Senin, 31 Mei 2021

Pancasila

KERUKUNAN DAN KERJASAMA ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM BINGKAI PANCASILA GUNA MENUNJANG PEMBANGUNAN NASIONAL.

Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi, S.Pd., C.STMI

Salah satu komponen penting yang harus dimiliki oleh suatu negara ialah mempunyai dasar negara/ ideologi negara. Para pendiri bangsa yang telah melahirkan dan membentuk negara ini dengan pemikiran yang arif dan bijaksana telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dan teguh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dari berbagai macam ancaman dan gangguan baik dari dalam maupun dari luar yang dikenal dengan pancasila. Penamaan dasar negara ini membutuhkan waktu yang sangat panjang.

Berawal dari Piagam Jakarta Charter dimana founding father sepakat untuk menjadikan dasar negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan Ketuhanan. Muncul problem saat kalimat ketuhanan ini berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at-syari’at islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kalimat tersebut mengandung makna pendeskriditan golongan non-islam, padahal sebenarnya Indonesia merupakan negara majemuk yg heterogen. Rakyat bagian timur Indonesia banyak yg protes lalu kemudian Ir. Soekarno mengafirmasi dengan mengatakan ketidaksetujuan atas teks tersebut dengan alasan akan menimbulkan perpecahan sesama warga negara.

Dalam perdebatan yang sangat panjang, akhirnya teks tersebut diganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sila pertama itulah, yang mampu menyatukan semua komponen bangsa dalam nanugan NKRI hingga detik ini. Pancasila adalah konsesus dasar dari seluruh bangsa Indonesia bahwa di Indonesia “tidak ada seorang pun” yang didiskriminasikan atas dasar latar belakang agama (demikian juga budaya, suku dan daerah). Pancasila juga mengamanatkan kesediaan mayoritas muslim Indonesia untuk menerima sebuah kerangka kebijakan dan UU negara yang tidak memperlakukan islam secara khusus. Hal ini lah yang menjadi faktor utama mengapa Indonesia masih tegak berdiri sebagai negara dan akan tetap menjadi negara yang satu dlm bingkai bhineka tunggal Ika.

Memahami sila pancasila dengan baik dan benar, akan membuka wawasan dan cakrawala kebangsaan . Karena didalam pancasila berisi konsep yang mengandung gagasan, cita-cita dan nilai dasar yang bulat, utuh dan mendasar mengenai eksistensi manusia dan hubungan dengan lingkungannya, sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Demikian pula didalam pancasila mengandung spirit keislaman dan kebangsaan. Hal tersebut tercermin didalam aspek religiusitas, humanitas, nasionalitas yang menyatakan bahwa manusia yang bertempat dtinggal di bumi nusantara adalah suatu kelompok yang disebut dengan bangsa, Sovereinitas yang berdaulat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah rakyat dengan demokrasi yang bercirikan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan, serta spirit Sosialitas yang merupakan penggambaran cita-cita atas dasar Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan perorangan/kelompok tertentu. Hal tersebut syarat dengan esensi persatuan dan kesatuan warga negara-nya, yakni kedamaian, keimanan, ketaqwaan, keadilan, kesetaraan, keselarasan, keberadaban, mufakat dan musyawarah, kebijaksanaan, dan kesejahteraan, senada dg essensi yg terdapat dalam Pancasila.

Atas dasar itulah mengapa bentuk negara Indonesia bukan negara khilafah dengan dasar Al Qur’an hadist secara simbolik. Karena tak bisa dipungkiri, apabila negara menggunakan sistem khilafah, sudah jelas orang non muslim akan terdiskriminasi. Mereka tidak boleh lebih kaya daripada orang islam, pun tidak boleh lebih cerdas dan sukses daripada orang islam. Padahal Nabi SAW dahulu membangun negara Madinah dengan mempersatukan ummat dari berbagai macam etnis, suku, budaya dan bahasa atas dasar persamaan derajat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan.

Indonesia merupakan negara majemuk yang yang terdiri dari 633 kelompok suku besar dengan 16.056 pulau (data 2017 oleh UNCSGN), 34 Provinsi dan 6 agama besar. Hal ini merupakan salah satu asset bangsa yang dapat digunakan untuk menunjang pembangunan nasional. Tata organisasi dan tradisi pelembagaan dari agama-agama itu merupakan potensi dan kekayaan yang besar bagi pembinaan mental dan spiritual bangsa dan sekaligus dapat menjadi jembatan untuk memasyarakatkan pembangunan dalam lingkungan umat beragama

Sebagaimana yg diketahui bahwa seluruh agama di Indonesia mempunyai tujuan yang sama, yakni bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik, adil, makmur dan sejahtera. Hal ini harus selalu dipupuk, dijaga dan dikembangkan dengan sikap sadar akan keberagaman dan saling menghormati dan menghargai antar perbedaan yang ada, sehingga dapat memperkecil jurang konflik antar agama. Tak hanya sebatas itu, semua agama pun sepakat bahwa ideologi agama-agama di Indonesia menganut sistem pancasila. Oleh karena itu, pancasila dapat dipandang sepenuhnya sebagai titik temu (common platfrom) agama-agama di Indonesia. Dengan demikian, pancasila merupakan manifestasi esensi islam yang mengandung spirit Ketuhanan/monotheistik, Kemanusiaan, Nasionalisme, Demokrasi dan Keadilan Sosial.

NKRI Harga mati, Pancasila Jaya !

Minggu, 02 Mei 2021

Hardiknas

MENGHIDUPKAN KEMBALI RUH PENDIDIKAN DENGAN SPIRIT AL QUR’AN DAN RELEVANSINYA DENGAN KEMAJUAN PERADABAN ISLAM

Oleh : Mukaromah Zain Asy Syarmidi

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat kompleks dan komprehensif yang tidak hanya merujuk pada penamaan sebuah lembaga formal yang berbentuk sekolah, madrasah maupun perguruan tinggi. Hal ini senada dengan ungkapan Ki. Hajar Dewantara bahwa setiap rumah adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Itu artinya, dimanapun tempat-nya asal disitu ada ilmu, dapat disebut sebagai sekolah dalam arti generiknya (ladang ilmu dan pengetahuan) yang harus dimanfaatkan sebagai tambahan wawasan. Sebagaimana wahyu yang diturunkan Allah pertama kali yakni Qs. Al ‘Alaq yang menekankan perintah untuk mencari ilmu pengetahuan tanpa pandang bulu, baik yang tersirat maupun yang tersurat.

Jika berkaca pada abad 9-12 M, kehidupan umat Islam mengalami puncak kejayaan dalam segala aspek, termasuk dalam hal pendidikan. Hal tersebut karena dijiwai oleh spirit al qur’an yang tidak hanya sekedar dibaca dan dihafal namun dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk aktif bergerak dan terus mencari yang berimplikasi pada maju nya peradaban kala itu. Karena memang tak dapat dipungkiri bahwa kualitas suatu bangsa ditentukan oleh seberapa kualitas pendidikannya, seberapa sadar warga negaranya untuk mencari ilmu dan seberapa besar negara dalam ikut andil dalam mensupport (mendukung) suksesnya pembangunan nasional melalui program pendidikan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa salah satu indikator kemajuan suatu bangsa ialah patrol ilmu yakni mengakui pentingnya ilmu dan ilmuan. 

Hal ini dapat dilihat dari negara-negara maju yang mayoritas sangat menghargai ilmu dan ilmuan (pendidik). Ilmuan-ilmuan tersebut sangat diapresiasi oleh negara baik dari segi materi maupun immateri (kesejahteraan maupun penghargaan atas dedikasinya). Karena mereka sadar, untuk membangun negara yang berkualitas dan bermartabat maka hal yang pertama kali dibutuhkan adalah sumber daya manusia-nya (SDM), karena itu yang akan mempengaruhi suksesnya roda pembangunan suatu negara.

Selain itu, urgensi mencari ilmu juga harus diinternalisasikan oleh berbagai macam elemen, tak terkecuali oleh setiap warga negara dengan menjadikan spirit al qur’an wa fi anfusikum afalaa tubsirun bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang luar biasa senada dengan Qs. An Nahl ayat 78 yang seharusnya manusia bersyukur dengan memanfaatkan potensi tersebut dengan seoptimal mungkin. Dalam sejarah islam, dikenal dengan zaman keemasan pada zaman bani Abbasiyah yang mana terdapat ilmuan muslim yang tidak hanya cerdas dalam bidang agama, namun juga hebat dalam bidang umum seperti Al Khawarizmi, Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah dll. 

Hal tersebut karena mereka mempunyai spirit al quran sekaligus spirit filsafat. Al Qur’an tidak hanya sebatas dibaca dan dihafal, namun yang lebih dari itu ialah dijadikan energi/ kekuatan dalam membangun peradaban yang lebih maju dan berkualitas.

Dengan demikian, pantaslah Allah SWT memberikan pedoman kepada hamba-hamba Nya sekaligus buku panduan dalam menjalani kehidupan melalui firman Nya yang diturunkan dengan perantara malaikat Jibril dan diwahyukan kepada Nabiyullah Muhammad SAW yang berisi segala hal “rahasia dan tabir yang ada di alam semesta dan seisinya”, terutama terkait dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, bunyi ayat afala yandzuruna ilal ilbili kaifa khuliqat memberikan rambu-rambu kepada manusia untuk memanfaatkan hewan-hewan yang ada di alam semesta untuk diolah dan dijadikan sarana li mardhatillah melalui teknologi, MESKIPUN secara tekstual ayat tersebut mengatakan ”UNTA”. 

Jika dimaknai secara tekstual, bagaimana mungkin unta dapat hidup di Indonesia kecuali dengan pemeliharaan yang intensif seperti di kebun binatang? Dengan begitu, dapatkah unta dijadikan sebagai sarana pengembang ilmu pengetahuan? Untuk memahami ini haruslah ada peran akal didalam nya, yakni merelevansikan dengan konteks yang ada. Seperti di Indonesia misalnya, bisa belalang, udang dll. Bahkan kini, di daerah pesisir selatan pantai Jawa, belalang dan udang goreng menjadi makanan khas yang menjadi komoditas daerah tersebut. Sama hal nya yang terjadi di daerah Bantul pembuatan keramik dari TAI. Bahkan di Pondok Pesantren daerah Gunung kidul memafaatkan air kencing menjadi bio gas, hal ini karena dijiwai oleh spirit al Quran “Rabbanaa maa khalaqta hadza baathila” dengan mengintgrasikan akal sebagai sarana untuk memahami tekstual.

Apabila hal-hal semacam ini dikembangkan, maka penulis yakin peradaban islam akan semakin maju. Namun realitanya, banyak ayat-ayat quran yang hanya dijadikan “justifikasi” terhadap hal-hal yang sifatnya absurd. Hal-hal seperti ini lah yang menghambat kemajuan peradaban Islam.

Upaya untuk menghidupkan kembali Ruh Pendidikan tidak hanya berhenti disini. Hal yang tidak kalah pentingnya ialah dengan memiliki paradigma berpikir yang inklusif dan multikultural. Artinya, mau dan bersedia belajar dengan siapapun. Sebagaimana hadist Nabi yang mengatakan bahwa “ambilah hikmah meskipun keluar dari mulut anjing”. Paradigma inklusif ini perlu pembiasaan. Semakin manusia banyak membaca, memahami dan menelaah maka akan semakin besar pula rasa “toleransinya” sehingga memandang orang tidak separated namun komprehensif. Sebagaimana petuah Gus Dur yang mengatakan “Jika Ruh Ketuhanan sudah ada dalam jiwamu, maka dalam memandang manusia kau tidak akan pernah memperdulikan apa golongan dan simbolnya, apa agamanya dan bagaimana latar belakangnya”!. Namun tentu, sebelum pada taraf berpikir inklusif hendaknya manusia memiliki pijakan terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya dapat memilah dan memilih mana yang positif dan mana pula yang negatif sebagaimana jargon para ulama’ _Al muhafadzatu ‘ala qadimish-shalih wal akhdzu bil-jadidil ashlah wal ashlah ilaa maa huwal ashlah_. Dari sinilah, seharusnya tidak perlu khawatir apabila outoff the box.

Mari, jadikan Al Qur’an sebagai spirit untuk mewujdukan tatanan kehidupan yang beradab, adil, makmur dan diridhai Allah SWT.

Selasa, 20 April 2021

SPIRIT PEREMPUAN DALAM BINGKAI PENDIDIKAN ISLAM

 SPIRIT PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi, S.Pd., C.STMI

Laki-laki sukses dapat dilihat dari 2 hal, yang pertama siapa ibunya dan kedua siapa istrinya”(Umar Bin Khattab RA)

Perempuan merupakan tonggak peradaban bangsa. Dalam sejarah Indonesia kita mengenal ibu kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam sektor publik baik dalam hal bersosialisasi, berpendapat, ekonomi maupun pendidikan. Beliau-lah yang menyadarkan kaum hawa untuk bangkit dari keterpurukan dan penindasan menuju jalan pembebasan yang “independent”. Bebas dalam berpikir, bertindak dan mempunyai kesempatan dan peluang yang sama seperti laki-laki untuk berkancah dalam ruang publik. Jalan yang pertama kali ditempuh oleh RA.Kartini ialah dengan melalui “Pendidikan”. Karena pendidikan merupakan salah satu alternatif untuk mengolah akal dan hati agar selalu dekat dengan Tuhan-nya, menyatu dengan alam dan peka terhadap realitas sosial. Senada dengan UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sejak RA Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam hal pendidikan, sejak saat itulah perempuan Indonesia mempunyai kesadaran bahwa ditangannya terdapat harapan bangsa. Sehingga perempuan harus cerdas dan mencerdaskan. Artinya, sebelum perempuan mencerdaskan yang lain terlebih dahulu perempuan harus “cerdas” (read : mencerdaskan dirinya sendiri) dengan “belajar/ngangsu kawruh” agar memiliki science, knowledge, skill, best attitude dan qalbun salim. 

Hal tersebut dapat digali, diolah dan dikembangkan dengan senantiasa membuka cakrawala dalam segala hal. Sebagaimana wahyu yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ialah perintah untuk belajar (menuntut ilmu). Agama Islam sangat menjunjung tinggi “Ilmu”, sehingga orang yang beriman nan ber-ilmu mempunyai kedudukan yang istimewa dihadapan Tuhan (Qs. Al Mujadalah ayat 11). Bahkan dalam kitab ala-ala disebutkan “fa inna faqihan wahidan mutawarri’a, asyaddu ‘ala asy-syathani min alfi ‘abidi”, bahwa seorang yang faqih (berilmu) lebih ditakuti syaithan daripada 1000 orang yang ahli ibadah tanpa didasari dengan ilmu”. 

Demikian halnya dengan perempuan, harus haus akan ilmu dan pengetahuan karena ia akan melahirkan spies yang kelak akan menjadi generasi penerus ummat dan bangsa. Saya teringat quote yang dulu pernah ditulis oleh Dian Sastrowardoyo bahwa “entah kelak menjadi ibu rumah tangga atau perempuan karier namun yang jelas perempuan harus berpendidikan”. Kata “berpendidikan” saya tafsirkan degan “senantiasa belajar dan menjadi pembelajar dalam segala lini kehidupan”. Karena belajar tidak dibatasi dalam lingkup strata/marhalah (S1, S2, S3 dll/lingkup formal) namun yang lebih dari itu ialah bagaimana mengambil inspirasi dari al qur’an untuk dijadikan sebagai spirit untuk terus semangat belajar dan self continous improvement.

Dengan perempuan memiliki kecerdasan (IQ, EQ, CQ dan SQ) maka ia akan dapat mendidik generasinya bi tarbiyatin hasanatin, sesuai dengan Qs. Al A’raf ayat 58 bahwa tanah ibarat perempuan dan bibit ibarat laki-laki. Jika tanahnya baik, meski bibitnya kurang baik maka akan tumbuh tanaman yang baik. Sebaliknya apabila bibitnya baik ditanam ditanah yang gandus, gersang dan kering maka tanamannya tidak akan tumbuh dengan baik. Apalagi kalau tanah dan bibitnya baik, insyaAllah tanamannya pun akan baik. Artinya, perempuan dapat mempengaruhi segala hal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam kisah, yakni Thomas Alfa Edison. Dibalik sosok beliau yang luar biasa, tentunya ada perempuan hebat yang luar biasa pula, yakni ibunya. Ibu-nya lah yang selalu meyakinkan dia bahwa dia hebat dan merupakan anak cerdas meski pada saat itu Thomas tidak bersekolah formal (di-DO oleh gurunya). Dibalik kisah sukses motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikky, ada seorang perempuan hebat yakni istrinya yang senantiasa mensupport dan mendoakan beliau hingga pada akhirnya beliau menjadi manager hotel bintang 5 saat sebelumnya menjadi cleaning service disebuah hotel.

di Indonesia misalnya, kita memiliki tokoh besar yg di jadikan rolemodele dunia, yakni Alm. BJ. Habibi yang luar biasa dan pasti dibelakangnya ada sosok perempuan hebat pula yakni Ibu Ainun, bahkan sangat banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Untuk itu, kaum perempuan harus berkarya, mengeksplore diri dengan terus menjajaki berbagai macam pengalaman dan pelatihan serta memperluas cakrawala berpikir dengan membaca, menganalisis, beretorika, berdialektika dan berdiskusi. Saat diri lelah dan penat dalam belajar, ingatlah bahwa “anak-anak kelak berhak terlahir dari rahim wanita yang cerdas dan mencerdaskan”!

Selasa, 10 Juli 2018

ADA APA DIBALIK NAMA ?
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
“Memanggil orang dengan menyebut namanya, merupakan salah satu cara menyentuh hati dan jiwa-nya” (Mukaromah, 2018)

Sepele, tapi sesungguhnya sangat berarti dan bermakna. Saya merupakan salah satu orang yang sulit sekali menghafal nama orang, KECUALI kalau orang tersebut mempunyai ciri khas dan karakteristik tertentu. Sudah hampir 6 bulan saya mengajar disebuah sekolah, tapi belum hafal juga nama-nama siswa dikelas tersebut, kecuali kalau siswa tersebut sering bertanya, kritis, aktif dan murah senyum. Yang seperti itu mudah sekali untuk dihafal. Mungkin hal seperti ini dapat terjadi juga dikalangan dosen dan mahasiswa. Biasanya kalau dosen, cepat hafal nama mahasiswa yang “sering” duduk di depan dan yang sering bertanya. Haha.

Memanggil seseorang dengan menyebutkan “nama-nya” merupakan sentuhan psikologi yang amat dalam. Hal ini mudah saja diamati dan dirasakan oleh setiap manusia. Seperti di Media sosial misalnya, Lebaran idul fitri kemarin banyak orang yang mengucapkan permintaan maaf dan selamat idul fitri dengan mengetik panjang lebar dan dishare ke orang yang bersangkutan, NAMUN tanpa menyebutkan nama orang yang dituju. Rasanya (orang yg dituju) ah nanti dulu-lah balasnya, mungkin ini hanya di BC ke semua orang.

Jadi yang merasa melakukan hal semacam itu, jangan sakit hati ya apabila nggak dibalas-balas. Soalnya nggak jelas sih minta maaf sama siapa. Biasanya benar, hanya BC-an dan dishare ke semua kontak, untuk lebih mengefektifkan waktu dan kata. Memang pada dasarnya, semua amal perbuatan tergantung pada niatnya. Niat nya sudah bagus ingi minta maaf dll, tapi cara-nya saja yang kurang pas. Akan lebih baik apabila diedit dengan menyebutkan nama masing-masing orang yang akan dituju. Misal, “dek Mukaromah, kulo banyak salahnya mohon dimaafkan ya lahir batin dan kita saling mendoakan”. Redaksi seperti itu jauh lebih menyentuh hati dan membuat orang yang bersangkutan bergegas untuk membalas. Beda dengan Selamat hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, Salam Mukaromah sekeluarga. Coba deh rasakan pakai hati. Beda kan?

Begitu halnya dengan pemanggilan langsung/ face to face. Mudah ditebak, bagi orang yang lupa-lupa ingat nama orang yang disapa, ia hanya akan memanggil/ menjawab panggilan orang dengan sebutan “mbak, mas, om, bang, bung”. Kalau orang nggak peka, rasanya biasa aja alias tidak terlalu mempersoalkan pemanggilan yang penting tatapan mata dan wajahnya menghadap ke yang bersangkutan. Akan tetapi, ingatlah bahwa ketika kita menyapa orang lain dengan melampirkan namanya, maka orang tersebut akan sangat senang, merasa dihargai dan merasa namanya terkenang.
Selain itu, saya sendiri suka membedakan pemanggilan nama. Kata “Bang + nama ybs” biasa saya lontarkan kepada temen-temen aktivis di kampus. Kata “Mbak + nama ybs” saya ucapkan kepada teman-teman perempuan pada umumnya, sedangkan saya hanya memanggil nama “jeng + nama ybs” kepada orang yang benar-benar udah nempel dihati. Lain halnya dengan kata “Master, suhu, pak, kiyai, bu + nama ybs” saya berikan kepada senior saya. Adapun kata “Kang + nama ybs” biasanya saya pakai kata ini untuk temen organisasi kemasyarakatan. Sedangkan yang terakhir kata “Mas/Ms + nama ybs” hanya untuk orang-orang tertentu saja. Wkwkwk.

Biasanya bagi wanita ada satu kata yang sangat terkesan dibenak-nya, ketika ada yang memanggil dengan sebutan “dek + nama”. Apalagi yang manggil tersebut orang yang disukai/dicintainya. Ah sepertinya ceprik-ceprik dihati. #Jangan baper yang masih jomblo.
Marilah, kita belajar menghargai dan menghormati orang lain melalui hal-hal yang sangat sepele/kecil namun efeknya sangat luar biasa, yakni membiasakan memanggil nama orang dengan menyertakan namanya
KULIAH KERJA NYATA (KKN) DALAM PARADIGMA MAHASISWA.
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian).

 Before KKN habis cuci-piring

KKN merupakan serangkaian proses yang harus dilalui dan dijalani oleh mahasiswa sebagai wujud dari tanggungjawab akademik. Suka tak suka, mau tak mau, tetap harus dilalui. Selain hal tersebut merupakan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh mahasiswa, KKN juga merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari lembaga pendidikan (Kampus) kepada masyarakat. Tujuan dari KKN ialah Action (Mengaplikasikan, mempraktikkan, mengimplementasikan, mengamalkan) ilmu yang telah didapat baik di bangku perkuliahan maupun organisasi melalui keterlibatan didalam masyarakat.
Implikasinya, agar mahasiswa dapat menjadi generasi penerus pembangunan bangsa yang peka terhadap realitas sosial dengan memulainya dari sekup terkecil yakni masyarakat. Karena masyarakat merupakan titik awal dan pondasi terkuat bagi pembangunan nasional. Oleh dasar itulah, civitas akademika (Kampus) menyelenggarakan KKN untuk mencerdaskan, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif dan inspiratif.

Di kalangan mahasiswa, KKN mempunyai berbagai macam varians rasa. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mereka berpendapat bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo mereka mengatakan bahwa KKN merupakan moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner mereka memaknai KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah.
Hal tersebut tidak serta merta tanpa dasar, melainkan mempunyai esensi yang sangat dalam. Dapat dibayangkan, bagi mahasiswa yang tidak diberi kiriman uang oleh orangtuanya lalu mereka sehari-harinya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu akan mengalami defisit keuangan. Selama 2 bulan tidak ada “income”/ pemasukan. Kemarin sempat mengobrol dengan teman yang sudah ngajar di suatu sekolah (SD di daerah Magelang), ternyata tidak boleh cuti, sedangkan penempatan KKN dia ada di Gunung Kidul. Ah, saya tidak bisa membayangkan seperti apa. Ini-lah yang disebut bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan merupakan suatu proses yang membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengalahkan segala hal demi menyelesaikan suatu tanggungjawab yang harus segera diselesaikan (dalam konteks ini KKN).

Begitupula dengan pengorbanan yang merupakan manifestasi dan pancaran dari kecintaan dan kebaktian terhadap suatu hal. Mahasiswa bisa saja mengatakan aku ingin KKN dan siap untuk ditempatkan dimana saja, Namun tanpa ada kesediaan berkorban (termasuk mengorbankan tiada income, cuti mengajar dll) hal itu tidak-lah berarti sedikitpun. Karena dalam pengorbanan hanya ada ketulusan. Ya, tulus sepenuh hati tanpa ada pikiran “menguntungkan atau merugikan” ! Begitu pula dalam memaknai KKN. Inilah bentuk jihad dan pengabdian yang sesungguhnya.

Selain itu, ada pula yang memaknai KKN sebagai ajang untuk menemukan jodohnya. Mungkin ini bisa saja terjadi, bayangkan ya 2 bulan bersama. InsyaAllah cukuplah yak untuk ta’arufan dan mengetahui kebiasaan, karakter dan sifatnya. Buktinya dengan berdasar realita empirik ada banyak kakak tingkat saya yang pada akhirnya menikah dengan teman se-posko. Mungkin mereka yakin dengan adanya unen-unen jawa yang mengatakan “witing tersno jalaran seko kulino – Cinta karena tiap hari ketemu”. Dengan adanya keyakinan itulah, Gusti Allah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya. Barangkali, ada yang mau mencoba ini. Monggo...terutama bagi yang masih jomblo, dan bagi yang sudah mempunyai pasangan, jangan lupa ya Profile WhatsApp nya diganti bersama pasangan-nya masing-masing agar tidak di baper-i sama temen se-posko. Hahaha #hanya saran.

Terakhir, KKN merupakan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai bekal guna mengarungi kehidupan selanjutnya. Entah seperti apapun mahasiswa, secerdas dan sehebat apapun ia, se-aktivis diorganisasi apapun. Kelak akan kembali membangun Indonesia. Dan salah satu step-nya melalui masyarakat baik desa maupun kota. Masyarakat (khususnya pedesaan) tidak akan memandang seseorang dari latar belakang pendidikan-nya, jabatan-nya dll. Namun yang dipandang ialah dapat berkontribusi nggak untuk masyarakat? Dalam bahasa jawa-nya, Srawung e karo tonggo apik nggak – Bersosial dengan tetangga baik nggak? Itu yang diperlukan.

Oleh dasar itulah, salah satu dari banyak tujuan Perguruan Tinggi ialah mencetak output dan outcome yang tanggap akan realitas sosial kemasyarakatan. Dan bagi seorang wanita, seperti apapun dia (entah berpendidikan tinggi, aktivis, ataupun wanita karier) juga harus bisa memasak. Kata mayoritas orang, mahir memasak merupakan salah satu indikator keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, sangat cocok apabila KKN dijadikan sebagai ajang untuk berlatih dalam segala hal, prihatin tidak ada income, dan membaur dengan masyarakat. Karena kelak, seperti apapun Mahasiswa akan tetap kembali kepada fitrahnya dengan menjadi bagian dari masyarakat.

Selamat KKN, semua orang pasti pernah mengalaminya. Bedanya, hanya penyebutan nama ! Jadi, santai saja. Nggak usah sepaneng. Hehe
SENTILAN ALLAH YANG MENYENTIL SEGALANYA
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi

“Shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya” (K. Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I, M.Pd saat menjelaskan syarah Hadist Arba'in Nawawi, 3 years ago).

Sudah beberapa kali saya mengalami kejadian hal yang tidak mengenakkan ketika dijalan. Siang tadi, ada motor yang melaju begitu cepat. Tiba-tiba ada barangnya yang jatuh, sontak saat itu pula ia mengerem mendadak. Saya yang berada dibelakang-nya pun kaget dan karena motor tidak bisa dikendalikan akhirnya duerrrrrr, nabrak. Saat itupula saya terjatuh dan seperti mimpi. Sadar dan tidak sadar. Sangat irasional. Bagaimana tidak? Jika dinalar dengan akal manusia yang sifatnya nisbi, hal seperti itu tentu sudah bonyok-bonyok. Motor juga peot dan entah saya seperti apa. Akan tetapi, atas kuasa dan pertolongan Allah kami baik-baik saja bahkan kedua motor pun juga tak ada yang rusak.
Sejenak aku termenung karena masih kaget. Tiba-tiba saja teringat nasihat alm. bapak dahulu “sik...ojo kesusu muring-muring meski sebenarnya kamu tidak salah”. Melihat ibu yang ketakutan (mungkin dikira saya akan menunutut) dia terus memandangi-ku. Dalam batinku, kenapa ibu ini tidak minta maaf? Padahal jelas salah loh, batinku. Karena harapanku kepada Tuhan jauh lebih besar dibanding emosi marah dan rasa tak terima-ku, akhirnya aku putuskan “Ya buk, saya salah jennegan juga salah, kita saling memaafkan ya. Beres. Silahkan lanjutkan perjalanan kembali”. Suami dari ibu itu pamitan pergi. Tinggal saya yang masih minum air putih karena dikasih ibu paruh baya penjaga toko di sebrang Lapangan Kremalan.

Setiap hal, setiap peristiwa dan setiap tempat pasti ada ilmu, uswah dan ibrah-nya. Termasuk kejadian yang saya alami siang ini tadi. Yang pertama, Jangan pernah meremehkan doa. Saya teringat kata ibuku beberapa bulan yang lalu “Nok, doaku itu supaya kamu dijalan selalu dilindungi Gusti Allah”. Benar adanya, meski terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan saat dijalan, tapi selalu dilindungi Gusti Allah dalam artian tidak berat luka dan juga rugi-nya. Yang ada hanyalah pembelajaran dan hikmah untuk tetap waspada dan berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan, ini juga karena doa dari kalian (Teman-teman FB), guru dan juga dosen-dosenku serta doa dari orang-orang yang dipermudah jalannya melalui perantara al qur’an.

Yang kedua, memaafkan dengan menata hati, mengingat Allah dan mengingat jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain. Dahulu saya pernah mengerem mendadak, tapi ternyata orang yang berada dibelakangku tidak marah dan memaafkan kesalahanku. Begitupula dengan hal ini. Karena dulu saya ditolong dan dimaafkan orang, baiklah. Ini balasan terimakasihku kepada orang yang menolongku dengan cara memaafkan kesalahan orang lain (read orang yang mengerem mendadak tersebut).

Yang ketiga, menghemat energi. Memaafkan jauh lebih indah dan mulia daripada marah-marah. Sama-sama dirasakan oleh hati, namun efeknya berbeda. Memang sih, lega banget kalau udah melampiaskan kemarahan. Tapi? Efeknya nanti dibelakang pasti menyesal. Berbeda halnya ketika memaafkan kesalahan oraang, maka hati akan lebih mudah menyambung pada Tuhan dan akhirnya cahaya dan rahmah Allah akan mudah dirasakan oleh hati. Hal tersebut nantinya akan berimplikasi kepada ketenangan batin, mudah memahami orang lain dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Yang ke-empat, ingat kesalahan kita dimasa lalu. Dalam Qs. Al Isra’ disebutkan bahwa in ahsantum ahsantum li anfusikum....... perbuatan baik dan buruk tak lain akan kembali pada diri kita. Untuk lebih njembarke ati, maka harus flashback. Dahulu pernah tidak mengerem mendadak? Jika pernah, ya mungkin ini kausalitasnya. Hehe, Ya biar ngerasain sakitnya orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati kita. Agar bisa sama-sama merasakan meski dengan objek dan konteks yang berbeda.

Yang kelima, Ingat harapan yang disematkan kepada Tuhan. Barangkali kemudahan dan keberkahan hidup yang Allah berikan kepada kita bukan karena kita kaya, karena cerdas, karena punya jabatan dll. Tapi karena mudah memaafkan orang dan pandai mengambil ibrah dan uswah dari setiap alur peristiwa sejarah yang Tuhan berikan. Niatkan saja, semoga dengan peristiwa ini Allah berkenan memberikan kekuatan dan membukakan pintu kemudahan untuk meraih segala hal yang dicita-citakan.

Yang ke-enam, jangan pernah berharap dan menginginkan seseorang menjadi seperti yang kita inginkan, karena itu hanya akan menggelapkan hati (ndogkolke ati). Hal tersebut tercermin dengan batin saya tadi, kenapa sih ibu ini tidak minta maaf padahal salah loh. Kalau saya masih memegang erat kata-kata tersebut, yang ada hanyalah sakit hati. Karena ketidaksesuaian keinginan-ku dengan realita yang ada.

Yang ke-tujuh, Karena peristiwa ini, saya dipertemukan dengan kawan SD yang 10 tahun tidak bertemu. Dahulu temen-temen sering nyomblangin dia sama aku. Hahaha konyolll. Ternyata dia masih ingat sama aku. Eh Mukaromah, sapanya. Wkwkwk

Yang ke-delapan, istiqamahkan shadaqah. Saya masih teringat nasihat Guru Tafsir Aliyah, Kyai Ahmad Lutfian Antoni saat menjelaskan Syarah Hadist Arabain Nawawi, beliau ngendiko bahwa shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya. Yang harus diingat shadaqah itu tidak hanya berbentuk materi (uang), namun bisa hal-hal lain sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Bisa ucapan yang baik, perbuatan yang adil, perlindungan dan rasa aman terhadap makhluk-makhluk Tuhan serta hal-hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat.

Dan terkadang, doa lebih maqbul apabila diucapkan oleh orang yang berada dibawah kita (entah dalam hal ekonomi maupun fisiknya). Oleh karena itu, jangan sampai lupa memohon doa kepada orang-orang yang kita permudah jalannya, serta yang kita bantu. Bisa jadi, hal tersebut dapat menjadi lantaran rahmat, kasih sayang dan perlindungan yang Allah berikan kepada kita, sehingga dalam hal apapun kita tidak terlepas dari belas kasihan Nya.

Jumat, 22 Juni 2018


Design for Change Rabu, 8 Februari 2018.
(MALAS KULIAH)
Feel
Bulan Februari merupakan awal perkuliahan disemester 6. Ya, semester yang tidak lagi muda. Semester yang penuh perjuangan dan pertanggungjawaban. Baik tanggungjawab terhadap diri sendiri, orang lain maupun tanggungjawab akademik. Semester baru seharusnya energi baru dan semangat baru. Namun tidak untuk saya, kali ini saya benar-benar lelah dan penat seakan ingin tidak melangkahkan kaki ke kelas untuk sekedar apel perkuliahan pertama. Tapi justru aku ingin pergi ke perpustakaan untuk membaca dan mengelist buku baru yang ingin ku koleksi sebagai referensi dari penulisan buku karya-ku. Lagi-lagi aku dihantui oleh bisikan sekilas “woy ingat IP”, nanti kalau absen bolong satu nilai nggak bisa A loh alias nggak bisa 4,0. Bisikan yang lain pun terdengar seperti ancaman bagiku, “ingat besok kamu mau izin karena kamu harus LK.II jadi sekarang harus masuk kelas biar bolong absennya nggak banyak, sehingga nggak menjatuhkan nilai.


Imagine
Bisikan-bisikan terdengar begitu dahsyat ditelinga hingga sampai relung batin terdalam. Akhirnya aku menyadari betapa waktu harus dimanajemen dengan baik. Memprioritaskan sesuatu hal yang harus diprioritaskan. Dengan demikan, aku putuskan untuk masuk kelas.

Do
Sesampainya di kelas, ternyata tiada hal yang sia-sia. Kala itu perjumpaan pertama dengan Dr. Muqowim. Dosen Tarbiyah yang famous dalam segala bidang, baik akademik maupun non akademik. Banyak insipirasi dan motivasi yang saya dapatkan ketika mengikuti perkuliahan ini, salah satunya ilmu tentang merubah diri ke arah yang lebih baik dan berusaha untuk senantiasa mengembangkan diri. Rasanya seperti disiram air es dipagi hari, menyejukkan tapi kaget. Dalam hati aku berkata “ah rugi sekali kalau tadi ku putuskan untuk tidak masuk kelas ini”. Akhirnya aku berkomitmen untuk tidak menyepelekan sesuatu hal, sekalipun itu kecil. Setelah perkuliahan selesai, saya putuskan untuk segera menulis hal-hal yang harus segera dilaksanakan dan mencari info tentang seminar.

Share
Tak lama kemudian, teman organisasi mengirimi sebuah artikel terkait dengan seminar kebangsaan dan isu-isu multikultural yang akan diselenggarakan di CH UIN Lantai 2. Saya segera mendaftar dan tidak sabar untuk segera mengikuti seminar tersebut. Hal ini karena saya terinspirasi oleh Dr. Muqowim yang mana beliau selalu mengatakan “Tidak ada waktu untuk menunggu dan melamun”. Karena waktu adalah “jejak perjalanan yang tidak akan dapat terulang kembali”. Untuk itu, manfaatkan waktu dengan baik.

Value
Kisah ini menggambarkan betapa pentingnya untuk tidak mempertututkan hawa nafsu diatas kewajiban. Artinya, kewajiban pertama dan prioritas harus segera diselesaikan dan dikerjakan, meski tidak sesuai dengan keinginan. Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya bahwa orang yang menjalankan kewajibannya dengan baik dan tuntas maka ia akan memberi reward yang berupa hikmah/kasyf dibalik kewajiban itu. Ternyata benar, tidak ada sesuatu yang sia-sia terhadap sebuah pilihan. Meski awalnya malas masuk kuliah dan memilih untuk pergi ke perpus, namun dalam perkuliahan ternyata ada hikmah besar yakni mendapatkan motivasi dan inspirasi baru dari Dr. H. Muqowim, M.Ag.