OBROLAN TADARUS DI MASJID DESA TERCINTA
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Miliki-lah cita-cita yang tak berbatas ruang dan waktu, Kerjakan apa yang harus dikerjakan, lakukan apa yang harus dilakukan sekalipun tak ada satu orang pun yang berada dibelakang kita. Asal niat kita baik, hati kita bersih, tujuan kita jelas maka Gusti Allah langsung yang akan membimbing kita (Mukaromah, 2018).
Seperti biasa, seusai tadarus dilanjutkan dengan ngobrol santai sambil nge-teh dan mencicipi hidangan makanan yang telah disediakan. Tidak semua hal tentang ngobrol itu negatif, justru hal itu merupakan salah satu cara untuk merekatkan jalinan emosional antar sesama, memupuk rasa saling memahami dan menyayangi bahkan bisa jadi saling sharing rencana dimasa depan entah itu soal pendidikan, karier maupun jodoh. Ada hal yang menarik tentang obrolan tadarus malam ini, tak biasanya aku satu kelompok dengan adek-adek yang seusia SD dan SMP. Namun justru hal tersebut membuatku tertarik untuk mengetahui lebih dalam bagaimana kerangka berpikir mereka.
Untuk itu, saya mengawali pembicaraan tentang soal pendidikan dengan bertanya kepada salah seorang anak yang saat ini kelas 3 SMP, “sampean arep nerusne nandi nok”? Lalu ia menjawab panjang lebarr dengan disertai argumen yang logis, rasional dan empirik mengapa memilih sekolah tersebut. Sambil ku anggukkan kepala dan sesekali ku lemparkan senyum untuk menarik perhatian-nya agar dia mau mengungkapkan hal-hal lain. Saya hanya mengucapkan satu kalimat “wis manteb nok dengan pilihan-mu”? Dalam hati ku bergumam “Seandainya aku nuruti atiku, sudah pasti akan ku-arahkan ke sekolah-ku dahulu”. Hahaha.
Tapi aku tak mau seperti itu, biarlah dia mengambil keputusan berdasar pada pilihan-nya sendiri dengan memberi kebebasan untuk mengekspresikan potensi dan minatnya. Saya mencoba untuk mengaplikasikan pendidikan yang demokratis dengan berpijak pada 3 hal : dari, oleh dan untuk dirinya sendiri toh aku juga sudah melihat semangat, harapan dan kemantapan hati dari anak tersebut atas pilihan-nya. Seringkali hal seperti ini yang menjadi persoalan pelik dalam suatu keluarga yakni ketidaksesuaian visi dan kemauan antara orangtua dengan anak. Anak inginnya A, sedangkan orangtua inginnya B. Orangtua merasa bahwa ia kaya “pengalaman dan wawasan” lalu ingin anaknya mengikuti alur-nya, padahal disisi lain anak juga memiliki kemauan dan pilihannya sendiri.
Orangtua memang memiliki wewenang terhadap anak akan tetapi yang menjalani hidup adalah anak itu sendiri, sehingga sudah sepatutnya orangtua mendukung anak dengan memberikan alternatif pilihan dengan cara yang demokratis yakni memberikan kebebasan pada anak untuk memilih sesuai dengan potensi, kemauan dan keinginan-nya serta memberikan konsekuensi pertanggungjawaban atas pilihan-nya. Bukan memaksakan kehendak dan keinginan orangtua agar dipilih si anak.
Obrolan berlanjut dengan pertanyaan dari salah seorang anak SD, “mba Karomah, cita-citanya sampean ingin jadi apa e mbak? Sontak saya kaget mendengar itu, karena dulu saya merupakan orang yang sistematis, fokus satu hal, fanatik terhadap cita-cita yang kini hal tersebut justru membuatku lelah dan hidup terasa monoton. Belum ku jawab, tiba-tiba ada yang menyahut “mba Karomah jurusan PAI ya, kayaknya cita-cita nya jadi Guru Agama nih”. Dengan penuh apresiasi ku jawab “eh dek, emang e aku cocok ya jadi guru agama? Lalu mereka menasihatiku dengan kata-kata amal jariyah. Ya, jadi guru itu amal jariyah, kata mereka. Faktanya amal jariyah memang begitu dek, batinku. Haha.
Kemudian ku jawab, cita-citaku simple kok dek, ingin jadi orang yang bermanfaat saja, yang penting gusti Allah Ridha. Kalau kita punya prinsip seperti itu dalam hidup, InsyaAllah segala apapun akan terasa indah dan bermakna. Maka, miliki-lah cita-cita yang tak berbatas ruang dan waktu. Kerjakan apa yang harus dikerjakan, lakukan apa yang harus dilakukan sekalipun tak ada satu orang pun yang berada dibelakang kita. Asal niat kita baik, hati kita bersih, tujuan kita jelas maka Gusti Allah langsung yang akan membimbing kita. Jadilah orang mandiri, baik dari segi pemikiran maupun hal-hal lain. Tanyakan pada hati, karena terkadang pikiran orang TIDAK se-visi dengan kita.
Mandiri bukan berarti TIDAK membutuhkan oranglain namun mandiri ialah ada atau tidaknya orang, hidup harus terus berlanjut sampai Allah sendiri-lah yang menghentikan langkah hidup ini.
Ku pandangi wajah mereka. Seakan ku melihat potret Indonesia 15-20 tahun yang akan datang. Mereka lah pelita-pelita bangsa sekaligus harapan masyarakat Indonesia. Mumpung kalian masih muda, sik sregep yo le ngaji dan sinau. Belum selesai ngomong, ada yang menyahut “mbak Karomah, aku pengen banget membahagiakan orangtua-ku. Aku ikut lomba aja ya mbak, biar ibuku senang soalnya aku juga hutang nyawa sama ibuku mbak”. Ku bergumam dalam hati “Polos sekali anak ini, ah kamu unyu-unyu dehh. Hahaha. Bisa dek, wah bangga banget ya orangtua mu nek kamu ikut lomba, sudah ikut lomba apa saja, kataku. Begini dek, membahagiakan orangtua bisa dilakukan kapanpun, termasuk kalian berangkat ke masjid dan tadarus gini orangtua kalian seneng banget loh ya.
Lalu ada yang menyahut dengan mengatakan “mbak Karomah, aku pengen kuliah terus kerja habis itu ingin nikah. Setelah tak itung-itung ternyata sekolah itu membutuhkan waktu yang lama ya mbak, 16 tahun itu pun baru sampai S1. Padahal jenjang tertinggi pendidikan formal itu sampai S3 ya mbak. Dengan menahan tawa ku bilang kok kamu kritis banget sih dek, aku juga pengen loh ya sampai S3 (Es Tri/istri) hahahahah mereka masih belum paham juga. Ckckckck.
