MEMUPUK SPIRIT ENTERPRENEURSHIP SEJAK DINI
Oleh : Mukaromah Asy-Syarmidi
“Nak, kalau kamu jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetap
usaha. Harus punya usaha sampingan agar hatimu tidak selalu berharap dan
menggantungkan pemberian orang karena usaha yang dihasilkan dari keringat
sendiri itu barokah” (KH.
Maimun Zubair).
Motivasi KH. Maimun Zubair bahwa manusia jangan hanya berharap dan menggantungkan dirinya menjadi seorang PNS
namun harus di-imbangi dengan senantiasa mengasah dan mengembangkan skill
kewirausahaan. Mari kita menengok sejarah, bahwa profesi yang pertama kali
dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad ialah berdagang. Dalam sabda-Nya bahwa berdagang
merupakan salah satu diantara pekerjaan-pekerjaan baik yang dicontohkan
Rasulullah kepada ummat-ummat nya.
Berdagang/
ber-wirausaha merupakan sebuah konsep, gagasan dan atau ide yang dimiliki oleh
setiap manusia untuk mengatur,
mengelola, mengembangkan, mewujudkan gagasannya menjadi sesuatu yang
nyata/kongkrit serta mempunyai mental untuk menanggung risiko dari usaha yang
dijalankan nya. Ide/gagasan tersebut dapat dimiliki oleh setiap manusia. Karena
memang setiap manusia dianugrahi Allah dengan potensi fisik dan akal yang amat
sangat luar biasa. Dengan anugrah potensi itulah, manusia bisa tetap
mempertahankan eksistensinya sebagai ’ibad yang menghambakan diri kepada Allah
serta sebagai khalifatullahu fil ardi yang bertugas nguri-uri dan
memakmurkan bumi, termasuk untuk mengembangkan ide berwirausaha.
Sama halnya
ketika kita berbicara mengenai leadership atau jiwa kepemimpinan. Hal
itupun juga dimiliki oleh setiap insan, karena memang setiap manusia adalah
pemimpin, sebagaimana dalam hadist mengatakan bahwa : kullukum ra’in, wa
kullukum mas’uliyyatun ‘ala ro’iyyatihi. Sama halnya dapat dikatakan bahwa setiap
manusia mempunyai potensi untuk menjadi pengusaha, tergantung dari seberapa
optimal dalam menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.
Tentu untuk
menjadi pengusaha, manusia harus mengetahui kelemahan dan kelebihan
dirinya. Hal itu dimaksudkan agar manusia mampu mengembangkan suatu usaha
berdasar pada jobdes (bidang keahliannya).
Ketika si A mempunyai kelebihan dalam bidang IT maka sebaiknya mengembangkan
usaha yang berbau IT/teknologi, seperti : membuka warnet, fotocopy-an,
warung ketik, teknisi komputer, service laptop dsb. Begitupula si B yang
mempunyai skill dalam hal leadership manajerial, mungkin bisa membuka
lembaga private (bimbingan belajar), pelatihan kepemimpinan, dsb.
Penting bagi
setiap manusia mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya. Ketika mempunyai
kelebihan dalam satu bidang, maka kembangkanlah. Begitupula ketika ingin
mengembangkan bidang-bidang lain, maka penting untuk mengikuti
pelatihan-pelatihan, agar nantinya bisa hebat dalam segala bidang.
Seseorang yang
kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan berarti hanya menguasai
satu bidang keilmuan saja yang berkaitan dengan ilmu Agama Islam. Akan tetapi,
dalam kurikulum juga di-imbangi dengan mata kuliah ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu
lain yang mendukung pengembangan diri. Seperti halnya ilmu psikologi, ilmu filsafat
dan ilmu kewirausahaan. Sehingga ketika mempelajari banyak hal, maka wawasan akan
semakin luas dan lebih bijak dalam menanggapi suatu hal. Dalam hal ini,
pemerintah sudah mendukung pengembangan ilmu mahasiswa dalam hal kurikulum.
Didalam kurikulum PAI terdapat mata kuliah Kewirausahaan, diharapkan agar mahasiswa
mempunyai ilmu dan wawasan terkait dengan kewirausahaan agar nantinya dapat
menjadi enterpreunership yang tidak hanya berharap dan menggantungkan dirinya
menjadi PNS.
Manusia bisa
hebat dalam segala hal dengan syarat. Syarat tersebut antara lain adalah
bersungguh-sungguh, ulet, tekun, rajin, pantang menyerah, tanpa mengenal lelah,
semangat, bijak, jujur serta visioner dalam belajar segala hal. Begitupula
ketika ingin mempelajari kewirausahaan. Hal-hal yang telah penulis sampaikan
tadi merupakan kunci awal untuk menjadi seorang PENGUSAHA.
Banyak dijumpai,
alumni Tarbiyah menjadi pedagang sukses, pebisnis sukses, mempunyai properti dan
berbagai macam usaha. Sehingga tak jarang pula banyak alumni Tarbiyah disamping
menjadi dosen pun juga sebagai pengusaha. Jiwa enterpreunership seharusnya ada
dalam setiap mahasiswa. Karena memang mahasiswa tidak bisa hanya mengandalkan
pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah (Negara). Lowongan PNS, BUMN, Pegawai
Swasta sangat minim dan terbatas, padahal yang mendaftar sangat banyak bahkan
membludak.
Hal tersebut
dapat dilihat bahwa fakultas tarbiyah dengan jurusan PAI, PBA, MPI, PIAUD, PGMI tidak hanya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,
akan tetapi kini sudah banyak sekali universitas baik negeri maupun swasta yang
membuka jurusan-jurusan tersebut. Sehingga setiap tahun banyak pula wisudawan dan wisudawati
PAI (misalnya) dari berbagai macam universitas memperebutkan dunia kerja sebagai
guru/pendidik. Padahal tidak semua sekolah membutuhkan guru PAI (karena guru
PAI di sekolah tersebut masih ada). Dan jika hanya mengandalkan lowongan CPNS,
bisa jadi setiap tahun hanya ada kuota 100 untuk guru PAI, dan yang mendaftar
lebih dari 1000 orang. Itu artinya, dunia semakin kompetetif. Hanya manusia
unggul yang mempunyai kompetensi, skill komparatif dan modal intangible capital
lah (modal yang tidak kasat mata yang berupa niat, kemauan, kerja keras,
semangat, ghirah dan azam) yang akan tetap eksis melangsungkan kehidupannya.
Setiap manusia
mempunyai peluang dan kesempatan yang sama untuk berubah. Dari yang buruk
menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik serta dari yang kurang kreatif
dan produktif menjadi lebih kreatif dan produktif dengan cara berlatih dan
terus mencoba. Kunci dalam berwirausaha ialah berani mengambil risiko.
Pengusaha hebat bukanlah mereka yang penakut, akan tetapi mereka yang berani
mencoba dan menjelajahi hal-hal baru. Ketika seorang pengusaha berhasil
menakhlukan satu bidang, misal dalam bidang pendidikan. Maka pengusaha tersebut
akan mencoba hal-hal baru seperti terjun daam bidang properti. Tak ayal banyak
dijumpai pengusaha hebat dalam segala bidang, karena mereka tidak cepat puas
dengan apa yang didapat. Justru mereka dare to outoff the right track
to be win.
Senada dengan
hal itu, manusia pun juga jangan cepat puas dengan apa yang sudah didapat.
Tidak cepat puas bukan berarti tidak bersyukur dengan anugrah yang Allah
berikan. Akan tetapi, sebagai manusia harus mengimplementasikan wujud syukur
tersebut dalam menjelajahi banyak hal, termasuk enterpreuner. Tidak
menjadi persoalan bila ada orang-orang yang bercita-cita menjadi “Abdi
Negara” sebagai guru atau dosen, namun akan lebih baik lagi jika dikembangkan
jiwa enterpreuner sesuai dengan bakat dan minat kita. Sebagai contoh, Dahlan Iskan (lahir di Magetan, Jawa Timur, 17 Agustus 1951 yang merupakan
Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Selain sebagai direktur PLN,
beliau juga merukan sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati
dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan
oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network
(JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia yang memiliki 134
surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia.
Kunci pengusaha
adalah mempunyai daya kreatif dan inovatif yang visioner. Banyak
mahasiswa-mahasiswa di Indonesia yang mempunyai ide cemerlang membuat aplikasi
yang berbasis digital (sebagai wadah untuk penjualan online dan pelayanan
masyarakat) akhirnya booming dan menghasilkan keuntungan yang sangat besar.
GOJEK, GRAB, SHOPIE dsb merupakan aplikasi digital yang dibuat oleh
maahasiswa-mahasiswa yang mempunyai daya kreatif yang luar biasa. Contoh
sederhana, kala itu ada seorang anak yang sama sekali tidak mempunyai modal
(materi berupa uang) untuk mendirikan sebuah restaurant di bawah kampus.
Akhirnya ia memutar otak dan menemukan ide cemerlangnya, kemudian ia mengkonsep
lalu membuat proposal guna chemistry dan kerjasama kepada konglomerat.
Singkat cerita, kontrak kerjasama tersebut di-acc dan kemudian cair-lah
dana untuk membangun restaurant dibawah kampus tersebut. Begitulah kiranya,
untuk menjadi pengusaha tidak selamanya harus mempunyai modal uang terlebih
dahulu. Namun berawal dari menemukan ide dan mengembangkan konsep lah
akhirnya cita-cita menjadi pengusaha terealisasikan.
Beberapa bulan yang
lalu, penulis tertarik me-ngobrol dengan seorang laki-laki penjual donat yang
keliling di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Obrolan singkat tersebut
berawal ketika penulis melontarkan pertanyaan “apa motivasi jenengan
hidup mas”?. Beliau menjawab, motivasi saya adalah membahagiakan kedua
orangtua saya, mbak. Kemudian saya tanya, omset penghasilan bersih jenengan per
bulan berapa mas? Dengan tersenyum dia menjawab, ya kira-kira 2,8 juta
mbak/bulan. Batin saya “wah ngalah-ngalahi PNS saja, “ hehe. Doakan ya mbak,
semoga saya bisa lanjut S2 dan cita-cita saya menjadi pengusaha mbak, ungkap
dia. Meskipun begitu, jangan pernah meremehkan orang, ternyata dia sudah
Sarjana. Begitulah hidup, hidup itu tidak serumit apa yang dipikirkan,
karena yang rumit adalah “gengsi” kita. Menjadi pengusaha harus tidak boleh
gengsi. Sebagaimana pesan Allah : “lakukanlah pekerjaan apapun dengan syarat
HALAL.
Marilah kita
bersama-sama mengembangkan jiwa enterpreunership sebagai bekal untuk mengarungi
kehidupan, karena kita tidak bisa selamanya menggantungkan negara (read :
berharap PNS). Ubah paradigma menjadi PNS dengan mari berwirausaha, karena
tugas kita pun juga sebagai problem solving, agent of change, agent of
social control yang mempunyai peran dan tanggungjawab untuk mensejahterakan
masyarakat dan lingkungan agar terbebas dari penjara kemiskinan dengan
berwirausaha.
Penulis berharap, semoga
ilmu kewirausahaan juga diajarkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah menegah
bawah, atas dan PT negeri maupun swasta, mengingat amat sangat penting sekali
untuk menyadarkan dan menumbuhkembangkan motivasi berwirausaha dikalangan
pelajar dan mahasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar