Selasa, 17 April 2018

MOCOPAT SYAFA’AT EMHA AINUN NADJIB (Edisi Bulan April 2018)
Tulisan ini saya tulis dengan kata-kata sendiri namun “Substansi” nya sama dengan apa yang dimaksud dan dipaparkan oleh Cak Nun.

Oleh : Mukaromah Zain Asy-Syarmidi (Foto bersama bapak orang lain dulu, meskipun pengen-nya foto sama bapak mertua tapi belum tau siapa. Wkwkwkwk biar nggak sepaneng ajaaaa - bercanda yakk).

 Seperti biasa mocopat syafa’at dibuka dengan lagu-lagu khas Kiyahi Kanjeng dan lantunan bacaan al qur’an oleh salah seorang utusan, santri ataupun orang yang mendermakan dirinya untuk mengisi pra acara dalam tradisi setiap tanggal 17 di kediaman Cak Nun. Mocopat bulan ini diawali dengan pantomim oleh salah seorang sahabat karib EAN sejak kecil yang bernama mas Eko. Sesekali membaca puisi dengan penuh ekspresi dan diselingi drama yang menghibur, terbukti banyak jama’ah ma’iyah yang tertawa geli menyaksikan gerak gerik tubuhnya. Diakhir penampilannya, mas Eko bercerita bahwa beliau merupakan salah seorang teman yang setia dengan Ebiet G. Ade (Seorang penyanyi terkenal yang saat ini namanya masih sangat populer di tanah air). Hal itu karena mas Eko lah yang sering menyiapkan air mandi (ngangsu sumur) untuk Ebiet. Kala itu mas Eko bilang ke Ebiet “Ebiet, kamu besok harus jadi orang yang berhasil”, kalau tidak awas kamu ya”! ehh ternyata benar kini Ebiet yang paling melangit diantara sahabat-sahabtnya, ujar mas Eko. Tak hanya itu ternyata Ebiet juga orang yang diistimewakan oleh Cak Nun kala itu, meski saat itu Ebiet masih biasa-biasa saja (belum menjadi yang sekarang ini). Pada tahun 1976 Emha Ainun Nadjib dan Ebiet pernah duet bernyanyi dalam acara Ramadhan in Campus di UGM, pada waktu itu.

Tak lama kemudian, Kiyahi Kanjeng melantunkan shalawat untuk menyambut kedatangan Cak Nun ke atas panggung. Bahkan jika saya boleh mengatakan, Sang Baginda Nabiyullah Muhammad pun juga ikut menyambut kedatangan orang terkasih yang amat mencintai Nya, mencintai Utusan Nya dan penebar kasih sayang kepada segenap makhluk Nya dialam ini.
 

Cak Nun mengawali dialog-nya dengan mengatakan “Selebar dan seluas apapun benda dialam raya ini, termasuk manusia dan pepohonon jika diperkecil maka ukurannya akan sama”, dan jika dikreasi maka akan membentuk sesuatu yang baru. Artinya, seperti apapun manusia, sehebat, sekaya dan banyak pengikutnya pun kalau sudah tiba waktunya dipanggil kehadirat Nya maka akan kembali seperti sediakala yang tidak membawa apa-apa. Masih pantaskah manusia sombong?
 

Di era sekarang banyak orang yang bangga manakala mempunyai banyak pengikut, mempunyai banyak santri dan hal-hal lain yang melekat dalam dirinya entah itu yang berbentuk jabatan, kekayaan, maupun popularitas. Dengan nada lirih, Cak Nun mengatakan bahwa “dirinya tidak pernah menginginkan mempunyai santri, bahkan beliau juga sedikitpun tidak pernah berdoa dan meminta kepada Allah agar jama’ah maiyah nya membludak seperti saat ini”. Namun sesuatu yang tidak pernah dipintakan Cak Nun kepada Gusti Allah itu-lah yang justru dianugrahkan Allah kepadanya. Cak Nun hanya ingin orang yang mendengar petuah dan dialognya dalam setiap kesempatan/diskusi dapat berubah ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya, setiap manusia mempunyai kesempatan dan peluang yang sama untuk berubah ke arah yang lebih baik, meski harus melampaui setiap proses dalam kehidupan. Atas dasar itulah, Cak Nun mengatakan bahwa untuk sampai kepada Allah (sikap pasrah, taat, tunduk dan patuh) dibutuhkan sikap kesetiaan, andap asor dan tidak “gumede/merasa dirinya paling benar dan paling oke sehingga berimplikasi pada sikap eksklusif yang tidak mau menerima segala bentuk perbedaan, kritik konstruktif dan mudah menyalahkan orang lain.

Diskusi ini berlanjut pada dialog antara Cak Nun, bintang tamu dan para jama’ah maiyah. Banyak pertanyaan yang terlontar, diantaranya terkait dengan (1) ungkapan Nistische yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”. (2) Bagaimana cara mengontol nafsu agar tidak marah dan tetap istiqamah untuk menebar kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan, meski selalu dikhianati, dicaci dan dihina oleh manusia? (3) Apakah seorang da’i boleh memasang tarif?. (4) Bagaimana konsep Tuhan yang sesungguhnya? (5) Bagaimana penafsiran tentang Fir’aun dan seperti apakah gambaran fir’aun dimasa kini?
 

Orang Muslim tidak pantas “menjudge” orang atheis dengan sebutan “kafir dan neraka”. Bisa jadi, orang atheis tersebut hanya menutup-nutupi keimananya dan ia tidak ingin orang lain mengetahui apa agamanya karena itu merupakan hak antara dirinya dengan Tuhan-nya, bisa juga ia tidak ingin mendengar perspektif Tuhan dari mulut orang lain, karena ia ingin menemukan Tuhan yang lebih benar berdasar pada pencarian melalui berbagai pengalaman yang dilalui-nya. Dalam sebuah penelitian mengatakan lebih dari 3.400 nama tuhan yang digunakan oleh manusia untuk menyebut Tuhan nya. Sehingga bisa jadi antara satu orang dengan yang lain memiliki perspektif yang berbeda tentang Tuhan-nya. Hal ini berkaitan dengan Tuhan yang selama ini dikenal oleh manusia merupakan bentuk imajinasi-nya yang dimanifestasikan dengan bentuk yang berbeda-beda sebagai wujud rasa cinta dan pengabdian total kepada Nya, kalau umat Islam ya shalat. Manusia tidak akan bisa mencapai kepada Tuhan yang sesungguhnya, karena manusia itu nisbi. Sehingga untuk mengenal Allah, maka Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa ajaran/kitab sesuai dengan zaman Rasul tersebut, namun tetap esensinya membawa ajaran monotheistik (Tuhan Yang Maha Esa).
 

Terkait dengan ungkapan yang mengatakan “Tuhan Telah Mati”, maksudnya mati dalam bayangan si nistiche itu tadi. Apa yang terlintas dalam benak manusia tentang Tuhan, itu bukan Tuhan yang sesungguhnya karena Tuhan diluar jangkauan manusia, ungkap Cak Nun. Namun, yakinlah bahwa Tuhan akan selalu bersemayam dalam diri manusia yang juga mencintai-Nya dengan menebar rahmat dan kasih sayang kepada makhluk-makhluk ciptaan Nya. Implikasinya adalah, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tak peduli orang lain akan baik/menghianati kita, yang penting tugas kita adalah “beramal”. Pada dasarnya, Fitrah manusia ialah hanif/condong kepada kebaikan. Hal itu terbukti bahwa potensi manusia 99% adalah (+/ positif). Sisanya yang 1% adalah nafsu lawwamah. Nafsu inlah yang terkadang membuat manusia terlena dan jika tidak bisa diminimalisir maka akan mendorong manusia untuk melakukan kejahatan. Atas diasar inilah, apabila manusia berbuat kesalahan dan kekhilafan, maka hatinya tidak akan nyaman. Cara mengontrol nafsu ialah ya dengan cara dikontrol. Analoginya seorang pecandu narkoba jika ingin bebas dari narkoba, maka harus berhenti mengkonsumsinya. Begitupula usaha manusia untuk mengontrol nafsunya, yakni harus ada dorongan dan niat untuk meminimalisir (man jadda wajada) sopo sik tenanan bakal iso.


Selanjutnya, terkait dengan da’i boleh nggak pasang tarif? Jangan minta, tapi kalau dikasih ya diterima. Wong itu rejeki. Itu merupakan hak dari orang yang mengeluarkan keringat atau tenaga-nya. Ada sebuah kisah dari sahabat Nabi yang sedang melakukan rihlah, ditengah-tengah perjalanan mereka berhenti disebuah rumah milik kepala suku yang sedang sakit gigi. Lalu salah seorang sahabt itu mengobati kepala suku tersebut dengan ayat-ayat Al Qur’an. Tak lama kemudian, sembuh. Sebagai ucapan terimakasih dari kepala suku, ia memberikan kambing kepada sahabt yang mengobati tadi. Namun sahabat tersebut enggan untuk menerima-nya dikarenakan takut memperjual belikan ayat-ayat Al Qur’an. Kemudian sahabt tersebut datang kepada Nabi dan menceritakan itu semua, lalu jawab Nabi “terima saja, itu hak-mu, sebaik-baik obat adalah Al Qur’an.

Adapun karakter Fir’aun sebagaiamana dalam Qs. Al Qashash ayat 4 disebutkan bahwa Fir’aun merupakan orang yang merasa dirinya “paling tinggi paling benar dan paling hebat” (‘ala fil ardhi..), Selain itu Fir’aun juga merupakan orang yang suka memperpecah belah kelompok dalam suatu masyarakat (wa ja’ala ahlahaa syiya’a), dan mematikan sifat kejantanan (yu dzabbihuna abna.ahum....). Implikasi dalam dunia modern saat ini ialah, apabila manusia memiliki sifat sombong, eksklusif, tirani, anti kritik (otoriter) maka dapat disebut sebagai fir’aun modern.

Terakhir, penulis akan menutup dengan kata-kata yang sering diucapkan Cak Nun “Hidup ini puncaknya adalah keindahan, maka belajarlah seni. Kalau mencari kebenaran jalannya bukan dengan cinta, apalagi kebencian. Namun jalan menuju kebenaran adalah dengan Ilmu, meski setelah lengkap akan bertemu dengan Cinta. Dan jalan menuju kebaikan ialah dengan Akhlaq yang dilandasi dengan semangat Al Qur’an untuk dijadikan inspirasi menebar kedamaian dimuka bumi sebagai Rahmatan Lil ‘alamin.

Kamis, 12 April 2018


DISKUSI KEPENULISAN LAPMI

Oleh Mukaromah Asy Syarmidi, Reporter LAPMI Edukasi
 

Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Tutur kata dan paradigma berpikir manusia dipengaruhi oleh bacaan, apapun itu. Dapat dibayangkan, apabila di dunia ini tak ada tulisan, mungkin manusia tidak akan dapat survive seperti saat ini. Tak hanya itu, Menulis merupakan ladang investasi dunia akhirat yang akan abadi, meski jasad telah tiada. Sebagaimana ungkapan orang bijak yang mengatakan bahwa gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal. Salah satu bentuk amal ialah Tulisan. Dengan menulis maka manusia akan tetap ada dan terkenang. Gagasan, ide, pemikiran dalam suatu karya seseorang akan selalu hidup dan dijadikan sebagai sumber inspirasi, rujukan/referensi dalam hal keilmuan. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno dll yang mana pemikiran (karya) mereka “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi. 

Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman Nya yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama kali diturunkan. Lalu apa kaitannya membaca dengan menulis? Jelas ada. Seorang penulis tidak akan mampu menulis dengan baik dan berbobot manakala tidak didukung oleh wacana yang luas (read bacaan yang banyak). Oleh karena itu ada korelasi positif antara membaca, menulis dan spirit untuk menjelajahi ilmu pengetahuan. 

Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan sederet sahabat-sahabat Nabi merupakan contoh orang-orang muslim yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih berada dalam tingkat literasi yang rendah. Data UNESCO dan IPM mengatakan bahwa Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak persoalan di dunia akademik yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi menulis dikalangan akademisi. 

Oleh karena itu, pada 12/4/2018 diadakan Diskusi Kepenulisan yang diselenggarakan oleh LAPMI Edukasi HMI Komisariat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan pemantik Bang Mugiharjo. Diskusi ini diikuti oleh beberapa kader HMI yang mengalami keresahan dan kegelisahan akademik dalam hal tulis menulis. Karena tak bisa dipungkiri bahwa dalam dunia pendidikan, sebagai legitimasi seseorang dapat lulus dari suatu jenjang (S1,S2,S3) harus dapat membuat karya ilmiah yang berbentuk tulisan sebagai hasil dari penelitian dan pengabdian dalam realita empirik. Namun yang menjadi persoalan ialah menulis jangan hanya “musiman” (Saat mau nyusun skripsi, thesis, disertasi, paper, jurnal, makalah dll) namun bagaimana kiat menulis dijadikan sebagai “habit dan spirit” untuk membangun peradaban bangsa yang lebih baik. 

Diskusi yang bertujuan untuk mengembangkan skill dan membangun kesadaran kader-kader HMI (khususnya) terhadap urgensi menulis mendapatkan perhatian penuh dari beberapa peserta, terbukti dengan adanya pertanyaan dan tanya jawab serta dialog dalam forum. Lebih dari itu, dalam diskusi ini juga dipaparkan terkait dengan Etika Jurnalistik, cara jitu menyusun skripsi dan karya ilmiah serta tips dan trik mudah untuk menulis agar kontinue dan menyenangkan. Besar harapan, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan membangun peradaban dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis Untuk Keabadian ! “Jika kau Bukan Anak Raja pun juga bukan anak Ulama’ terkenal, maka MENULIS-LAH (Imam Ghazali).

HASIL DISKUSI Komunitas Dialektika LARIS dengan Tema “Multitafsir Puisi Sukmawati”
(Kamis, 5 April 2018, Lt.2 FITK UIN Sunan Kalijaga)
Ditulis : Oleh Mukaromah Asy-Syarmidi
Yang dihadiri oleh (saya sendiri, Bintan, Karina, Totu, Zaenal, Zainal Arifin/Ipin, Nindi, Dewi, Shiffu, Bayu, Ilyas dan Romdhoni).

 

“Jika teriakanmu tidak didengar orang lain, maka teriaklah lewat TULISAN” (Tan Malaka)
Kali ini saya ingin mengulas hasil diskusi sore tadi dengan berdasar pada opini teman-teman diskusi. Opini dapat dikatakan sebagai pendapat yang didasari dengan argumen yang logis, rasional dan empirik. Tak ayal, banyak orang yang menyebut opini dengan hasil pemikiran otaknya. Dengan demikian, opini sifatnya subjektive yang tidak bisa digeneralisasikan/disamakan dengan pemikiran orang lain. Bisa jadi antara satu orang dengan yang lain pun berbeda-beda dalam melihat suatu hal.

Dekat-dekat ini Indonesia dihebohkan dengan hotnews yang mampu mengalihkan isu nasional yakni terkait dengan kontroversi puisi Ibu Sukmawati yang mengandung pro dan kontra di masyarakat. Sejumlah organisasi keagamaan-kemasyarakatan dan partai politik pun mengeluarkan surat dan himbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan agar tidak semakin membuat suasana menjadi panas. Berkenaan dengan hal itu, (sebagian) mahasiswa di kampus menjadikan isu aktual itu sebagai bahan diskusi menarik untuk diperbincangkan, tak terkecuali oleh Komunitas Dialektika LARIS dibawah naungan PAI yang mayoritas anggotanya adalah angkatan 2015 (Sekarang semester 6).

Dari hasil diskusi tadi dapat disimpulkan bahwa Masyarakat Indonesia itu terlalu “sepaneng” dalam beragama. Menurut kami, tidak ada yang salah dari teks puisi yang dibacakan oleh Bu Sukma. Karena puisi merupakan karya sastra yang bebas, penuh dengan majaz dan merupakan manifestasi dari luapan emosi si penulis. Sehingga yang mengetahui “hakikat substansi” dari sebuah penciptaan karya/tulisan ialah yang menulisnya, dan yang meng-interpretasi adalah si pembaca. Dengan demikian, tidak ada yang salah. Karena puisi tidak bisa diadili, yang ada hanyalah estetika. Puisi mengandung kata-kata bermajaz. Dulu ketika pelajaran Bahasa Indonesia dikenal ada majaz hiperbola, personifikasi, metofora dll. Persoalannya adalah tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui itu lebih dalam, karena hanya melihat pada yang terlihat/tekstual.

Sebagai contoh, manusia mudah menyimpulkan dan menilai sesuatu berdasar pada apa yang dilihat, atau apa yang didengar dan apa yang dibaca. Apa yang terlihat, itulah kesimpulannya. Faktanya begitu, kan. Meski kita tahu, bahwa melihat sesuatu yang hanya terlihat “luar nya” saja tidak baik. Namun lihatlah dari berbagai perspektif, dari berbagai sudut pandang. Sehingga pemahaman real dan komprehensif meski tidak 100% obyektif, karena sifat manusia adalah nisbi. Hal ini jika dihubungkan dengan sebuah tulisan (karya sastra) jangan hanya terfokus pada tekstual-nya saja, namun lihatlah substansinya dan bawa teks itu pada konteksnya. Untuk memahami itu, perlu pendekatan historis, sosiologis, fenomenologis dan estetika.
Dengan pendekatan historis, Bu Sukma membacakan puisi tersebut saat dalam acara “Anne Avantie Berkarya” di Indonesia Fashion Week 2018. Jelas, terkait dengan budaya baik pakaian maupun hal-hal yang berkenaan dengan identitas negara. Wajar kalau beliau menaruh perhatian yang lebih terhadap budaya Indonesia, yakni konde dan kidung ibu Pertiwi. Persoalannya kini ada di bait  “ Tak tau syariat Islam, suara adzan dan cadar” (mengkomparasikan antara konde dengan cadar, antara kidung ibu pertiwi dengan suara adzan serta membawa-bawa nama islam).

Hal tersebut jika dikorelasikan dengan fenomenologi memang nyata adanya. Cadar kini dianggap sebagai syariat islam, padahal jelas al qur’an hanya meyuruh untuk menutup aurat. Sedangkan konde merupakan budaya asli indonesia, dengan begitu substansi puisi tersebut ialah mengajak masyarakat Indonesia untuk “mencintai budaya-nya, bukan malah ARABISASI. Lalu terkait dengan membawa-bawa nama Islam, ini bermakna “agama islam yang dianut oleh kaum muslim” atau islam yang speerti apa maksud ibu Sukma? Karena menurut kami, ISLAM itu UNIVERSAL. Islam bermakna tunduk, taat, patuh terhadap perintah Tuhan Yang Maha Esa. Meminjam kata Nurcholish Madjid, Agama apapun di dunia ini yang “mengajarkan” tunduk, taat dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat disebut sebagai ISLAM. Sehingga makna ISLAM dalam puisi tersebut dapat dimaknai sebagai agama-agama di Indonesia yang mengajarkan ketaatan dan ketundukan epada Tuhan YME, tanpa dibatasi hanya agama islam semata. Arti Islam dalam puisi bu Sukma dapat juga dimaknai Indonesia ini merupakan negara yang terdiri dari berbagai macam agama, namun yang terlihat hanyalah agama islam semata. Oleh karenanya, tetaplah jaga persatuan dan kesatuan antar agama sebagai upaya untuk membangun stabilitas nasional dan pembangunan bangsa. Jadikanlah islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang melindungi kaum “minoritas” dan memberikan peluang dan kesempatan yang sama untuk berkancah dalam ranah publik dengan dasar HAM dan egality.

Solusi yang ditawarkan dalam diskusi ini ialah bagaimana memberikan edukasi sastra kepada peserta didik. Selama ini materi pelajaran bahasa Indonesia hanya seputar ide pokok, kesimpulan, kata baku, membuat kalimat yang memahamkan orang namun sangat kurang dalam menginterpretasi karya sastra yang berbentuk satir. Implikasinya adalah mudah menyimpulkan sesuatu yang literlek/tekstual.

Ayolah beragama jangan sepaneng, jangan “fanatik yang berlebihan” (ingat dalam tanda kutip) dan marilah melihat sesuatu lebih dalam. Jangan gumunan dan mudah menjudge sesuatu kalau belum menganlisis lebih dalam.
Akhir kata dari penulis, mohon maaf jika tulisan sederhanana ini (ulasan dari diskusi yang bersumber dari hasil pemikiran teman-teman diskusi LARIS) tidak berkenan dihati kalian. Perlu diketahui, bahwa kami adalah orang-orang yang “santai” alias nggak sepaneng dalam beragama dan memahami agama secara universal meski mayoritas jebolan dari pesantren. Kalau tidak setuju, silahkan debat dengan tulisan