Dobalan, 21 Agustus 2016.
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Melalui status ini, pertama sy ingin minta maaf mengenai status yg sy
update kemarin “how about Pacaran” dan sudah ku duga akan menimbulkan
pro dan kontra, it’s no problem. Dan yang kedua sy ingin klarifikasi
mengenai apa yg sy tulis agar tidak di mamah mentah oleh org yg sering
“agree” (membenarkan) apa yg sy tulis, Justru latarbelakang ku menulis
ini karena “membaca” status orang yang muncul di beranda fb ku. Senang
ada yang mengkritisi meski singkat namun melekat dan tidak menjurus pd
status kulo, hanya saja mukaromah peka. Wkwkwk
Kembali ke topik
pembicaraan, coba kita re-interpretasi Qs.Al-Isro’: 32. Seingat sy dulu
ketika pelajaran tafsir, ketika Allah menurunkan ayat Al Qur’an yang
berisi Larangan, ayat tsb tidak langsung menjurus pada sesuatu hal yang
dituju, akan tetapi bertahap (menyebutkan qorinah atau indikasi trhdp
sesuatu hal, kenapa sih kok dilarang?) Jadi Qolil faqolil (dikit demi
sedikit) alon-alon ngoten. Contoh yang diberikan Kyai wktu menjelaskan
itu ialah ttg tidak diperbolehkan nya sholat dalam keadaan mabuk. Jadi
tdk langsung mngatakan “dilarang sholat dalam keadaan mabuk” tetapi
dijelaskan dulu kenapa kok dilarang? “karena akan menghalangi dalam
mengingat Allah”. Nah, begitupula pemahaman sy ttg Al-Isro’. Indikasi
Zina itu apa saja. Tidak perlu sy jabarkan, pasti (red:pembaca) sudah
paham dan mengerti.
Namun hal tersebut tentu tidak lepas dr peran
manusia itu sendiri. Dan sy yakin, didunia ini tidak ada manusia yang
sempurna dalam artian TIDAK PERNAH melakukan maksiat. Yaa karena hakikat
manusia ditinjau dari kata “Insan” berasal dari kata “Nasiya” yang
berarti lupa atau salah. Manusia lupa terhadap sesuatu hal disebabkan ia
kehilangan kesadaran terhadap sesuatu, dengan demikian kata “nasia”
menunjukkan bahwa sifat yang melekat dalam diri manusia berbuat salah
dan lupa. Namun perbedaan seseorang dengan yang lainnya bukan terletak
pada “salah dan lupa”, tetapi terletak pada sejauh mana seseorang
MENYADARI kesalahan dan kelupaan nya, lalu ia BERUSAHA memperbaiki diri
terus menerus agar menyedikitkan perbuatan salah dan lupa nya
(Maragustam,Filsafat Pend.Islam, 2015). Nahh jika dihubungkan dengan
Konteks Pendidikan, maka seseorang selalu mengasah intelektual dan
hatinya agar secara terus menerus keluar dari kesalahan menuju perbaikan
kualitas hidup. Kulo tidak mengatakan bahwa pacaran itu halal ataupun
haram. Kembali saja pada diri sendiri, manusia mempunyai potensi yang
luar biasa diantara nya adalah potensi Insting, Indra, Akal, Hati dan
potensi Agama. Potensi Hati dan Agama-lah yang jelas membedakan antara
manusia dengan makhluk yang Lainnya. Dalam tanda kutip (Istafti Qolbaka)
karena Qolbu yang sehat bagaikan Raja (Pusat Kesadaran moral) memiliki
kemampuan membedakan mana yang baik dan buruk serta mendorong manusia
memilih hal yang baik dan meninggalkan hal yang buruk. Hanya diri kita
sendirilah yang dapat Menyetir kemana langkah yang akan kita tuju. Yaa
Meskipun Allah membekali manusia dengan Syahwat (hawa nafsu), ketika
mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan segala cobaan yang ada
serta godaan syaitan yang selalu menyertainya, maka manusia akan lebih
baik dan lebih mulia daripada malaikatullah. Itu buktinya bahwa Manusia
itu Luarr Biasa..
Berhubung status yg kemarin sy hapus, dan masih sy
ingat Kemarin di komentar ada yang sharing tentang jodoh. Kulo berikan
opini yang dulu pernah sy diskusikan dengan Mas Senior (just friend
forever) yang sebentar lagi beliau ameh lulus dr magister Islamic
Studies of UIN Jogja, mohon doanya untuk sahabat saya itu, semoga
urusan2 dipermudah oleh Nya, karena beliau org baik. Jangan lupa klu
nikah, undangan nya sampai Dobalan loh ya? Wkwk.
Opini ttg Jodoh
sperti ini. Jodoh itu seperti melempar batu. Ketika kita melempar batu,
kemanapun arah batu yang kita lempar akan tepat sesuai sasaran, Nah
terlemparnya batu tentu ada campur tangan dari Allah. Artinya kita
sebagai manusia bebas menentukan apa yang kita usahakan. Allah
memberikan kuasa kepada kita untuk menentukan taqdir kita jodoh kita.
Jatuhnya batu bukan hanya sekedar hukum alam, tapi kita yang menentukan
arahnya. Tapi tetap Allah yang menentukan apa yang kita usahakan. Hanya
saja yang utama adalah usaha, baru kemudian doa. Kalau sudah keduanya
baru menunggu keputusan Allah. Dan sy inga, dulu pas semester 1 pernah
bertanya kepada Dr.Karwadi, beliau adalah dosen favorite saya. Yang
intinya ialah Jodoh yang dimaksud dengan Takdir Mubrom ialah Laki-laki
pasangan nya perempuan begitu pula sebaliknya. Namun, dengan siapa kita
berjodoh (nama, rumah dsb) itu adalah taqdir Muallaq. Sebenarnya jodoh
itu tak terduga, yang penting selalu Berbenah dan Memataskan diri agar
dipertemukan Allah dengan jodoh yg baik, karena pd hakikatnya Jodoh
adalah Cerminan dari diri pribadi manusia seperti yang termaktub dlm
Qs.An-Nur: 26. Kuncinya kedua insan tersebut saling bilang “IYA” maka
insyaallah akan sampai di Pelaminan. Hehehe :D
Mukaromah Nitip doa yaaaaa…….Saling mendoakan dan saling berbagi ilmu.
And the last, I’m so sorry for all my mistakes because human being. Innal insaana mahaalul khotho’i wan Nisyaan.
SD N Kepuhan - MTs N Gondowulung Bantul - MAN Wonokromo Bantul - PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (PP.An Ni'mah Kanggotan Bantul, Yogyakarta). Hidup adalah Perjalanan Mencari Ilmu yang Tiada Habisnya. Pendidikan adalah Merubah Cara hidup, Merubah Mindset, Menemukan Jati diri serta Menemukan Rencana Tuhan dalam diri. Long Life Education...... Man Jadda Wajada wa Man Saaro 'ala Darbi Washola !
Jumat, 26 Agustus 2016
فَخرَالفَتَاتِى بِالعُلُومِ وَالأَدَبِ ، لاَ بِالجَمَالِ
وَالحَرِيرِ
وَالذَّهَبِ.
وَالذَّهَبِ.
"Nok, bapak tidak bisa meninggalkan
kalian (aku dan kedua kakakku) dengan harta yang berlimpah, itulah kenapa bapak
me-mondokkan dan menyekolahkan kalian, karena dengan ilmu-lah kalian akan
mendapatkan segalanya, dengan ilmu kalian akan menggenggam semuanya, dengan
ilmu kalian akan tentram, dengan ilmu kapan dan dimanapun kalian berada, akan
berharga dan dengan ilmu kalian akan dapat bermanfaat untuk org lain”. Said
dad.
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَافَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَافَعَلَيْهِ باِلعِلْم.
mukaromah orang biasa yang tidak punya sesuatu untuk dibanggakan, yang memang seharusnya tidak perlu dan tidak pantas untuk dibanggakan, hanya bermodalkan niat, tekad dan Semangatt untuk mewujudkan sesuatu yang “Luar biasa” dengan cara yang “apa adanya”. Hanya saja, bapak dari kecil selalu mengajarkanku bagaimana “berjuang, kerja keras dan bersungguh-sungguh” untuk mendapatkan sesuatu hal. Dalam mendidik anak-anaknya, Bapak selalu bersikap ‘adalah (adil). Sejak SD-SMP bahkan Pondok pesantren pun “sama” dengan kedua kakaku. Yang membedakan, aku hanyalah sedikit beruntung daripada kedua kakakku. Setelah selesai mondok, mereka langsung “nikah”. Hingga kini aku menginjak semester 3 di PTN yang sejak dulu ku impikan, yang selamanya tidak akan pernah dirasakan oleh kedua mbak ku. Alhamdulillah ya Allaaah.
Teringat ngendikane bapak “kalau kamu pengen sesuatu hal, dan ternyata itu tidak akan pernah kamu rasakan (pada dirimu) sendiri, maka NIATKAN lah keinginanmu (mimpi) itu untuk dzurriyyah-dzurriyyahmu kelak. Ada 1 mimpi yang tidak akan pernah terealisasikan pd diriku sendiri, yakni “Menuntut Ilmu di Gontor” , maka dari itu bismillah semoga kelak dzurriyyah2 ku, dan atau putra-cucu nya mbak2 ku bisa merealisasikan Mimpiku itu. Aamiin.. Saatnya Mencetak Keturunan dengan Berbenah diri dan Mengindahkan Cetakannya


انّ اللّه فى ظنّ عبدهِ
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَافَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَافَعَلَيْهِ باِلعِلْم.
mukaromah orang biasa yang tidak punya sesuatu untuk dibanggakan, yang memang seharusnya tidak perlu dan tidak pantas untuk dibanggakan, hanya bermodalkan niat, tekad dan Semangatt untuk mewujudkan sesuatu yang “Luar biasa” dengan cara yang “apa adanya”. Hanya saja, bapak dari kecil selalu mengajarkanku bagaimana “berjuang, kerja keras dan bersungguh-sungguh” untuk mendapatkan sesuatu hal. Dalam mendidik anak-anaknya, Bapak selalu bersikap ‘adalah (adil). Sejak SD-SMP bahkan Pondok pesantren pun “sama” dengan kedua kakaku. Yang membedakan, aku hanyalah sedikit beruntung daripada kedua kakakku. Setelah selesai mondok, mereka langsung “nikah”. Hingga kini aku menginjak semester 3 di PTN yang sejak dulu ku impikan, yang selamanya tidak akan pernah dirasakan oleh kedua mbak ku. Alhamdulillah ya Allaaah.
Teringat ngendikane bapak “kalau kamu pengen sesuatu hal, dan ternyata itu tidak akan pernah kamu rasakan (pada dirimu) sendiri, maka NIATKAN lah keinginanmu (mimpi) itu untuk dzurriyyah-dzurriyyahmu kelak. Ada 1 mimpi yang tidak akan pernah terealisasikan pd diriku sendiri, yakni “Menuntut Ilmu di Gontor” , maka dari itu bismillah semoga kelak dzurriyyah2 ku, dan atau putra-cucu nya mbak2 ku bisa merealisasikan Mimpiku itu. Aamiin.. Saatnya Mencetak Keturunan dengan Berbenah diri dan Mengindahkan Cetakannya
انّ اللّه فى ظنّ عبدهِ
Dari sini, ku belajar bahwa Peran orangtua amat mendominasi
perjalanan hidup anaknya. Karena pada
Hakikatnya, Yang membuat kita mulia dan berharga, bukan terletak pada
Kecantikan/kegantengan Fisik, bukan pula terletak pada Nasab (anak kiyahi/nyai),
bukan pula terletak pada kekayaan harta. Melainkan terletak pada Perjuangan dan
Kerja keras kita. Dari diri kita-lah, akan tercetak generasi-genarasi Bangsa
selanjutnya. Generasi2 yang Agamis dan
Nasionalis. Yuk…mulai mencetak keturunan J
Bapak dan ibu, kalian berhasil mendidik kami. Kini saatnya,
kulo mencetak generasi selanjutnya dengan dimulai dari Memperbaiki dan
Mengindahkan cetakan nya (diriku).
Terakhir, ketika aku mengeluh, merasa lelah, penat dan
malas,Bapak selalu menasihatiku dengan “Hanya dirimu sendirilah yang Mampu
Merubah dirimu Sendiri”.
Selasa, 09 Agustus 2016
SUARA SANTRI UNTUK NEGERI
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
bukan karena benci ataupun tidak hormat kepada ulil amri, juga bukan men-judge. Ini hanyalah Untaian kata dari Mahasiswi Semester 3 dg segala kelemahan dan kekurangan nya, utk itu undzur maa qoola wa laa tandzur man Qoolaa dg berlandaskan pd Qs.An-Nisaa’: 1, al-A’raf : 189, Fathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya iman dn taqwa yg membedakan nya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.
Biasanya sy tdk banyak komentar mengenai kebijakan2 Pemerintah. Meskipun kebijakan ini baru wacana. Sebelumnya saya minta maaf, Tanpa mengurangi rasa hormat.
Bagaimana nasib Santri jika seharian full di habis kan di Sekolah? Dari jam 07.00 smpe pukul 17.00 ? Padahal setiap ba'da Ashar entah itu di Pondok pesantren yg Salafi maupun Qur'an pasti ada yg namanya Madrasah Diniyah, dan itu WAJIB diikuti oleh semua santri, tanpa terkecuali.
1. Argumen Full Day school : Tujuan full day school utk kemaslahatan ummat agar anak2 tdk menghabiskan sisa wktu disekolah utk hal2 yg tdk bermanfaat shingga dikhawatirkan terjrumus dalam pergaulan bebas (narkoba,pacaran tingkat dewa,mabuk2an) dsb lalu dicanangkan kebijakan full day school utk penanaman karakater anak (pendidikan karakter).
Opiniku : kl memang tujuan nya sprti itu, alangkah baiknya dimulai dr hal kecil dlu yakni PENAMBAHAN JAM MAPEL AGAMA disemua jenjang. Selain itu juga, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Kemudian guru juga tdk hanya mentransfer mata pelajaran saja akan tetapi yg lebih dr itu mjd Motivator, dan sebelum memulai pelajaran sebaik nya guru memberikan cerita tauladan (kisah org2 hebat; Nabi, Sahabat, ilmuan muslim dsb), selain itu juga di lingkungan sekolah harus membiasakan dlm mengimplementasikan nilai2 agama dn pancasila. tanpa harus sy jabarkan, pasti kalian(red: pembaca) sudah pd faham dn mengerti.
Bagaimana mungkin anak akan tau dan paham Etika (norma) kl jam pelajaran Agama saja hanya max.2x dalam seminggu, itupun masih lumayan. Ada juga sekolah yg mapel agama hanya 1x dalam seminggu..miris bukan?
argumen Full Day school 2 : Maksud dr full day school bkn belajar pelajaran seharian suntuk tp mengisi dg kegiatan ekstrakurikuler yg mendukung pembentukan karakter anak.
Opiniku : Menurut pengalaman ku, Sejak MTs smpe Aliyah, ekstrakurikuler itu selalu ada..ada ekstrakurikuler wajib dn pilihan. Yg wajib antara lain adl Pramuka, dan ekstrakurikuler pilihan diantaranya Tahfidz, qiroah, volli, basket, paduan suara, arabic and english club, dsb. Menurutku itu udh program lama. Anak2 yg memiliki bakat ttu pasti akan memilih ekstrakurikeluer yg mendukung bakat nya tsb. Sehingga ia pnya skill komparatif, kuncinya tlaten dan nggak males2an..
Lalu yg nggak ikut eks.pilihan gimana? Yaa mungkin mereka sibuk, dipondok sudah ada kegiatan sendiri yakni diniyah. Ada juga anak yg takut ntar klu nggak ikut kegiatan pondok dita'zir atau ada juga yg berpendapat bahwa Waktu sekolah yaa pagi smpe siang. Klu sore wktunya Ngaji di pondok. Masing2 sudah ada waktunya sendiri2.
3. Argumen full day School 3 : tujuan nya utk menunggu orgtua yg lagi sibuk bekerja, agar ketika orgtua pulang anakpun juga pulang. Biar disekolah, anak ada yg menemani.
Opiniku : lihat dlu subjek nya. Iya mngkin itu dpt terjadi di daerah perkotaan yg highclass. Tapi beda di Desa. Setiap ba'da Ashar anak2 sll mengisi waktunya utk ngaji di TPA dsb. Begitupula dg gurunya, banyak yg pnya tanggungan ngajar ataupun privat. Sebenarnya jika memang itu kekhawatirannya, kita kembalikan lagi pd pendidikan dalam keluarga si anak. Karena Keluarga lah Pusat pendidikan pertama dan utama. Orgtua SALAH BESAR jika kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan si anak kpd guru, kemudian orgtua lepas tangan. Shingga mereka cuek bebek dg perilaku anak, bahkan tdk mengontrol anak. Mari, saling koreksi.
Lalu terkait dg ekstrakurikuler yg bertujuan Penanaman pendidikan karakter, saya setuju. tapi itu dibatasi dg waktu. Karena apa?kasihan anak Pondok. Jika full day school dilaksanakan dg berangkat jam 7 pagi pulang jam 5 sore. Apa tidak kasihan?lelah fisik bisa beristirahat, tetapi jika lelah Pikir??semuanya malah membuat down anak. Padahal Pendidikan mnurut Ki.Hajar Dewantara adalah Taman yakni berharap org yg dtg disitu sll senang dan tdk ingin jauh dr Taman tsb.
Jika melihat latar belakang bp.Muhajir, memang Pendidikan Muhammadiyah itu Bagus sekali. Dan saya sendiripun mengapresiasi sekali. Ada Boarding schoolnya juga, Namun yg sy tau, kebanyakan pondok muhammadiyah pasti sepaket dg sekolahnya, jd itu yg mmbuat segalanya efisien. Tetapi akan lebih baik lg, juga melihat pendidikan umum. Pondok non muhammadiyah tdk semua memiliki sekolah di dalamnya. Ada anak yg harus menempuh Jalan berkilo2 utk menuju dr pondok ke sekolah. Dan itupun harus berangkat pagi2 agar tdk telat ke sekolah. Belum pulangnya juga. Akn lebih bijak jika sebelum mengeluarkan kebijakan, melihat segala sesuatu itu dr berbagai perspektif dan paradigma. Memang yg namanya plus dan minus pasti ada, krn kembalikan lagi bahwa human being.
Bukankah Agama mengajarkan kita utk seimbang antara duniawi dan ukhrowi? Lihat Santri yg mencuri2 wktu disela2 kesibukannya utk nderes, utk nyetor hafalan, utk murojaah kitab dsb.
Problem pendidikan BUKAN HANYA tnggung jawab guru, orgtua dan mentri, tetapi tanggung jawab SETIAP WARGA NEGARA. Karena maju mundurnya bangsa, dilihat dr Pendidikan nya. Besar harapan, smg ada yg memperjuangkan Nasib "Santri".
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
bukan karena benci ataupun tidak hormat kepada ulil amri, juga bukan men-judge. Ini hanyalah Untaian kata dari Mahasiswi Semester 3 dg segala kelemahan dan kekurangan nya, utk itu undzur maa qoola wa laa tandzur man Qoolaa dg berlandaskan pd Qs.An-Nisaa’: 1, al-A’raf : 189, Fathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya iman dn taqwa yg membedakan nya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.
Biasanya sy tdk banyak komentar mengenai kebijakan2 Pemerintah. Meskipun kebijakan ini baru wacana. Sebelumnya saya minta maaf, Tanpa mengurangi rasa hormat.
Bagaimana nasib Santri jika seharian full di habis kan di Sekolah? Dari jam 07.00 smpe pukul 17.00 ? Padahal setiap ba'da Ashar entah itu di Pondok pesantren yg Salafi maupun Qur'an pasti ada yg namanya Madrasah Diniyah, dan itu WAJIB diikuti oleh semua santri, tanpa terkecuali.
1. Argumen Full Day school : Tujuan full day school utk kemaslahatan ummat agar anak2 tdk menghabiskan sisa wktu disekolah utk hal2 yg tdk bermanfaat shingga dikhawatirkan terjrumus dalam pergaulan bebas (narkoba,pacaran tingkat dewa,mabuk2an) dsb lalu dicanangkan kebijakan full day school utk penanaman karakater anak (pendidikan karakter).
Opiniku : kl memang tujuan nya sprti itu, alangkah baiknya dimulai dr hal kecil dlu yakni PENAMBAHAN JAM MAPEL AGAMA disemua jenjang. Selain itu juga, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Kemudian guru juga tdk hanya mentransfer mata pelajaran saja akan tetapi yg lebih dr itu mjd Motivator, dan sebelum memulai pelajaran sebaik nya guru memberikan cerita tauladan (kisah org2 hebat; Nabi, Sahabat, ilmuan muslim dsb), selain itu juga di lingkungan sekolah harus membiasakan dlm mengimplementasikan nilai2 agama dn pancasila. tanpa harus sy jabarkan, pasti kalian(red: pembaca) sudah pd faham dn mengerti.
Bagaimana mungkin anak akan tau dan paham Etika (norma) kl jam pelajaran Agama saja hanya max.2x dalam seminggu, itupun masih lumayan. Ada juga sekolah yg mapel agama hanya 1x dalam seminggu..miris bukan?
argumen Full Day school 2 : Maksud dr full day school bkn belajar pelajaran seharian suntuk tp mengisi dg kegiatan ekstrakurikuler yg mendukung pembentukan karakter anak.
Opiniku : Menurut pengalaman ku, Sejak MTs smpe Aliyah, ekstrakurikuler itu selalu ada..ada ekstrakurikuler wajib dn pilihan. Yg wajib antara lain adl Pramuka, dan ekstrakurikuler pilihan diantaranya Tahfidz, qiroah, volli, basket, paduan suara, arabic and english club, dsb. Menurutku itu udh program lama. Anak2 yg memiliki bakat ttu pasti akan memilih ekstrakurikeluer yg mendukung bakat nya tsb. Sehingga ia pnya skill komparatif, kuncinya tlaten dan nggak males2an..
Lalu yg nggak ikut eks.pilihan gimana? Yaa mungkin mereka sibuk, dipondok sudah ada kegiatan sendiri yakni diniyah. Ada juga anak yg takut ntar klu nggak ikut kegiatan pondok dita'zir atau ada juga yg berpendapat bahwa Waktu sekolah yaa pagi smpe siang. Klu sore wktunya Ngaji di pondok. Masing2 sudah ada waktunya sendiri2.
3. Argumen full day School 3 : tujuan nya utk menunggu orgtua yg lagi sibuk bekerja, agar ketika orgtua pulang anakpun juga pulang. Biar disekolah, anak ada yg menemani.
Opiniku : lihat dlu subjek nya. Iya mngkin itu dpt terjadi di daerah perkotaan yg highclass. Tapi beda di Desa. Setiap ba'da Ashar anak2 sll mengisi waktunya utk ngaji di TPA dsb. Begitupula dg gurunya, banyak yg pnya tanggungan ngajar ataupun privat. Sebenarnya jika memang itu kekhawatirannya, kita kembalikan lagi pd pendidikan dalam keluarga si anak. Karena Keluarga lah Pusat pendidikan pertama dan utama. Orgtua SALAH BESAR jika kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan si anak kpd guru, kemudian orgtua lepas tangan. Shingga mereka cuek bebek dg perilaku anak, bahkan tdk mengontrol anak. Mari, saling koreksi.
Lalu terkait dg ekstrakurikuler yg bertujuan Penanaman pendidikan karakter, saya setuju. tapi itu dibatasi dg waktu. Karena apa?kasihan anak Pondok. Jika full day school dilaksanakan dg berangkat jam 7 pagi pulang jam 5 sore. Apa tidak kasihan?lelah fisik bisa beristirahat, tetapi jika lelah Pikir??semuanya malah membuat down anak. Padahal Pendidikan mnurut Ki.Hajar Dewantara adalah Taman yakni berharap org yg dtg disitu sll senang dan tdk ingin jauh dr Taman tsb.
Jika melihat latar belakang bp.Muhajir, memang Pendidikan Muhammadiyah itu Bagus sekali. Dan saya sendiripun mengapresiasi sekali. Ada Boarding schoolnya juga, Namun yg sy tau, kebanyakan pondok muhammadiyah pasti sepaket dg sekolahnya, jd itu yg mmbuat segalanya efisien. Tetapi akan lebih baik lg, juga melihat pendidikan umum. Pondok non muhammadiyah tdk semua memiliki sekolah di dalamnya. Ada anak yg harus menempuh Jalan berkilo2 utk menuju dr pondok ke sekolah. Dan itupun harus berangkat pagi2 agar tdk telat ke sekolah. Belum pulangnya juga. Akn lebih bijak jika sebelum mengeluarkan kebijakan, melihat segala sesuatu itu dr berbagai perspektif dan paradigma. Memang yg namanya plus dan minus pasti ada, krn kembalikan lagi bahwa human being.
Bukankah Agama mengajarkan kita utk seimbang antara duniawi dan ukhrowi? Lihat Santri yg mencuri2 wktu disela2 kesibukannya utk nderes, utk nyetor hafalan, utk murojaah kitab dsb.
Problem pendidikan BUKAN HANYA tnggung jawab guru, orgtua dan mentri, tetapi tanggung jawab SETIAP WARGA NEGARA. Karena maju mundurnya bangsa, dilihat dr Pendidikan nya. Besar harapan, smg ada yg memperjuangkan Nasib "Santri".
Langganan:
Postingan (Atom)
