DISKUSI KEPENULISAN LAPMI
Oleh Mukaromah Asy Syarmidi, Reporter LAPMI Edukasi
Menulis merupakan suatu hal yang sangat urgent dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya tulisan, maka manusia tidak akan dapat berkomunikasi. Tutur kata dan paradigma berpikir manusia dipengaruhi oleh bacaan, apapun itu. Dapat dibayangkan, apabila di dunia ini tak ada tulisan, mungkin manusia tidak akan dapat survive seperti saat ini. Tak hanya itu, Menulis merupakan ladang investasi dunia akhirat yang akan abadi, meski jasad telah tiada. Sebagaimana ungkapan orang bijak yang mengatakan bahwa gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal. Salah satu bentuk amal ialah Tulisan. Dengan menulis maka manusia akan tetap ada dan terkenang. Gagasan, ide, pemikiran dalam suatu karya seseorang akan selalu hidup dan dijadikan sebagai sumber inspirasi, rujukan/referensi dalam hal keilmuan. Sebagai contoh, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, Socrates, Karl Marx, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Ir. Soekarno dll yang mana pemikiran (karya) mereka “saat ini” masih dijadikan sebagai spirit untuk menapaki jejak ilmu dan pengetahuan baik dalam pendidikan formal dan non formal, training maupun organisasi.
Dalam sejarah Islam, Allah SWT pertama kali menurunkan firman Nya
yang memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali potensi
diri dengan “membaca”, membaca apapun itu baik qauliyah maupun kauniyah. Dengan
demikian, budaya literasi sudah diperkenalkan Allah sejak Al Qur’an pertama
kali diturunkan. Lalu apa kaitannya membaca dengan menulis? Jelas ada. Seorang penulis
tidak akan mampu menulis dengan baik dan berbobot manakala tidak didukung oleh
wacana yang luas (read bacaan yang banyak). Oleh karena itu ada korelasi positif
antara membaca, menulis dan spirit untuk menjelajahi ilmu pengetahuan.
Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Imam Malik, Abu Hurairah, Anas
bin Malik dan sederet sahabat-sahabat Nabi merupakan contoh orang-orang muslim
yang haus akan ilmu, sebagai manifestasi dari pencarian–nya maka mereka
berkarya dan menghabiskan sisa hidupnya untuk berkontribusi penuh bagi kemajuan
islam dan negaranya. Itulah mengapa, maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat
dari kualitas peradabannya, salah satunya melalui pendidikan. Dunia pendidikan
memegang peran sentral dalam upaya membangun peradaban bangsa. Dalam sejarah pendidikan
disebutkan bahwa bangsa Parsi Kuno dikenal sebagai bangsa yang
memiliki kualitas peradaban tinggi tatkala berhasil menggerakkan bangsanya
dalam tulis menulis. Hal tersebut bertolak belakang dengan Indonesia yang masih
berada dalam tingkat literasi yang rendah. Data UNESCO dan IPM mengatakan bahwa
Indonesia berada di urutan nomor 2 dari bawah dalam hal literasi. Banyak
persoalan di dunia akademik yang harus segera diatasi guna perbaikan kualitas
bangsa agar lebih baik, salah satunya dengan meningkatkan minat dan motivasi
menulis dikalangan akademisi.
Oleh karena itu, pada 12/4/2018
diadakan Diskusi Kepenulisan yang diselenggarakan oleh LAPMI Edukasi HMI
Komisariat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan pemantik Bang
Mugiharjo. Diskusi ini diikuti oleh beberapa kader HMI yang mengalami keresahan
dan kegelisahan akademik dalam hal tulis menulis. Karena tak bisa dipungkiri
bahwa dalam dunia pendidikan, sebagai legitimasi seseorang dapat lulus dari
suatu jenjang (S1,S2,S3) harus dapat membuat karya ilmiah yang berbentuk
tulisan sebagai hasil dari penelitian dan pengabdian dalam realita empirik.
Namun yang menjadi persoalan ialah menulis jangan hanya “musiman” (Saat mau nyusun
skripsi, thesis, disertasi, paper, jurnal, makalah dll) namun bagaimana kiat
menulis dijadikan sebagai “habit dan spirit” untuk membangun peradaban bangsa
yang lebih baik.
Diskusi yang bertujuan untuk mengembangkan skill dan membangun
kesadaran kader-kader HMI (khususnya) terhadap urgensi menulis mendapatkan
perhatian penuh dari beberapa peserta, terbukti dengan adanya pertanyaan dan
tanya jawab serta dialog dalam forum. Lebih dari itu, dalam diskusi ini juga
dipaparkan terkait dengan Etika Jurnalistik, cara jitu menyusun skripsi dan
karya ilmiah serta tips dan trik mudah untuk menulis agar kontinue dan
menyenangkan. Besar harapan, semoga perintah Allah pertama kali yang termaktub dalam
Qs. Al-Alaq ayat 1 (iqra’) dapat dijadikan sebagai spirit untuk berliterasi dan
membangun peradaban dengan membaca, berdiskusi, berdialektika, beretorika dan
menuliskannya dalam tulisan agar terkenang dan abadi selamanya. Menulis Untuk
Keabadian ! “Jika kau Bukan Anak Raja pun juga bukan anak Ulama’ terkenal, maka
MENULIS-LAH (Imam Ghazali).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar