CINTA DAN POLIGAMI
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi
“Saat rasa bosan itu hadir, laki
atau perempuan harus saling melihat, memahami dengan hati, flsahback ke
belakang untuk mengingat dan mengenang siapakah orang yang selalu setia
menemani berjuang dan mendoakan disetiap langkahnya”. (Mukaromah, 6 Oktober 2017)
Cinta adalah sepatah kata yang
mengandung makna luar biasa. Mudah diucapkan, indah dirasakan namun tidak bisa
didefinisikan. Bahasa unta (read : bahasa Arab) mengatakan :
ألمحبّة هي
إعطاء بشئٍ بدون رجاءٍ كاالشّمس تنوّر الأرض
Cinta itu memberi tanpa berharap
kembali. Seperti Matahari yang terus menyinari bumi, pagi yang akan terus
selalu hadir dan ada meski orang-orang enggan untuk bangun dari tidur lelapnya.
Siang yang akan terus berputar dan mengantarkannya pada malam, dan seperti curahan
kasih sayang orangtua kepada anaknya, segala apapun ia berikan untuk
kebahagiaan-nya dan tidak berharap sedikitpun akan balasan budi dan jasa yang
telah diberikannya. Begitu pula cinta seseorang kepada kekasihnya, “apapun” ia
berikan. Karena baginya, hakikat kebahagiaan adalah ketika kekasihnya juga
bahagia. Bahagia-mu adalah bahagia-ku (begitu bahasa gaulnya). Dan tentu jika
ini dijadikan jargon dalam hal percintaan, tak lain cinta hanyalah membuat
dirinya labil.
Dalam tulisan singkat ini, saya
mengulas mengenai aspek dalam cinta yang terkadang disalah definisikan oleh
manusia. Cinta mengandung 3 aspek (Rasional love, emosional love dan spiritual
love).
Yang pertama adalah Rasional love,
yakni suatu keadaan dimana manusia merasakan adanya getaran cinta namun masih
dalam tahap rasional (pemikiran). Artinya mencintai seseorang karena berawal
dari rasa kagum, entah itu orangnya pintar, cerdas, ganteng, cantik dsb. Akal
mengatakan iya “aku mau dan aku ingin” hanya karena label “wangun biar gaul
kekinian dengan dalil tahun gini gak punya gebetan? Capeeee deh, kuper alias
kurang pergaulan.
Dalam kaitan ini pun Al Qur’an
berbicara (lihat Qs. Ali Imran : 14). Allah berfirman bahwa manusia dibekali
dengan potensi nafsu dengan nafsu itu manusia bisa bermartabat disisi Nya namun
juga bisa lebih rendah daripada iblis jika nafsu negatif (-) lebih mendominasi dari segala hal. Dalam
ayat ini pula disebutkan bahwa manusia cenderung menyukai hal-hal indah dan
menarik (segi fisik). Namun jika itu yang di prioritaskan maka “rasa” itu tidak
akan pernah abadi, begitu pula jika dikaitkan dengan cinta. Jika rasional love
yang diprioritaskan dalam memilih dan memilah pasangan, maka tentu tidak akan
langgeng. Rasionalisasi-nya adalah ketika kita mencintai seseorang HANYA karena
label ingin dicap sebagai anak kekinian (biar gaul) dan kemudian mendapat
pujian dari orang lain atau mencintai seseorang hanya karena dia ganteng, cantik
(hal materi lain), tentu jika sudah tidak mendapatkan pujian dan pengakuan dari
orang lain, atau bahkan sudah bosan karena dia sudah tidak ganteng/cantik
(sifatnya subjektif) pasti cinta itu akan luntur bahkan bisa saling
meninggalkan.
Yang kedua adalah emosional love,
yakni mencintai seseorang karena perasaan suka dan cinta yang qad syaghafahaa
hubba (yang amat sangat mendalam). Entah itu berawal dari witing tresno jalaran
saka kulina, atau karena kekaguman sesaat. Tentu hal itu boleh-boleh saja dan
wajar, karena faktanya banyak sekali pasangan yang menikah lantaran sering
bertemu (entah teman organisasi, diskusi atau bahkan teman kuliah). Hanya saja,
emosional yang dimaksud disini adalah mencintai seseorang yang mendominasikan
soal rasa personal dan menghiraukan persetujuan orangtua, dalam arti sik
penting sik nglakoni seneng. Yang penting gue cinta sama lu, orangtua mah setuju/
tidak setuju gak penting. Dalam emosional love pula, soal “rasa cinta” amat mendominasi segala hal, bahkan karena
hebatnya rasa cinta dengan seseorang, hingga akhirnya melupakan dirinya dari
mencintai Nya. Sangat berbahaya sekali jika dalam pernikahan emosional love
didominasikan. Sebagai contoh, seorang suami terpaksa KORUPSI karena sang istri
minta ini-itu dan harus segera dituruti. Kalau tidak dituruti sang istri minta
cerai. Karena dahsyatnya rasa cinta suami kepada istrinya, apapun akan ia
lakukan sekalipun hal itu melanggar norma dan aturan agama, termasuk korupsi
demi membahagiakan istrinya. Dalam pacaran pun juga begitu, inginnya si wanita
minta di bales whatsap nya, minta di telpon, everyday everytime everywhere
selalu kabar-kabaran hingga akhirnya kewajiban si laki-laki sebagai seorang
pelajar, mahasiswa atau bahkan guru dan atau dosen menjadi terbengkalai karena nuruti pacarnya
kayak gitu. Yaa begitulah, emosional love ini bertitik pada perasaan cinta yang
amat mendalam namun mengabaikan norma dan aturan yang ada sehingga menimbulkan
mafsadat dan madharat bagi dirinya, pasangannya, alam (read : luar dirinya),
maupun orang lain (lihat Qs. At-Taghabun : 14, Qs. Al Munafiqun : 16, Qs. Al Munafiqun
: 9, Qs. Ali Imran : 14-15, Qs. Al Anfal : 28).
Yang ketiga adalah Spritual love, yakni
mencintai seseorang yang membuat diri kita menjadi lebih baik, membuat diri
kita semakin dekat dengan Allah dan Rasul Nya, serta ketika kita mengingat
namanya, senyumnya atau hal apapun dari dirinya menjadikan kita ingat kepada
Rabb dan Kekasih-kekasih Nya. Inilah puncak dan kedahsyatan cinta yang haqiqi.
Tiada rasa yang mampu menandingi keagungan cinta selain ini, jika benar-benar
manusia menghayati dan menginternalisasikan hakikat cinta yang ia rasakan
kepada yang dikasihinya. Hatinya akan tersentuh dengan sentuhan kasih sayang,
kelembutan dan kehangatan cinta dari Nya. Itulah mengapa, Islam mensyaratkan
prioritas utama untuk memilih lifepartner dengan menomorsatukan agama. Agama
menjadi pondasi pokok untuk membangun bangunan yang kuat, membina mahligai
rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagaimana Al Qur’an (lihat Qs.
Ar-Rum : 21) yang mencakup 3 aspek sekaligus, : Sakinah, mawaddah, Rahmah.
Sakinah (kenyamanan seeprti asumsi
orang yang lelah dan penat ketika seharian beraktivitas lalu tibalah waktu
malam untuk istirahat, memulihkan energi, tenaga, fikiran untuk beraktivitas
esok hari. Saat malam inilah manusia nyaman untuk beristirahat. Sakinah berasal
dari kata sakana yakni tempat tinggal. Sejauh apapun melangkah, orang
menginginkan pulang kembali ke tempat asalnya, jika urusan nya telah selesai.
Begitu pula dengan cinta, cinta yang sakinah adalah cinta yang membuat kita
nyaman dan tentram ketika berada didekat kekasih kita dan ingin terus
bersamanya.
Mawadah adalah suatu keadaan yang
ingin selalu bersama, hidup bersama, menatap dunia pun juga bersama. Sesuatu
indah jika dilakukan bersama orang yang dicintainya. Semula yang berat terasa
ringan jika dilakukan bersama-sama atas dasar cinta. Hehe
Mungkin ini yang menjadi jargon
orang jawa, makan nggak makan yang penting kumpul.
Dari aspek psikologis, memang
perasaan suami dan istri erat kaitannya. Sebagai contoh, sehebat dan secerdas
apapun laki-laki pasti ia membutuhkan peran dari seorang wanita.
Rasionalisasinya begini, ketika seorang suami bekerja di perantauan, pasti ia
menginginkan istrinya untuk ikut bersamanya dan mendampinginya. Hal itu karena
ada sesuatu hal yang membutuhkan support dan dukungan dari seorang wanita,
termasuk aspek psikis. Begitu pula dengan istri, ia selalu ingin bersama dengan
suaminya kapan dan dimanapun suami berada. Dan berawal dari mawaddah ini lah,
sebenarnya fitrah naluri seorang wanita tidak mau membagi suaminya dengan orang
lain (dalam kaitan ini poligami). Ketahuilah hai laki-laki, fitrah dari seorang
wanita adalah memiliki-mu seutuhnya. Bayangkan betapa teririsnya hati seorang
wanita bila suaminya mem-poligami dirinya, KECUALI karena beberapa sebab :
Salah satunya karena si wanita tidak bisa hamil, sehingga untuk meneruskan
generasi ia harus mempunyai anak dan mungkin salah satu jalannya adalah menikah
lagi. Padahal masih banyak yak alternatif lain seperti meng-adopsi anak dsb.
Dari sinilah, laki-laki harus belajar bersyukur. Pilih-lah pasangan hidup yang
pandai bersyukur dan mau diajak untuk berjuang.
Dalam pernikahan, rasa bosan akan
selalu hadir. Dan menurut pengamatan empirik, ghirah nafsu laki-laki yang telah
menikah (melihat wanita lain) lebih besar daripada wanita yang telah menikah (melihat
laki-laki lain). Perasaan wanita bisa di rem, tapi kalau laki-laki jika tidak
bisa mengendalikan dengan baik maka hal itu akan fatal. Apalagi godaan nya sudah
mempunyai penghasilan dsb sehingga mudah untuk menakhlukan hati wanita lain. Disinilah,
lagi-lagi islam memberikan petuah agar memilih laki-laki yang kuat agamanya
lagi pandai bersyukur. Saya teringat kata salah satu teman (maaf tidak bisa
saya sebut namanya) bahwasannya dalam hati kecil laki-laki terdapat playboy. Terlampaui
batas atau tidaknya tergantung kapasitas iman yang ada dalam dirinya. Sehingga laki-laki
lah yang godaannya lebih berat dan lebih besar daripada wanita. Manfaat pandai
bersyukur adalah saat rasa bosan itu hadir, laki atau perempuan harus saling
melihat, memahami dengan hati, flsahback ke belakang untuk mengingat dan
mengenang siapakah orang yang selalu setia menemani berjuang dan mendoakan disetiap
langkahnya. Laki-laki harus mengingat siapakah yang setia memasakkan-nya, mencuci
dan menyetrikakan bajunya, melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Perempuan pun
juga begitu, harus mengingat siapakah yang mencarikan nafkah selama ini, mandi
keringat, mencukupi kebutuhannya dsb. Tentu jika hal-hal seperti itu di
internalisasikan, saya yakin cinta itu akan tumbuh lagi dan mengurungkan
niatnya untuk berpaling atau bahkan ber-poligami. Tentu disatu sisi poligami
juga diperbolehkan, yakni menyelamatkan wanita yang tidak bersuami. Apalagi kini
perbandingan laki-laki dan perempuan ibarat 1:3. Dalam Qur’an pun juga membolehkan
untuk berpoligami maksimal 4 dengan syarat harus ADIL.
Akan tetapi kembalikan lagi bahwa
niat berpoligami itu untuk apa dan mengapa. Terkadang saya heran dengan
laki-laki yang memiliki seorang istri (menurut sy perfect) yakni cantik, punya
anak, bekerja pula. Bisa-bisanya laki-laki kepincut dengan wanita lain hingga
pada akhirnya menikah lagi. Tak sadarkah bila itu menyakiti hati istrinya?
Padahal.....menurut saya rasanya sama saja. hehe
Yang ketiga adalah Rahmah, yakni
kasih sayang, kelembutan yang hadir karena sebuah ikatan. Cinta itu dibangun
atas beberapa pondasi, yakni kesetiaan, kejujuran, kasih sayang dan pengertian.
Cinta ibarat sistem, jika salah satu komponen-nya tidak bekerja dengan baik maka
komponen-komponen yang lain pun akan terhambat sehingga kinerja sistem tersebut
tidak optimal. Oleh karena itu, sakinah mawaddah dan rahmah adalah ketiga hal
yang harus saling bersinergi untuk mewujudkan cinta yang haqiqi.
Marilah, kita belajar bersyukur.
Menikmati jalan hidup dari Nya, berproses di jalan Nya dalam meniti pahit
manisnya kehidupan. Pilihlah pasangan hidup yang tidak pernah menjanjikan
apapun kepada kita, menebar gombal yang tidak berfaedah. Tapi pilihlah pasangan
hidup yang bersedia kongkrit memberikan yang terbaik untuk kita, yang tidak hanya
sekedar pemanis mulut. Karena cinta itu bukan soal lisan, tapi aktualisasi dari
hati, indra dan tindakan nyata (komitmen, keseriusan, kesetiaan, kejujuran).
Yang sukanya gombal akan kalah dengan orang yang mau datang dan siap ke rumah
untuk bertemu dengan orangtua. Right? Karena cinta tak boleh egois, betapapun
kita cinta dengan kekasih kita, jika orangtua tidak setuju lantas bagaimana?
Harus kita tahu, bahwa orangtua mempunyai feeling kuat untuk mengetahui apakah
pasangan (laki/perempuan) pantas bersanding dengan anaknya. Yakinlah, “akan
selalu ada laki-laki yang baikbaik untuk wanita yang serius berusaha
memperbaiki dirinya, begitu sebaliknya”. Jangan lelah untuk berjuang dan
berharap kepada Nya (Janji Allah dalam Qs. An Nur : 26).