Selasa, 10 Juli 2018

ADA APA DIBALIK NAMA ?
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
“Memanggil orang dengan menyebut namanya, merupakan salah satu cara menyentuh hati dan jiwa-nya” (Mukaromah, 2018)

Sepele, tapi sesungguhnya sangat berarti dan bermakna. Saya merupakan salah satu orang yang sulit sekali menghafal nama orang, KECUALI kalau orang tersebut mempunyai ciri khas dan karakteristik tertentu. Sudah hampir 6 bulan saya mengajar disebuah sekolah, tapi belum hafal juga nama-nama siswa dikelas tersebut, kecuali kalau siswa tersebut sering bertanya, kritis, aktif dan murah senyum. Yang seperti itu mudah sekali untuk dihafal. Mungkin hal seperti ini dapat terjadi juga dikalangan dosen dan mahasiswa. Biasanya kalau dosen, cepat hafal nama mahasiswa yang “sering” duduk di depan dan yang sering bertanya. Haha.

Memanggil seseorang dengan menyebutkan “nama-nya” merupakan sentuhan psikologi yang amat dalam. Hal ini mudah saja diamati dan dirasakan oleh setiap manusia. Seperti di Media sosial misalnya, Lebaran idul fitri kemarin banyak orang yang mengucapkan permintaan maaf dan selamat idul fitri dengan mengetik panjang lebar dan dishare ke orang yang bersangkutan, NAMUN tanpa menyebutkan nama orang yang dituju. Rasanya (orang yg dituju) ah nanti dulu-lah balasnya, mungkin ini hanya di BC ke semua orang.

Jadi yang merasa melakukan hal semacam itu, jangan sakit hati ya apabila nggak dibalas-balas. Soalnya nggak jelas sih minta maaf sama siapa. Biasanya benar, hanya BC-an dan dishare ke semua kontak, untuk lebih mengefektifkan waktu dan kata. Memang pada dasarnya, semua amal perbuatan tergantung pada niatnya. Niat nya sudah bagus ingi minta maaf dll, tapi cara-nya saja yang kurang pas. Akan lebih baik apabila diedit dengan menyebutkan nama masing-masing orang yang akan dituju. Misal, “dek Mukaromah, kulo banyak salahnya mohon dimaafkan ya lahir batin dan kita saling mendoakan”. Redaksi seperti itu jauh lebih menyentuh hati dan membuat orang yang bersangkutan bergegas untuk membalas. Beda dengan Selamat hari Raya Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin, Salam Mukaromah sekeluarga. Coba deh rasakan pakai hati. Beda kan?

Begitu halnya dengan pemanggilan langsung/ face to face. Mudah ditebak, bagi orang yang lupa-lupa ingat nama orang yang disapa, ia hanya akan memanggil/ menjawab panggilan orang dengan sebutan “mbak, mas, om, bang, bung”. Kalau orang nggak peka, rasanya biasa aja alias tidak terlalu mempersoalkan pemanggilan yang penting tatapan mata dan wajahnya menghadap ke yang bersangkutan. Akan tetapi, ingatlah bahwa ketika kita menyapa orang lain dengan melampirkan namanya, maka orang tersebut akan sangat senang, merasa dihargai dan merasa namanya terkenang.
Selain itu, saya sendiri suka membedakan pemanggilan nama. Kata “Bang + nama ybs” biasa saya lontarkan kepada temen-temen aktivis di kampus. Kata “Mbak + nama ybs” saya ucapkan kepada teman-teman perempuan pada umumnya, sedangkan saya hanya memanggil nama “jeng + nama ybs” kepada orang yang benar-benar udah nempel dihati. Lain halnya dengan kata “Master, suhu, pak, kiyai, bu + nama ybs” saya berikan kepada senior saya. Adapun kata “Kang + nama ybs” biasanya saya pakai kata ini untuk temen organisasi kemasyarakatan. Sedangkan yang terakhir kata “Mas/Ms + nama ybs” hanya untuk orang-orang tertentu saja. Wkwkwk.

Biasanya bagi wanita ada satu kata yang sangat terkesan dibenak-nya, ketika ada yang memanggil dengan sebutan “dek + nama”. Apalagi yang manggil tersebut orang yang disukai/dicintainya. Ah sepertinya ceprik-ceprik dihati. #Jangan baper yang masih jomblo.
Marilah, kita belajar menghargai dan menghormati orang lain melalui hal-hal yang sangat sepele/kecil namun efeknya sangat luar biasa, yakni membiasakan memanggil nama orang dengan menyertakan namanya
KULIAH KERJA NYATA (KKN) DALAM PARADIGMA MAHASISWA.
Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian).

 Before KKN habis cuci-piring

KKN merupakan serangkaian proses yang harus dilalui dan dijalani oleh mahasiswa sebagai wujud dari tanggungjawab akademik. Suka tak suka, mau tak mau, tetap harus dilalui. Selain hal tersebut merupakan tanggungjawab yang harus dilakukan oleh mahasiswa, KKN juga merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari lembaga pendidikan (Kampus) kepada masyarakat. Tujuan dari KKN ialah Action (Mengaplikasikan, mempraktikkan, mengimplementasikan, mengamalkan) ilmu yang telah didapat baik di bangku perkuliahan maupun organisasi melalui keterlibatan didalam masyarakat.
Implikasinya, agar mahasiswa dapat menjadi generasi penerus pembangunan bangsa yang peka terhadap realitas sosial dengan memulainya dari sekup terkecil yakni masyarakat. Karena masyarakat merupakan titik awal dan pondasi terkuat bagi pembangunan nasional. Oleh dasar itulah, civitas akademika (Kampus) menyelenggarakan KKN untuk mencerdaskan, mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang edukatif dan inspiratif.

Di kalangan mahasiswa, KKN mempunyai berbagai macam varians rasa. Bagi mahasiswa yang kuliah sambil bekerja mereka berpendapat bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Bagi mahasiswa Jomblo mereka mengatakan bahwa KKN merupakan moment yang tepat untuk mencari pasangan hidup, serta yang tak kalah menariknya bagi mahasiswa yang progressif dan visioner mereka memaknai KKN sebagai ajang untuk melatih kemandirian dan mempersiapkan diri untuk terjun ke masyarakat agar kelak tidak kaget saat sudah tiba waktunya untuk menikah.
Hal tersebut tidak serta merta tanpa dasar, melainkan mempunyai esensi yang sangat dalam. Dapat dibayangkan, bagi mahasiswa yang tidak diberi kiriman uang oleh orangtuanya lalu mereka sehari-harinya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tentu akan mengalami defisit keuangan. Selama 2 bulan tidak ada “income”/ pemasukan. Kemarin sempat mengobrol dengan teman yang sudah ngajar di suatu sekolah (SD di daerah Magelang), ternyata tidak boleh cuti, sedangkan penempatan KKN dia ada di Gunung Kidul. Ah, saya tidak bisa membayangkan seperti apa. Ini-lah yang disebut bahwa KKN membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan merupakan suatu proses yang membutuhkan energi dan kesungguhan untuk mengalahkan segala hal demi menyelesaikan suatu tanggungjawab yang harus segera diselesaikan (dalam konteks ini KKN).

Begitupula dengan pengorbanan yang merupakan manifestasi dan pancaran dari kecintaan dan kebaktian terhadap suatu hal. Mahasiswa bisa saja mengatakan aku ingin KKN dan siap untuk ditempatkan dimana saja, Namun tanpa ada kesediaan berkorban (termasuk mengorbankan tiada income, cuti mengajar dll) hal itu tidak-lah berarti sedikitpun. Karena dalam pengorbanan hanya ada ketulusan. Ya, tulus sepenuh hati tanpa ada pikiran “menguntungkan atau merugikan” ! Begitu pula dalam memaknai KKN. Inilah bentuk jihad dan pengabdian yang sesungguhnya.

Selain itu, ada pula yang memaknai KKN sebagai ajang untuk menemukan jodohnya. Mungkin ini bisa saja terjadi, bayangkan ya 2 bulan bersama. InsyaAllah cukuplah yak untuk ta’arufan dan mengetahui kebiasaan, karakter dan sifatnya. Buktinya dengan berdasar realita empirik ada banyak kakak tingkat saya yang pada akhirnya menikah dengan teman se-posko. Mungkin mereka yakin dengan adanya unen-unen jawa yang mengatakan “witing tersno jalaran seko kulino – Cinta karena tiap hari ketemu”. Dengan adanya keyakinan itulah, Gusti Allah menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya. Barangkali, ada yang mau mencoba ini. Monggo...terutama bagi yang masih jomblo, dan bagi yang sudah mempunyai pasangan, jangan lupa ya Profile WhatsApp nya diganti bersama pasangan-nya masing-masing agar tidak di baper-i sama temen se-posko. Hahaha #hanya saran.

Terakhir, KKN merupakan ajang untuk melatih kemandirian dan sebagai bekal guna mengarungi kehidupan selanjutnya. Entah seperti apapun mahasiswa, secerdas dan sehebat apapun ia, se-aktivis diorganisasi apapun. Kelak akan kembali membangun Indonesia. Dan salah satu step-nya melalui masyarakat baik desa maupun kota. Masyarakat (khususnya pedesaan) tidak akan memandang seseorang dari latar belakang pendidikan-nya, jabatan-nya dll. Namun yang dipandang ialah dapat berkontribusi nggak untuk masyarakat? Dalam bahasa jawa-nya, Srawung e karo tonggo apik nggak – Bersosial dengan tetangga baik nggak? Itu yang diperlukan.

Oleh dasar itulah, salah satu dari banyak tujuan Perguruan Tinggi ialah mencetak output dan outcome yang tanggap akan realitas sosial kemasyarakatan. Dan bagi seorang wanita, seperti apapun dia (entah berpendidikan tinggi, aktivis, ataupun wanita karier) juga harus bisa memasak. Kata mayoritas orang, mahir memasak merupakan salah satu indikator keharmonisan rumah tangga. Dengan demikian, sangat cocok apabila KKN dijadikan sebagai ajang untuk berlatih dalam segala hal, prihatin tidak ada income, dan membaur dengan masyarakat. Karena kelak, seperti apapun Mahasiswa akan tetap kembali kepada fitrahnya dengan menjadi bagian dari masyarakat.

Selamat KKN, semua orang pasti pernah mengalaminya. Bedanya, hanya penyebutan nama ! Jadi, santai saja. Nggak usah sepaneng. Hehe
SENTILAN ALLAH YANG MENYENTIL SEGALANYA
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi

“Shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya” (K. Ahmad Lutfian Antoni, S.Th.I, M.Pd saat menjelaskan syarah Hadist Arba'in Nawawi, 3 years ago).

Sudah beberapa kali saya mengalami kejadian hal yang tidak mengenakkan ketika dijalan. Siang tadi, ada motor yang melaju begitu cepat. Tiba-tiba ada barangnya yang jatuh, sontak saat itu pula ia mengerem mendadak. Saya yang berada dibelakang-nya pun kaget dan karena motor tidak bisa dikendalikan akhirnya duerrrrrr, nabrak. Saat itupula saya terjatuh dan seperti mimpi. Sadar dan tidak sadar. Sangat irasional. Bagaimana tidak? Jika dinalar dengan akal manusia yang sifatnya nisbi, hal seperti itu tentu sudah bonyok-bonyok. Motor juga peot dan entah saya seperti apa. Akan tetapi, atas kuasa dan pertolongan Allah kami baik-baik saja bahkan kedua motor pun juga tak ada yang rusak.
Sejenak aku termenung karena masih kaget. Tiba-tiba saja teringat nasihat alm. bapak dahulu “sik...ojo kesusu muring-muring meski sebenarnya kamu tidak salah”. Melihat ibu yang ketakutan (mungkin dikira saya akan menunutut) dia terus memandangi-ku. Dalam batinku, kenapa ibu ini tidak minta maaf? Padahal jelas salah loh, batinku. Karena harapanku kepada Tuhan jauh lebih besar dibanding emosi marah dan rasa tak terima-ku, akhirnya aku putuskan “Ya buk, saya salah jennegan juga salah, kita saling memaafkan ya. Beres. Silahkan lanjutkan perjalanan kembali”. Suami dari ibu itu pamitan pergi. Tinggal saya yang masih minum air putih karena dikasih ibu paruh baya penjaga toko di sebrang Lapangan Kremalan.

Setiap hal, setiap peristiwa dan setiap tempat pasti ada ilmu, uswah dan ibrah-nya. Termasuk kejadian yang saya alami siang ini tadi. Yang pertama, Jangan pernah meremehkan doa. Saya teringat kata ibuku beberapa bulan yang lalu “Nok, doaku itu supaya kamu dijalan selalu dilindungi Gusti Allah”. Benar adanya, meski terjadi hal-hal yang kurang mengenakkan saat dijalan, tapi selalu dilindungi Gusti Allah dalam artian tidak berat luka dan juga rugi-nya. Yang ada hanyalah pembelajaran dan hikmah untuk tetap waspada dan berhati-hati. Tidak menutup kemungkinan, ini juga karena doa dari kalian (Teman-teman FB), guru dan juga dosen-dosenku serta doa dari orang-orang yang dipermudah jalannya melalui perantara al qur’an.

Yang kedua, memaafkan dengan menata hati, mengingat Allah dan mengingat jasa kebaikan yang pernah diberikan oleh orang lain. Dahulu saya pernah mengerem mendadak, tapi ternyata orang yang berada dibelakangku tidak marah dan memaafkan kesalahanku. Begitupula dengan hal ini. Karena dulu saya ditolong dan dimaafkan orang, baiklah. Ini balasan terimakasihku kepada orang yang menolongku dengan cara memaafkan kesalahan orang lain (read orang yang mengerem mendadak tersebut).

Yang ketiga, menghemat energi. Memaafkan jauh lebih indah dan mulia daripada marah-marah. Sama-sama dirasakan oleh hati, namun efeknya berbeda. Memang sih, lega banget kalau udah melampiaskan kemarahan. Tapi? Efeknya nanti dibelakang pasti menyesal. Berbeda halnya ketika memaafkan kesalahan oraang, maka hati akan lebih mudah menyambung pada Tuhan dan akhirnya cahaya dan rahmah Allah akan mudah dirasakan oleh hati. Hal tersebut nantinya akan berimplikasi kepada ketenangan batin, mudah memahami orang lain dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Yang ke-empat, ingat kesalahan kita dimasa lalu. Dalam Qs. Al Isra’ disebutkan bahwa in ahsantum ahsantum li anfusikum....... perbuatan baik dan buruk tak lain akan kembali pada diri kita. Untuk lebih njembarke ati, maka harus flashback. Dahulu pernah tidak mengerem mendadak? Jika pernah, ya mungkin ini kausalitasnya. Hehe, Ya biar ngerasain sakitnya orang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati kita. Agar bisa sama-sama merasakan meski dengan objek dan konteks yang berbeda.

Yang kelima, Ingat harapan yang disematkan kepada Tuhan. Barangkali kemudahan dan keberkahan hidup yang Allah berikan kepada kita bukan karena kita kaya, karena cerdas, karena punya jabatan dll. Tapi karena mudah memaafkan orang dan pandai mengambil ibrah dan uswah dari setiap alur peristiwa sejarah yang Tuhan berikan. Niatkan saja, semoga dengan peristiwa ini Allah berkenan memberikan kekuatan dan membukakan pintu kemudahan untuk meraih segala hal yang dicita-citakan.

Yang ke-enam, jangan pernah berharap dan menginginkan seseorang menjadi seperti yang kita inginkan, karena itu hanya akan menggelapkan hati (ndogkolke ati). Hal tersebut tercermin dengan batin saya tadi, kenapa sih ibu ini tidak minta maaf padahal salah loh. Kalau saya masih memegang erat kata-kata tersebut, yang ada hanyalah sakit hati. Karena ketidaksesuaian keinginan-ku dengan realita yang ada.

Yang ke-tujuh, Karena peristiwa ini, saya dipertemukan dengan kawan SD yang 10 tahun tidak bertemu. Dahulu temen-temen sering nyomblangin dia sama aku. Hahaha konyolll. Ternyata dia masih ingat sama aku. Eh Mukaromah, sapanya. Wkwkwk

Yang ke-delapan, istiqamahkan shadaqah. Saya masih teringat nasihat Guru Tafsir Aliyah, Kyai Ahmad Lutfian Antoni saat menjelaskan Syarah Hadist Arabain Nawawi, beliau ngendiko bahwa shadaqah itu tajaddud yang harus senantiasa diperbaharui setiap saat, bukan Ismtimrar yang hanya perlu satu kali cukup untuk seterusnya. Yang harus diingat shadaqah itu tidak hanya berbentuk materi (uang), namun bisa hal-hal lain sesuai dengan kadar dan kemampuan masing-masing. Bisa ucapan yang baik, perbuatan yang adil, perlindungan dan rasa aman terhadap makhluk-makhluk Tuhan serta hal-hal yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat.

Dan terkadang, doa lebih maqbul apabila diucapkan oleh orang yang berada dibawah kita (entah dalam hal ekonomi maupun fisiknya). Oleh karena itu, jangan sampai lupa memohon doa kepada orang-orang yang kita permudah jalannya, serta yang kita bantu. Bisa jadi, hal tersebut dapat menjadi lantaran rahmat, kasih sayang dan perlindungan yang Allah berikan kepada kita, sehingga dalam hal apapun kita tidak terlepas dari belas kasihan Nya.