Minggu, 05 November 2017



CINTA, KASIH SAYANG, DAN PERNIKAHAN
 Mukaromah Asy-Syarmidi*

Laki-laki dan perempuan jangan sekali-kali menolak cinta, terlebih menyalahkan orang yang mencintai dan menaruh perasaan kepada dirinya. Apalagi dengan berbagai ungkapan dan pernyataan yang menyakiti, meksipun kita tidak suka, bahkan sedikitpun tidak menaruh perasaan kepada orang tsb namun etika dan akhlaq harus tetap di nomor satukan, termasuk dalam menanggapi sebuah persoalan tadi. Mengapa demikian? Selain hal itu menyangkut soal rasa, Allah pun memperingatkan kepada kita dalam Firman Nya Qs. Al baqarah : 216
(Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui).

Belum tentu orang yang kita benci tidak bisa membahagiakan diri kita. Dan belum tentu pula orang yang kita cintai dapat membahagiakan diri kita sepenuhnya. Sekali lagi, jangan pernah menyakiti hati orang yang (mencintai-mu) bahkan menolak dengan kata-kata keras, kasar dan bengis. Karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya, serta bisa jadi karena (kebanyakan nolak, selektif yang terlalu over) akhirnya berujung pada sulitnya menemukan jodoh. Syukuri apa yang ada, karena itu anugrah. Berterimakasihlah kepada Allah karena telah mengirimkan seseorang yang mencintai diri kita. Namun juga minta maaflah karena hati kita belum siap untuk membuka celah kepada orang tersebut, dan jangan lupa bertanya kepada Allah mengapa hati ini belum terbuka untuk dirinya? “Seandainya dia yang terbaik untuk diri ini, ya dekatkan, namun jika bukan jodoh diri ini, berikan alasan dan tanda mengapa hal itu terjadi. Toh, lambat laun Allah akan menunjukkan sebab mengapa orang tersebut bukan yang terbaik untuk diri kita.

Hal yang harus di-ingat, kalau tidak punya niatan (krenteg) untuk saling mencinta dan merespon cinta, maka jangan pernah memberikan harapan kepada nya dengan kata-kata yang aduhaiii bikin bapeeeer. Sama saja hal itu mempermainkan perasaan nya, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada diputus cinta. (kalau tidak percaya silahkan buktikan saja).

Cinta itu sulit. Saling cinta belum tentu ber-jodoh. Dan berjodoh pun, belum tentu jodoh itu dibawa sampai mati besok di akhirat. Begitu halnya saling cinta belum tentu kesampaian sampai nikah. Ada yang sampai nikah, tapi ternyata berujung pada perceraian. Ada yang sudah menikah, namun salah satu diantara suami/istri dipanggil Allah lebih dulu, hingga akhirnya menikah lagi. Nahh berarti jodoh itu ada kelas-kelasnya, yakni belum tentu abadi sampai akhirat. Oleh karenanya, janganlah buru-buru jatuh cinta dan menolak cinta apalagi buru-buru mengambil keputusan dengan mutus cinta (Aduuuh sakitnya ya), akan tetapi kembalikan-lah semuanya kepada Allah SWT. Karena Allah adalah sebaik-baik tempat kembali. Salah satunya lewat istikharah.

Pernikahan itu saling mengisi, menguatkan dan menyempurnakan. Ibarat sebuah botol yang membutuhkan tutup. Keduanya tidak bisa dipisahkan karena memang harus saling bersinergi dan saling membutuhkan. Botol jika tanpa tutup maka isi (makanan) dalam botol tersebut tidak akan bertahan lama, bahkan bisa basi dan akhirnya tidak enak dimakan. Pun begitu halnya dengan tutup tanpa botol, tidak ada gunanya. Untuk apa ? Tidak ada hal yang harus ditutupi dan dilindungi, kan begitu.

Hal yang harus direnungkan pula bahwa jangan sampai tertipu oleh cinta. Jika kita memiliki rasa kepada orang lain atau bahkan kita dicintai oleh orang lain, maka kembalikanlah segala sesuatu itu kepada Allah SWT, “Baikkah dia untuk diri ini ya Allah”? Karena hakikat orang yang berjodoh bukanlah “bertemunya laki-laki dan perempuan (dari segi material/fisik semata), namun bertemu pikiran dan hatinya, saling menguatkan dan saling mencintai (cocok-nyocoki). Bersama-sama dalam menghadap kepada diri Nya. Shalat bareng, ngaji bareng, nangis bareng, ndongo (berdoa) ya bareng, saling menguatkan, saling memotivasi dan saling bersinergi.

Cocok-nyocoki inilah yang sulit dipahami manusia jika ia hanya melihat dengan satu kacamata, namun diperlukan optimisme dan kejernihan hati untuk melihat rahasia Allah SWT. Tidak cukup hanya diracik dan direkayasa di dalam ilmu dan pikiran. ”Aku ingin menikah dengan dia karena dia ganteng/cantik, kaya dsb. Apakah itu menjamin kasih sayang sampai mati? Fisik akan berubah seiring dengan perkembangan zaman dan pertambahan usia. Ada sebuah kata-kata indah dari salah seorang ulama, beliau mengatakan “jika seorang laki-laki mencintai wanita karena kecantikannya, niscahya itu tidak akan pernah memuaskan dirinya meskipun sudah bertemu dengan 1000 wanita”.

Begitu pula ketika seseorang mencintai orang karena hartanya. Jika sudah habis, apakah cinta itu akan tetap melekat? Mencari yang berpendidikan tinggi, apakah itu juga menjamin? Cerdas secara intelektual itu tidak menjamin segalanya oey, namun kejernihan dan kesucian hati-lah yang akan mampu meredam api saat tersulut, menentramkan saat dipandang dan ngademke (memberikan rasa aman saat ada persoalan). So, semuanya perlu istikharah. Apakah bisa menimbulkan kasih sayang sampai mati? Kasih sayang inilah yang kita tidak akan pernah tau.

Bukanlah tidak penting mencari dan memilih seseorang karena fisik, harta, kecerdasan (pendidikan). Justru itu merupakan unsur-unsur penopang cinta agar awet dan pelengkap kebutuhan dimasa yang akan datang. Hanya saja, modal yang utama adalah intangible capital. Sesuatu yang tidak kasat mata berupa niat, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, kerjakeras, kemauan, sungguh-sungguh, punya visi misi yang jelas kemana bahtera rumah tangganya akan dibawa dsb. Tidak usah khawatir, harta itu bisa dicari asal mau bergerak. Sehingga tak jarang banyak kita jumpai orang-orang yang dulunya dari nol, dengan berjuang ditemani lifepartner akhirnya sukses luar biasa.

Cinta tak hanya sekedar cinta, namun juga harus dikuatkan dengan kasih sayang. Kasih sayang itu memberi tanpa berharap kembali, sehingga ketika seseorang telah ikhlas mencintai orang lain maka ia sadar bahwa cinta itu tidak harus memiliki seutuhnya, namun hanya untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Inilah hakikat pengorbanan. Pengorbanan yang paling besar adalah mengorbankan orang yang dicintai-nya menjadi milik orang lain demi kebahagiaan-nya. Dalam pernikahan, masa-masa indah ialah saat pengantin baru (berumur sebiji jagung), namun ketika menginjak hampir 15-30 tahun usia perikahan itulah masa-masa penuh ujian. Apakah akan tetap mesra, langgeng dan kompak? Kuncinya saling mengalah, saling mendahulukan dan tidak saling menuntut tapi justru saling menguatkan dan meyakinkan. Makan seadanya pun juga berdua, saling memahami dan peka serta saling meyakinkan bahwa ada hal-hal yang harus dilalui berdua agar kuat dan semangat dalam meniti pahit manisnya perjuangan di jalan Allah.

Jika tidak ada hal-hal itu, tentu pernikahan tidak akan langgeng, sebagaimana semakin tinggi pohon maka akan semakin kuat badai yang menerjangnya. Dan tentu dalam pernikahan pun harus ada rasa rela, nrimo dan sabar untuk saling menuntun, mengarahkan dan membimbing ke jalan benar yang di ridhai Allah SWT.

*Dobalan.blogspot.com, mukaromah7mei@gmail.com

Sabtu, 04 November 2017


AKSI KEBANGSAAN DAN PERINGATAN SUMPAH PEMUDA DI MANDALA KRIDA
Oleh : S. Mukaromah*

 
 Peringatan Sumpah Pemuda dan Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi se-DIY melawan Radikalisme diselenggarakan pada Sabtu (28/10/2017) di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta yang diikuti oleh seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Turut hadir berbagai tamu penting yakni  Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rektor perguruan tinggi se-DIY beserta jajaran dan dosen,polisi dan aparat berserta jajaran instansi pemerintahan.

Tujuan diselenggarakan upacara kebangsaan ini untuk mempertegas sikap kebangsaan Perguruan Tinggi di DIY dengan bersama-sama melawan radikalisme dan intoleransi serta memperkokoh tegaknya Pancasila. Karena tak bisa dipungkiri bahwa kampus dan institusi perguruan tinggi merupakan sarana strategis untuk menumbuhkembangkan paham radikalisme agama. Untuk itu, upacara kebangsaan yang bertepatan dengan momen sumpah pemuda ini diadakan untuk pertama kalinya dengan mengikutsertakan seluruh elemen dan institusi di berbagai universitas se-DIY.

Sumpah Pemuda merupakan mu’jizat yang diperoleh pemuda kepada bangsa Indonesia, oleh karena itu sudah sepatutnya harus disyukuri dan dijadikan  cambuk semangat bagi generasi muda saat ini untuk berkarya nyata dan berkontribusi bagi kemajuan dan peradaban bangsa. “Marilah kita bersama-sama menjaga NKRI serta berjuang dalam bidang (passion) kita masing-masing dan bekerja keras demi persatuan, kesatuan dan kemakmuran NKRI, NKRI harga Mati”, ujar Prof. Dr. KH. Yudian Wahyudi (Rektor UIN Jogja).

Tak hanya itu, inspektur upacara kebangsaan ini dipimpin langsung oleh Sri Sultan HB X. Dalam pidatonya, beliau menekankan kepada rakyat indonesia untuk mensyukuri lahirnya sumpah pemuda yang mana hal itu merupakan sumbangsih luar biasa dari generasi muda. Di akhir pidatonya, beliau berpesan kepada generasi muda untuk bersama-sama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI serta merefleksikan hakikat sumpah pemuda dan mengaplikasikannya dalam kehidupan saat ini, yakni berjuang dan belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat menoreh sejarah baru dan tinta emas bagi bangsa Indonesia.

Upacara kebangsaan ini terlaksana sukses karena peran dan kerjasama dari berbagai pihak, diantaranya masing-masing universitas mengirimkan delegasi untuk menjadi panitia kegiatan. Berdasar penuturan dari salah satu panitia (Mubarok, Janabadra) jumlah seluruh panitia kegiatan ini sebanyak 180 orang yang terdiri dari berbagai universitas diseluruh DIY, baik negeri maupun swasta. Harapan kami, setelah acara ini selesai dapat menumbuhkan rasa nasionalisme dan dapat menerima segala perbedaan yang ada, karena tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dengan berbagai macam ras, warna, suku dan agama yang berbeda-beda, imbuh Mubarok.

Apresiatif yang tinggi juga diungkapkan oleh Deshandra Yusuf (Ahwal Asy-Syakhsiyyah, 2015) : "dahulu, musuh kita adalah penjajah, kita mudah untuk memeranginya tinggal dikasih tombak saja mereka menyerah, berbeda dengan sekarang yang kita hadapi adalah bangsa kita sendiri yakni melawan Radikalisme yg semakin merongrong ideologi pancasila".

Upacara ini ditutup dengan doa dan ikrar deklarasi kebangsaan yang diikuti oleh seluruh peserta upacara, isi deklarasi itu adalah
  1. 1 Ideologi yakni Pancasila
  2. 1 Konstitusi yakni UUD 1945
  3. 1 Negara yakni NKRI
  4. 1 Semboyan yakni Bhineka Tunggal Ika
  5. 1 Tekad yakni Melawan radikalisme dan intoleransi
“Upacara kebangsaan dan peringatan sumpah pemuda ini sangat edukatif, akan tetapi kedepannya harus di tertibkan dan di sistemasiskan lagi, baik dari segi penataan peserta, waktu maupun sarana prasarana termasuk disediakan tempat shalat yang lebih memadai, mengingat ini nanggung waktu shalat ashar”, ujar Latif, Mahasiswa Teknik Elektronik UNY.

*Mahasiswi PAI 2015, Reporter LAPMI HmI Komisariat Tarbiyah, LPM Paradigma, EXACT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, JQH Al Mizan UIN, Pemuda Inti Anti Narkoba, PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kamis, 05 Oktober 2017



CINTA DAN POLIGAMI
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi

“Saat rasa bosan itu hadir, laki atau perempuan harus saling melihat, memahami dengan hati, flsahback ke belakang untuk mengingat dan mengenang siapakah orang yang selalu setia menemani berjuang dan mendoakan disetiap langkahnya”. (Mukaromah, 6 Oktober 2017)

Cinta adalah sepatah kata yang mengandung makna luar biasa. Mudah diucapkan, indah dirasakan namun tidak bisa didefinisikan. Bahasa unta (read : bahasa Arab) mengatakan :
ألمحبّة هي إعطاء بشئٍ بدون رجاءٍ كاالشّمس تنوّر الأرض
Cinta itu memberi tanpa berharap kembali. Seperti Matahari yang terus menyinari bumi, pagi yang akan terus selalu hadir dan ada meski orang-orang enggan untuk bangun dari tidur lelapnya. Siang yang akan terus berputar dan mengantarkannya pada malam, dan seperti curahan kasih sayang orangtua kepada anaknya, segala apapun ia berikan untuk kebahagiaan-nya dan tidak berharap sedikitpun akan balasan budi dan jasa yang telah diberikannya. Begitu pula cinta seseorang kepada kekasihnya, “apapun” ia berikan. Karena baginya, hakikat kebahagiaan adalah ketika kekasihnya juga bahagia. Bahagia-mu adalah bahagia-ku (begitu bahasa gaulnya). Dan tentu jika ini dijadikan jargon dalam hal percintaan, tak lain cinta hanyalah membuat dirinya labil.
Dalam tulisan singkat ini, saya mengulas mengenai aspek dalam cinta yang terkadang disalah definisikan oleh manusia. Cinta mengandung 3 aspek (Rasional love, emosional love dan spiritual love).

Yang pertama adalah Rasional love, yakni suatu keadaan dimana manusia merasakan adanya getaran cinta namun masih dalam tahap rasional (pemikiran). Artinya mencintai seseorang karena berawal dari rasa kagum, entah itu orangnya pintar, cerdas, ganteng, cantik dsb. Akal mengatakan iya “aku mau dan aku ingin” hanya karena label “wangun biar gaul kekinian dengan dalil tahun gini gak punya gebetan? Capeeee deh, kuper alias kurang pergaulan.

Dalam kaitan ini pun Al Qur’an berbicara (lihat Qs. Ali Imran : 14). Allah berfirman bahwa manusia dibekali dengan potensi nafsu dengan nafsu itu manusia bisa bermartabat disisi Nya namun juga bisa lebih rendah daripada iblis jika nafsu negatif  (-) lebih mendominasi dari segala hal. Dalam ayat ini pula disebutkan bahwa manusia cenderung menyukai hal-hal indah dan menarik (segi fisik). Namun jika itu yang di prioritaskan maka “rasa” itu tidak akan pernah abadi, begitu pula jika dikaitkan dengan cinta. Jika rasional love yang diprioritaskan dalam memilih dan memilah pasangan, maka tentu tidak akan langgeng. Rasionalisasi-nya adalah ketika kita mencintai seseorang HANYA karena label ingin dicap sebagai anak kekinian (biar gaul) dan kemudian mendapat pujian dari orang lain atau mencintai seseorang hanya karena dia ganteng, cantik (hal materi lain), tentu jika sudah tidak mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain, atau bahkan sudah bosan karena dia sudah tidak ganteng/cantik (sifatnya subjektif) pasti cinta itu akan luntur bahkan bisa saling meninggalkan.

Yang kedua adalah emosional love, yakni mencintai seseorang karena perasaan suka dan cinta yang qad syaghafahaa hubba (yang amat sangat mendalam). Entah itu berawal dari witing tresno jalaran saka kulina, atau karena kekaguman sesaat. Tentu hal itu boleh-boleh saja dan wajar, karena faktanya banyak sekali pasangan yang menikah lantaran sering bertemu (entah teman organisasi, diskusi atau bahkan teman kuliah). Hanya saja, emosional yang dimaksud disini adalah mencintai seseorang yang mendominasikan soal rasa personal dan menghiraukan persetujuan orangtua, dalam arti sik penting sik nglakoni seneng. Yang penting gue cinta sama lu, orangtua mah setuju/ tidak setuju gak penting. Dalam emosional love pula, soal “rasa cinta”  amat mendominasi segala hal, bahkan karena hebatnya rasa cinta dengan seseorang, hingga akhirnya melupakan dirinya dari mencintai Nya. Sangat berbahaya sekali jika dalam pernikahan emosional love didominasikan. Sebagai contoh, seorang suami terpaksa KORUPSI karena sang istri minta ini-itu dan harus segera dituruti. Kalau tidak dituruti sang istri minta cerai. Karena dahsyatnya rasa cinta suami kepada istrinya, apapun akan ia lakukan sekalipun hal itu melanggar norma dan aturan agama, termasuk korupsi demi membahagiakan istrinya. Dalam pacaran pun juga begitu, inginnya si wanita minta di bales whatsap nya, minta di telpon, everyday everytime everywhere selalu kabar-kabaran hingga akhirnya kewajiban si laki-laki sebagai seorang pelajar, mahasiswa atau bahkan guru dan atau dosen  menjadi terbengkalai karena nuruti pacarnya kayak gitu. Yaa begitulah, emosional love ini bertitik pada perasaan cinta yang amat mendalam namun mengabaikan norma dan aturan yang ada sehingga menimbulkan mafsadat dan madharat bagi dirinya, pasangannya, alam (read : luar dirinya), maupun orang lain (lihat Qs. At-Taghabun : 14, Qs. Al Munafiqun : 16, Qs. Al Munafiqun : 9, Qs. Ali Imran : 14-15, Qs. Al Anfal : 28).

Yang ketiga adalah Spritual love, yakni mencintai seseorang yang membuat diri kita menjadi lebih baik, membuat diri kita semakin dekat dengan Allah dan Rasul Nya, serta ketika kita mengingat namanya, senyumnya atau hal apapun dari dirinya menjadikan kita ingat kepada Rabb dan Kekasih-kekasih Nya. Inilah puncak dan kedahsyatan cinta yang haqiqi. Tiada rasa yang mampu menandingi keagungan cinta selain ini, jika benar-benar manusia menghayati dan menginternalisasikan hakikat cinta yang ia rasakan kepada yang dikasihinya. Hatinya akan tersentuh dengan sentuhan kasih sayang, kelembutan dan kehangatan cinta dari Nya. Itulah mengapa, Islam mensyaratkan prioritas utama untuk memilih lifepartner dengan menomorsatukan agama. Agama menjadi pondasi pokok untuk membangun bangunan yang kuat, membina mahligai rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagaimana Al Qur’an (lihat Qs. Ar-Rum : 21) yang mencakup 3 aspek sekaligus, : Sakinah, mawaddah, Rahmah.

Sakinah (kenyamanan seeprti asumsi orang yang lelah dan penat ketika seharian beraktivitas lalu tibalah waktu malam untuk istirahat, memulihkan energi, tenaga, fikiran untuk beraktivitas esok hari. Saat malam inilah manusia nyaman untuk beristirahat. Sakinah berasal dari kata sakana yakni tempat tinggal. Sejauh apapun melangkah, orang menginginkan pulang kembali ke tempat asalnya, jika urusan nya telah selesai. Begitu pula dengan cinta, cinta yang sakinah adalah cinta yang membuat kita nyaman dan tentram ketika berada didekat kekasih kita dan ingin terus bersamanya.

Mawadah adalah suatu keadaan yang ingin selalu bersama, hidup bersama, menatap dunia pun juga bersama. Sesuatu indah jika dilakukan bersama orang yang dicintainya. Semula yang berat terasa ringan jika dilakukan bersama-sama atas dasar cinta. Hehe
Mungkin ini yang menjadi jargon orang jawa, makan nggak makan yang penting kumpul.
Dari aspek psikologis, memang perasaan suami dan istri erat kaitannya. Sebagai contoh, sehebat dan secerdas apapun laki-laki pasti ia membutuhkan peran dari seorang wanita. Rasionalisasinya begini, ketika seorang suami bekerja di perantauan, pasti ia menginginkan istrinya untuk ikut bersamanya dan mendampinginya. Hal itu karena ada sesuatu hal yang membutuhkan support dan dukungan dari seorang wanita, termasuk aspek psikis. Begitu pula dengan istri, ia selalu ingin bersama dengan suaminya kapan dan dimanapun suami berada. Dan berawal dari mawaddah ini lah, sebenarnya fitrah naluri seorang wanita tidak mau membagi suaminya dengan orang lain (dalam kaitan ini poligami). Ketahuilah hai laki-laki, fitrah dari seorang wanita adalah memiliki-mu seutuhnya. Bayangkan betapa teririsnya hati seorang wanita bila suaminya mem-poligami dirinya, KECUALI karena beberapa sebab : Salah satunya karena si wanita tidak bisa hamil, sehingga untuk meneruskan generasi ia harus mempunyai anak dan mungkin salah satu jalannya adalah menikah lagi. Padahal masih banyak yak alternatif lain seperti meng-adopsi anak dsb. Dari sinilah, laki-laki harus belajar bersyukur. Pilih-lah pasangan hidup yang pandai bersyukur dan mau diajak untuk berjuang.

Dalam pernikahan, rasa bosan akan selalu hadir. Dan menurut pengamatan empirik, ghirah nafsu laki-laki yang telah menikah (melihat wanita lain) lebih besar daripada wanita yang telah menikah (melihat laki-laki lain). Perasaan wanita bisa di rem, tapi kalau laki-laki jika tidak bisa mengendalikan dengan baik maka hal itu akan fatal. Apalagi godaan nya sudah mempunyai penghasilan dsb sehingga mudah untuk menakhlukan hati wanita lain. Disinilah, lagi-lagi islam memberikan petuah agar memilih laki-laki yang kuat agamanya lagi pandai bersyukur. Saya teringat kata salah satu teman (maaf tidak bisa saya sebut namanya) bahwasannya dalam hati kecil laki-laki terdapat playboy. Terlampaui batas atau tidaknya tergantung kapasitas iman yang ada dalam dirinya. Sehingga laki-laki lah yang godaannya lebih berat dan lebih besar daripada wanita. Manfaat pandai bersyukur adalah saat rasa bosan itu hadir, laki atau perempuan harus saling melihat, memahami dengan hati, flsahback ke belakang untuk mengingat dan mengenang siapakah orang yang selalu setia menemani berjuang dan mendoakan disetiap langkahnya. Laki-laki harus mengingat siapakah yang setia memasakkan-nya, mencuci dan menyetrikakan bajunya, melahirkan dan mendidik anak-anaknya. Perempuan pun juga begitu, harus mengingat siapakah yang mencarikan nafkah selama ini, mandi keringat, mencukupi kebutuhannya dsb. Tentu jika hal-hal seperti itu di internalisasikan, saya yakin cinta itu akan tumbuh lagi dan mengurungkan niatnya untuk berpaling atau bahkan ber-poligami. Tentu disatu sisi poligami juga diperbolehkan, yakni menyelamatkan wanita yang tidak bersuami. Apalagi kini perbandingan laki-laki dan perempuan ibarat 1:3. Dalam Qur’an pun juga membolehkan untuk berpoligami maksimal 4 dengan syarat harus ADIL.

Akan tetapi kembalikan lagi bahwa niat berpoligami itu untuk apa dan mengapa. Terkadang saya heran dengan laki-laki yang memiliki seorang istri (menurut sy perfect) yakni cantik, punya anak, bekerja pula. Bisa-bisanya laki-laki kepincut dengan wanita lain hingga pada akhirnya menikah lagi. Tak sadarkah bila itu menyakiti hati istrinya? Padahal.....menurut saya rasanya sama saja. hehe

Yang ketiga adalah Rahmah, yakni kasih sayang, kelembutan yang hadir karena sebuah ikatan. Cinta itu dibangun atas beberapa pondasi, yakni kesetiaan, kejujuran, kasih sayang dan pengertian. Cinta ibarat sistem, jika salah satu komponen-nya tidak bekerja dengan baik maka komponen-komponen yang lain pun akan terhambat sehingga kinerja sistem tersebut tidak optimal. Oleh karena itu, sakinah mawaddah dan rahmah adalah ketiga hal yang harus saling bersinergi untuk mewujudkan cinta yang haqiqi.

Marilah, kita belajar bersyukur. Menikmati jalan hidup dari Nya, berproses di jalan Nya dalam meniti pahit manisnya kehidupan. Pilihlah pasangan hidup yang tidak pernah menjanjikan apapun kepada kita, menebar gombal yang tidak berfaedah. Tapi pilihlah pasangan hidup yang bersedia kongkrit memberikan yang terbaik untuk kita, yang tidak hanya sekedar pemanis mulut. Karena cinta itu bukan soal lisan, tapi aktualisasi dari hati, indra dan tindakan nyata (komitmen, keseriusan, kesetiaan, kejujuran). Yang sukanya gombal akan kalah dengan orang yang mau datang dan siap ke rumah untuk bertemu dengan orangtua. Right? Karena cinta tak boleh egois, betapapun kita cinta dengan kekasih kita, jika orangtua tidak setuju lantas bagaimana? Harus kita tahu, bahwa orangtua mempunyai feeling kuat untuk mengetahui apakah pasangan (laki/perempuan) pantas bersanding dengan anaknya. Yakinlah, “akan selalu ada laki-laki yang baikbaik untuk wanita yang serius berusaha memperbaiki dirinya, begitu sebaliknya”. Jangan lelah untuk berjuang dan berharap kepada Nya (Janji Allah dalam Qs. An Nur : 26).

Kamis, 21 September 2017



SEMARAK LOMBA 17-an di KAMPOENG DOBALAN, TIMBULHARJO SEWON BANTUL
Oleh : Mukaromah, Dobalan Timbulharjo Sewon Bantul

Dalam rangka menyemarakkan kemerdekaan R1 yang -72 Warga kampung Dobalan, Timbulharjo sewon Bantul melakukan kerja bakti bersama. Kegiatan tersebut bertujuan agar kampung terlihat indah, rapi, bersih dan enak dipandang mata. Hal ini sebagai implementasi dari manifestasi orang yang cinta kebersihan. Sebagaimana maqalah mengatakan an nadzafatu minal iman, yang artinya kebersihan sebagian dari iman.
Gambar 1 : Foto kerja bakti bersama
Kerja bakti/gotong royong dapat mempererat pasuduluran, kekeluargaan dan kebersamaan. Sesuatu yang awalnya sulit menjadi mudah, yang berat menjadi ringan jika dikerjakan bersama-sama. Dan ini merupakan bentuk rasa cinta dan peduli warga terhadap agama, masyarakat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Agama mengajarkan kepada kita untuk saling tolong menolong, mempererat tali persaudaraan sebagaimana dalam Qs. Al Maidah : 2
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
(Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya). Agama juga menganjurkan kepada kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, termaktub dalam Qs. Al Baqarah : 148
هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ
(..... berlomba-lomba lah dalam kebaikan).
Tak hanya itu, agama pun memerintahkan kepada kita untuk cinta kebersihan dan peduli terhadap lingkungan (lihat Qs. Ar Rum :  41-42).
Berbicara mengenai Kemerdekaan, hal itu tidak hanya diperuntukkan bagi sebuah negara, akan tetapi juga untuk masyarakat/desa. Masyarakat merupakan sekumpulan orang yang berada dalam suatu wilayah yang mempunyai visi misi dan tujuan yang sama untuk mencapai kemaslahatan bersama yakni membangun suatu tatanan yang adil, makmur dan diridhai Allah SWT. Visi misi yang sama itu terletak pada keinginanan untuk memperoleh rasa aman dan nyaman dalam melaksanakan berbagai kegiatan dan aktivitas, yakni diantaranya :
Pertama, Nyaman dalam bertempat tinggal. Setiap warga berhak mendapatkan jaminan keamanan bertempat tinggal di rumahnya masing-masing ketika berada dalam suatu masyarakat. Begitu pula ketika warga tersebut memperoleh gangguan atau ketidaknyamanan lain nya saat berada dalam rumahnya, maka warga yang lain (read : tetangga)  mempunyai kewajiban untuk melindungi nya. Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW yang mengatakan harus saling menghormati dan menjaga tetangga nya. Dan iman seseorang belum lah dapat dikatakan sempurna manakala belum mencintai saudara nya (tetangga/orang lain) seperti mencintai dirinya sendiri.
Kedua, Nyaman dalam beribadah.
Ketiga, Nyaman dalam bersosialisasi dan nyaman dalam melaksanakan kegiatan dan  berbagai macam aktivitas.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menganugrahkan kemerdekaan bagi Indonesia, masing-masing daerah mempunyai cara, ide dan bentuk yang berbeda-beda untuk menyemarakkan kemerdekaan tersebut, termasuk di desa Dobalan Timbulharjo Sewon Bantul.
Tahun 2017 ini KMM ( Karya Muda Mandiri) Dobalan mengadakan berbagai macam lomba yang di ikuti oleh semua anak-anak kecil dobalan. Ya, tak lain dan tak bukan mereka lah re-generasi muda/i dobalan selanjutnya. Lomba tersebut diantara nya : Makan krupuk, lari marathon, balap karung dll. Lomba marathon tahun ini didesain berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya, yakni lebih edukatif dan berkualitas. Siapa yang cepat dan tepat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh koordinator marathon ya dialah yang akan cepat sampai digaris finish. Sehingga anak-anak tidak hanya dilihat dari aspek psikomotor (kecepatan berlari) akan tetapi juga ditekankan aspek kognitif (menjawab pertanyaan).
Kami berharap dengan adanya berbagai lomba ini dapat merekatkan hubungan antara muda/i dengan anak-anak pada umumnya serta besar harapan semoga lomba ini dapat menarik antusias dan mengajak anak-anak untuk bersama-sama mensukseskan acara 17-an sebagai wujud cinta kepada desa dan NKRI, ujar Irman Hari Rustaman (ketua KMM)
Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh semua elemen muda-mudi dan anak-anak di desa Kampung Dobalan. Betapapun itu, semangat nasionalisme harus selalu dipupuk dan dikuatkan dengan berbagai macam hal, salah satunya dengan menyanyikan lagu kebangsaan.
Perlombaan dimulai tepat pada pukul 08.30 WIB, dan diawali Lomba lari marathon dengan rute mengeliling desa Dobalan Timbulharjo Sewon Bantul.
Setelah Lomba Marathon berakhir, dilanjutkan lomba yang kedua, yakni Makan krupuk.
IMG_20170813_083349_HDR.jpg
Gambar : Lomba Makan Krupuk.
Antusias dan semangat mereka menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah milik kita serta harus kita pertahankan dan mengisi nya dengan hal-hal yang bermanfaat. Karena anak muda mempunyai peran sentral dalam membangun dan mengembangkan laju perekonomian, pendidikan, industri, dakwah serta pembangunan negara. Hal itu karena anak muda memiliki kekuatan (power), kehendak (will), semangat (ghirah) dan ‘azam bak lapisan baja yang lebih kuat dari sekedar besi yang tak terawat.
IMG_20170817_093253_HDR.jpg
Gambar : Semangat pemudi untuk menjadi garda terdepan Indonesia
Benar ungkapan bahwa dibalik keberhasilan seseorang, pasti ada wanita dibelakangnya. Begitu pula dengan kesuksesan acara 17-an Kampung Dobalan, semua tidak terlepas dari peran dan dukungan wanita (read : pemudi). Bersatu bahu membahu untuk bersama-sama membangun desa yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur serta merealisasikan cita-cita desa Dobalan bagi kemaslahatan bersama.
Selain lomba-lomba diatas, yang tidak kalah menariknya adalah lomba untuk pemuda dan pemudi. Lomba tersebut ialah Gebuk Bantal (pemuda) dan lomba masak untuk pemudi. Hal itu karena adanya rasa memiliki yang kemudian termanifestasikan dengan berbagai macam lomba yang bervariasi sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah karena telah di anugrahkan hidup di Negara yang luar biasa sekaligus di desa yang amat sangat damai loh jinawe.
IMG_20170817_105639_HDR.jpg
Gambar : Foto hasil masakan pemudi Desa Dobalan.
Setelah acara masak-masak selesai, kini tiba saat nya lomba Gebuk Bantal dimulai.
 
Betapa asyik nya perlombaan ini. Ada banyak hal yang dapat kita petik dari berbagai perlombaan tahun ini. Lomba masak misalnya, : Yakni melatih kekompakan, kebersamaan, olah rasa ( karena kalau masak tidak makai perasaa  rasa masakan nya menjadi hambar), selain daripada itu mengingatkan kepada wanita diseluruh Indonesia, secerdas, sehebat apapun wanita bahkan berpendidikan tinggi sekalipun jangan pernah melupakan kodrat nya sebagai seorang wanita yang kelak akan menjadi istri sekaligus ibu di keluarganya. Maka dari itu, memasak adalah sesuatu yang paling penting untuk dipersiapkan sejak sekarang. Agar kelak tidak kaget saat sudah berumah tangga. Betapapun itu, wanita haruslah menjadi figure keteladanan bagi anak-anak indonesia. (penulis juga sedang belajar memasak) hehe....
Adapun moral value dari perlombaan Gebuk bantal ialah mengajarkan kepada kita untuk tetap semangat dan gigih dalam memperjuangkan sesuatu. Hal ini bisa dilihat, ketika si A di pukul oleh si B, jika ia tidak gigih dan semangat dalam mempertahankan tubuhnya, maka ia dengan mudah nya terjebur di kali.
Manusia dibekali Allah dengan instrumen yang luar biasa, sudah seharusnya kita syukuri. Adapun wujud syukur itu dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. Salah satunya ialah Semangat dalam berbagai hal, termasuk dalam mengarungi kehidupan ini. Senantiasa berbuat baik kepada siapapun tanpa mendiskriditkan golongan lain.
Lihatlah, mereka bersatu, tertawa bersama, menikmati meriahnya 17-an Agustus di desa tercinta. Bersatu merupakan cara yang luar biasa untuk mensyukuri anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Dan karena bersatu itulah, Kemerdekaan Indonesia kita dapat (Indonesia merdeka, karena semua rakyat bersatu serta tidak membeda-bedakan ras, agama, suku, etnis, dan budaya). Indahnya Desa, Indahnya Indonesia. Ini Milik Kita, BUNG ! PERTAHANKAN
Pembagian hadiah di laksanakan pada tanggal 17 Agustus malam yang dihadiri oleh tokoh Desa Dobalan, yakni : Ketua RT 03(Bp. Murtijan), Ketua RT 04 (Bp. Ervan Ari Wibowo) Ketua RT 05 (Bp. Sriyanto) , Dukuh Dobalan (Bp. Ali Arifin), Bp. Takmir Masjid Dobalan (Bp. Alimuddin), Bpk. KH. Khozin FA, Bp. R. Wahib FA dan semua element masyarakat desa dobalan (ibu-ibu PKK, Dasawisma, dsb) sembari pentas seni dan harlah Karya muda mandiri Dobalan Timbulharjo Sewon Bantul.
Mari kita menilik sejarah kemerdekaan Indonesia,Indonesia merdeka karena adanya rasa persatuan dan kesatuan dari berbagai macam etnis, ras, suku, agama, dan budaya. Semuanya bersatu dan berseru MERDEKA. Dan yang tidak kalah pentingnya ialah peran pemuda amat mendominasi perjuangan Indonesia,
Begitu hal nya dengan rasa persatuan dan kesatuan haruslah selalu dipupuk dan dieratkan. Kita tahu bahwa Indonesia merdeka karena peran pemuda yang mempunyai kesadaran dan inisiatif untuk bersatu dan bersama-sama melawan penjajah. Konggres pemuda I tidak menghasilkan keputusan apa-apa karena pada saat itu, masing-masing daerah masih mengedepankan egonya dan memperjuangkan golongannya sendiri-sendiri. Ada Jong Java, jong Sumatra dsb mereka masih terapaku dengan kepentingan kedaerahan, padahal hal itu hanya akan menghambat kebersamaan antar suku dan golongan. Akhirnya, konggres pemuda II dilaksanakan dan menghasilkan keputusan yang amat sangat menguntungkan Indonesia, yakni semua pemuda bersatu menyamakan persepsi dan sadar bahwa mereka selama ini hanya dijadikan sebagai tumbal untuk memperpecah belah persatuan dan kesatuan yang pada akhirnya berimplikasi pada sulitnya mendapatkan kemerdekaan Indonesia. Konggres Pemuda II menghasilkan keputusan sumpah pemuda yang mengakui akan persamaan bahasa yakni bahasa Indonesia, tanah air dan bangsa yang satu yakni Indonesia.
Hikmah dari konggres II yang dapat kita tauladani ialah, kepentingan golongan dan atau pribadi dihilangkan, diganti dengan kepentingan bersama yakni dengan bersatu puntuk melawan penjajah. Kita belajar dari sejarah, bahwa untuk membangun suatu tatanan organisasi yang kuat atau dalam hal ini untuk membangun desa yang besar dan bijaksana, harus ada sinergisitas dan kerjasama antar berbagai pihak. Dalam islam kita mengenal umat muslim bagaikan satu bangunan, ketika tiang (penyangga bangunan) tersebut roboh, maka robohlah dan hancurlah bangunan tersebut. Begitu hal nya dengan organisasi. Organisasi ibarat sebuah sistem. Ketika satu sistem tidak berjalan dengan baik, maka akan menghambat kinerja sistem yang lain.
Oleh karena itu, kami Pemuda Pemudi Desa Dobalan berusaha selalu menjaga kekompakkan, kebersamaan, solidaritas dan chemistry guna merealisasikan visi misi organisasi yakni terciptanya tatanan organisasi yang berkualitas lahir maupun batin dengan harapan menciptakan kemaslahatan ummat dan membangun desa yang nyaman, aman tentram dan damai. Kunci dari itu semua ialah sikap arif dan bijaksana dalam menanggapi suatu problem sosial dan dalam mengambil tindakan dan keputusan. Tak kalah pentingnya pun juga harus di landasi kepekaan terhadap realitas sosial serta harus ada rasa saling memiliki. Jika rasa memiliki itu ada, maka orang akan mempunyai kesadaran bahwa ia membutuhkan suatu wadah untuk mengekspresikan keinginan nya yang kemudian mendorong nya untuk berbuat sesuatu dan berusaha menjadi insan paripurna yang dapat memberikan manfaat bagi orang-orang disekelilingnya.
Sejauh apapun kita melangkah, jangan pernah lupakan desa tempat tinggal kita. Desa yang telah mengajarkan kita banyak hal, menyadarkan kita bahwa kita punya peran dan tanggungjawab untuk membangun, memajukan serta mensejahterakan desa agar lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya, semampu kita. BERSAMA KITA BISA.!
MERDEKAAAAA