dan senantiasa libatkan Allah dalam segala hal, insyaAllah kalau niat kita baik, Allah akan permudah segalanya", ujar Ilmi Amirullah Fikri.

"Untuk sampai ke puncak, kita perlu mendaki dan itu membutuhkan proses yang amat panjang karena tidak mudah, itulah hakikat dari perjuangan dan kerjakeras. Perjuangan itu pahit, namun jika diniati ngibadah maka segalanya akan terasa bermakna", tambah Nova Andriyanto.

Terimakasih atas wejangan dan motivasinya, rekan. Sukses dan jaya selalu @pelajarbantul . Dengan semboyan aktif, kreatif, inovatif dan produktif siap belajar, berjuang, bertaqwa, berkarya, dan berprestasi.
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Oleh, Mukaromah Asy-Syarmidi

“Wanita harus cerdas dan mencerdaskan karena ditangannya terdapat harapan bangsa”
(KH. Ahmad Dahlan)
Setiap manusia yang “berakal” mempunyai andil, peran, dan tanggungjawab menjadi insan yang beriman dan berilmu pengetahuan. Tentu iman tidak hanya sekedar percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi harus termanifestasi dalam tindakan kongkrit untuk melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan sehingga visi misi hidup sebagai ‘ibad yang menghambakan diri kepada Nya sekaligus pengemban amanah kehidupan sebagai khalifah fil ardhi yang bertugas memakmurkan bumi dapat terealisasikan dengan baik.


Nurcholish Madjid dalam bukunya mengatakan bahwa wujud manusia yang beriman adalah senantiasa memberikan perlindungan dan rasa aman kepada orang lain (NDP HmI re-interpretasi Iman dalam pendekatan sosial). Hal ini senada dengan ngendikanipun Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) “Jadilah orang yang bisa membuat orang lain bersyukur ada dirimu, merasa aman ketika berada di dekatmu, percaya dan mempercayakan segalanya kepada dirimu”.

Karena yang terpenting dalam beragama ialah ketika mampu mengimplementasikan serta menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya srawung dengan cara BER-ORGANISASI.

Dan Kelak, akan ada hari dimana kita berkata kepada anak-anak kita “nak ini foto ibu dulu pas jaman masih muda”. Hahaha’
Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) adalah ladang berprosesku. Berusaha mewujudkan tujuan HmI yakni “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT”.

HmI bukanlah milik orang NU, bukan pula milik orang Muhammadiyah apalagi HTI dan PERSIS tapi HmI bersifat independent yang tidak mempersoalkan NU, Muhammadiyah atau yang lainnya. Karena HmI berdiri atas semua golongan. Dan di organisasi ini aku belajar bagaimana hidup dalam berbagai macam warna dan sisi-sisi yang berbeda. Aku sadar bahwa selamanya tidak akan pernah bisa hidup dalam satu warna. Ibarat sebuah musik, jika hanya ada gitar saja tentu tidak akan indah dan berirama melodi-nya, namun jika ditambah dengan bass, piano, suling pasti akan lebih indah dan berkesan. Seperti Itulah hakikat kehidupan. Ingat gaes, kita berada di konteks multikultural dalam berbagai lini kehidupan. Sehingga mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan adalah rahmat. Dan jangan pernah membatasi diri untuk terus menelaah, mengeksplore dan memahami setiap alur cerita Tuhan yang di gariskan dalam kehidupan kita. HmI mengajarkan pula kepada ku untuk senantiasa melihat sesuatu dengan cara pandang yang dalam dan luas, alias jangan buru-buru untuk menyimpulkan suatu hal apalagi menjudge bahwa dirinya yang “paling” benar.

Yakinkan dengan Iman,
Usahakan dengan Ilmu,
Sampaikan dengan Amal,
Yakin. Usaha. Sampai (Qs. An Najm ayat 39-41