Kamis, 26 Januari 2017

DEGRADASI MORAL.

Oleh : Mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tadi pagi skitar pukul 7.20 diperjalanan mau ke kampus, ku lihat berdasar pengamatan empirik (lihat, dengar dan rasa).
Begini kronologinya, ketika sy berhenti di perempatan lampu merah dkt SGM, dari arah barat mau ke Timur trjd kecelakaan (srempetan) yg korban nya bapak2 sdgkan yg nyrempet adl anak umur krg lebih 18 th dg memakai celana biru tua (SMP) sdgkan baju kaos dn mengendarai Vixion.
Korban yg berinisial laki2 separuh baya itu mengenderai motor Vario putih dan tergletak di tengah jalan. Pelaku srempet sempat mau melarikan diri, tapi Alhasil Alhamdulillah Allah tidak mengizinkan nya, dg hambatan Motor Vixion nya mogok dan di piting (di halangi oleh bapak2 pengendara motor yg berada disampingnya). akhirnya, didekati polisi dan di introgasi oleh polisi. Kemudian mereka berembug.
Cerita yg hampir sama, seminggu yg lalu saat sy dlm perjalanan pulang dr kampus, di jalan Imogiri Barat (lokasi: Warung makan Ma'pinah) ada bubaran supporter sepak bola dr Stadion Sultan Agung Bantul dg membawa bendera putih biru. Dalam kondisi hujan yg lebat, kebetulan sy tdk membawa mantrol, sy nekat menerobos lebatnya hujan agar bs segera smpai dirumah dn tentunya hati2 itu sll menjadi prioritas utama...
Supporter tsb mayoritas pelajar skitar umur 16-23, naik motor se-enak nya dengan mengibarkan bendera tsb shingga nutupi jalan dn bisa mmbahayakan bagi pengendara motor disamping kanannya (krn posisi mereka dari selatan ke utara (kiri jalan) dn sy saat itu dari arah Utara mau ke Selatan (kanan jalan).
Jalan Raya dipenuhi mereka, sambil mngibarkan bendera pula. Bisa dibayangkan bgaimana seremnya?
Saat itu, sy tidak kuat shingga berhenti di tengah2 jalan sambil menjerit dan menciptakan daya tarik kpd Allah...
Ku tak bisa membayangkan jika tanpa Ma'unah Nya, mngkin sy telah berada di kehidupan yg berbeda. Alhamdulillah, smg sll dlm naungan dn Ridho Nya.
(Berkat doa ibu juga)
Jika kita berkaca pd Indonesia, sebenarnya Indonesia tdk kekurangan orang-orang yg pinter (pengetahuan), tetapi kekurangan org2 yg berkarakter dan berjiwa nawabrata. Generasi Muda yg diharapkan Bangsa sbg penopang utama skaligus penerus masa depan, ketika melakukan hal2 yg sperti itu sangat tidak manusiawi dan tidak wajar. Dimana letak saling menghormati, mencintai, saling menghargai, tanggung jawab, berjiwa agamis dn nasionalis? Apakah mereka tidak mikir bagaimana hidup dizaman 15 th yg akan dtg? Apakah tidak berkaca pd orgtua yg mencari nafkah hingga mandi keringat?
jika dihubungkan dlm pendidikan, mayoritas dr mereka alumni setara SMP dan SMA.
Apakah di Sekolah tidak di ajari tata krama? Apakah tidak ada pelajaran PAI? Siapa guru PAI nya? Pertanyaan2 tsb pasti terbesit dlm benak org yg sekilas melihat dn merasakan perilaku mereka.
Sy yakin, ketika pelajaran AGAMA, guru Agama oke dlm menjelaskan materi pelajaran dan tanpa disadari, Guru dlm mnjelaskan materi pelajaran pasti menyelipkan kisah2, amsal, tauladan, pengalaman dsb yg bersumber pd Al Qur'an dn hadist Nabi...
Sehingga, SALAH BESAR jika ada org yg mengatakan mjd Guru PAI itu mudah.
amanah dn Tanggung jawab yg dipikul sangatlah besar. Terutama dlm membentuk karakter / akhlaq peserta didik.
Berdasar pengalaman penulis, guru2 di Sekolah/madrasah juga telah menjalankan tugas dn kewajiban nya dg baik, tak hanya mengajar tetapi mereka juga mendidik, menginspirasi dan memotivasi anak Indonesia utk maju dan berprestasi, mencetak Anak2 yg cerdas iman, cerdas hati, pikiran dan tindakan. Karena sy smpe skrg masih ingat, pepatah dr guru Matematika (Ibu Rita Yuana, MTs Gondowulung Bantul) "Jadilah Bintang, diantara bintang-bintang yg lainnya" yg smpe skrg sll ku jadikan motivasi utk maju dn berprestasi. Amin
Lalu? Klu begitu...kita tidak boleh mengabaikan unsur2 pembentukan jati diri anak yg lain. Ada tripusat pendidikan, yakni Keluarga, Sekolah dn masyarakat.
Di Sekolah sdh sy jabarkan tadi.
Lalu bagaimana peran keluarga yg dlm konteks ini adalah Orangtua? Bagaimana dlm mendidiknya? Bagaimana pola asah, asih dan asuh org tua?
hal ini....harus di renungkan bersama. Seperti apapun Wanita, entah S1 atau bahkan Professor pasti akan mjd seorang ibu. Dan akhirnya pendidikan tingginya utk membina keluarganya (khususnya dlm mendidik anak). Karena al umm madrosatul ula.
bukankah Buah yg jatuh tidak jauh dari pohonnya? Ketika melihat anak itu hebat, pasti tidak lain karena didikan org tua nya, terutama didikan seorang IBU.
Lalu di masyarakat/lingkungan nya...dengan siapa ia berteman? Bagaimana interaksi pergaulan nya? Karena teman pergaulan sngat memberikan pengaruh besar bagi pembentukan jati diri individu. Kalau berteman dg penjual perfum, akan ketularan Wangi nya. Begitu sebaliknya, kira nya begitu...
Dan penulis rasa...jika ada problem sprt ini, SANGAT SALAH BESAR jika menyalahkan Sekolah, menyalahkan GURU BISA ngajar nggak sih? Kok output nya kyk gini???? Tetapi...bercermin lah pd bagaimana keluarga nya, bagaimana lingkungan nya...
Dan seharusnya, ini menjadi tanggung jawab kita semua (orangtua, pendidik, msyarakat) dlm mendidik anak-anak bangsa. Karena sejatinya, manusia adl makhluk educandum dn educandus yg bisa dididik dan bisa mendidik org lain. Mari Ciptakan suasana yg ramah, hangat dan menyenangkan dalam keluarga dn masyarakat.


SYUBBAANUL YAUM RIJAALUL GHOD

Oleh : Mukaromah, PAI UIN Jogja.

Tulisan ini sy persembahkan kepada Seluruh Rakyat Indonesia (Pendidik, Mahasiswa-i, Santri dan orang-orang yang Mencintai dan Peduli Bangsa ini yang tidak dapat disebut satu persatu karena keterbatasan penulis).

Memang benar adanya bahwa memaknai hidup dalam bergaul, berorganisasi dan bermasyarakat akan berjalan mengalir dengan melihat, mendengar, mengamati, mencermati lalu menginternalisasikan dalam lubuk hati yang paling dalam baru kemudian mengaplikasikan (Action) dalam tindakan nyata.
Sebenarnya kunci utama dalam bergaul kepada orang entah itu di Pondok, kampus, organisasi maupun masyarakat adalah “RAMAH”dan “MUDAH BERGAUL”.That’s Right. Dan itu pula yang menjadi ciri khas orang berpendidikan (dalam arti luas) dan paham agama.

The Gold generation of Indonesia ada pada Pemuda nya. Karena 15 tahun yang akan datang, estafet kepemimpinan Bangsa ini akan dipegang oleh Generasi Muda nya, termasuk kita semua. Alaysa kadzalik ?

Berbicara mengenai Bangsa Indonesia, Humanisme Indonesia dibawah naungan PBB hanya sbg objek/ Maf’ulun bihi, Karena Indonesia lemah lahir dan batin. Maaf ini kritikan, karena sy melihat Problematika Indonesia yang kian kompleks dan merajalela dari hari per hari. Baik itu dalam bidang Agama, social humaniora, ekonomi maupun budaya. Seperti : Kemiskinan, Korupsi, Narkoba, Penegakan hukum yang lemah, kejahatan Seksual, kualitas PENDIDIKAN yang LEMAH, Pengelolaan SDA yang buruk (penebangan hutan scr liar, bom ikan dsb), Pengangguran dan sejatinya problematika tsb saling berkaitan antara problematika yang satu dengan yang lainnya. Sebagai Generasi Muda, apalagi pelajar hal yang harus dilakukan ialah dengan belajar bersungguh-sungguh. Belajar apapun itu, karena belajar tidak terbatas hanya di ruang kelas saja. Tetapi, Belajar dapat dilakukan dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Terutama belajar Memaknai hidup dan Menjadi orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain khoirunnaas anfa’uhum linnaas

Mengutip Nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya Kiyai Haji Hasyim Asy’ari  karya _Heru Soekardi_ cet. Department Pendidikan Dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventaris dan Dokumentasi 1977/1920), beliau ngendiko :
“Seorang pemuda-pemudi merupakan calon generasi penerus perjuangan bangsa dan Islam di masa depan. Mereka harus mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang cukup. Merawatnya untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa membutuhkan kesabaran. Kaum pemuda yang sedang dalam berproses menyiapkan masa depannya seringkali tidaksabaran dengan proses yang digelutinya. Ia pun mudah terjebak dan tersihir dengan sesuatu yang menyilaukannya. Misalnya, kememawahan, jabatan, dan lain sebagainnya.Kini sudah tiba di zaman penuh dengan hiruk pikuk. Dimana banyak kaum muda yang tidak memiliki karakter kuat, terjerembab narkoba, tawuran dan sebagainya. Sudah selayaknya mereka itu perlu diselamatkan.Tidak dapat dibayangkan, jika generasi muda kita sekarang ini sudah seperti itu, bagaimana kedepan bangsa ini.Semasa hidupnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan pesan yang amat mendalam untuk diresapi. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita, karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dan lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Di sini letak arti dari suatu perjuangan. Dan untuk perjuangan ini kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada lagi,”

dengan nasihat beliau, saya teringat ayat didalam Al Qur’an Qs. An Nisa' : 9
yang bermakna janganlah orangtua meningalkan anak-anak nya dalam keadaan Dho’if atau lemah. Lemah dalam hal pikir, harta, jiwa maupun raga (spiritual). Lalu kenapa orangtua Menyekolahkan bahkan Me-nyantrikan anak-anaknya? Yaa karena orangtua sadar, kelak mereka akan meninggal dunia dan hanya anak-anak nya lah yang menjadi “harta berharga” bagi diri dan keluarganya. Karena sejatinya PENDIDIKAN dalam arti seluas-luas nya adalah INVESTASI MASA DEPAN. Dan dengan melalui Pendidikan, Bangsa ini akan jauh lebih baik. Masih ingat dengan Pidato Pak Anies Baswedan saat melepaskan Pengajar Muda untuk mengabdi didaerah terpencil? Berikut intinya : “Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan (salah satunya ) yakni : “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Itu adalah hak dankewajiban bagi rakyat Indonesia. Janji Mencerdaskan kehidupan Bangsa belum sepenuh nya terpenuhi jika masih ada 1 saja anak Indonesia yang BELUM BISA merasakan bangku sekolah”. Berdasar buku KISAH PENGAJAR MUDA yg telah sy baca, di daerah terpencil masih buanyak sekali anak-anak yang belum bisa merasakan nikmatnya Sekolah. Bahkan Fasilitas di sekolah pun masih jauh dikatakan layak. Semoga Pemerintah lebih memperhatikan Pendidikan khususnya didaerah yang jauh dari jangkauan pemerintah (3T) Karena Pada hakikatnya, Mendidik bukan hanya tanggung jawab Guru dan orangtua. Akan tetapi, mendidik adalah tanggung jawab semua orang yang memiliki ilmu walau qolil. Bukankah Ballighu ‘anni walau aayah? Selain itu juga karena manusia adalah makhluk EDUCANDUM (membutuhkan pendidikan)  dan EDUCANDUS (dapat mendidik orang lain)
Mari, bersama-sama melunasi Janji Kemerdekaan RI dan Bersatu Membangun Pendidikan yang lebih baik.

Terakhir, saya mengutip makna Pendidikan dari tokoh yang amat sy kagumi, yakni Ahmad D. Marimba: Pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yg tujuannya agar kepribadian peserta didik terbentuk dengan sangat unggul.
Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter. Pendidikan yang baik tidak hanya mentransfer materi pelajaran/kuliah saja, akan tetapi yang lebih dari itu ialah Penanaman Karakter
Mengajarkan dan menanamkan sifat dan sikap yang terpuji pada anak, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Terutama sifat JUJUR dan sikap TANGGUNG JAWAB. Selain itu juga, Membimbing dan Memotivasi anak agar mereka mempunyai kepercayaan diri dan siap untuk menatap masa depan. Sehingga, Peran guru dan atau dosen tidak hanya sebagai Pendidik dan Fasilitator semata, tetapi juga harus (wajib ‘ain hukumnya) menjadi Motivator dan Inspirator Anak Indonesia.