HAKIKAT PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA
Oleh Mukaromah Asy Syarmidi
Satu hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 9 Januari 2018 didepan
bangunan megah nan mewah ada seorang anak kisaran umur 20 th, ia berlari
kencang sekencang-kencangnya dan mencium tangan seorang ibu yang (kira-kira)
berusia 39 tahun, memakai sepatu, berpakaian rapi dan ‘kelihatanya’
berpendidikan formal. Anak itu mengucap ‘minta maaf’ sambil penuh penyesalan
dan butuh dampingan psikologis (seharusnya di ayem-ayemi). Namun ibu itu
berkata kasar sambil mendoakan anak itu dengan doa (yang menurut saya) sangat
buruk dan tidak etis diucapkan oleh seorang yang ‘berpendidikan’. Beribu-ribu
maaf terlontar dari bibir anak itu dengan tetesan air mata. Sedangkan ibu itu
tetap’ngotot’ dengan amarahnya yang meldak-ledak dan tetap terlontar dari
bibirnya doa-doa yang jelek. Karena tidak tahan, anak itu pergi berlari dan
kemudian meninggalkan tempat itu.
Saya sebagai penulis kisah diatas (berdasar realita empirik)
bergumam dalam hati, kok tega-teganya sseeorang marah-marah kepada orang orang
lain, menyakiti hatinya, bahkan mendoakan anak tersebut dengan doa yang sangat
jelek. Apakah ibu itu tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, apakah ucapan
yang terlontar tersebut diluar kesadaran dan kendali-nya? Ibu itu tidak tau, anak
tersebut siang-malam berkumpul dengan orang-orang shaleh nan berilmu, ia selalu
meminta doa kepada orang-orang yang ia bantu dan ia temui bahkan orang yang
baru di kenalpun ia ajak untuk saling mengingat dan saling mendoakan, ia
mengabdikan dirinya dijalan Allah dan bukankah Allah telah berjanji bahwa orang
yang memuliakan agama-Nya akan Allah muliakan? Allah saja memuliakan anak
tersebut, lalu apakah pantas seorang ‘manusia biasa’ memarahi, berkata kasar
dan mendoakan yang jelek-jelek?
Penulis teringat pesan dari Ayahanda tercinta (Alm), bahwa salah
satu dari banyak hal kunci hidup ialah berkata baik. Karena ucapan adalah doa.
Bapak juga mengilustrasikan bahwa hidup ini saling terkait antara satu dengan
yang lain. Antara sub sistem satu dengan sub sistem yang lain saling berkorelasi
sehingga membentuk suatu sistem yang saling bersinergi. Hidup bukan soal
pendidikan tinggi atau tidak, bukan soal seberapa kaya harta dan seberapa mulia
nasab seorang manusia. Orang lain/masyarakat tidak memandang hal itu, namun
mereka melihat ‘seberapa baik akhlaq kita’, seberapa besar kita memuliakan dan
memanusiakan manusia secara manusiawi. Begitupula hidup, penulis percaya dengan
adanya berkah dalam hidup. Hidup enak, urusan-urusan dipermudah oleh Allah,
istri/suami enak dipandang mata (nyenengke), mempunyai anak keturunan
yang shaleh dan cerdas hati, iman, pikiran dan tindakan, badan sehat, punya
saudara banyak dll. Hal itu bukan merupakan sesuatu yang instan dan begitu saja
terjadi dalam kehidupan seorang manusia. Namun tentu karena ada “sebab yang
menyebabkan suatu akibat”. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam banyak ayat
yakni didalam Qs. Al Isra’ : 7, Qs. Az-Zalzalah :7-8,
Qs. Luqman : 16, Qs. Al Anbiya’ : 7 tentang hukum kausalitas dalam kehidupan. Oleh
dasar itu, Allah senantiasa memerintahkan kepada hamba-hamba Nya agar berbuat
baik kepada makhluk-makhluk Nya, karena setiap perbuatan akan selalu dimintai
pertanggungjawaban oleh Nya. Adanya kemudahan dan kebahagiaan hidup yang
dijalani oleh seseorang karena berkah. Berkah itu ziyadatul khair (kebaikan
yang selalu bertambah). Tentu berkah tidak datang secara instan namun karena
perbuatan baik manusia dan doa dari orang-orang shaleh nan berilmu.
Sehingga tak ayal jika manusia merasa ‘terdzalimi’, hidupnya kacau
balau, tidak aman dan tidak tentram mungkin (bisa jadi) ia pun juga mendzalimi
orang lain, berbuat keji dan tidak baik kepada oranglain. Sehingga perbuatan
baik dan atau buruk BUKAN merupakan taqdir yang telah Allah gariskan kepada
manusia. Namun karena “kehendak bebas dari diri manusia itu sendiri”, sehingga
manusia-lah yang dapat mengusahakannya. Hal
ini Allah tegaskan dengan firman Nya dalam Qs. 'Ali
`Imran: 182, Qs. An-Nisa’: 40, Qs. Al-'Anfal : 51, Qs.Yunus : 44, Qs. Al-Haj: 10, Qs. Al-`Ankabut : 40
bahwa Allah tidak pernah mendzalimi dan berbuat kejelakan kepada manusia, namun
manusia itu sendiri yang berbuat jelek kepada dirinya. Tentu term “kepada
dirinya” bukan berarti secara kongkrit manusia mencabik-cabik tubuhnya sampai
keluar darah, akan tetapi karena manusia berbuat keburukan dan mendzalimi orang
lain sehingga hal itu berimbas kepada diri manusia tersebut.
Inilah yang terkadang sering dilupakan oleh mayoritas orang (termasuk
saya). Adanya sesuatu karena adanya sesuatu yang lain. Jika hidup ingin
dipermudah oleh Nya, maka permudahlah urusan orang lain, jika ingin disayang
dan dicintai Allah maka sayangilah, hormatilah, muliakanlah dan cintailah
makhluk-makhluk Nya. Inilah visi dari Islam, yakni Rahmatan lil ‘alamin. Bahkan
Allah SWT memberikan rambu-rambu kepada manusia bahwa ibadah (Hubungan manusia
dengan penciptaNya) tidak-lah sempurna, jika tidak dibarengi dengan muamalah
(hubungan sesama manusia) yang baik.
Noorcholis Madjid (Bapak HMI Indonesia, pemikir, cendekiawan dan
intelektual) mengatakan bahwa wujud dari Iman kepada Tuhan ialah memberikan
keamanan, kenyamanan dan pelindungan kepada orang lain. Sehingga Iman tidak
hanya dimaknai sekedar Percaya kepada Tuhan. Namun yang lebih utama dan pertama
ialah mentransformasikan nilai-nilai keimananan dan keislaman itu dalam
kehidupan sehari-hari.
Jika hal itu ditelisik lebih dalam sesungguhnya Inti dari semua ajaran
agama adalah tentang kebaikan dan kemanusiaan. Marilah kita senantiasa berbuat
baik dan memanusiakan manusia secara manusiawi. Jangan pernah menyakiti
hatinya, karena kita tidak akan pernah mengetahui “nasib” orang lain seperti
apa dan bagaimana, barangkali kita suatu saat butuh bantuannya, kan malu kalau
udah nyakitin hatinya. Hehe.
Terakhir,
saat kita marah dan kesal kepada orang lain, Ingatlah bahwa bisa jadi hati-nya
terpaut dan terpatri kepada Allah SWT dan ia merupakan orang yang dekat dan
sangat dekat dengan-Nya.
Anak
jaman now mengatakan, meski sakit hati itu ibarat kaca pecah dan dapat
disambung lagi tapi tidak bisa kembali seperti sedia kala, namun memaafkan jauh
lebih besar manfaatnya bagi diri setiap manusia. Karena kebahagiaan berawal
dari memaafkan, dan kebahagiaan itu letaknya ada didalam diri manusia dengan
cara mengolah hati, akal, pikiran dan iman dengan sebaik-baiknya sehingga
memanifestasikan tindakan (Akhlaq) yang baik dalam segala lini kehidupan untuk
menuju insan paripurna. Seperti ngendikanipun dosen ilmu kehidupan saya, Dr.
Radino. "Marilah kita belajar seperti air mengalir yang selalu mengaliri apapun
yang ada disekitarnya, artinya membawa kesejukan dan kedamaian bagi
makhluk-makhluk Nya. Itulah hakikat kehidupan dan kebahagiaan sejati".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar