BANGKITLAH MAHASISWA
(Telaah Mahasiswa Aktivis dan Akademis Berdasar Pengamatan Empirik)
Oleh : Mukaromah Asy Syarmidi*.
Hidup adalah anugrah Allah Yang Maha Kuasa. Namun dalam hidup ada
banyak pilihan, begitupula dengan mahasiswa. Mahasiswa mempunyai peran penting
dalam membangun bangsa. Sebagaimana maqalah arab mengatakan syubbaanul yaum
rijalul ghad. Pemuda (syabab) yang dapat juga diartikan sebagai mahasiswa
merupakan pemimpin masa depan. Realitanya tak hanya untuk masa depan, namun juga
pemimpin saat ini. Sehingga mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk masa depannya
serta mempersiapkan untuk menjadi agent of change, agent of social control
and agent of problem solver dalam menghadapai problema kehidupan.. Mahasiswa
disebut sebagai Maha Atas Ke-Siswaan-nya, yang berarti memiliki tanggungjawab
yang lebih besar dibanding dengan dahulu ketika mengenyam pendidikan dasar,
pertama dan menengah. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi Mahasiswa untuk
mengembangkan dirinya baik didalam maupun luar kelas.
Pernakah berfikir mengapa IP maupun IPK maksimal hanya 4,0? Karena
selebihnya mahasiswa sendiri-lah yang harus mencari, menelaah, mengeksplore
hal-hal baru dan memikirkan cara untuk meraih keberhasilan yang dapat dicari
dengan berbagai hal, yakni melalui kajian literasi, berdiskusi maupun
berorganisasi. Hal ini diperkuat dengan sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa
peran dosen maksimal hanya 20% untuk menunjang keberhasilan mahasiswa-nya. Sehingga
belajar didalam kelas saja lalu pulang ke rumah ataupun kos (Mahasiswa
Kupu-kupu) merupakan kerugian nyata yang dapat membunuh kreativitas dirinya
(read : mahasiswa) secara perlahan.
Penulis sering mengamati mahasiswa yang hanya fokus pada
akademiknya, dengan mahasiswa aktivis. Tentu ini berdasar pada pengamatan
empirik di Kampus. Untuk menelaah lebih dalam hal itu, saya sering mengajak berdiskusi
(apapun itu) dengan mahasiswa aktivis dan mahasiswa akademis dengan memaparkan sebuah
persoalan dan saya minta solusi juga pendapat berdasar pada persoalan yang telah
saya kemukakan. Ternyata jawaban yang memuaskan (analitik, konkrit, logis,
rasional dan bereferensi) lebih banyak saya dapatkan dari mahasiswa aktivis.
Tentu aktivis tidak hanya sekedar demo, debat dll. Namun seorang aktivis yang
mengimbangi dirinya dengan selalu membaca buku.
Yang menjadi persoalan ialah telah mendarah daging mind-set kalangan
akademis dan masyarakat mengenai mahasiswa aktivis yang terkenal dengan “lulus
nya lama”, sehingga memandang anak-anak aktivis dengan sebelah mata. Hal ini
kongkrit, faktanya memang begitu !.
Penulis pun banyak menjumpai teman-teman
aktivis yang lulus nya lama, ingat BUKAN BERARTI MEREKA BODOH. Namun mereka
hanya ingin menikmati masa-masa menjadi mahasiswa, karena masa-masa mahasiwa
merupakan masa yang nikmat dan penuh warna. Ada pula faktor lain, karena mereka
beranggapan bahwa “dirinya” belum layak untuk lulus dengan indikator belum
banyak buku-buku yang dibaca dan dikuasai. Dari hal ini jelas bahwa mereka
mengedepankan aspek “kualitas keilmuan” daripada mengejar angka 3,9 sekian diatas kertas putih. Karena
faktanya IPK tinggi itu mudah dicari dengan hanya terus masuk kelas tanpa ada
keterangan sakit, izin atau bahkan alfa alias TIDAK MASUK TANPA KETERANGAN
(saya pastikan nilai-nya 4,0) karena yang menyebabkan seseorang IPK nya rendah
bukan karena faktor intelegensi, namun karena faktor KEHADIRAN/Administratif.
Hal ini tidak bisa diubah, karena sistem yang telah berperan, sehingga secerdas
apapun mahasiswa kalau dia tidak pernah masuk kelas jangan harap dapat IPK 3,5.
Boro-boro 3,5 dapat 3,0 pun tidak akan pernah. Kalau tak percaya coba
saja buktikan.
Dulu lulus SD masuk ke SMP harus mempunyai nilai yang tinggi,
begitupula dengan lulus SMA ke PT memerlukan nilai yang tinggi pula, meskipun
faktanya nilai saja tidak cukup. Akan tetapi perlu dan harus memiliki
sertifikat penghargaan/kejuaraan yang diraih saat di SMA baik dalam bidang
akademik maupun non akademik. Begitupula dengan lulus Kuliah, tidak cukup hanya dengan nilai yang baik, akan
tetapi yang lebih dari itu ialah harus memiliki nilai plus atau biasa disebut
dengan skill komparatif yang salah satunya mempunyai jiwa leadership.
Itu yang jauh dibutuhkan untuk masa depan, daripada hanya sekedar IPK tinggi
ataupun embel-embel yang lain.
Penulis teringat nasihat dari Prof. Anis Baswedan saat seminar di
UGM Yogyakarta tahun 2015 yang lalu bahwa “Kemampuan belajar” menjadi satu
kunci, bukan “kemampuan menguasai suatu bidang”. Karena ketika lulus, mahasiswa
belum tentu melakukan dan berhadapan dengan bidang yang digelutinya saat
masa-masa kuliah. Namun kemampuan dalam belajar akan membuat mahasiswa menjadi
pembelajar terus menerus, sehingga mempunyai peluang untuk terus mengembangkan
diri dan meningkatkan kontribusi disekelilingnya. Sehingga saat-saat menjadi
mahasiswa seperti ini jangan hanya disebut sebagai “masa kuliah nan masa muda
semata” namun harus dijadikan sebagai spirit untuk “terus mengembangkan diri
secara optimal dan berkelanjutan”. Jika hal ini dilakukan, maka InsyaAllah “jalan
kedepan akan jauh lebih lebar, jauh lebih menantang, dan akan menemukan
simpul-simpul baru kebahagiaan yang membanggakan termasuk dalam memperluas
jaringan”.
Tulisan ini bukan berarti mengesampingkan hal-hal akademik, seperti
IPK. Karena faktanya IPK juga penting namun harus diimbangi dengan softskill
dan pengalaman yang lain. Penulis hanya ingin membukakan “sedikit” cakrawala
dan paradigma berpikir ala anak-anak aktivis yang seharusnya dipahami oleh
kalangan akademis seperti dosen dan masyarakat pada umumnya agar tidak
menjustifikasi anak-anak aktivis sebagai mahasiswa yang malas dan terkenal
dengan lulus kuliah “lama”. Coba lihat 10-20 tahun yang akan datang, siapa yang
lebih banyak berkontribusi nyata untuk Indonesia. Mahasiswa aktivis-kah atau
mahasiswa yang hanya “Mencerdaskan dirinya sendiri” yang acuh terhadap realitas
sosial???
Penulis merupakan,
*Kader HMI Komisariat Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
*LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) UIN Sunan Kalijaga
*UKM JQH Al Mizan UIN Yogyakarta
*PLD UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
*Komunitas Dialektika LARIS PAI UIN Sunan Kalijaga
*Kader Pemuda Inti Anti Narkoba 2015
*KNPI Sewon
*IPNU IPPNU Sewon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar