Senin, 29 Mei 2017

IBDA' BI NAFS UNTUK MENCETAK GENERASI

Mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2015

Saat kuliah S2 PAI UIN bersama Prof. Dr. KH. Muhammad Chirzin, M.Ag ada pertanyaan menarik yg dilontarkan oleh mahasiswi kpd presentator (mahasiswa), "Pendidikan Intelektual yg diberikan oleh orgtua kpd anaknya dimulai sejak kapan? Presentator jawabnya: Sejak anak tersebut lahir.

Dari situlah, tulisan ini ku ketik (berdsar pada pendapat mukaromah) mengenai hal tersebut :
Berawal dari doa Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a'yuninin waj'alnaa lil muttaqiina imaama adalah sebuah permohonan yang seorang hamba pintakan pada Tuhan nya (sufla ilal a'la) yang bermakna harapan agar dikaruniai pasangan dan dzurriyah2 yang menyejukkan mata dalam hal ini bisa bermakna menentramkan kalbu, shaleh dan atau shalehah nan cerdas dzahir maupun bathin (cerdas hati, iman, pikiran dan tindakan). Oleh karenanya, dari hal tersebut mukaromah mngambil kesimpulan dan yaqin ('ainul yaqin) bahwasanya mencetak keturunan (generasi penerus) bisa dilakukan saat masa2 berjuang (dalam artian single/belum punya pasangan/terikat akad tetapi belum menikah) dengan mengindahkan cetakan nya melalui tindakan dan perilaku yang baik dan benar bagi orang tsersebut (calon orangtua, bisa bermakna insan). Sehingga, tak salah bila ada ungkapan seprti ini "Buah jatuh tak jauh dr pohon nya". Kira nya seperti itu,

Kemudian, setelah itu berlanjut pada pemilihan pasangan (laki/perempuan), dengan menomorsatukan Agama, Akhlaq dan Ilmu. Setelah itu, pada masa konsepsi dan masa kandungan (hamil) dengan memberikan asupan intern maupun ekstern yg berupa penjagaan yang baik dan gizi yang cukup. Itulah sebabnya mengapa anak-anak kecil Israel cerdas2 dan kuat2 fisiknya. Banyak anak2 kecil disana yang berumur 8 th sudah bisa menciptakan sesuatu hal yang luar biasa (produktif), karena ternyata saat "mengandung", kedua orgtua nya memecahkan mas.alah yg berkaitan dg logika (matematika) dan makan ikan patin yang memang gizi nya luar biasa.

Maka dari itu, seorang wanita harus berpendidikan. Berpendidikan tidak hanya yang sekolah formal, tetapi mereka yang selalu dan tak mengenal lelah dalam mencari ilmu pun juga disebut berpendidikan (dlm arti luas dan global) mengingat "tanggung jawab nya dalam mendidik anak".

Laki2 adalah pemimpin, tetapi wanita adl "orang yang melahirkan dan mencetak para pemimpin".
Sehingga menurutku, telat apabila mengajarkan segala hal kepada anak, saat anak sudah lahir ke dunia. Bukankah Rasulullah mengisyaratkan kpd wanita saat hamil diperbanyak membaca :

1. Qs. Al Fatihah : Sbg penerang hati dn daya ingat yang kuat bagi anak yg sdg dikandung,
2. Qs. Luqman : Agar anak memiliki akal dan jiwa yang cerdik nan pandai.
3. Qs. An Nahl : Agar anak memiliki jiwa disiplin dalam melakukan kebaikan dan berguna bagi orag lain
4. Qs. Al hujurat : Agar anak memiliki sifat berhati2 dan tidak ceroboh
5. Qs. At Taubah: Agar anak dapat memilihara diri dari maksiat
6. Qs. Maryam: Agar memperoleh kemudahan saat melahirkan serta menjadi anak yang sholeh/ah.
7. Qs. Yusuf: Agar anak memiliki paras cantik nan tampan
8. Qs. Yasin: agar anak memiliki ketenangan hati dan jauh dari godaan Syaithan.

Dlm. Qs. Al A'rof: 58

 وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِداً كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُون

 Artinya : Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.
(Q.S. Al-A’raf : 58)

Menukilkan ngendikane Kyai Chudhori ayat tersebut dapat dipahami bahwa tanah itu ibarat orangtua, dan tanaman itu ibarat anak nya. Jadi, sejatinya kalau diri kita baik insyaallah dzurriyah kita pun juga akan baik (factor hereditas) begitupula sebaliknya. Ya meskipun kalau membahas tentang Pembentukan jati diri manusia pasti tidak akan pernah terlepas dari Faktor hereditas, Lingkungan dan kehendak bebas manusia atas Hidayah Allah SWT.

Masih saya ingat sampai sekarang, ngendikanipun Kyai Luthfi, M.Pd (Guru Tafsir Aliyah) bahwasannya “Mencetak Keturunan Harus dimulai sejak sekarang”. Ya dengan cara apa yang kita lakukan sekarang di niatkan untuk dzurriyah kita kelak, agar mereka seperti kita (bahkan bisa lebih dari kita)”

Sehingga, berdasar premis2 tersebut kesimpulan nya ialah Pendidikan Intelektual, Emosional dn Spiritual anak bisa dilakukan sekarang dan saat ini dengan cara berbenah diri dan memantaskan diri dengan terus belajar dan belajar (bertholabul 'ilm) dalam segala aspek kehidupan. Karena tak bisa dipungkiri bahwa apa yang saat ini kita lakukan akan berpengaruh kepada anak cucu kita. Sehingga tak salah, jika orang Jawa (simbah-simbah) bilang "aku iso koyo ngene sebab tirakate leluhurku" (saya bisa seperti sekarang ini karena tirakat/usaha/perjuangan dari orgtuaku).
Baru setelah anak lahir ke dunia, saatnya mmberikan education seems karena Golden Age. Pd usia tersebut seluruh kekuatan, pertumbuhan dan perkembangan otak amat sngt maximal. Dan pada masa ini pula seharusnya digunakan untuk mmpersiapkan segenap potensi fisik, akal maupun mental yang ada pada diri anak dengan sebaik-baiknya. Bukankah الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدّنيا ?

Robby inniy limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir.


MENULIS UNTUK KEABADIAN

mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama’ besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)

Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan menjadi insan yang bermakna. Seiring dengan perkembangan zaman, hal itu tak hanya sekedar kata-kata akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan yang harus direalisasikan oleh setiap insan, tanpa terkecuali). Karena pada realitanya, menulis merupakan hal yang urgent dalam kehidupan manusia. Menulis merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain yang dengan hal itu akan menambah informasi,  ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga Menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai luapan emosinya. Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa dan pikirkan.

Selain itu, tulisan juga dapat memotivasi dan menginspirasi insan. Sebagai contoh, tentu kita mengenal Ahmad Fuadi, Habiburrahman el Shirazy, Asma Nadia bahkan dosen saya sendiri Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag, Dr. H. Karwadi, M.Ag, Dr. Mujahid, Dr. Rofiq, bu dosen Eni Munawaroh, M.Si, dll mereka lah penulis-penulis hebat yang melalui karya-karya nya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal itu pasti menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan ialah ketika melihat orang lain juga bahagia dan merasa terdorong (termotivasi) untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. 

Oleh karenanya, seorang penulis (orang yang menulis) disadari ataupun tidak ia telah menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang beramal yang tiada habisnya. Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah tulisan. Jasad dan raga memang sudah tiada, tapi kata-kata inspirasi, petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan terkenang sepanjang masa. 

Karena sebab itulah, Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag memberikan nasihat kepada kami sebagai pamungkas (penutup) kuliah Maanil Qur’an, di IAT Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, yakni tulisan dapat memberikan motivasi dan inspirasi orang, yang pada akhirnya pembaca akan menemukan secercah cahaya kesadaran meski sedetik namun menggugah jiwa raga nya itu lebih berharga nan bermakna daripada pengalaman seumur hidupnya yang hanya membekas dalam memori otaknya tanpa menghasilkan perubahan dalam hidupnya.

Banyak orang yang mengetahui manfaat dari menulis, akan tetapi belum merefleksikan dalam diri pribadinya sehingga berimplikasi pada rendahnya rasa ingin tahu, mencoba dan berkarya. Bukankah untuk mewujudkan sesuatu hal yang besar harus diawali dengan sesuatu hal yang sederhana? Banyak orang berpendapat, ironisnya mahasiswa, pelajar, kaum intelektual dan akademisi yang mengkritik habis-habis-an mengenai Negeri ini, mengapa dari dulu hingga sekarang Indonesia merupakan negera yang berkembang? Tidakkah sadar, bahwa aktivitas membaca dan menulis merupakan modal pertama bagi suatu bangsa untuk memajukan negaranya. Seandainya masyarakat Indonesia paham akan pentingnya membaca dan menulis, tentu Indonesia lebih dulu maju daripada Malaysia, Singapura dan Jepang.  Berdasar pada penelitian UNESCO yang mengatakan bahwa minat membaca orang Indonesia sangat rendah, bisa dijadikan sebagai acuan (referensi) yang melatarbelakangi rendahnya tulis menulis. Karena kunci utama bagi seorang penulis ialah membaca, sehingga sangat relevan maqolah yang mengatakan Al kitabu khairu jalisun wa khairu anisun, Al qiro’ah asasun najah. 

Saya masih ingat ketika Seminar yang diadakan oleh Prodi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bertempat di CH UIN dengan narasumber Dr. Suyatno (Dosen UAD Yogyakarta) yang mengangkat tema Menghadapi Bonus Demografi dengan meningkatkan Budaya Literasi dikalangan Akademisi beliau mengatakan bahwa literasi merupakan jantung kehidupan bagi rakyat indonesia dalam menghadapai tantangan pada abad 21. Kemajuan Indonesia bergantung pada budaya literasinya, sehingga menurut Penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), budaya literasi masyarakat indonesia (nimat baca dan tulis) amat rendah. Orang-orang Indonesia harus menyadari urgensi baca tulis kemudian melestarikannya sehingga menjadi suatu kebudayaan yang akan turun temurun dari generasi ke generasi, yang dengan itu merupakan salah satu langkah diantara langkah-langkah lain yang harus ditempuh untuk membangun Negeri yang lebih baik. 

Terkhusus kepada Mahasiswa sebagai kaum intelek sekaligus agent social control, mari tingkatkan diskusi dengan memperbanyak referensi dan menuliskan nya sebagai permata abadi yang tak kan lekang oleh waktu....

Menulis untuk Keabadian ! Jika tidak berkaya, lantas apa makna umur kita ini ???
Jadilah pelaku sejarah, bukan hanya menjadi pembaca dan penikmat sejarah !

Selamat Menulis, Selamat Menginspirasi....