Minggu, 06 November 2016



ALL ABOUT PAI B UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Oleh : Mukaromah

Dobalan, 7 November 2016 
 

 

Picture 1 : Keluarga besar PAI B foto bersama Prof.Dr.H.Sutrisno, M.Ag (Guru besar PAI Tarbiyah sekaligus dosen Ilmu Pendidikan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

            PAI B UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berjumlah 55 orang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Disini, kami satu visi, satu misi dan satu tujuan yakni “Bertholabul ‘ilm, melawan kebodohan dan penindasan”. Sebagaimana Wahyu yang pertama kali turun yakni Qs.Al-‘Alaq 1-5. Lafal iqro’ tak hanya dimaknai dengan membaca Qur’an saja. Akan tetapi yang lebih dari itu ialah membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Qur’an wal hadist, membaca segala hal yaang tersebar di bumi berupa ayat-ayat kauniyyah dan segala hal yang ada dalam diri manusia yang berupa ayat-ayat insaniyyah. Sungguh, manusia mempunyai potensi yang luarbiasa yang dengan hal itu manusia bisa lebih hebat dan lebih mulia daripada Malaikat, akan tetapi manusia pun juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaitahan, manakala manusia tidak bisa mengendalikan nafsu nya dengan baik. Adapun implementasi Qs.Al Alaq tersebut ialah Mahasiswa sebagai Agent Of Change harus bisa menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, berintelektual nan berkarakter. Mahasiswa harus kritis, harus peka terhadap lingkungan, harus haus akan ilmu, harus sering-sering diskusi . Karena hal itu semua yang akan menjadikan belajar dibangku kuliah terasa bermakna dan terkenang sepanjang masa. Namun, belajar, presentasi dan berdiskusi terasa garing manakala tidak ada canda tawa dan kebersamaan yang mengiringi setiap langkah nya. Oleh karena itu, untuk mempererat pasuduluran (persaudaraan) PAI B merencanakan dolan bareng (tadabbur alam) dengan pilihan wisata di DIY yakni Kebun Teh Nglinggo Kulon Progo, Pantai Gunung Kidul dan Rumah teh Rina di Purworjo, Jateng.



Picture 2: Rapat kelas PAI B yang diselenggarakan pada tanggal 2 November 2016 bertempat di Ruang 401 Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

            Rapat yang dihadiri oleh sebagian kelas PAI B tersebut membahas tentang tanggal dan tempat wisata  yang akan menjadi objek sasaran PAI B untuk melepas penat setelah UTS semester 3. Akhirnya dengan kesepakatan bersama, kami memilih tanggal 3 di Kebun Teh Nglinggo, Kulon Progo, DIY sebagai tempat tujuan dolan bareng sekaligus untuk mempererat persaudaraan.

 

                               Picture 2 : Sambil menunggu kawan-kawan yang ketinggalan.

            Pada tanggal 3 November 2016 pukul 08.30 kami berangkat dari UIN ke Kebun teh dengan mengendarai Sepeda motor. Jalan yang kami tempuh berlenggo-lenggok, curam dan bertebing. OLeh karena itu, wajar jika ada yang tertinggal jauh sehingga harus menunggu bermenit-menit dan akhirnya melanjutkan perjalanan kembali. Akhirnya tepat pada pukul 11.45 kami sampai juga di Kebun teh Nglinggo, Kulon Progo, DIY. Hanya dengan biaya 5.000/orang kami sudah bisa menikmati view Kebun Teh yang sangat mempesona. Murah bukan? Setelah itu kami parker dan istirahat sejenak sambil berwudhu dan menunggu adzan Dzuhur tiba. 


                        Picture 3 : Sholat berjamaah dengan imam Bang Lazuardi Aghsat Sukmawan.

            Seusai Sholat dzuhur berjamaah, kami berkumpul sebentar untuk bermusyawarah teknis acara yang dipimpin oleh ketua panitia PAI B yakni Bang Bayu Kuncoro Aji dan Jeng Diah asli Cilacap. Adapun hasil musyawarah tersebut ialah, di acara inti akan ada permainan “Tell and give appreciation to the name that has been listed in the paper that has been in share” (Menceritakan sekilas dan memberikan apresiasi kepada nama yang ada di kertas yang telah dibagikan secara acak)


Picture 4 : on the way muncak kebun teh Nglinggo Kulon Progo DIY

Kami melanjutkan perjalanan naik ke kebun teh dengan menempuh jarak sekitar 4 meter dari tempat sholat. Di sepanjang jalan kami bernyanyi “Darah juang” sambil menghayati tiap liriknya. Selain itu kami juga saling bersendau gurau dan cerita ngalor ngidul. Hihi


Picture 5: buat kenang-kenangan

Tanpa disadari 15 menit kemudian kami sampai juga di puncak kebun teh nglinggo Kulon Progo, .


Picture 6 : Kebersamaan Keluarga Besar PAI B

            Bagi kami, kebersamaan adalah hal yang paling berharga. Selama 3 semester ini kami lalui bersama suka dan duka nya menjadi mahasiswa. Kemarin akhir semester  1 kami ngadain Sikrab di Pantai Goa Cemara dan di semester 2 kami mengadakan dolan bareng ke Gunungkidul, saat ini hanya dengan cara seperti itulah kami menjaga kekompakan, kebersamaan, ukhuwwah, kepekaan dan tentunya susah seneng harus bareng-bareng. Saat-saat seperti itulah yang akan kami rindukan kelak saat telah lulus dan mengabdi di daerah masing-masing.

Picture 6: Makan bareng Keluarga PAI B

Kata Orang jawa “makan tak makan yang penting ngumpul”. Kata-kata itulah yang selalu kami ingat sepanjang masa. Meski makanan hanya sedikit, lebih asyik kalau makan nya bareng-bareng. Sik penting guyup rukun. Hehe
            Setelah makan bareng, agenda selanjutnya ialah Permainan “Tell and giving appreciation “. Ibrah yang dapat diambil dari permainan tersebut ialah Mengingat jasa dan menceritakan karakteristik individu yang tercantum dalam kertas yang telah dibagikan secara acak, kemudian temen-temen yang lainnya nebak siapakah yang dimaksud dalam cerita tersebut? Bang Zainal kah, Bang ipul kah, Om Sur kah, Mas Sidiq, bang Bayu kah? Atau Jeng diah, jeng Amalia, jeng Aya, jeng Nindi atau nyai Irma kah? Nahh hal itu masih menjadi misteri. Kemarin pas permainan ini, penulis menceritakan sosok laki-laki yang berkacamata, sederhana tapi ellegan, Sabar dan bijaksana. Dengan alamat rumahnya di Banguntapan Bantul, Yogyakarta. Orangnya mahir dalam hal IT (computer), biasa kami sebut teknisi. Dengan kakateristik fisik tinggi dan badan kekar, orangnya tak suka aneh-aneh. Beliau selalu ada untuk saya saat dalam masa-masa sulit, terutama pas masa-masa KRS kemarin, beliau suka menolong bahkan tak hanya menolong saya tetapi juga menolong teman-teman PAI 2015 yang kesulitan KRS atau ngajari computer gitu. Siapakah sosok tersebut? Tak lain dan tak bukan, yang dimaksud penulis ialah “Om Suryadi Febrianto”, penulis memberikan apresiasi berupa bunga dan seuntai doa yang InsyaAllah akan menemani ditiap langkahnya. (jangan diartikan aneh-aneh, ya….just Friend forever) :D


Picture 7: Suasana saat Mengukir mimpi dan Cita-cita

            Penulis  ingin menyampaikan sepatah kata bahwa Setiap hal apapun yang kita lakukan, sekecil apapun itu kala kita bersungguh-sungguh menjalaninya, maka akan berhasil. Dan keberhasilan itu tidak melihat darimana seseorang berasal. Sukses bisa terwujud selama ada keberanian bermimpi, mempunyai keinginan dan tekad yang kuat serta pantang menyerah untuk menggapainya (Intangible Capital) (modal yang tidak kasat mata) yang berupa Kesungguhan, tekad, Ghiroh dan Azam. Kita harus membuat kurikulum hidup dengan intangible capital. Ketahuilah sahabat, sebentar lagi kita akan memasuki era Mentrofokasi yakni memainkan peran berdasarkan prestasi, skill dan kompetensi bukan karena latar belakang keluarga ataupun nasab. Karena pada hakikatnya, hanya diri sendirilah yang mampu Merubah dirinya Sendiri (Qs.Ar-Ro’du:11), dan penulis lebih mengagumi orang yang berhasil karena “Tirakatnya sendiri” dalam arti karena usaha dan perjuangannya bukan karena Nasab orangtuanya atau latar belakang keluarganya

Picture 8: Bersatu membangun Indonesia yang lebih baik.

            Sebelum pulang, kami sempatkan foto bareng dan saling mengucap “thanks for today (TFT)”. Semoga kebersamaan ini akan terjalin selamanya, saat nanti kita punya anak cucu, santri, murid-murid dan mahasiswaa/i. Dimanapun dan seperti apapun Kita di MASA DEPAN ingatlah bahwa kita pernah susah seneng bareng, dolan bareng, nggarap tugas bareng, presentasi bareng, diskusi bareng,sekelas bareng, menuntut ilmu di Kampus Rakyat yang memang benar-benar merakyat. Biarlah waktu yang akan berbicara, mungkin kelak ada yang menjadi kiyahi, nyai, guru, dosen, bupati, gubernur, filusuf islam, teknisi computer, mentri atau bahkan presiden. Satu kata yang harus diingat ialah “Jadilah orang yang menginspirasi, navigator sekaligus motivator bagi orang lain, khususnya untuk anak-anak Indonesia. Saat kita lelah, penat dalam menghadapi mereka….katakan dan yakinkan dalam hati kita bahwa “SEMUA ANAK ADALAH HEBAT, hanya saja BELUM BERTEMU DENGAN PENDIDIK YANG HEBAT DAN MENGINSPIRASI.
            Allah created we to be in the world. We are in the world to fulfill a specific mission, so do anything and action for our dream with believe, dare to dream and make it happen. Be best for us come on. Teruslah Bermimpi dan Sertakan Allah di dalamnya…..Sungguh, Dialah sebaik-baik Pengabul Doa


Salam, Mukaromah Mahasiswi PAI Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta