Minggu, 05 November 2017



CINTA, KASIH SAYANG, DAN PERNIKAHAN
 Mukaromah Asy-Syarmidi*

Laki-laki dan perempuan jangan sekali-kali menolak cinta, terlebih menyalahkan orang yang mencintai dan menaruh perasaan kepada dirinya. Apalagi dengan berbagai ungkapan dan pernyataan yang menyakiti, meksipun kita tidak suka, bahkan sedikitpun tidak menaruh perasaan kepada orang tsb namun etika dan akhlaq harus tetap di nomor satukan, termasuk dalam menanggapi sebuah persoalan tadi. Mengapa demikian? Selain hal itu menyangkut soal rasa, Allah pun memperingatkan kepada kita dalam Firman Nya Qs. Al baqarah : 216
(Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui).

Belum tentu orang yang kita benci tidak bisa membahagiakan diri kita. Dan belum tentu pula orang yang kita cintai dapat membahagiakan diri kita sepenuhnya. Sekali lagi, jangan pernah menyakiti hati orang yang (mencintai-mu) bahkan menolak dengan kata-kata keras, kasar dan bengis. Karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya, serta bisa jadi karena (kebanyakan nolak, selektif yang terlalu over) akhirnya berujung pada sulitnya menemukan jodoh. Syukuri apa yang ada, karena itu anugrah. Berterimakasihlah kepada Allah karena telah mengirimkan seseorang yang mencintai diri kita. Namun juga minta maaflah karena hati kita belum siap untuk membuka celah kepada orang tersebut, dan jangan lupa bertanya kepada Allah mengapa hati ini belum terbuka untuk dirinya? “Seandainya dia yang terbaik untuk diri ini, ya dekatkan, namun jika bukan jodoh diri ini, berikan alasan dan tanda mengapa hal itu terjadi. Toh, lambat laun Allah akan menunjukkan sebab mengapa orang tersebut bukan yang terbaik untuk diri kita.

Hal yang harus di-ingat, kalau tidak punya niatan (krenteg) untuk saling mencinta dan merespon cinta, maka jangan pernah memberikan harapan kepada nya dengan kata-kata yang aduhaiii bikin bapeeeer. Sama saja hal itu mempermainkan perasaan nya, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada diputus cinta. (kalau tidak percaya silahkan buktikan saja).

Cinta itu sulit. Saling cinta belum tentu ber-jodoh. Dan berjodoh pun, belum tentu jodoh itu dibawa sampai mati besok di akhirat. Begitu halnya saling cinta belum tentu kesampaian sampai nikah. Ada yang sampai nikah, tapi ternyata berujung pada perceraian. Ada yang sudah menikah, namun salah satu diantara suami/istri dipanggil Allah lebih dulu, hingga akhirnya menikah lagi. Nahh berarti jodoh itu ada kelas-kelasnya, yakni belum tentu abadi sampai akhirat. Oleh karenanya, janganlah buru-buru jatuh cinta dan menolak cinta apalagi buru-buru mengambil keputusan dengan mutus cinta (Aduuuh sakitnya ya), akan tetapi kembalikan-lah semuanya kepada Allah SWT. Karena Allah adalah sebaik-baik tempat kembali. Salah satunya lewat istikharah.

Pernikahan itu saling mengisi, menguatkan dan menyempurnakan. Ibarat sebuah botol yang membutuhkan tutup. Keduanya tidak bisa dipisahkan karena memang harus saling bersinergi dan saling membutuhkan. Botol jika tanpa tutup maka isi (makanan) dalam botol tersebut tidak akan bertahan lama, bahkan bisa basi dan akhirnya tidak enak dimakan. Pun begitu halnya dengan tutup tanpa botol, tidak ada gunanya. Untuk apa ? Tidak ada hal yang harus ditutupi dan dilindungi, kan begitu.

Hal yang harus direnungkan pula bahwa jangan sampai tertipu oleh cinta. Jika kita memiliki rasa kepada orang lain atau bahkan kita dicintai oleh orang lain, maka kembalikanlah segala sesuatu itu kepada Allah SWT, “Baikkah dia untuk diri ini ya Allah”? Karena hakikat orang yang berjodoh bukanlah “bertemunya laki-laki dan perempuan (dari segi material/fisik semata), namun bertemu pikiran dan hatinya, saling menguatkan dan saling mencintai (cocok-nyocoki). Bersama-sama dalam menghadap kepada diri Nya. Shalat bareng, ngaji bareng, nangis bareng, ndongo (berdoa) ya bareng, saling menguatkan, saling memotivasi dan saling bersinergi.

Cocok-nyocoki inilah yang sulit dipahami manusia jika ia hanya melihat dengan satu kacamata, namun diperlukan optimisme dan kejernihan hati untuk melihat rahasia Allah SWT. Tidak cukup hanya diracik dan direkayasa di dalam ilmu dan pikiran. ”Aku ingin menikah dengan dia karena dia ganteng/cantik, kaya dsb. Apakah itu menjamin kasih sayang sampai mati? Fisik akan berubah seiring dengan perkembangan zaman dan pertambahan usia. Ada sebuah kata-kata indah dari salah seorang ulama, beliau mengatakan “jika seorang laki-laki mencintai wanita karena kecantikannya, niscahya itu tidak akan pernah memuaskan dirinya meskipun sudah bertemu dengan 1000 wanita”.

Begitu pula ketika seseorang mencintai orang karena hartanya. Jika sudah habis, apakah cinta itu akan tetap melekat? Mencari yang berpendidikan tinggi, apakah itu juga menjamin? Cerdas secara intelektual itu tidak menjamin segalanya oey, namun kejernihan dan kesucian hati-lah yang akan mampu meredam api saat tersulut, menentramkan saat dipandang dan ngademke (memberikan rasa aman saat ada persoalan). So, semuanya perlu istikharah. Apakah bisa menimbulkan kasih sayang sampai mati? Kasih sayang inilah yang kita tidak akan pernah tau.

Bukanlah tidak penting mencari dan memilih seseorang karena fisik, harta, kecerdasan (pendidikan). Justru itu merupakan unsur-unsur penopang cinta agar awet dan pelengkap kebutuhan dimasa yang akan datang. Hanya saja, modal yang utama adalah intangible capital. Sesuatu yang tidak kasat mata berupa niat, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, kerjakeras, kemauan, sungguh-sungguh, punya visi misi yang jelas kemana bahtera rumah tangganya akan dibawa dsb. Tidak usah khawatir, harta itu bisa dicari asal mau bergerak. Sehingga tak jarang banyak kita jumpai orang-orang yang dulunya dari nol, dengan berjuang ditemani lifepartner akhirnya sukses luar biasa.

Cinta tak hanya sekedar cinta, namun juga harus dikuatkan dengan kasih sayang. Kasih sayang itu memberi tanpa berharap kembali, sehingga ketika seseorang telah ikhlas mencintai orang lain maka ia sadar bahwa cinta itu tidak harus memiliki seutuhnya, namun hanya untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Inilah hakikat pengorbanan. Pengorbanan yang paling besar adalah mengorbankan orang yang dicintai-nya menjadi milik orang lain demi kebahagiaan-nya. Dalam pernikahan, masa-masa indah ialah saat pengantin baru (berumur sebiji jagung), namun ketika menginjak hampir 15-30 tahun usia perikahan itulah masa-masa penuh ujian. Apakah akan tetap mesra, langgeng dan kompak? Kuncinya saling mengalah, saling mendahulukan dan tidak saling menuntut tapi justru saling menguatkan dan meyakinkan. Makan seadanya pun juga berdua, saling memahami dan peka serta saling meyakinkan bahwa ada hal-hal yang harus dilalui berdua agar kuat dan semangat dalam meniti pahit manisnya perjuangan di jalan Allah.

Jika tidak ada hal-hal itu, tentu pernikahan tidak akan langgeng, sebagaimana semakin tinggi pohon maka akan semakin kuat badai yang menerjangnya. Dan tentu dalam pernikahan pun harus ada rasa rela, nrimo dan sabar untuk saling menuntun, mengarahkan dan membimbing ke jalan benar yang di ridhai Allah SWT.

*Dobalan.blogspot.com, mukaromah7mei@gmail.com

Sabtu, 04 November 2017


AKSI KEBANGSAAN DAN PERINGATAN SUMPAH PEMUDA DI MANDALA KRIDA
Oleh : S. Mukaromah*

 
 Peringatan Sumpah Pemuda dan Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi se-DIY melawan Radikalisme diselenggarakan pada Sabtu (28/10/2017) di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Turut hadir berbagai tamu penting yakni  Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rektor perguruan tinggi se-DIY beserta jajaran dan dosen,polisi dan aparat berserta jajaran instansi pemerintahan.

Tujuan diselenggarakan upacara kebangsaan ini untuk mempertegas sikap kebangsaan Perguruan Tinggi di DIY dengan bersama-sama melawan radikalisme dan intoleransi serta memperkokoh tegaknya Pancasila. Karena tak bisa dipungkiri bahwa kampus dan institusi perguruan tinggi merupakan sarana strategis untuk menumbuhkembangkan paham radikalisme agama. Untuk itu, upacara kebangsaan yang bertepatan dengan momen sumpah pemuda ini diadakan untuk pertama kalinya dengan mengikutsertakan seluruh elemen dan institusi di berbagai universitas se-DIY.

Sumpah Pemuda merupakan mu’jizat yang diperoleh pemuda kepada bangsa Indonesia, oleh karena itu sudah sepatutnya harus disyukuri dan dijadikan  cambuk semangat bagi generasi muda saat ini untuk berkarya nyata dan berkontribusi bagi kemajuan dan peradaban bangsa. “Marilah kita bersama-sama menjaga NKRI serta berjuang dalam bidang (passion) kita masing-masing dan bekerja keras demi persatuan, kesatuan dan kemakmuran NKRI, NKRI harga Mati”, ujar Prof. Dr. KH. Yudian Wahyudi (Rektor UIN Jogja).

Tak hanya itu, inspektur upacara kebangsaan ini dipimpin langsung oleh Sri Sultan HB X. Dalam pidatonya, beliau menekankan kepada rakyat indonesia untuk mensyukuri lahirnya sumpah pemuda yang mana hal itu merupakan sumbangsih luar biasa dari generasi muda. Di akhir pidatonya, beliau berpesan kepada generasi muda untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI serta merefleksikan hakikat sumpah pemuda dan mengaplikasikannya dalam kehidupan saat ini, yakni berjuang dan belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat menoreh sejarah baru dan tinta emas bagi bangsa Indonesia.

Upacara kebangsaan ini terlaksana sukses karena peran dan kerjasama dari berbagai pihak, diantaranya masing-masing universitas mengirimkan delegasi untuk menjadi panitia kegiatan. Berdasar penuturan dari salah satu panitia (Mubarok, Janabadra) jumlah seluruh panitia kegiatan ini sebanyak 180 orang yang terdiri dari berbagai universitas diseluruh DIY, baik negeri maupun swasta. Harapan kami, setelah acara ini selesai dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan dapat menerima segala perbedaan yang ada, karena tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dengan berbagai macam ras, warna, suku dan agama yang berbeda-beda, imbuh Mubarok.

Apresiatif yang tinggi juga diungkapkan oleh Deshandra Yusuf (Ahwal Asy-Syakhsiyyah, 2015) : "dahulu, musuh kita adalah penjajah, kita mudah untuk memeranginya tinggal dikasih tombak saja mereka menyerah, berbeda dengan sekarang yang kita hadapi adalah bangsa kita sendiri yakni melawan Radikalisme yg semakin merongrong ideologi pancasila".

Upacara ini ditutup dengan doa dan ikrar deklarasi kebangsaan yang diikuti oleh seluruh peserta upacara, isi deklarasi itu adalah
  1. 1 Ideologi yakni Pancasila
  2. 1 Konstitusi yakni UUD 1945
  3. 1 Negara yakni NKRI
  4. 1 Semboyan yakni Bhineka Tunggal Ika
  5. 1 Tekad yakni Melawan radikalisme dan intoleransi
“Upacara kebangsaan dan peringatan sumpah pemuda ini sangat edukatif, akan tetapi kedepannya harus di tertibkan dan di sistemasiskan lagi, baik dari segi penataan peserta, waktu maupun sarana prasarana termasuk disediakan tempat shalat yang lebih memadai, mengingat ini nanggung waktu shalat ashar”, ujar Latif, Mahasiswa Teknik Elektronik UNY.

*Mahasiswi PAI 2015, Reporter LAPMI HmI Komisariat Tarbiyah, LPM Paradigma, EXACT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, JQH Al Mizan UIN, Pemuda Inti Anti Narkoba, PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta