Rabu, 26 Juli 2017

PART OF MY LIFE
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Masa depan kita ditentukan oleh :
1. Siapa teman kita,
2. Apa organisasi kita, 
3. Buku apa yang kita baca, 
4. Intangibel Capital yang berupa niat, azam, ghirah, doa dan kemauan. Sebagaimana dalam Al Qur'an Allah berfirman : Wa fii anfusikum afalaa tubsirun

Bahwa dalam diri manusia mempunyai potensi yang luar biasa. Semua manusia dibekali Allah dengan potensi yang sama, bedanya ada pada seberapa optimal manusia menggali dan memanfaatkn potensi tersebut. Seperti dalam Qs. An Nahl : 78.

Dunia ini tidak akan berwarna manakala hanya ada satu jenis makhluk , yakni manusia yang berjenis kelamin laki-laki / perempuan. Akan tetapi, dunia ini lebih indah dan berwarna jika kedua makhluk sejenis tadi ada. Yakni adanya perempuan dan laki-laki. Keduanya harus ada, untuk saling mengisi dan saling melengkapi.

Pada dasarnya, Allah SWT melebihkan laki-laki dalam hal fisik dan akal. Mengapa? Karena tanggungjawab yang diemban oleh laki-laki jauh lebih besar dan berat daripada wanita. Yuk mari kita lihat beberapa hal yang menunjukkan kekuatan fisik laki-laki. 
1. Seperti dulu ketika perang, laki-laki muslim diwajibkan Allah untuk ikut berperang (berjihad). Sedangkan sunnah untuk perempuan.
2. Memperbaiki genteng yang rusak, membangun rumah dsb hal itu merupakan tugas dari laki-laki.
3. Bekerja mencari nafkah, menghidupi anak dan istrinya merupakan tugas dan kewajiban dari seorang laki-laki. Istri bekerja hanyalah membantu saja, yang wajib ialah laki-laki.
4. Angkat mengangakat barang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Contohnya adat jawa. Ketika sinoman manten, yang mengangkat baki ialah laki-laki. Tentu baki itu ada isinya. Hhe. Isinya biasanya makanan dan minuman. Kemudian yang menurunkan baki tersebut ialah peempuan.
Selain daripada itu, laki-laki juga di anugrahi Allah dengan kekuatan akal. Jangan dipahami hanya sekilas ya...nanti bisa salah paham. Maksudnya ialah, laki-laki cenderung suka berpikir logis, rasional, tenang dan tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu. Beda dengan wanita, maka dari itu pantas bila laki-laki menjadi imam dalam keluarga, karena sifatnya yang menenangkan dan melihat segala sesuatu secara komperhensif.

Pada dasarnya secara fisiologis tidak banyak perbedaan antara otak laki-laki dan perempuan. Baik berat maupun volumenya. Begitu juga dengan tingkat kecerdasannya. Kalaupun terjadi perbedaan itu pun hanya karena otak wanita sudah terstruktur oleh dominasi hormon estrogen, sedangkan otak pria dikuasai oleh hormon testosteron. Sehingga ditemukan perbedaan respon dalam satu aktivitas yang sama. (Dr. Louann Brizendine, dalam “Women’s and Teen Girls’ Mood and Hormone Clinic”). Dalam melakukan aktivitas, biasanya laki-laki lebih nyaman jika tidak dengan bicara. Akan tetapi lain halnya dengan wanita yang mana ia bisa melakukan aktivitas apapun dengan berbicara. Itulah sebabnya, wanita mampu lebih banyak berbicara daripada laki-laki.

Berbicara mengenai wanita, wanita dalam bertindak menggunakan emosi lebih domain dari pada pria. Kelebihan wanita dalam banyaknya emosi yg dimiliki menjadikannya sebagai pribadi yang lembut, romantis, penyayang, penyabar, penuh cinta, lebih sensitif, keibuan / feminis. Karena kelebihan inilah wanita dipercaya Allah untuk mengandung, melahirkan dan merawat makhluk Allah yang namanya manusia untuk mengisi, memaknai dan memakmurkan bumi. Laki-laki memang pemimpin, tapi wanita-lah yang mencetak dan mendidik para pemimpin. Maka dari itu, harus ada sinergisitas peran antara laki-laki dan perempuan guna terciptanya kehidupan yang aman, tentram dan damai. Sebagaimana dalam Qs. Ar-Rum : 21 bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling mengisi, melengkapi, menyempurnakan dan bersama-sama berjalan dalam bingkai Ridha Illahi Rabbi
Adanya laki-laki hebat, karena dibelakangnya ada wanita hebat pula yang setia memotivasi dan menginspirasi nya serta sebagai penguat untuk merealisasikan tujuan tertentu. Hal ini bisa kita lihat dalam perjalanan hidup Dr. Ibrahim Elfikkiy. Beliau bisa menjadi Motivator islam internasional sekaligus owner Hotel bintang 5 berkat support, dukungan dan doa dari istri nya. Ketika beliau down, siapa yang membangkitkan nya? tak lain ialah istrinya. 

Begitupula dengan Pak Habibi, beliau luar biasa karena dibelakangnya ada wanita yang luar biasa pula, yakni ibu Ainun. Bahkan peran seorang wanita juga amat mendominasi segala aspek kehidupan, termasuk keberhasilan anaknya. Masih ingat Thomas Alfa Edison? Saat dalam kondisi terpuruk dan hampir putus asa, IBU nya lah yang setia meyakinkan dan terus memberikan motivasi kepada nya untuk tidak menyerah. Dalam hal ini  pula, saya yakin bahwa tirakat perempuan juga amat memepengaruhi masa depan suami dan anak-anaknya. senada dengan ngendikanipun Ny. Hj. Khadijah Chasbullah (almh)

Namun secerdas, sehebat, sekuat dan seperti apapun wanita ia tetap membutuhkan peran dari seorang laki-laki. Sesuai dengan Firman Nya : Arrijaalu qawwamuna 'alan nisa' yang pada hakikat nya laki-laki menjadi pondasi pokok bagi terbentuknya suatu bangunan yang kokoh. Lalu mengapa lafal tsb menggunakan redaksi 'ala dan bukan menggunakan Fauqa, padahal sama-sama berarti "atas"? 

Hal tersebut karena lafal 'ala bermakna menempel. Karena faktanya, perempuan selalu membutuhkan laki-laki untuk menopang hidupnya, menemani nya sekaligus menjadi partner hidup untuk meniti pahit manis nya perjuangan di jalan Allah, dan sama-sama meyakinkan bahwa kehadiran dan peran nya membuat perjuangan ini menjadi kian berarti. 

Dan bagi kita-kita yang belum menemukan life partner, SATU HAL yang harus kita pegang, bahwa seperti apapun wanita, akan tetap pada Fitrah nya menjadi bu nyai bagi anak-anak sekaligus partner dan navigator bagi suaminya kelak. Maka seharusnya, pada saat Single seperti ini dijadikan proses untuk perbaikan kualitas hidup dengan belajar menjadi seorang ibu dan partner yg baik. Sehingga, jika sudah tiba waktunya menikah , lika-liku apapun yang terjadi tidak akan kaget dan dengan berbekal pengalaman maka akan siap (menjadi makmum) yang baik dan bertanggungjawab dengan mendidik anak-anak bi tarbiyatin hasanatin. Aaamiiin InsyaAllah😍


And the last i want to say Setiap hal apapun yang kita lakukan, sekecil apapun itu kala kita bersungguh-sungguh menjalaninya, maka akan berhasil. Dan keberhasilan itu tidak melihat darimana seseorang berasal. Sukses bisa terwujud selama ada keberanian bermimpi, mempunyai keinginan dan tekad yang kuat serta pantang menyerah untuk menggapainya (Intangible Capital yg berupa modal yang tidak kasat mata) yang berupa kesungguhan, tekad, ghirah dan Azam. Membuat kurikulum hidup dengan intangible capital. Dan mukaromah lebih mengagumi orang yg berhasil karena Tirakatnya sendiri dalam arti perjuangan dan kerja kerasnya, bukan karena latarbelakang keluarganya. Karena sejatinya, nasab itu bisa dibuat. ketika orangg baik bertemu dengan orang yang baikbaik, InsyaAllah outputnya akan baik pula. Ingat, hanya diri sendiri yg mampu merubah dirinya Sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah...
إبدأ بنفسى !
 
We must improve our selves, to realization our dream. Never give up, try try and try because "Innallaha laa yukhliful Mi'aad"
Karena ditiap lelah dan penat kita, Allah selalu berikan kita semangat dengan "Bahwa Jarak Kemenangan Hanya Berkisar antara Kening dan Sajadah"  

Dan terakhir, Perempuan harus cerdas dan mencerdaskan karena ditangan nya terdapat harapan bangsa ! 













ABOUT MY PARENTS

Mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2015

Dibalik laki-laki yang hebat, dibelakangnya tentu ada wanita hebat yang selalu memotivasi dan menginspirasi nya untuk berbenah dan terus maju, dibalik wanita hebat tentu ada laki-laki hebat yang menopang nya agar selalu kuat dalam menjalani kehidupan, dibalik anak yang hebat tentu ada orangtua yang hebat pula yang selalu mendoakan, mensupport dan memotivasi agar lebih baik dari sebelumnya serta di balik siswa/ mahasiswa yang hebat tentu dibelakangnya ada guru/dosen-dosen yang hebat pula yang selalu menjadi inspirator dan motivator bagi mereka.

Singkat namun melekat, indah nan bermakna. Sekarang aku sedang menempuh pendidikan S1 dalam konsentrasi Islamic education di kampus putih, Kampus rakyat yang terletak di Yogyakarta yang merupakan perguruan tinggi favorite di Jogja, tak lain ialah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu, aku juga masih berthalabul ‘ilm di sebuah Pesantren di daerah Bantul, yakni PP. An Ni’mah Kanggotan Pleret, Pleret Bantul Yogyakarta.

Semua tak lain karena dorongan dan motivasi dari kedua orangtua ku, mereka adalah orangtua hebat yang telah membimbingku untuk menemukan rencana Tuhan untuk diriku, orang tua yang telah mengajarkan banyak hal kepadaku, orangtua yang setia berada di belakang ku, selalu ada untuk ku kapan pun dan dimanapun aku berada, dan orangtua yang telah meyakinkan ku untuk teru maju dan semangat dalam segala hal, termasuk dalam meniti pahit manis nya perjuangan di jalan Allah, semua tak lain karena hidup adalah amanah dan pengabdian.

berikut sekilas deskripsi mengenai orangtua ku,

1. IBU
 
Ibu Sudariyah namanya. Beliau yang melahirkan, menyusui, membimbing dan mendidik saya dan kedua mbak bi tarbiyatin hasanatin. Beliau pula yang mengajarkan arti keikhlasan nan indahnya kesabaran serta yang membesarkan kami dengan susu tauhid. Disetiap sujud panjangnya, beliau selalu berdoa agar keluarga kami selalu berada dalam Naungan dan Ridho serta Rahmat Nya. Pernah suatu malam saya menangis tanpa sepengetahuan nya, karena mendengar doa yang beliau lantunkan saat shalat lail. Ya Allah, seandainya kelak saya berhasil merealisasikan harapan dan cita-cita tentu semua itu karena tirakat beliau. Begitu besar pengorbanan dan perjuangan beliau, kasih sayang dan cinta tulus yang beliau curahkan kepada kami, tak akan pernah kami lupakan.

Saya banyak belajar dari ibu. Yakni tentang bagaimana ibu dalam mendidik anak-anaknya, sikap dan keteladanan beliau dalam memuliakan dan berbakti kepada suaminya (bapak saya). Bahkan Sedikitpun saya belum pernah melihat ibu marah karena bapak. Hanya saja saya mengerti dan paham, kadang jika hatinya terluka (entah karena suatu apa, bisa jadi karena saya ngeyel) beliau memilih menangis didalam kamar. Ketegaran hati beliau ini yang membuat saya salut dan bangga mempunyai sosok ibu yang luar biasa. Kekuatan dan ketegaran hati ibu teruji ketika bapak (partner hidup) yag dicintai Nya meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Beliau menangis dan tidak bisa menyembunyikan kesedihan nya, namun selang berapa jam kemudian tetesan air mata itu berubah bak secercah cahaya yang menyinari kami semua. Beliau mendekat dan memeluk tubuh saya yang pada saat itu lemah lunglai tak berdaya. Sebegitu kuat dan ikhlasnya ibu dalam menerima setiap Ketentuan dan ketetapan Nya.

Doa ibu yang selalu menemani perjalanan ku untuk meniti pahit manisnya perjuangan di jalan Allah. Sering saya mengalami hal yang kurang mengenakkan ketika di jalan (hampir kecelakaan), akan tetapi selalu selamat dari bahaya-bahaya tersebut. Pernah saya jatuh sekali di jalan saat dalam perjalanan pulang kuliah. Qadarullah, dibelakang saya tidak ada kendaraan yang melintas. Seandainya ada, mungkin sudah menabrak saya dan mungkin sekarang saya telah berada dalam kehidupan yang berbeda. Semua itu tak lain dan tak bukan karena doa ibu yang menjaga saya kapan dan dimanapun saya berada. Terharu ketika beliau berkata : “nok, doaku itu semoga sampean dijalan selalu aman dan sehat selalu”. Aamiin, Alhamdulillah....

Saya teringat sabda Nabi tentang kemuliaan yang melekat pada diri seorang ibu. Sampai-sampai lafal ibu diucapkan oleh Nabi SAW sebanyak tiga kali, baru kemudian beliau menyebut bapak. Dan Nabi SAW mengingatkan anak adam agar selalu menghormati ibu. Hadits tentang ibu ini tertuang dalam HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548 yang berbunyi :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.

Salah satu cara saya dalam membahagiakan dan memuliakan beliau ialah berthalabul ‘ilm dengan benar dan bersungguh-sungguh. Ibu selalu mendorong dan mensupport saya untuk terus maju dan berprestasi. Beliau berpesan bahwa Hidup hanya sekali, maka hiduplah dengan berarti. Selalu manfaatkan peluang dan kesempatan mumpung masih muda dan belum menikah, oleh karenanya matang kan semuanya (baik dalam segi mengaji maupun kuliah).



Gambar 1 : Wisuda Pondok An Ni’mah, Kanggotan

Tidak ada yang istimewa dalam wisuda pondok waktu itu, hanya saja saya berhasil memenuhi permintaan bapak dan ibu untuk mengikuti jejak kedua mbak saya (mbak Lihah dan mbak Isti). Semua bisa, karena support dan doa dari ibu. Beliau lah yang selalu memotivasi dan menginspirasi saya dalam menjalani dan memaknai hidup ini.

Sebagai seorang anak, saya wajib ‘ain menghormati, berbakti dan memuliakan beliau. Itu semua belum seberapa dibanding pengorbanan dan perjuangan beliau dalam mendidik dan membesarkan saya hingga saya bisa berada di Kampus sekaligus di jurusan yang banyak di idam-idamkan oleh orang-orang di seluruh Indonesia, tak lain dan tak bukan ialah PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Keinginan beliau yang pada akhirnya menjadi keinginan saya juga ialah “to be a lecturer”. Semoga Allah Meridhoi dan mempermudah segalanya. Terimakasih ibu hebatku, semoga kelak “mukaromah” bisa meneladani panjenengan, yakni menjadi ibu hebat bagi anak-anak, istri shalihah yang menjadi navigator bagi suami dan pendidik yang baik dan benar bagi anak-anak Indonesia. 

2. BAPAK

Bapak Sarmidi adalah nama sosok laki-laki hebat yang mengajarkan saya arti Perjuangan dan Kerja keras. Kala saya down beliau selalu menasihati saya, saat saya lelah dan penat beliau selalu meyakinkan saya bahwa perjalanan masih amat panjang. Bahkan ketika jam 9 malam pun, saat ketika saya telpon beliau rela datang ke pondok sambil membawakan makanan kesukaan saya yakni “sambal tempe” buatan ibu tercinta. Saat terkadang saya malas makan ketika dirumah, beliau tak segan mengambilkan saya makanan (manja karena anak terakhir). 




Bapak adalah sosok laki-laki hebat yang berada di belakang saya,beliau lah kawan sekaligus teman curhat setia dan diskusi yang masukan-masukan nya amat luar biasa dan sangat membangun. Beliau selalu berpesan “jadilah orang yang mandiri, nok”. Jangan menggantungkan diri kepada orang lain, apalagi kepada bapak. Dan sekarang, saya baru menyadari kenapa dahulu bapak memasukkan saya ke pesantren saat teman-teman sebaya asyik menikmati masa remaja nya, memberikan bekal kehidupan dengan mengajarkan gagahnya perjuangan nan kuatnya ghirah dan ‘azam serta membiasakan untuk bersungguh-sungguh dan bekerjakeras demi mendapatkan suatu hal. Tak lain, karena beliau meninggalkan saya terlalu cepat. Ya, diumur saya yang masih 19 tahun yang memang sebenarnya masih membutuhkan hangatnya kasih sayang dari seorang bapak. Tapi apalah daya, Rencana Nya jauh lebih indah dari apa yang terlintas dibenak saya.  

Betapa baik dan gumatinya bapak pada ibu, kedua mbak, kedua menantunya dan terlebih-lebih kepada saya. Semua ia berikan, segenap jiwa raga dan materi beliau kerahkan kepada kami demi mendapatkan pendidikan yang baik (semua beliau lakukan, karena ilmu jauh lebih utama daripada harta keduniawian). Saya masih ingat, dahulu ketika beliau mau memasukkan saya ke pesantren, nasihat yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang adalah “nok, Kelak bapak tidak bisa meninggalkan kepada kamu harta yang berlimpah, akan tetapi bapak hanya akan meninggalkan ilmu. Yang dengan ilmu itulah kapan dan dimanapun kamu berada, akan berharga. Oleh karenanya, yuk sekarang nurut perintah bapak untuk mondok di pesantren yang sama dengan kedua mbakyumu”. Kemudian saya lalui hari-hari itu dipesantren dengan bekal yakin dan penuh harapan pada Nya.

 Bapak meninggal pada hari Jum’at, 23 Desember 2016 pukul 21.30 di RS. Nur Hidayah, Blawong Bantul. H-3 sebelum meninggal, saya menangis didepan beliau sambil menceritakan perjuangan dan kebaikan beliau pada kami, bagaimana awal mula bapak memasukkan kami dipesantren, serta kasih sayang yang beliau curahkan dan segenap jiwa raga yang beliau berikan. Beliau menjawab “masih ingat”  dan bilang “ojo nangis, nok (jangan menangis, nok), nanti bapak susah. H-2 bapak bilang sudah tidak kuat. Lalu saya jawab, kalau memang bapak sudah tidak kuat mboten nopo-nopo pak kulo ikhlas. Sembari saya menceritakan planning dimasa depan, termasuk lanjut studi dan tentang keluarga saya (kelak) diantara nya saya bercerita  bahwa  ingin anak saya ada yang di Gontor. Hal itu karena salah satu cita-cita yang selamanya tidak akan pernah bisa terealisasikan dalam diri saya sendiri (mukaromah)  ialah menunutut ilmu di Gontor, oleh karenanya saya niatkan agar kelak anak atau dzurriyyah saya ada yang mewujudkan itu. H-1 saya memandikan (mengepel) beliau untuk yang terakhir kali nya, sambil saya lantunkan bacaan Al Qalam dan Ar Rahman, dan tanpa saya sadari ternyata bapak meneteskan air matanya sambil berpesan “nok, dimanapun dan seperti apapun kamu, bawalah selalu kejujuran dan kesungguhan karena itulah bekal kehidupan”.  

Saat wisuda pondok itu, bapak masih mendampingi saya akan tetapi kelak ketika saya wisuda sarjana bapak tidak bisa berada disamping saya untuk menyaksikan saya memakai toga dan bahkan kelak ketika saya menikah, bapak tidak bisa menjadi wali nasab saya dan membacakan akad kepada suami saya (kelak). Tapi ya begitulah, kullu nafsin dzaa i qatul maut. Semua yang bernyawa akan mati, semua milik Nya dan akan kembali kepada Nya. Karena hidup adalah amanah yang ketika diminta kembali oleh Nya, kapan dan dimanapun serta dengan kondisi apapun manusia harus siap dan ikhlas sekaliupun itu berat. Saya belajar dari Buya Syafi’i saat beliau ditanya bagaimana rasaanya ditinggal oleh putra-putra tercinta nya (dua putranya) meninggal dunia. Saat itu beliau menjawab, sebenarnya sakit dan pahit. Akan tetapi, dengan adanya iman dihati, maka sadar bahwa semua adalah titipan Nya.
 
Betapapun itu, hidup harus terus berlanjut. Masih banyak harapan dan cita-cita yang harus direalisasikan, masih banyak hal yang harus dilakukan dan masih banyak orang-orang yang harus dibahagiakan. Bapak, terimakasih telah mengajarkan banyak hal kepadaku, membimbing ku untuk menemukan rencana Allah yang ada pada diri ini

Dan Alhamdulillah engkau meninggalkan kami, saat tugas dan tanggungjawabmu dalam mendidik kami telah usai. Kini, mukaromah melanjutkan perjalanan kembali dengan bekal yang telah bapak beri dan ajarkan. Irfa’ Darajaatihi bil Karimah, Rabb
HUMAN RELATIONSHIP
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير
Artinya : hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
 
Salah satu tujuan Penciptaan manusia ialah untuk saling kenal mengenal. Dari situlah, muncul benih Kasih sayang, persaudaraan/ukhuwwah, toleransi, saling menghargai, menyayangi dan saling mendoakan antar sesama manusia. Dalam akhir Qs. Al baqarah Allah berfirman : Rabbanaa laa tuakhidznaa in nasiina au akhtha'naa.

Mengapa ayat tsb menggunakan redaksi AU bukan WA? Bukankah faktanya manusia itu tempatnya salah DAN lupa? Itulah bentuk Kasih sayang Allah yang ia curahkan kepada semua hamba Nya (tanpa terkecuali). Ayat tsb mengandung makna psikologis yang amat sangat dalam, buktinya kita sebagai manusia sering melakukan kesalahan dan lupa tapi Allah berkenan membesarkan hati kita, seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang kita perbuat, karena kita lupa ATAU salah.
Begitupula kita sebagai manusia, sudah semestinya menebarkan cinta kasih dan sayang kepada segenap makhluk Nya.

Adapun wujudnya, dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. Salah satunya ialah Berkomunikasi. Ya, komunikasi merupakan alat strategis utk mendekatkan yang jauh, berbagi kabar, merekatkan ukhuwwah, sharing/curhat, menjaga keharmonisan suatu hubungan/relasi dll. Analoginya sprti orang yg sdg jatuh Cinta dan atau menjalin suatu hubungan. Tanpa komunikasi apalah arti semua itu, namun..dalam konteks relasi 'pacaran' sering-sering komunikasi itu malah tidak baik, salah satunya ialah dpt memicu kebosanan kepada pasangan nya. Ahh tapi kangen je, dia kok jarang ngehubungi aku sih? katanya cinta, kok nggak pernah nge-chat?

Hellooo.. Justru yg seperti itu lah yang namanya menjaga. Menjaga dari segalanya.
Yakinlah, akan ada saatnya sesuatu yang awal nya haram menjadi halal, yang awalnya maksiat menjadi berkah dan ibadah. Hanya orang-orang sabar yang akan menikmatinya di waktu yg tepat dan dengan org yang tepat pula.

Adapun komunikasi antar sahabt itu juga perlu. Bayangkan, jika biasanya temen kita sering mengajak kita ngobrol tiba2 ia tidak menyapa bahkan jarang ngobrol dg kita. Tentu felling kita akan mengatakan.. Duh ada apa ya..apa salahku? Kenapa dia diam tanpa kata? Hahaha. Ya maka dari itu, dalam bukunya David Golmen tentang IQ, EQ dan SQ. Ciri khas org yg mempunyai EQ baik dan tinggi ialah mereka yang ramah,peduli dan peka terhadap realitas sosial. So, yuk belajar jd orang ramah. Enak kok guys, kita akan banyak temen nya. Hehe😃

Adapun bentuk kepedulian kita pada sahabt yang jauh disana, kita dapat menjalin hubungan dengan nya lewat HP/sosmed. Namun karena kesibukan, akhirnya hal itu menjadi pemicu miss communication. But, i believe he/she is always remember you. Klu ketemu, pasti heboh bahkan sampai nggak mau pisah lagi. Dan ketahuilah, sesuatu yang paling mendekatkan antara ribuan jarak yang berjauhan ialah seuntai doa.
 
Doa merupakan cara sederhana untuk mengobati rindu, mengingat namanya di pelukan Nya dan mengubah sesuatu yang awalnya mustahil menjadi mungkin terjadi karena kuasa Nya
UNU (Universitas Nahdlatul 'Ulama' Yogyakarta)

Allahumma Shalli 'ala sayyidinaa Muhammad !!!
Dengan mengucap Alhamdulillah rabbil 'alamin. Kini UNU (Universitas Nahdlatul Ulama') membuka pendaftaran mahasiswa baru di Jalan Lowanu, 47 Surosutan, Umbulharjo, Yogyakarta
Telp : (0274)419769, 414809
Email : pmb@unu-jogja.ac.id
Website : www.unu-jogja.ac.id

PT NU ini akan mengembangkan nilai-nilai ‘keistimewaan Jogja’ yang terletak pada:
1. revitalisasi dunia kepesantrenan yang tidak sekedar mentransformasikan pengetahuan dalam arti cognitive oriented, apalagi yang sekedar memenuhi keinginan pasar, namun mensublimasikan sebuah spirit yang sangat terkait soft skill dasar yang dipengaruhi ajaran keagamaan dan nilai-nilai kearifan.
2. Mengorganisasi nilai-nilai kepesantrenan yang menyimpan mutiara ke-aswaja-an (doktrin ahlus sunnah wal jamaah) dalam pergerakan pengetahuan yang sistematis.
3. Menyiapkan kader penggerak yang tumbuh dalam tradisi akademik yang mengkombinasikan tradisi pesantren dan kampus yang bukan hanya memiliki kapasitas keilmuan tertentu, tapi juga memiliki moralitas dan spiritualitas memadai.
4. Mengkayakan khazanah lokalitas keistimewaan Jogja yang sarat dengan tradisi dan kultur jawa, yang mencerminkan tradisi kerajaan Mataram Islam, yang secara psikologis sangat berdekatan dengan mainstream kebijakan NU yang banyak digerakkan oleh para ulama.

Visi Misi UNU ialah :

Visi : Menjadi lembaga keilmuan untuk mendukung terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang berkeadilan dan demokratis atas dasar islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Misi : Menyelenggarakan pendidikan tinggi yang berkualitas dalam rangka menghasilkan sumberdaya insani yang memiliki keunggulan moral-spiritual, emosional, intelektual, keterampilan hidup, kemandirian, dan kepedulian terhadap umat dan lingkungan. Menyelenggarakan penelitian yang mampu menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan

Adapun Fakultas dan Prodi di UNU ialah :
1. Fakultas Teknologi informasi -Teknik informatika
- Teknik komputer
- Teknik elektro
2. Fakultas Industri Halal
-Agribisnis
-Teknologi Hasil pertanian
-Farmasi
3. Fak. Dirasah Islamiyah
-Dirasah Islamiyah (Studi Islam Interdisipliner)
4. Fak. Ilmu Pendidikan

 -PGMI
-Pend. Bahasa Jnggris
5. Fak. Ilmu ekonomi
-Akuntansi
-Manajemen


Pendaftaran dapat melalui :
Pmb.unu-jogja.ac.id (24 jam)
Atau dapat langsung datang ke kampus UNU Jogja buka setiap hari Senin - Jum'at (08.00-16.00)

Tenaga pengajar profesional, alumni dari kampus ternama baik negeri/pun luar negeri. Diampu oleh para kiyai, magister, doktor dan professor. Dilengkapi dengan sistem IT terpadu, perpustakaan dengan lebih 400.000 e-book dll.
For more information about UNU :
087838398046 (Mukaromah)

Kamis, 06 Juli 2017

LEBARAN, NYADRAN DAN MAKNA KEDUANYA
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi

Lebaran merupakan moment yang paling dinanti-nantikan oleh mayoritas muslim diseluruh dunia. Bahkan di Indonesia pun, lebaran merupakan salah satu alternatif yang digunakan untuk berkumpul bersama keluarga besar. Moment setahun sekali ini sangat sayang jika dilewatkan, sehingga tak ayal jika jalanan macet, hal itu karena orang-orang sangat antusias untuk merayakan lebaran bersama keluarga, bahkan perantau jauh pun sudah memesan tiket dari jauh-jauh hari sebelum lebaran untuk mudik ke kampung halaman dengan harapan lebaran bersama keluarga dan sanak saudara.

Masing-masing daerah tentu mempunyai adat yang berbeda-beda, termasuk untuk merayakan lebaran. Ada desa yang mempunyai tradisi seusai shalat ’idul Fitri kemudian berkumpul bersama para jamaah di masjid, untuk bersalam-salaman sehingga tidak perlu lagi datang ke tiap-tiap rumah untuk meminta maaf. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meng-efektifkan waktu barangkali ada yang mau silaturrahmi ke tempat saudara yang berada di desa lain ataupun kepentingan yang lain. Selain itu, ada pula desa yang mempunyai tradisi seusai shalat idul fitri kemudian bergegas bersama-bersama untuk pergi ke makam desa guna ziarah kubur. Adapun acara yang di selenggarakan di makam ialah tahlil bersama.

 Asal muasal ini ialah adanya anggapan atau stigma yang sudah turun temurun di masyarakat bahwa ketika bulan puasa, tahlil yang dikhususkan kepada orang yang sudah meninggal dunia tidak sampai. Akan tetapi doa tersebut akan sampai manakala telah berakhirnya bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sebelum memasuki bulan puasa (ramadhan), masyarakat ini biasanya mengadakan nyadran.

Berbicara mengenai nyadran, sebenarnya nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha. Akan tetapi pada abad ke-15, Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya, para wali tersebut berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada tradisi masyarakat Jawa saat itu, yakni mengenai pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musyrik. Oleh karenanya, agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa pada saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelasraskan dan mengisinya (akulturasi dan asimilasi) dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Sehingga nyadran merupakan bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan. Yang dengan hal inilah, orang jawa mengatakan nyadran sebagai bekal makanan (read : Doa) leluhur untuk sebulan, karena mengingat pada bulan Ramadhan nanti tidak tahlil (mendoakan leluhur).

Dan nyadran merupakan salah satu bentuk penghormatan dan birrul walidain kepada para leluhur yang telah lebih dulu menghadap ke hadirat Nya. Ya, begitulah keyakinan dan seperti itulah adat tradisi yang telah turun temurun dalam suatu masyarakat, dan menurut hemat saya hal tersebut merupakan adat yang baik, jika ada yang mengatakan perbuatan semacam itu adalah bid’ah, dengan tegas sy menjawab bid’ah hasanah yang harus dilestarikan dan dijaga sepanjang masa, karena itu merupakan ajaran yang sesuai dengan Al Qur’an dan warisan nusantara.

Mungkin mudah bagi orang untuk mengatakan hal semacam itu bid’ah sayyiah karena memang orang tersebut belum pernah merasakan yang namanya mati. Bukan kah orang mati juga membutuhkan asupan makanan yang dalam hal ini makanan tersebut berbentuk doa? Seperti sabda Rasulullah SAW : Apabila seseorang itu meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan untuknya.

Seusai membaca doa untuk lelehur di makam pada moment lebaran, biasanya dalam suatu masyarakat ada tradisi keliling kampung. Yang mana tiap-tiap rumah menyediakan jamuan makanan untuk para tamu. Tak hanya sekedar jamuan makanan, tetapi juga ngobras (ngobrol santai) entah itu seputar pekerjaan, pendidikan, maupun tentang jodoh. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan ialah “kapan nikah nya”? sudah ada yang melamar belum? Dsb. Yang terkadang hal itu membuat baper alias bawa perasaan. Hahaha...

Betapapun itu, moment lebaran sungguhlah indah nan bermakna. Lebaran merupakan moment untuk merekatkan pasuduluran, ukhuwwah sekaligus simpul perdamaian dan wujud kongkrit dari islam rahmatan lil ‘alamin.

Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya kariem. Sugeng riyadi, kathah lepat kulo nyuwun pangapunten lahir batos lan nyuwun doa pangestunipun.....
selamat hari raya Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan batin. Semoga selalu dalam naungan, bimbingan, ridha dan rahmat Nya.
(laqad khalaqnal insana fii ahsani taqwim)

Mukaromah Zain Baiikbaiix (yang belum ber-) Keluarga
MAKNA BAPAK DALAM PENDEKATAN PSIKOLOGIS DAN HAKIKAT BERJABAT TANGAN
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi, 29 Ramadhan 1438 Hijriyah

Beruntunglah kalian yang masih bisa mencium tangan seorang bapak, bercengkrama dengan nya sambil menceritakan suka duka nya menjalani kehidupan. Bahkan disaat lebaran nanti, kalian masih bisa sungkem kepada nya sambil meminta doa restu agar dipermudah dalam segala hal. Dia adalah seorang laki-laki paruh baya yang mendambakan dan berusaha seoptimal mungkin dalam mendidik putra putri nya agar menjadi permata yang elok, shaleh nan cerdas iman, hati, pikiran dan tindakan. Seorang laki-laki yang bekerja keras demi menafkahi istri dan anaknya dalam bingkai ridha illahi Rabbi serta laki-laki yang merindukan pelukan hangat dari putra putri tercinta nya.

Begitu besar jasa, perjuangan dan pengorbanan seorang bapak, sehingga grup band Seventeen pun mengabadikan namanya dalam sebuah lirik lagu “Ayah”, berikut cuplikan nya :
Engkaulah nafasku
Yang menjaga di dalam hidupku
Kau ajarkan aku menjadi yang terbaik
Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku
Kau berikan aku semua yang terindah.

Waktu ibarat pedang. Yang sudah berlalu, tidak akan pernah dapat kembali seperti sedia kala. Oleh karenanya, selagi masih ada sosok nya maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyayangi, menghormati dan berbakti kepada nya, yang dapat dimanifstasikan dengan berbagai macam hal sebagai wujud rasa sayang dan hormat kita pada sosok bapak, yang kemungkinan antara satu orang dengan orang lain berbeda-beda. Ada yang menjadikan tolak ukur untuk membahagiakan bapak nya ialah dengan menjadi orang kaya yang kemudian mencukupi segala kebutuhan nya, ada pula yang memberikan tolak ukur kebahagiaan untuk seorang bapak dengan manut (sami’na wa atho’na) dengan perintah bapak (perintah yang ma’ruf) sehingga term shalih/shalihah melekat dalam dirinya. Semuanya baik, dan semuanya tidak salah.

Oleh karenanya, mumpung masih diberi kesempatan melihat wajahnya, ungkapkanlah apa yang terbesit dalam benak. Karena hidup itu singkat, maka sampaikanlah apa yang terpendam di dalam hati. Sampaikan rasa terimakasih kepada nya karena telah membimbingmu untuk menemukan rencana Tuhan untuk diri mu.

Bahkan dalam pendekatan psikologis dengan berdasar pada pengalaman empirik, kedekatan emosional seorang anak kepada bapak dan ibu nya tergantung pada usia si anak. Bayi sampai umur 17 tahun mungkin ia lebih dekat kepada ibu nya, akan tetapi ketika umur 17 tahun keatas bahkan ketika seorang anak telah menikah, kedekatan emosional si anak cenderung kepada ayah nya. Sehingga wajar jika ada seorang anak (apalagi) anak perempuan yang bapak nya telah tiada, dia seneng banget kalau melihat bapak-bapak. Ketika melihat mereka, maka ia terbayang wajah bapak nya dan ingat akan curahan kasih sayang yang telah bapak berikan kepadanya.

Saya jadi teringat ketika teman saya presentasi tentang akhlaq kepada guru dan orangtua yang ketika itu berbicara mengenai adab seorang murid dan anak dalam paradigma islam. Ia mengatakan bahwa “salah satu bentuk penghormatan seorang murid kepada gurunya ialah dengan Bersalaman (berjabat tangan). Akan tetapi, berjabat tangan harus disesuaikan dengan jenis kelamin. Boleh bersalaman ketika guru laki-laki dengan murid laki-laki, tetapi jika guru tersebut laki-laki sedangkan muridnya itu perempuan, maka jangan bersalaman”.

Dalam konteks tersebut, ketika kita kembalikan kepada Al Qur’an dan hadits mungkin tekstual nya seperti itu. Akan tetapi, marilah kita kaji lebih dalam dengan pendekatan psikologis, emosional dan kontekstual kehidupan agar lebih berkesan nan bermakna. Menurut hemat saya, tidak selamanya bersalaman dengan lawan jenis (dalam konteks ini antara guru dengan murid) tidak diperbolehkan. Akan tetapi, kita harus melihat konteks (situasi dan kondisi). Ada kalanya seorang murid mengajak salaman kepada guru nya karena bapak dan atau ibu nya telah meninggal dunia, atau bahkan si murid tersebut lama tidak berjumpa dengan bapak/ibu nya karena mereka kerja diperantauan. Begitu pula ketika seorang guru mengajak salaman kepada muridnya, mungkin bisa jadi ia belum mempunyai buah hati atau bahkan guru tersebut sangat menyayangi dan mencintai murid-muridnya.

Marilah, kita melihat sesuatu lebih dalam. Jangan hanya menyimpulkan sesuatu berdasar pada satu paradigma akan tetapi haruslah memposisikan diri dengan berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Bukankah dalam nya laut bisa di tebak, namun dalam nya hati manusia siapa yang tau? Karena hakikat kebahagiaan ialah melihat orang lain bahagia.

Jika engkau seorang guru, ulurkan lah tanganmu dan ikhlaskan untuk dipegang erat oleh tangan-tangan kecil muridmu. Bisa jadi satu diantara mereka akan selalu mengingat dan mendoakanmu. Begitu pula Jika engkau seorang murid, berbahagialah jika sedang berjabat tangan dengan gurumu, karena faktanya bukan kecerdasan, bukan pula materi ataupun fisik yang menjadikan seorang sempurna serta dapat mengantarkan pada keberhasilan hidup, tetapi karena barakah ilmu yang didapat dengan ta’dzim kepada guru.

Dan pada akhirnya, berjabat tangan merupakan salah satu cara sederhana untuk mengobati rindu sekaligus merupakan simpul perdamaian, simpul kasih sayang, simpul keakraban dan simpul penghormatan.
FILOSOFI SYAWALAN
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Berangkat dari ayat fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah dan lupa) akan tetapi manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al Qur'an mengatakan manusia sebagai ahsanu taqwim wa ahsanul khaliqin yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
1. Potensi beragama, (25%) / (+)
2. Potensi akal, (25%) / (+)
3. Potensi fisik (25%) / (+)
Dann terakhir adalah potensi Nafsu (20%) / (+ dan -)

Yang mana pembagian nafsu tersebut ada :
a. Muthmainnah, : Nafsu yang mendorong manusia utk berbuat baik dan terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan perdamaian dengan hati, diri sendiri maupun orang lain. Sehingga hati nya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan Mengingat Allah. Maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus di manifestasikan dalam tindakan nyata sebagai wujud ketaqwaan Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dll. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika kita mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insyaAllah hati akan merasa tenang dan nyaman

b. Waswasah : Nafsu yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisan nya.
Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah Lisan. Sehingga Nabi SAW bersabda : "Jika engkau tidak bisa berbicara baik, maka diam lah" Sebuah kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan kita bersama

3. Lawwamah : Nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Dan nafsu lawwamah inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindari nya. Sehingga ini jika di prosentasekan sebanyak (5%) /(-)
Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsu nya dengan baik.

Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dengan segala aspek dan dimensi nya. Tak lain karena manusia mempunyai akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia berbeda dengan hewan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mengetahui arah tujuan yang jelas. Manusia hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Namun.. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah Menuju kehadirat Nya dengan jalan yang sesuai dengan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al Qur'an.

Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, Cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi.

Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman Nya :
"wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna"

Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam menjalani kehidupan ini.

Allah memberikan kita hati, agar kita peka terhadap realita sosial sebagaimana agar kita mengetahui keadaan orang dibawah kita dan kemudian kita mampu memposisikan diri kita seperti nya. (Olah rasa)
Dengan mata, kita mampu melihat orang-orang sekitar yang hidupnya berada dibawah kita agar kita pandai bersyukur.
Dengan teliga, kita mampu untuk mendengar jerit tangis mereka serta mendorong kita untuk berbuat sesuatu.
A
dapun relevansi nya dengan makna Puasa ialah agar kita dapat merasakan betapa perih nya orang yang kekurangan makanan, menahan diri dari sesuatu yang secara dzahir terlihat Indah nan mempesona. Seperti kata pak dosen Radino Fernando, puasa itu belajar mati. Meskipun kita di iming-imingi sesuatu yang menggoda di depan mata, kita tidak akan tertarik untuk mencicipi nya.

Kemudian, seusai Bulan Ramadhan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada kita untuk berzakat. Mensucikan diri kita, dari segala kotoran. Dan mengasah kepedulian kita terhadap sesama yakni dengn menyantuni fakir miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan.

Berdasar ulasan tadi, kesimpulan nya adalah manusia cenderung kepada kebaikan. Dan gelisah atopun ada yang mengganjal di hati apabila ia melakukan dosa dan salah, entah yang diperbuat kepada Allah ataupun kepada sesama manusia. Oleh karenanya, meminta maaf dan saling memaafkan merupakan salah satu alternatif untuk mensucikan diri dan kembali kepada Fitrah sejati manusia yang menghambakan diri kepada Nya, dan sadar akan eksistensi dirinya sebagai hamba, ummat dan manusia yang tidak luput dari salah dan lupa.

Sebagaimana Firman Nya :
"Rabbanaa la tuakhidznaa in nasiina au akhtha'naa"
Mengapa prof disitu Allah berfirman dengan menggunakan kata AU? bukankah faktanya, manusia itu tempatnya salah DAN lupa? Hal itu saya tanyakan kepada Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M. Ag. Beliau mengatakan : "Ayat tersebut mengandung makna psikologis yang amat sangat dalam. Faktanya, kita sebagai manusia sering berbuat salah DAN lupa. Tapi, Allah berkenan membesarkan hati kita seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang kita perbuat karena kesalahan ATAU kelupaan kita"
Begitu besar curahan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba Nya, dan seharusnya kita pun juga demikan.

Ada pertanyaan, Lalu lebih baik mana :
Memohon maaf kepada semua orang, atau memaafkan semua orang ?
Menurut saya, memaafkan orang lain lebih utama. Akan tetapi, kita harus sadar bahwa seperti apapun manusia, secerdas dan sehebat apapun manusia tentu selama srawung (kenal) Pasti pernah berbuat salah dan lupa pada orang lain, sehingga tak salah jika orang tersebut meminta maaf kepada orang lain. Kerena minta maaf merupakan wujud Kasih sayang dan cerminan serta manifestasi hati sebagai seorang manusia yang insyaAllah mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, sehingga ia menyadari bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa.

Oleh karenanya, memaafkan semua orang juga harus bersinergi dengan memohon maaf kepada orang-orang. Karena "innal insana mahaalul khata'i wa nisyan". Tak lain karena manusia ialah human being. []


FULL DAY SCHOOL DAN SUARA SANTRI UNTUK NEGERI

Mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga, LPM Paradigma UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Full day sechool akan di terapkan di Indonesia pada bulan Juli ini. Tentu hal itu menimbulkan pro dan kontra dari berbagai lapisan masyarakat. Mendikbud berharap dengan adanya full day school akan dapat lebih mengoptimalkan dan memberdayakan potensi dan skill siswa baik dalam ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik. Visi misi beliau ingin mencetak generasi bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual akan tetapi juga cerdas secara spiritual yakni dengan melalui program full day school, dimana anak melakukan berbagai kegiatan di lingkungan sekolah dari pukul 07.00 sampai sore hari. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak terjrumus dalam pergaulan bebas seperti tawuran, narkoba dll.

Program full day school telah terimplementasi dalam lembaga pendidikan yang berbasis pesantren, baik tradisional maupun modern. Banyak kita jumpai pondok pesantren yang sepaket dengan sekolah/madrasah formal, sehingga anak-anak mudah untuk melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan dari bangun tidur sampai tidur lagi, begitu seterusnya. Yang menjadi persoalan adalah, program full day school telah terimplementasi dengan baik di suatu lembaga yang memang telah menerapkan hal itu, akan tetapi bagaimana jika program tersebut di implementasikan dalam sekolah/madrasah yang sebelumnya tidak menerapkan full day school? Apakah sekolah-sekolah beserta infrastruktur nya akan siap?? Menurut hemat saya, perlu melihat segala hal secara komperhensif sebelum program tersebut benar-benar diterapkan secara nasional.
Berikut argumen Full Day school dan sedikit opini dari saya :

1. Tujuan full day school untuk kemaslahatan ummat agar anak-anak tidak menghabiskan sisa waktu sepulang dari sekolah untuk hal-hal yang tidak bermanfaat sehingga dikhawatirkan terjrumus dalam pergaulan bebas (narkoba, seks bebas,,mabuk-mabukan) dll. Maka dari itu,  di gulirkan program full day school untuk penanaman karakter anak (pendidikan karakter).

( : ) Jika memang tujuan program tersebut seperti itu, alangkah baiknya dimulai dari hal-hal kecil dahulu yakni penambahan jam mapel agama disemua jenjang. Selain itu juga, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Kemudian guru juga tidak hanya mentransfer mata pelajaran saja akan tetapi yang lebih dari itu menjadi motivator, dan sebelum memulai pelajaran sebaik nya guru memberikan cerita tauladan (kisah orang-orang hebat ; Nabi, Sahabat, ilmuan muslim dsb) dengan di desain oleh masing-masing guru dan dilaporkan kepada kepala sekolah beserta dengan RPP yang telah dibuat oleh guru. Selain itu hal yang tidak kalah pentingnya di lingkungan sekolah harus membiasakan dalam mengimplementasikan nilai-nilai  agama dan pancasila. Bagaimana mungkin anak akan tau dan paham etika kalau jam pelajaran agama saja hanya maximal 2x dalam seminggu, itupun masih lumayan. Ada juga sekolah yang mapel agama hanya 1x dalam seminggu. miris bukan?
2. Maksud dari full day school bukan belajar pelajaran seharian suntuk tetapi di isi dengan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pembentukan karakter anak.

( : ) Berdasar hal ini, menurut pengalaman saya sejak MTs sampe Aliyah, ekstrakurikuler itu selalu ada. Yakni terbagi dalam dua hal. Wajib dan pilihan. Adpun ekstrakurikuler yang wajib adalah pramuka. Sedangkan ekstrakurikuler pilihan diantaranya tilawah, tartil, tahfidz,  volli, basket, paduan suara, arabic and english club, dsb. Ekstrkurikuler tersebut merupakan program lama. Anak-anak yang memiliki bakat tertentu pasti akan memilih ekstrakurikeluer yang mendukung bakat nya tersebut. Sehingga ia puya skill komparatif, dengan kunci tlaten dan tidak malas-malasan. Lalu yang tidak ikut ekstrakurikuler pilihan bagaimana? Ya mungkin mereka sibuk, dipondok sudah ada kegiatan sendiri yakni diniyah. Ada juga anak yang takut, nanti kalau tidak ikut kegiatan pondok dita'zir atau ada juga yang berpendapat bahwa waktu sekolah ya pagi sampai siang. Kalau sore waktunya di pondok. Dan memang masing-masing sudah ada waktunya sendiri-sendiri. Lalu terkait dengan ekstrakurikuler yang bertujuan untuk penanaman pendidikan karakter, saya setuju. Tapi itu dibatasi dengan waktu. Karena apa? kasihan santri, jika full day school dilaksanakan dengan berangkat jam 7 pagi pulang jam sore. Lelah fisik bisa beristirahat, tetapi jika lelah Pikir? semuanya malah membuat down anak. Padahal pendidikan menurut Ki.Hajar Dewantara adalah Taman yakni harapan agar orang (peserta didik) selalu senang dan tidak ingin jauh dari taman tsb. Yang mana taman merupakan sekolah, yang selalu di dambakan oleh setiap orang, bukan sebaliknya yakni menjadi momok yang ditakuti dan membuat kapok/jera orang yang ingin datang ke tempat tersebut.
   3. Tujuan nya untuk menunggu orangtua yang sedang bekerja, sehingga sekolah merupakan sarana strategis untuk mengatasi hal itu. Dengan harapan, ketika orangtua pulang anakpun juga pulang. Dan program ini menjadi sarana strategis untuk mengoptimalisasi pembentukan jati diri anak, termasuk faktor psikologis.

( : ) Berdasar hal itu, kiranya kita perlu memposisikan segala sesuatu dengan berbagai kacamata dari sudut pandang yang berbeda, termasuk harus melihat dulu subjek nya. Iya mungkin kasus tersebut terjadi di daerah perkotaan yg highclass. Tapi beda ketika di Desa. Setiap ba'da Ashar anak-anak selalu mengisi waktunya untuk mengaji di TPA dsb. Begitupula dengan gurunya, banyak yang mempunyai tanggungan mengajar TPA maupun privat diluar sekolah. Sebenarnya jika memang itu kekhawatirannya, kita kembalikan lagi pada pendidikan dalam keluarga. Karena keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan utama. Orangtua salah besar jika kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan si anak kepada guru disekolah, kemudian orangtua lepas tangan. Sehingga mereka acuh tak acuh dengan perilaku anak, bahkan tidak mengontrol anak. Oleh karenanya, harus ada sinergisitas antara orangtua, peserta didik, lembaga sekolah dan lingkungan untuk bersama-sama mewujudkan tujuan pendidikan. Jika berkaca di daerah pedesan, banyak anak-anak sekolah yang ikut melebur dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat dan begitu pula banyak anak-anak desa yang ikut membantu orangtua nya untuk mencari nafkah, misal nya angon kambing, sapi atau lembu, menjaga warung, ikut ke sawah dll. Jika waktu mereka dihabiskan di sekolah, tentu hal-hal semacam itu (interaksi sosial dan ajar prihatin dalam kaitan ini berhubungan dengan akhlaq) kurang optimal. Karena pendidikan bukan hanya soal otak/kognitif, tetapi pendidikan harus seimbang antara IQ, EQ dan SQ. Sehingga, unsur pendidikan bukan hanya terdiri dari Sekolah/madrasah saja, melainkan yang lebih dari itu ialah lingkungan/masyarakat. 

      Dalam paradigma yang objek sasaran nya santri, satu hal yang harus menjadi pertimbangan pula ialah, tidak semua sekolah/madrasah sepaket dengan pesantren (tidak semua berbentuk MBS). Jika pondok pesantren tersebut sepaket dengan sekolah nya, maka program ini merupakan program yang efektif dn efisien. Akan tetapi, di sisi lain ada anak yg harus menempuh jalan berkilo-kilo untuk menuju dari pondok ke sekolah, begitu sebaliknya, karena memang bukan sistem MBS. Dan itupun harus berangkat pagi-pagi agar tidak telat ke sekolah. Dan jika pulang nya sore, tentu hal itu akan tabrakan dengan jadwal kegiatan pondok yang memang sudah mengakar dan menjadi aktivitas wajib bagi semua santri, tanpa terkecuali. Bukankah agama mengajarkan kita untuk seimbang antara duniawi dan ukhrowi? Marilah kita melihat santri yang mencuri-curi waktu di sela- sela kesibukannya untuk menyetor hafalan, murojaah kitab dsb.

    Sehubungan dengan hal ini, kabar nya mapel agama dikelas akan dihapuskan, diganti dengan pengintegrasian pembelajaran agama diluar kelas. Yang mana melalui program full day school, pembelajaran tidak sepenuhnya berada di dalam kelas, akan tetapi belajar di alam terbuka, seperti pergi ke masjid (bagi islam), gereja dll (bagi non muslim). Sehingga dari hal itu, tidak perlu lagi pembelajaran agama di dalam kelas. Menurut hemat saya, tentu hal itu akan berbenturan dengan kurikulum sekolah/madrasah sebagaimana yang tercantum dalam KMA nomor 165 tahun 2014. Sehingga jika mapel agama di hapuskan maka akan merubah kurikulum yang selama ini diterapkan di Indonesia. Lalu pertanyaan nya adalah, apakah mapel agama seperti Akidah Akhlaq, Qur’an hadist, SKI, Fiqih dsb juga akan dihapuskan? 

     Pada dasarnya setiap sesuatu pasti ada sisi positif dan negatifnya. Ada kelebihan, ada pula kelemahan. Jika dilihat dari sisi positifnya, di daerah perkotaan program ini menjadi solusi tepat untuk mengatasi problem remaja yang kian memprihatinkan, mengingat orangtua mereka sibuk dengan pekerjaan nya sehingga waktu bersama keluarga khususnya pemantauan dan penjagaan terhadap anak menjadi berkurang.  Sehingga anak merasa free will dengan melampiaskan kepada sesuatu yang kurang baik, seperti tawuran, narkoba dsb. Adpun sisi positif yang lain, sekolah yang memang telah menerapkan program Full day school dengan daya dukung dan kompleksitas yang baik telah mencetak lulusan yang hafal Al qur’an. Akan tetapi jika FDS ini di implementasikan secara nasional, kiranya perlu untuk melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda-beda dan dengan pertimbangan yang matang guna tercapainya visi misi pendidikan untuk Indonesia yang lebih baik, untuk saat ini, esok dan selamanya. Jika mengacu pada filsafat Pendidikan, pada dasarnya rekontruksi pendidikan sangat diperlukan dengan tujuan untuk menemukan solution and problem solving yang berkaitan dengan krisis moral, sains dan realitas sosial. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, guru, orgtua dan mentri, tetapi tanggung jawab setiap warga negara.. Karena maju mundurnya bangsa, dilihat dari pendidikan nya. 

      Terakhir, besar harapan, semoga ada yang memperjuangkan Nasib "Santri".