Jumat, 16 Maret 2018


BANGKITLAH MAHASISWA
(Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)
Oleh Mukaromah Asy Syarmidi*.

Hidup adalah anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Namun dalam hidup ada banyak pilihan, begitupula dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam membangun bangsa. Sebagaimana maqalah arab mengatakan syubbaanul yaum rijalul ghad. Pemuda (syabab) yang dapat juga diartikan sebagai mahasiswa merupakan pemimpin masa depan. Realitanya tak hanya untuk masa depan, namun juga pemimpin saat ini. Sehingga mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depannya serta mempersiapkan untuk menjadi agent of change, agent of social control and agent of problem solver dalam menghadapai problema kehidupan.. Mahasiswa disebut sebagai Maha Atas Ke-Siswaan-nya, yang berarti memiliki tanggungjawab yang lebih besar dibanding dengan dahulu ketika mengenyam pendidikan dasar, pertama dan menengah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi Mahasiswa untuk mengembangkan dirinya baik didalam maupun luar kelas.

Pernakah berfikir mengapa IP maupun IPK maksimal hanya 4,0? Karena selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari dengan berbagai hal, yakni melalui kajian literasi, berdiskusi maupun berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga belajar didalam kelas saja lalu pulang ke rumah ataupun kos (Mahasiswa Kupu-kupu) merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya (read : mahasiswa) secara perlahan.

Penulis sering mengamati mahasiswa yang hanya fokus pada akademiknya, dengan mahasiswa aktivis. Tentu ini berdasar pada pengamatan empirik di Kampus. Untuk menelaah lebih dalam hal itu, saya sering mengajak berdiskusi (apapun itu) dengan mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis dengan memaparkan sebuah persoalan dan saya minta solusi juga  pendapat berdasar pada persoalan yang telah saya kemukakan. Ternyata jawaban yang memuaskan (analitik, konkrit, logis, rasional dan bereferensi) lebih banyak saya dapatkan dari mahasiswa aktivis. Tentu aktivis tidak hanya sekedar demo, debat dll. Namun seorang aktivis yang mengimbangi dirinya dengan selalu membaca buku.
Yang menjadi persoalan ialah telah mendarah daging mind-set kalangan akademis dan masyarakat mengenai mahasiswa aktivis yang terkenal dengan “lulus nya lama”, sehingga memandang anak-anak aktivis dengan sebelah mata. Hal ini kongkrit, faktanya memang begitu !.

Penulis pun banyak menjumpai teman-teman aktivis yang lulus nya lama, ingat BUKAN BERARTI MEREKA BODOH. Namun mereka hanya ingin menikmati masa-masa menjadi mahasiswa, karena masa-masa mahasiwa merupakan masa yang nikmat dan penuh warna. Ada pula faktor lain, karena mereka beranggapan bahwa “dirinya” belum layak untuk lulus dengan indikator belum banyak buku-buku yang dibaca dan dikuasai. Dari hal ini jelas bahwa mereka mengedepankan aspek “kualitas keilmuan” daripada mengejar  angka 3,9 sekian diatas kertas putih. Karena faktanya IPK tinggi itu mudah dicari dengan hanya terus masuk kelas tanpa ada keterangan sakit, izin atau bahkan alfa alias TIDAK MASUK TANPA KETERANGAN (saya pastikan nilai-nya 4,0) karena yang menyebabkan seseorang IPK nya rendah bukan karena faktor intelegensi, namun karena faktor KEHADIRAN/Administratif. Hal ini tidak bisa diubah, karena sistem yang telah berperan, sehingga secerdas apapun mahasiswa kalau dia tidak pernah masuk kelas jangan harap dapat IPK 3,5. Boro-boro 3,5 dapat 3,0 pun tidak akan pernah. Kalau tak percaya coba saja buktikan.

Dulu lulus SD masuk ke SMP harus mempunyai nilai yang tinggi, begitupula dengan lulus SMA ke PT memerlukan nilai yang tinggi pula, meskipun faktanya nilai saja tidak cukup. Akan tetapi perlu dan harus memiliki sertifikat penghargaan/kejuaraan yang diraih saat di SMA baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Begitupula dengan lulus Kuliah, tidak  cukup hanya dengan nilai yang baik, akan tetapi yang lebih dari itu ialah harus memiliki nilai plus atau biasa disebut dengan skill komparatif yang salah satunya mempunyai jiwa leadership. Itu yang jauh dibutuhkan untuk masa depan, daripada hanya sekedar IPK tinggi ataupun embel-embel yang lain.

Penulis teringat nasihat dari Prof. Anis Baswedan saat seminar di UGM Yogyakarta tahun 2015 yang lalu bahwa “Kemampuan belajar” menjadi satu kunci, bukan “kemampuan menguasai suatu bidang”. Karena ketika lulus, mahasiswa belum tentu melakukan dan berhadapan dengan bidang yang digelutinya saat masa-masa kuliah. Namun kemampuan dalam belajar akan membuat mahasiswa menjadi pembelajar terus menerus, sehingga mempunyai peluang untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kontribusi disekelilingnya. Sehingga saat-saat menjadi mahasiswa seperti ini jangan hanya disebut sebagai “masa kuliah nan masa muda semata” namun harus dijadikan sebagai spirit untuk “terus mengembangkan diri secara optimal dan berkelanjutan”. Jika hal ini dilakukan, maka InsyaAllah “jalan kedepan akan jauh lebih lebar, jauh lebih menantang, dan akan menemukan simpul-simpul baru kebahagiaan yang membanggakan termasuk dalam memperluas jaringan”.

Tulisan ini bukan berarti mengesampingkan hal-hal akademik, seperti IPK. Karena faktanya IPK juga penting namun harus diimbangi dengan softskill dan pengalaman yang lain. Penulis hanya ingin membukakan “sedikit” cakrawala dan paradigma berpikir ala anak-anak aktivis yang seharusnya dipahami oleh kalangan akademis seperti dosen dan masyarakat pada umumnya agar tidak menjustifikasi anak-anak aktivis sebagai mahasiswa yang malas dan terkenal dengan lulus kuliah “lama”. Coba lihat 10-20 tahun yang akan datang, siapa yang lebih banyak berkontribusi nyata untuk Indonesia. Mahasiswa aktivis-kah atau mahasiswa yang hanya “Mencerdaskan dirinya sendiri” yang acuh terhadap realitas sosial???

Penulis merupakan,
*Kader HMI Komisariat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
*LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) UIN Sunan Kalijaga
*UKM JQH Al Mizan UIN Yogyakarta
*PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
*Komunitas Dialektika LARIS PAI UIN Sunan Kalijaga
*Kader Pemuda Inti Anti Narkoba 2015
*KNPI Sewon
*IPNU IPPNU Sewon

Senin, 12 Maret 2018


PENDIDIKAN YANG MENGHIDUPKAN
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi
"Guru dan orangtua merupakan orang yang membimbing murid dan anak-anaknya untuk menemukan rencana Tuhan bagi dirinya" (Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag)
Pendidikan merupakan suatu hal yang urgent dan mempengaruhi masa depan suatu bangsa. Maju mundurnya bangsa dapat dilihat dari seberapa berkualitas pendidikan-nya. Jika warga negara mayoritas orang-orang nya berpendidikan dan mempunyai kesadaran untuk belajar, maka bangsa tersebut akan maju. Namun sebaliknya, jika kualitas dan tingkat pendidikan warga negara rendah, maka negara tersebut sulit untuk maju dan sulit bersaing dengan warga negara yang lain. Betapapun itu, pendidikan merupakan kunci mata rantai yang turut ikut andil dalam memajukan bangsa dan negara. Sebagai contoh, ketika tentara sekutu menyerang jepang dan melakukan pengeboman di kota Nagasaki dan Hirosima hingga pada akhirnya menewaskan jutaan orang, hal yang pertama kali ditanyakan oleh Kaisar adalah berapa banyak “guru” yang masih hidup. Mengapa tidak bertanya berapa jumlah doktor, insinyur, pegawai bank, tentara, polisi yang masih hidup, namun menanyakan jumlah guru yang masih hidup? Tak lain guru memegang kunci dalam membangun peradaban suatu bangsa. Adanya kaisar, insinyur, tentara, polisi karena adanya guru. Sehingga wajar jika Kaisar bertanya berapa jumlah guru yang masih ada, karena ditangan guru lah peradaban akan dibangun kembali. 

Dalam sejarah dunia, kita mengenal Thomas Alfa Edison. Seorang tokoh yang menemukan bola lampu dunia yang telah menggunakan 999 cara sebelum ia berhasil menemukan bola lampu yang saat ini dapat kita nikmati manfaatnya. Thomas mempunyai kegigihan dan semangat yang menggelora untuk membuktikan kepada guru-nya bahwa ia anak yang hebat. Karena sebelum itu, guru-nya telah menyerahkan dirinya (drop out) kepada ibunya dengan alasan Thomas anak yang bodoh. Sejak saat itulah ibunya mendidik dan mengajarinya dengan penuh kasih sayang dan bi tarbiyatin hasanatin. 
Pada saat itu, Thomas berkata kepada ibunya “Ibu, mengapa sekarang aku tidak sekolah, seperti teman-teman ku”? Ibunya berkata “Nak, gurumu sudah tidak bisa lagi mendidikmu karena kamu anak yang CERDAS, sehingga mulai sekarang ibu lah yang akan mendidikmu langsung karena ibu yang melahirkan kamu sehingga tuangkan kecerdasanmu itu dalam melakukan percobaan dan eksperimen ya”. Disaat yang seperti ini, ibu nya terus meyakinkan dan selalu berkata bahwa Thomas merupakan anak yang cerdas. Hal ini sangat penting untuk dikatakan, karena ucapan (read pujian) merupakan salah satu bentuk motivasi yang dapat membuat orang menjadi lebih semangat dan percaya diri dalam mewujudkan cita-cita dan keinginannya. 

Dengan intangible capital (modal tidak kasat mata yang berbentuk niat, tekad, gigih dan semangat) akhirnya Thomas berhasil membuat bola lampu dunia. Thomas Alfa Edison merupakan salah satu contoh diantara banyak tokoh lainnya yang berhasil dan sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal. Namun ia selalu menggali, mengasah dan mengembangkan skill dan kompetensi nya sebagai manifestasi atas rasa syukur kepada Tuhan-nya. Tak hanya Thomas, ilmuan seperti Albert Einstein Benjamin Franklin, Isaac Newton, Charles Darwin pun orang hebat yang sukses tanpa melalui jalur pendidikan formal. 

Meski ada orang yang beranggapan bahwa tanpa guru, ternyata bisa sukses. Penulis merasa kurang setuju dengan argumen ini. Karena penulis yakin, setiap orang mempunyai ilmu, terlepas dari kadarnya seberapa. Dan ilmu tidak hanya disampaikan dengan pembelajaran yang formal, namun dapat disampaikan dengan cara-cara lain seperti sharing, bercengkrama dan berdiskusi. Hal ini lah yang “mematahkan” argumen pertama bahwa orang bisa sukses tanpa guru. Karena faktanya, setiap orang adalah “guru”. Itulah mengapa Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa beliau merupakan hamba dari seorang yang mengajari-nya walau satu huruf. 

Meskipun Thomas, Darwin, Isaac Newton dll sukses meski tidak melalui jalur pendidikan formal, bukan berarti mereka tidak membutuhkan seorang guru. Siapapun yang mereka jumpai dan membimbing serta mendidik mereka itulah gurunya, meskipun berstatus ibu-nya. Sehingga penulis rasa, di dunia ini tidak ada satu orang pun yang berhasil tanpa bimbingan dari seorang guru. Meskipun terkadang guru lah yang menghambat daya kreatifitas anak didiknya, sebagai contoh membatasi kreatifitas siswa dalam menulis makalah atau paper dengan memberikan batas maksimal halaman. Mungkin disisi lain guru ingin membaca pokok-pokoknya saja, dan mengajak siswa untuk berpikir to the point. 

Berpendidikan saja tidak cukup, namun juga harus diimbangi dengan terus self continous improvement. Mengasah dan menggali sofskill juga hardskill. Itulah sebabnya hakikat dari belajar ialah perubahan tingkah laku yang menyebabkan seseorang sadar akan sesuatu yang dilakukan nya. Melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, keoptimisan serta penuh tanggungjawab dengan disertai niat dan kemauan untuk lebih baik dari sebelumnya. Dan orang yang mengasah intelektual dengan belajar seharusnya juga menumbuhkan sifat emosional dalam dirinya yang berarti paham dan mampu memahami realita sosial dan masyarakat yang kemudian dimanifestasikan dengan akhlaq yang baik dan benar, yakni dengan memanusiakan manusia secara manusiawi. Karena pada hakikatnya, haruslah sinergi antara IQ, EQ, dan SQ. Dan ketika seorang peka terhadap realita sosial, maka akan menambah rasa cinta pada Rabb yang telah menganugrahkan nafas hidup untuk nya (aspek spiritual). Dan inilah Puncak tertinggi dari belajar, dimana seseorang mampu mengenal Tuhan nya setelah ia mengenal diri nya sendiri dan orang lain. Sehingga ia mampu menemukan cahaya suci nan indah yang dapat menuntun nya ke jalan yang haqqul abadi. (min adzulumaati ilannuur) dari yang tidak tau apa-apa menjadi dikit demi sedikit tau, paham dan mengerti eksistensi dirinya sebagai 'ibad yang menghambakan diri kepada Nya sekaligus sebagai khalifatullah fil ardi yang mempunyai peran dan tanggungjawab hidup untuk memaknai kehidupan serta merealisasikan visi misi hidupnya. 

Pendidik yang baik nan hebat tidak hanya transfer of knowledge namun juga transfer of value yakni dengan menanamkan nilai-nilai karakter, inspirasi dan motivasi kepada peserta didik agar mereka memiliki kepercayaan diri dan optimis dalam menatap masa depan
Khairukum man ta'allamal Qur'an, ta'allamal 'ulum, wa 'allamahumaa. []

Kamis, 08 Maret 2018



SIPIRIT PEREMPUAN DALAM BINGKAI PENDIDIKAN ISLAM
(Happy Woman’s Day 8 MARET 2018)
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi
“Laki-laki sukses dapat dilihat dari 2 hal, yang pertama siapa ibunya dan kedua siapa istrinya” (Umar Bin Khattab RA)


Wanita merupakan tonggak peradaban bangsa. Dalam sejarah Indonesia kita mengenal Ibu Kartini (sosok wanita hebat) yang memperjuangkan hak-hak perempuan dalam sektor publik baik dalam hal bersosialisasi, berpendapat, ekonomi maupun pendidikan. Beliau-lah yang menyadarkan kaum hawa untuk bangkit dari keterpurukan dan penindasan menuju jalan pembebasan yang “independent”. Bebas dalam berpikir, bertindak dan mempunyai kesempatan dan peluang yang sama seperti laki-laki untuk berkancah dalam ruang publik.

Jalan yang pertama kali ditempuh oleh RA.Kartini ialah dengan melalui “Pendidikan”. Karena pendidikan merupakan salah satu alternatif untuk mengolah akal dan hati agar selalu dekat dengan Tuhan-nya, menyatu dengan alam dan peka terhadap realitas sosial. Senada dengan UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sejak RA Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam hal pendidikan, sejak saat itulah wanita Indonesia mempunyai kesadaran bahwa ditangannya terdapat harapan bangsa. Sehingga wanita harus cerdas dan mencerdaskan. Artinya, sebelum wanita mencerdaskan yang lain terlebih dahulu wanita harus “cerdas” (read : mencerdaskan dirinya sendiri) dengan “belajar/ngangsu kawruh” agar memiliki science, knowledge, skill, best attitude dan qalbun salim. 

Hal tersebut dapat digali, diolah dan dikembangkan dengan senantiasa membuka cakrawala dalam segala hal. Sebagaimana wahyu yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ialah perintah untuk belajar (menuntut ilmu). Agama Islam sangat menjunjung tinggi “Ilmu”, sehingga orang yang beriman nan ber-ilmu mempunyai kedudukan yang istimewa dihadapan Tuhan (Qs. Al Mujadalah ayat 11). Bahkan dalam kitab ala-ala disebutkan “fa inna faqihan wahidan mutawarri’a, asyaddu ‘ala asy-syathani min alfi ‘abidi”, bahwa seorang yang faqih (berilmu) lebih ditakuti syaithan daripada 1000 orang yang ahli ibadah tanpa didasari dengan ilmu”. 

Begitu pula dengan wanita, wanita harus haus akan ilmu dan pengetahuan karena ia akan melahirkan spies yang kelak akan menjadi generasi penerus ummat dan bangsa. Penulis teringat quote yang dulu pernah ditulis oleh Dian Sastrowardoyo bahwa “Entah kelak menjadi ibu rumah tangga atau wanita karier namun yang jelas wanita harus berpendidikan”. Kata “berpendidikan” penulis memberikan tafsiran yakni “senantiasa belajar dan menjadi pembelajar dalam segala lini kehidupan”. Karena belajar tidak dibatasi dalam lingkup strata/marhalah (S1, S2, S3 dll/lingkup formal) namun yang lebih dari itu ialah bagaimana mengambil inspirasi dari al qur’an untuk dijadikan sebagai spirit untuk terus semangat belajar dan self continous improvement. Dengan wanita memiliki kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) maka ia akan dapat mendidik anak bi tarbiyatin hasanatin, sesuai dengan Qs. Al A’raf ayat 58 bahwa tanah ibarat wanita dan bibit ibarat laki-laki. Jika tanahnya baik, meski bibitnya kurang baik maka akan tumbuh tanaman yang baik. Sebaliknya apabila bibitnya baik ditanam ditanah yang gandus, gersang dan kering maka tanamannya tidak akan tumbuh dengan baik. Apalagi kalau tanah dan bibitnya baik, insyaAllah tanamannya pun akan baik. Artinya, perempuan dapat mempengaruhi segala hal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam kisah, yakni Thomas Alfa Edison. Dibalik sosok beliau yang luar biasa, tentunya ada wanita hebat yang luar biasa pula, yakni ibunya. Ibu-nya lah yang selalu meyakinkan dia bahwa dia hebat dan merupakan anak cerdas meski pada saat itu Thomas di DO (drop out) dan di justifikasi oleh guru nya bahwa ia merupakan anak bodoh, sehingga guru-gurunya tidak sanggup lagi mendidiknya. Dibalik kisah Sukses Motivator Islam terkenal Dr. Ibrahim El Fikky, ada seorang wanita hebat yakni istrinya yang senantiasa mensupport dan mendoakan beliau hingga pada akhirnya beliau menjadi manager hotel berbintang 5 saat sebelumnya menjadi cleaning service disebuah hotel.

Di Indonesia misalnya, kita mengenal sosok BJ. Habibi yang luar biasa dan pasti dibelakangnya ada sosok hebat pula yakni Ibu Ainun, bahkan sangat banyak contoh-contoh lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, salah satunya ialah kisah dari pembaca sendiri. Anda hebat, karena istri anda dan atau ibu anda.!

Sudah saat-nya kaum wanita berkarya, mengeksplore diri dengan terus menjajaki berbagai macam pengalaman dan pelatihan serta memperluas cakrawala berpikir dengan membaca, menganalisis, beretorika, berdialektika dan berdiskusi.

Saat diri kita lelah dan penat dalam belajar, ingatlah bahwa “anak-anak kita kelak berhak terlahir dari rahim wanita yang cerdas dan mencerdaskan”! Motivasi penulis satu, karena IBU. Doakan semoga beliau sehat selalu

Jumat, 02 Maret 2018

MEMUPUK SPIRIT ENTERPRENEURSHIP SEJAK DINI
Oleh : Mukaromah Asy-Syarmidi 

“Nak, kalau kamu jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetap usaha. Harus punya usaha sampingan agar hatimu tidak selalu berharap dan menggantungkan pemberian orang karena usaha yang dihasilkan dari keringat sendiri itu barokah” (KH. Maimun Zubair).

Motivasi KH. Maimun Zubair bahwa manusia jangan hanya berharap dan  menggantungkan dirinya menjadi seorang PNS namun harus di-imbangi dengan senantiasa mengasah dan mengembangkan skill kewirausahaan. Mari kita menengok sejarah, bahwa profesi yang pertama kali dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad ialah berdagang. Dalam sabda-Nya bahwa berdagang merupakan salah satu diantara pekerjaan-pekerjaan baik yang dicontohkan Rasulullah kepada ummat-ummat nya. 

Berdagang/ ber-wirausaha merupakan sebuah konsep, gagasan dan atau ide yang dimiliki oleh setiap  manusia untuk mengatur, mengelola, mengembangkan, mewujudkan gagasannya menjadi sesuatu yang nyata/kongkrit serta mempunyai mental untuk menanggung risiko dari usaha yang dijalankan nya. Ide/gagasan tersebut dapat dimiliki oleh setiap manusia. Karena memang setiap manusia dianugrahi Allah dengan potensi fisik dan akal yang amat sangat luar biasa. Dengan anugrah potensi itulah, manusia bisa tetap mempertahankan eksistensinya sebagai ’ibad yang menghambakan diri kepada Allah serta sebagai khalifatullahu fil ardi yang bertugas nguri-uri dan memakmurkan bumi, termasuk untuk mengembangkan ide berwirausaha. 

Sama halnya ketika kita berbicara mengenai leadership atau jiwa kepemimpinan. Hal itupun juga dimiliki oleh setiap insan, karena memang setiap manusia adalah pemimpin, sebagaimana dalam hadist mengatakan bahwa : kullukum ra’in, wa kullukum mas’uliyyatun ‘ala ro’iyyatihi. Sama halnya dapat dikatakan bahwa setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi pengusaha, tergantung dari seberapa optimal dalam menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Tentu untuk menjadi pengusaha, manusia harus mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Hal itu dimaksudkan agar manusia mampu mengembangkan suatu usaha berdasar pada jobdes  (bidang keahliannya). Ketika si A mempunyai kelebihan dalam bidang IT maka sebaiknya mengembangkan usaha yang berbau IT/teknologi, seperti : membuka warnet, fotocopy-an, warung ketik, teknisi komputer, service laptop dsb. Begitupula si B yang mempunyai skill dalam hal leadership manajerial, mungkin bisa membuka lembaga private (bimbingan belajar), pelatihan kepemimpinan, dsb.

Penting bagi setiap manusia mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Ketika mempunyai kelebihan dalam satu bidang, maka kembangkanlah. Begitupula ketika ingin mengembangkan bidang-bidang lain, maka penting untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, agar nantinya bisa hebat dalam segala bidang. 

Seseorang yang kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan berarti hanya menguasai satu bidang keilmuan saja yang berkaitan dengan ilmu Agama Islam. Akan tetapi, dalam kurikulum juga di-imbangi dengan mata kuliah ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu lain yang mendukung pengembangan diri. Seperti halnya ilmu psikologi, ilmu filsafat dan ilmu kewirausahaan. Sehingga ketika mempelajari banyak hal, maka wawasan akan semakin luas dan lebih bijak dalam menanggapi suatu hal. Dalam hal ini, pemerintah sudah mendukung pengembangan ilmu mahasiswa dalam hal kurikulum. Didalam kurikulum PAI terdapat mata kuliah Kewirausahaan, diharapkan agar mahasiswa mempunyai ilmu dan wawasan terkait dengan kewirausahaan agar nantinya dapat menjadi enterpreunership yang tidak hanya berharap dan menggantungkan dirinya menjadi PNS.

Manusia bisa hebat dalam segala hal dengan syarat. Syarat tersebut antara lain adalah bersungguh-sungguh, ulet, tekun, rajin, pantang menyerah, tanpa mengenal lelah, semangat, bijak, jujur serta visioner dalam belajar segala hal. Begitupula ketika ingin mempelajari kewirausahaan. Hal-hal yang telah penulis sampaikan tadi merupakan kunci awal untuk menjadi seorang PENGUSAHA. 

Banyak dijumpai, alumni Tarbiyah menjadi pedagang sukses, pebisnis sukses, mempunyai properti dan berbagai macam usaha. Sehingga tak jarang pula banyak alumni Tarbiyah disamping menjadi dosen pun juga sebagai pengusaha. Jiwa enterpreunership seharusnya ada dalam setiap mahasiswa. Karena memang mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah (Negara). Lowongan PNS, BUMN, Pegawai Swasta sangat minim dan terbatas, padahal yang mendaftar sangat banyak bahkan membludak.

Hal tersebut dapat dilihat bahwa fakultas tarbiyah dengan jurusan PAI, PBA, MPI, PIAUD, PGMI tidak hanya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, akan tetapi kini sudah banyak sekali universitas baik negeri maupun swasta yang membuka jurusan-jurusan tersebut. Sehingga setiap tahun banyak pula wisudawan dan wisudawati PAI (misalnya) dari berbagai macam universitas memperebutkan dunia kerja sebagai guru/pendidik. Padahal tidak semua sekolah membutuhkan guru PAI (karena guru PAI di sekolah tersebut masih ada). Dan jika hanya mengandalkan lowongan CPNS, bisa jadi setiap tahun hanya ada kuota 100 untuk guru PAI, dan yang mendaftar lebih dari 1000 orang. Itu artinya, dunia semakin kompetetif. Hanya manusia unggul yang mempunyai kompetensi, skill komparatif dan modal intangible capital lah (modal yang tidak kasat mata yang berupa niat, kemauan, kerja keras, semangat, ghirah dan azam) yang akan tetap eksis melangsungkan kehidupannya. 

Setiap manusia mempunyai peluang dan kesempatan yang sama untuk berubah. Dari yang buruk menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik serta dari yang kurang kreatif dan produktif menjadi lebih kreatif dan produktif dengan cara berlatih dan terus mencoba. Kunci dalam berwirausaha ialah berani mengambil risiko. Pengusaha hebat bukanlah mereka yang penakut, akan tetapi mereka yang berani mencoba dan menjelajahi hal-hal baru. Ketika seorang pengusaha berhasil menakhlukan satu bidang, misal dalam bidang pendidikan. Maka pengusaha tersebut akan mencoba hal-hal baru seperti terjun daam bidang properti. Tak ayal banyak dijumpai pengusaha hebat dalam segala bidang, karena mereka tidak cepat puas dengan apa yang didapat. Justru mereka dare to outoff the right track to be win. 

Senada dengan hal itu, manusia pun juga jangan cepat puas dengan apa yang sudah didapat. Tidak cepat puas bukan berarti tidak bersyukur dengan anugrah yang Allah berikan. Akan tetapi, sebagai manusia harus mengimplementasikan wujud syukur tersebut dalam menjelajahi banyak hal, termasuk enterpreuner. Tidak menjadi persoalan bila ada orang-orang yang bercita-cita menjadi “Abdi Negara” sebagai guru atau dosen, namun akan lebih baik lagi jika dikembangkan jiwa enterpreuner sesuai dengan bakat dan minat kita. Sebagai contoh, Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 yang merupakan Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Selain sebagai direktur PLN, beliau juga merukan sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia.

Kunci pengusaha adalah mempunyai daya kreatif dan inovatif yang visioner. Banyak mahasiswa-mahasiswa di Indonesia yang mempunyai ide cemerlang membuat aplikasi yang berbasis digital (sebagai wadah untuk penjualan online dan pelayanan masyarakat) akhirnya booming dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. GOJEK, GRAB, SHOPIE dsb merupakan aplikasi digital yang dibuat oleh maahasiswa-mahasiswa yang mempunyai daya kreatif yang luar biasa. Contoh sederhana, kala itu ada seorang anak yang sama sekali tidak mempunyai modal (materi berupa uang) untuk mendirikan sebuah restaurant di bawah kampus. Akhirnya ia memutar otak dan menemukan ide cemerlangnya, kemudian ia mengkonsep lalu membuat proposal guna chemistry dan kerjasama kepada konglomerat. Singkat cerita, kontrak kerjasama tersebut di-acc dan kemudian cair-lah dana untuk membangun restaurant dibawah kampus tersebut. Begitulah kiranya, untuk menjadi pengusaha tidak selamanya harus mempunyai modal uang terlebih dahulu. Namun berawal dari menemukan ide dan mengembangkan konsep lah akhirnya cita-cita menjadi pengusaha terealisasikan. 

Beberapa bulan yang lalu, penulis tertarik me-ngobrol dengan seorang laki-laki penjual donat yang keliling di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Obrolan singkat tersebut berawal ketika penulis melontarkan pertanyaan “apa motivasi jenengan hidup mas”?. Beliau menjawab, motivasi saya adalah membahagiakan kedua orangtua saya, mbak. Kemudian saya tanya, omset penghasilan bersih jenengan per bulan berapa mas? Dengan tersenyum dia menjawab, ya kira-kira 2,8 juta mbak/bulan. Batin saya “wah ngalah-ngalahi PNS saja, “ hehe. Doakan ya mbak, semoga saya bisa lanjut S2 dan cita-cita saya menjadi pengusaha mbak, ungkap dia. Meskipun begitu, jangan pernah meremehkan orang, ternyata dia sudah Sarjana. Begitulah hidup, hidup itu tidak serumit apa yang dipikirkan, karena yang rumit adalah “gengsi” kita. Menjadi pengusaha harus tidak boleh gengsi. Sebagaimana pesan Allah : “lakukanlah pekerjaan apapun dengan syarat HALAL.
Marilah kita bersama-sama mengembangkan jiwa enterpreunership sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan, karena kita tidak bisa selamanya menggantungkan negara (read : berharap PNS). Ubah paradigma menjadi PNS dengan mari berwirausaha, karena tugas kita pun juga sebagai problem solving, agent of change, agent of social control yang mempunyai peran dan tanggungjawab untuk mensejahterakan masyarakat dan lingkungan agar terbebas dari penjara kemiskinan dengan berwirausaha.
Penulis berharap, semoga ilmu kewirausahaan juga diajarkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah menegah bawah, atas dan PT negeri maupun swasta, mengingat amat sangat penting sekali untuk menyadarkan dan menumbuhkembangkan motivasi berwirausaha dikalangan pelajar dan mahasiswa.