Jumat, 25 Mei 2018

OBROLAN TADARUS DI MASJID DESA TERCINTA
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi

Miliki-lah cita-cita yang tak berbatas ruang dan waktu, Kerjakan apa yang harus dikerjakan, lakukan apa yang harus dilakukan sekalipun tak ada satu orang pun yang berada dibelakang kita. Asal niat kita baik, hati kita bersih, tujuan kita jelas maka Gusti Allah langsung yang akan membimbing kita (Mukaromah, 2018).

Seperti biasa, seusai tadarus dilanjutkan dengan ngobrol santai sambil nge-teh dan mencicipi hidangan makanan yang telah disediakan. Tidak semua hal tentang ngobrol itu negatif, justru hal itu merupakan salah satu cara untuk merekatkan jalinan emosional antar sesama, memupuk rasa saling memahami dan menyayangi bahkan bisa jadi saling sharing rencana dimasa depan entah itu soal pendidikan, karier maupun jodoh. Ada hal yang menarik tentang obrolan tadarus malam ini, tak biasanya aku satu kelompok dengan adek-adek yang seusia SD dan SMP. Namun justru hal tersebut membuatku tertarik untuk mengetahui lebih dalam bagaimana kerangka berpikir mereka.
Untuk itu, saya mengawali pembicaraan tentang soal pendidikan dengan bertanya kepada salah seorang anak yang saat ini kelas 3 SMP, “sampean arep nerusne nandi nok”? Lalu ia menjawab panjang lebarr dengan disertai argumen yang logis, rasional dan empirik mengapa memilih sekolah tersebut. Sambil ku anggukkan kepala dan sesekali ku lemparkan senyum untuk menarik perhatian-nya agar dia mau mengungkapkan hal-hal lain. Saya hanya mengucapkan satu kalimat “wis manteb nok dengan pilihan-mu”? Dalam hati ku bergumam “Seandainya aku nuruti atiku, sudah pasti akan ku-arahkan ke sekolah-ku dahulu”. Hahaha.

Tapi aku tak mau seperti itu, biarlah dia mengambil keputusan berdasar pada pilihan-nya sendiri dengan memberi kebebasan untuk mengekspresikan potensi dan minatnya. Saya mencoba untuk mengaplikasikan pendidikan yang demokratis dengan berpijak pada 3 hal : dari, oleh dan untuk dirinya sendiri toh aku juga sudah melihat semangat, harapan dan kemantapan hati dari anak tersebut atas pilihan-nya. Seringkali hal seperti ini yang menjadi persoalan pelik dalam suatu keluarga yakni ketidaksesuaian visi dan kemauan antara orangtua dengan anak. Anak inginnya A, sedangkan orangtua inginnya B. Orangtua merasa bahwa ia kaya “pengalaman dan wawasan” lalu ingin anaknya mengikuti alur-nya, padahal disisi lain anak juga memiliki kemauan dan pilihannya sendiri.
Orangtua memang memiliki wewenang terhadap anak akan tetapi yang menjalani hidup adalah anak itu sendiri, sehingga sudah sepatutnya orangtua mendukung anak dengan memberikan alternatif pilihan dengan cara yang demokratis yakni memberikan kebebasan pada anak untuk memilih sesuai dengan potensi, kemauan dan keinginan-nya serta memberikan konsekuensi pertanggungjawaban atas pilihan-nya. Bukan memaksakan kehendak dan keinginan orangtua agar dipilih si anak.
Obrolan berlanjut dengan pertanyaan dari salah seorang anak SD, “mba Karomah, cita-citanya sampean ingin jadi apa e mbak? Sontak saya kaget mendengar itu, karena dulu saya merupakan orang yang sistematis, fokus satu hal, fanatik terhadap cita-cita yang kini hal tersebut justru membuatku lelah dan hidup terasa monoton. Belum ku jawab, tiba-tiba ada yang menyahut “mba Karomah jurusan PAI ya, kayaknya cita-cita nya jadi Guru Agama nih”. Dengan penuh apresiasi ku jawab “eh dek, emang e aku cocok ya jadi guru agama? Lalu mereka menasihatiku dengan kata-kata amal jariyah. Ya, jadi guru itu amal jariyah, kata mereka. Faktanya amal jariyah memang begitu dek, batinku. Haha.

Kemudian ku jawab, cita-citaku simple kok dek, ingin jadi orang yang bermanfaat saja, yang penting gusti Allah Ridha. Kalau kita punya prinsip seperti itu dalam hidup, InsyaAllah segala apapun akan terasa indah dan bermakna. Maka, miliki-lah cita-cita yang tak berbatas ruang dan waktu. Kerjakan apa yang harus dikerjakan, lakukan apa yang harus dilakukan sekalipun tak ada satu orang pun yang berada dibelakang kita. Asal niat kita baik, hati kita bersih, tujuan kita jelas maka Gusti Allah langsung yang akan membimbing kita. Jadilah orang mandiri, baik dari segi pemikiran maupun hal-hal lain. Tanyakan pada hati, karena terkadang pikiran orang TIDAK se-visi dengan kita.
Mandiri bukan berarti TIDAK membutuhkan oranglain namun mandiri ialah ada atau tidaknya orang, hidup harus terus berlanjut sampai Allah sendiri-lah yang menghentikan langkah hidup ini.
Ku pandangi wajah mereka. Seakan ku melihat potret Indonesia 15-20 tahun yang akan datang. Mereka lah pelita-pelita bangsa sekaligus harapan masyarakat Indonesia. Mumpung kalian masih muda, sik sregep yo le ngaji dan sinau. Belum selesai ngomong, ada yang menyahut “mbak Karomah, aku pengen banget membahagiakan orangtua-ku. Aku ikut lomba aja ya mbak, biar ibuku senang soalnya aku juga hutang nyawa sama ibuku mbak”. Ku bergumam dalam hati “Polos sekali anak ini, ah kamu unyu-unyu dehh. Hahaha. Bisa dek, wah bangga banget ya orangtua mu nek kamu ikut lomba, sudah ikut lomba apa saja, kataku. Begini dek, membahagiakan orangtua bisa dilakukan kapanpun, termasuk kalian berangkat ke masjid dan tadarus gini orangtua kalian seneng banget loh ya. 

Lalu ada yang menyahut dengan mengatakan “mbak Karomah, aku pengen kuliah terus kerja habis itu ingin nikah. Setelah tak itung-itung ternyata sekolah itu membutuhkan waktu yang lama ya mbak, 16 tahun itu pun baru sampai S1. Padahal jenjang tertinggi pendidikan formal itu sampai S3 ya mbak. Dengan menahan tawa ku bilang kok kamu kritis banget sih dek, aku juga pengen loh ya sampai S3 (Es Tri/istri) hahahahah mereka masih belum paham juga. Ckckckck.
MENGHIDUPKAN KEMBALI RUH PENDIDIKAN DENGAN SPIRIT AL QUR’AN DAN RELEVANSINYA DENGAN KEMAJUAN PERADABAN ISLAM
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi


Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat kompleks dan komprehensif yang tidak hanya merujuk pada penamaan sebuah lembaga formal yang berbentuk sekolah, madrasah maupun perguruan tinggi. Hal ini senada dengan ungkapan Ki. Hajar Dewantara bahwa setiap rumah adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Itu artinya, dimanapun tempat-nya asal disitu ada ilmu, dapat disebut sebagai sekolah dalam arti generiknya (ladang ilmu dan pengetahuan) yang harus dimanfaatkan sebagai tambahan wawasan. Sebagaimana wahyu yang diturunkan Allah pertama kali yakni Qs. Al ‘Alaq yang menekankan perintah untuk mencari ilmu pengetahuan tanpa pandang bulu, baik yang tersirat maupun yang tersurat.

Jika berkaca pada abad 9-12 M, kehidupan ummat islam mengalami puncak kejayaan dalam segala aspek, termasuk dalam hal pendidikan. Hal tersebut karena dijiwai oleh spirit al qur’an yang tidak hanya sekedar dibaca dan dihafal namun dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk aktif bergerak dan terus mencari yang berimplikasi pada maju nya peradaban kala itu. Karena memang tak dapat dipungkiri bahwa kualitas suatu bangsa ditentukan oleh seberapa kualitas pendidikannya, seberapa sadar warga negaranya untuk mencari ilmu dan seberapa besar negara dalam ikut andil dalam mensupport (mendukung) suksesnya pembangunan nasional melalui program pendidikan. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa salah satu indikator kemajuan suatu bangsa ialah patrol ilmu yakni mengakui pentingnya ilmu dan ilmuan. 

Hal ini dapat dilihat dari negara-negara maju yang mayoritas sangat menghargai ilmu dan ilmuan (pendidik). Ilmuan-ilmuan tersebut sangat diapresiasi oleh negara baik dari segi materi maupun immateri (kesejahteraan maupun penghargaan atas dedikasinya). Karena mereka sadar, untuk membangun negara yang berkualitas dan bermartabat maka hal yang pertama kali dibutuhkan adalah sumber daya manusia-nya (SDM), karena itu yang akan mempengaruhi suksesnya roda pembangunan suatu negara.

Selain itu, urgensi mencari ilmu juga harus diinternalisasikan oleh berbagai macam elemen, tak terkecuali oleh setiap warga negara dengan menjadikan spirit al qur’an wa fi anfusikum afalaa tubsirun bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang luar biasa senada dengan Qs. An Nahl ayat 78 yang seharusnya manusia bersyukur dengan memanfaatkan potensi tersebut dengan seoptimal mungkin. Dalam sejarah islam, dikenal dengan zaman keemasan pada zaman bani Abbasiyah yang mana terdapat ilmuan muslim yang tidak hanya cerdas dalam bidang agama, namun juga hebat dalam bidang umum seperti Al Khawarizmi, Al Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah dll.
Hal tersebut karena mereka mempunyai spirit al quran sekaligus spirit filsafat. Al Qur’an tidak hanya sebatas dibaca dan dihafal, namun yang lebih dari itu ialah dijadikan energi/ kekuatan dalam membangun peradaban yang lebih maju dan berkualitas.


Dengan demikian, pantaslah Allah SWT memberikan pedoman kepada hamba-hamba Nya sekaligus buku panduan dalam menjalani kehidupan melalui firman Nya yang diturunkan dengan perantara malaikat Jibril dan diwahyukan kepada Nabiyullah Muhammad SAW yang berisi segala hal “rahasia dan tabir yang ada di alam semesta dan seisinya”, terutama terkait dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, bunyi ayat afala yandzuruna ilal ilbili kaifa khuliqat memberikan rambu-rambu kepada manusia untuk memanfaatkan hewan-hewan yang ada di alam semesta untuk diolah dan dijadikan sarana li mardhatillah melalui teknologi, MESKIPUN secara tekstual ayat tersebut mengatakan ”UNTA”. 

Jika dimaknai secara tekstual, bagaimana mungkin unta dapat hidup di Indonesia kecuali dengan pemeliharaan yang intensif seperti di kebun binatang? Dengan begitu, dapatkah unta dijadikan sebagai sarana pengembang ilmu pengetahuan? Untuk memahami ini haruslah ada peran akal didalam nya, yakni merelevansikan dengan konteks yang ada. Seperti di Indonesia misalnya, bisa belalang, udang dll. Bahkan kini, di daerah pesisir selatan pantai Jawa, belalang dan udang goreng menjadi makanan khas yang menjadi komoditas daerah tersebut. Sama hal nya yang terjadi di daerah Bantul pembuatan keramik dari TAI. Bahkan di Pondok Pesantren daerah Gunung kidul memafaatkan air kencing menjadi bio gas, hal ini karena dijiwai oleh spirit al Quran “Rabbanaa maa khalaqta hadza baathila” dengan mengintgrasikan akal sebagai sarana untuk memahami tekstual.
Apabila hal-hal semacam ini dikembangkan, maka penulis yakin peradaban islam akan semakin maju. Namun realitanya, banyak ayat-ayat quran yang hanya dijadikan “justifikasi” terhadap hal-hal yang sifatnya absurd. Penulis sering mendapatkan BC (Broadcast) baik melalui WA maupun inbox FB yang mencocokkan hal-hal yang sifatnya kurang baik dengan al Qur’an. Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki tahun politik. Bisa jadi nama CAPRES digabung-gabungin dengan surat AL Quran, kebetulan ejaan namanya sesuai dengan surat al ghasyiah berarti KIAMAT. Hal-hal seperti ini lah yang menghambat kemajuan peradaban islam.

Upaya untuk menghidupkan kembali Ruh Pendidikan tidak hanya berhenti disini. Hal yang tidak kalah pentingnya ialah dengan memiliki paradigma berpikir yang inklusif dan multikultural. Artinya, mau dan bersedia belajar dengan siapapun. Sebagaimana hadist Nabi yang mengatakan bahwa “ambilah hikmah meskipun keluar dari mulut anjing”. Paradigma inklusif ini perlu pembiasaan. Semakin manusia banyak membaca, memahami dan menelaah maka akan semakin besar pula rasa “toleransinya” sehingga memandang orang tidak separated namun komprehensif. Sebagaimana petuah Gus Dur yang mengatakan “Jika Ruh Ketuhanan sudah ada dalam jiwamu, maka dalam memandang manusia kau tidak akan pernah memperdulikan apa golongan dan simbolnya, apa agamanya dan bagaimana latar belakangnya”!. Namun tentu, sebelum pada taraf berpikir inklusif hendaknya manusia memiliki pijakan terlebih dahulu, sehingga pada akhirnya dapat memilah dan memilih mana yang positif dan mana pula yang negatif sebagaimana jargon para ulama’ “Al muhafadzatu ‘ala qadimish-shalih wal akhdzu bil-jadidil ashlah wal ashlah ilaa maa huwal ashlah”. Dari sinilah, seharusnya tidak perlu khawatir apabila outoff the box.

Mari, jadikan Al Qur’an sebagai spirit untuk mewujdukan tatanan kehidupan yang beradab, adil, makmur dan diridhai Allah SWT.

Rabu, 23 Mei 2018

HAKIKAT PERNIKAHAN UNTUK MENCETAK REGENERASI
Oleh Mukaromah Asy Syarmidi

Menikah. Singkat tapi bermakna. Bermakna tapi rumit. Rumit karena dipikirkan hanya dengan menggunakan logika saja, tanpa mensinergikan dengan rasa. Padahal sejatinya antara rasio dengan hati haruslah seimbang agar tidak terjadi ketimpangan suatu hal. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Tuhan memberikan kesempatan kepada manusia untuk hidup . Hal tersebut merupakan suatu anugrah yang luar biasa karena faktanya diri kita termasuk orang yang terpilih (dalam bahasa motivasi nya kita merupakan “pemenang” yang berhasil mengalahkan berjuta-juta sel dalam rahim ibu kita) sebelum pada akhirnya diri kita terlahir ke dunia.

Namun tidak dalam menikah. Menikah adalah pilihan “setiap orang” yang “dapat” diambil dan dilakukan, ataupun sebaliknya. Dalam islam, menikah merupakan sunnah Nabi, yang jika dilaksanakan akan mendapatkan pahala dari Allah  serta mendapatkan kemanfaatan (nilai plus) dalam hidup. Nilai plus tersebut terwujud dalam berbagai  aspek yang meliputi aspek psikologis, sosiologis - antropologis, fenomenologis dan agama. Dalam aspek psikologis, pada dasarnya manusia memiliki suatu “keinginan dan kebutuhan”  yang mendorongnya untuk menyalurkan hasrat tersebut kepada lawan jenis. Hal ini merupakan fitrah yang Allah berikan kepada manusia yang sifatnya bawaan dari lahir, sehingga perlu dipertanyakan apabila orang tidak memiliki perasaan dengan lawan jenis. Akan tetapi, jika tujuan menikah hanya untuk menyalurkan keinginan seks-nya maka hal tersebut tidak jauh beda dengan binatang.


Dalam sebuah penelitian mengatakan bahwa rentang waktu nafsu seks manusia terbatas yakni mulai umur baligh sampai 40 tahun. Selebihnya, manusia akan merasa jenuh namun bukan berarti tidak ingin melakukan, akan tetapi hal seperti ini tidak diprioritaskan lagi dalam sebuah pernikahan dan ternyata hal tersebut tidak akan dapat “melanggengkan sebuah kebahagiaan” jika didasari tanpa agama. Oleh karena itu, manusia akan mencari sesuatu yang baru dan lebih mencerahkan yakni dengan beralih perhatian/ fokus kepada anak-anaknya dan berharap agar anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, mandiri dan cerdas. Dengan demikian, dapat diambil benang merahnya bahwa hakikat sebuah pernikahan ialah mencetak generasi yang kelak akan meneruskan kiprah perjuangan dari kedua orangtua nya. Karena seperti apapun orang tua, pasti menginginkan anak-anaknya dapat “lebih baik” dari dirinya.

Hal ini yang melatarbelakangi pengamalan doa-doa yang diajarkan oleh para pendidik di satuan pendidikan (pondok pesantren, sekolah dan atau madrasah). Salah satu doa tersebut ialah Rabbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a'yuninin waj'alnaa lil muttaqiina imaama yang merupakan permohonan seorang hamba kepada Tuhan nya (sufla ilal a'la) yang dapat bermakna harapan agar dikaruniai pasangan dan dzurriyah-dzurriyah yang menyejukkan mata (menentramkan kalbu, shaleh dan atau shalehah nan cerdas dzahir maupun batin).

Oleh karenanya, dari hal tersebut penulis yakin bahwa mencetak keturunan (generasi penerus) dapat dilakukan pada saat masa-masa berjuang seperti ini (single/belum punya pasangan/terikat akad tetapi belum menikah) dengan cara “mengindahkan cetakan-nya” melalui tindakan dan perilaku yang baik nan benar. Setelah itu berlanjut pada pemilihan pasangan (laki/perempuan), dengan menomorsatukan Agama, Akhlaq dan Ilmu. Setelah itu, pada masa konsepsi dan masa kandungan (hamil) dengan memberikan asupan intern maupun ekstern yang berupa penjagaan yang baik dan gizi yang cukup. Itulah mengapa anak-anak kecil Israel cerdas-cerdas dan kuat-kuat fisiknya. Banyak anak-anak kecil disana yang berumur 8 th sudah dapat menciptakan sesuatu hal (produktif), karena ternyata saat "mengandung", kedua orgtua nya memecahkan mas.alah yg berkaitan dengan logika (matematika) dan makan ikan patin yang memang gizi nya luar biasa.

Maka dari itu, seorang wanita dan laki-laki harus berpendidikan mengingat "tanggung jawab nya dalam mendidik anak". Berpendidikan tidak hanya yang sekolah formal, tetapi mereka yang selalu dan tak mengenal lelah dalam mencari ilmu pun juga disebut berpendidikan. Oleh karena itu, mencetak keturunan dapat dilakukan sekarang dan saat ini dengan cara berbenah diri dan memantaskan diri dengan terus belajar dan belajar (berthalabul 'ilm) dalam segala aspek. Karena tak bisa dipungkiri bahwa apa yang saat ini dilakukan akan berpengaruh kepada anak cucu. Sehingga tak salah, jika orang Jawa (simbah-simbah) mengatakan “aku iso koyo ngene sebab tirakate leluhurku" (saya bisa seperti sekarang ini karena tirakat/usaha/perjuangan dari orangtuaku). Baru setelah anak lahir ke dunia, saatnya mmberikan education seems karena Golden Age yang pada usia tersebut seluruh kekuatan, pertumbuhan dan perkembangan otak amat maksimal. Pada masa ini pula seharusnya digunakan untuk mempersiapkan segenap potensi fisik, akal maupun mental yang ada pada diri anak dengan sebaik-baiknya. Bukankah الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدّنيا ?

Rabby inniy limaa anzalta ilayya min khairin faqiir.

Rabu, 02 Mei 2018

MENEROPONG MAHASISWA PAI ANGKATAN 2015
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi

Tepatnya kini berada disemester 6. Semester akhir yang katanya sangat menjemukan bagi sebagian mahasiswa. Ada pula yang menyebut semester ini “seharusnya” sudah mempunyai calon agar ketika wisuda nanti ada yang menemani sambil membawakan bunga untuk-nya sambil berkata “dek, selamat ya”, begitu kata salah seorang mahasiswi semester 6.

Ada yang unik dengan angkatan ini, pasalnya sudah banyak yang mengajukan tema skripsi bahkan sudah ada yang seminar proposal. Padahal dulu ketika saya masih semester 4, yang biasa mengajukan tema dan semprop adalah mahasiswa yang menginjak semester 7/ bahkan 8, tapi tak bisa dipungkiri tetap ada yang mengajukan meski masih disemester 6 namun hanya seglintir orang saja.
Berbeda hal nya dengan angkatan ini. Baik mahasiswa aktivis maupun akademis, sama saja. Berebut waktu untuk menemui DPA dan kajur guna konsultasi dan acc tema skripsi. Tentu hal ini menimbulkan tanda tanya besar, Ada apakah ini? Karena sesuatu yang terjadi pasti ada sebab. Tak biasanya semester 6 sudah mulai fokus skripsi padahal KKN saja baru akan dimulai bulan Juli-Agustus ini.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya melakukan obrolan ringan dengan (banyak) mahasiswa PAI 2015. Mayoritas jawaban mereka hampir sama dengan argumen yang hampir sama pula. Nah Berdasar obrolan ringan tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka ingin segera lulus, karena beberapa sebab, yakni (1) Ingin melanjutkan hafalan kitab dan qur’an nya. (2) Ada pula yang ingin menjadi wisudawan/wati tercepat di fak.Tarbiyah. (3) Ingin segera menikah karena sudah tunangan, mayoritas yang menjawab ini adalah kaum hawa. Karena bagi mereka “jangan sampai telat nikah”. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan/kondisi geografis daerah mereka. Wanita yang lulus S1 sudah dipandang tua oleh masyarakat, sehingga suatu ketidakwajaran apabila tidak segera menikah, ungkap salah seorang mahasiswi.

Meski ada yang ingin segera lulus, namun juga ada mahasiswa/i yang tidak terobsesi untuk segera mengajukan tema dan fokus skripsi. Hal itu dikarenakan masih ingin menikmati masa-masa kuliah, masa muda dan masa mengembangkan kreativitas. Bagi orang-orang dalam kelompok ini, mereka masih ingin menjajaki berbagai macam pengalaman dan pelatihan guna bekal masa depan. Ada juga yang masih ingin fokus untuk melengkapi SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah), sehingga lulus tidak hanya sekedar lulus, namun memiliki skill komparatif atau setidaknya mempunyai sesuatu yang membedakan dengan sarjana-sarjana lain. 

Dengan demikian, mengumpulkan sertifikat seminar, perlombaaan baik akademik maupun non akademik menjadi prioritas kelompok ini sebelum fokus skripsi dengan pertimbangan yang penting lulus dengan predikat “berkualitas” meski tidak menjadi wisudawan/wati tercepat. “Mungkin nanti pas kumpul di MP ekspresinya sama, baik yang tercepat maupun yang biasa-biasa saja tapi punya skill komparatif lain. Yang membedakan hanyalah “senyum lebar/tidaknya”, yang dinobatkan menjadi wisudawan/wati tercepat senyumnya akan lebih lebar dibanding yang lain”, ungkap salah seorang mahasiswa PAI. Jujur saja, penulis ngampet ngguyu. Wkwkwk

Hidup itu anugrah dari Tuhan Yang Maha dengan Segala keMahaannya. Dalam hidup ada berbagai macam pilihan, dan manusia diberi kebebasan Tuhan untuk menentukan pilihan hidupnya namun tetap harus bertanggungjawab atas pilihan-nya. Biarlah mahasiswa sendiri yang menentukan kemana dan seperti apa dirinya. Yang penting “BERJUANG”. Karena Tuhan menyuruh dan memerintahkan hamba-hamba Nya untuk terus dan senantiasa berjuang, BUKAN kalah/menang - nasihat guru spiritual saya, Emha Ainun Nadjib.