فَخرَالفَتَاتِى بِالعُلُومِ وَالأَدَبِ ، لاَ بِالجَمَالِ
وَالحَرِيرِ
وَالذَّهَبِ.
وَالذَّهَبِ.
"Nok, bapak tidak bisa meninggalkan
kalian (aku dan kedua kakakku) dengan harta yang berlimpah, itulah kenapa bapak
me-mondokkan dan menyekolahkan kalian, karena dengan ilmu-lah kalian akan
mendapatkan segalanya, dengan ilmu kalian akan menggenggam semuanya, dengan
ilmu kalian akan tentram, dengan ilmu kapan dan dimanapun kalian berada, akan
berharga dan dengan ilmu kalian akan dapat bermanfaat untuk org lain”. Said
dad.
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَافَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَافَعَلَيْهِ باِلعِلْم.
mukaromah orang biasa yang tidak punya sesuatu untuk dibanggakan, yang memang seharusnya tidak perlu dan tidak pantas untuk dibanggakan, hanya bermodalkan niat, tekad dan Semangatt untuk mewujudkan sesuatu yang “Luar biasa” dengan cara yang “apa adanya”. Hanya saja, bapak dari kecil selalu mengajarkanku bagaimana “berjuang, kerja keras dan bersungguh-sungguh” untuk mendapatkan sesuatu hal. Dalam mendidik anak-anaknya, Bapak selalu bersikap ‘adalah (adil). Sejak SD-SMP bahkan Pondok pesantren pun “sama” dengan kedua kakaku. Yang membedakan, aku hanyalah sedikit beruntung daripada kedua kakakku. Setelah selesai mondok, mereka langsung “nikah”. Hingga kini aku menginjak semester 3 di PTN yang sejak dulu ku impikan, yang selamanya tidak akan pernah dirasakan oleh kedua mbak ku. Alhamdulillah ya Allaaah.
Teringat ngendikane bapak “kalau kamu pengen sesuatu hal, dan ternyata itu tidak akan pernah kamu rasakan (pada dirimu) sendiri, maka NIATKAN lah keinginanmu (mimpi) itu untuk dzurriyyah-dzurriyyahmu kelak. Ada 1 mimpi yang tidak akan pernah terealisasikan pd diriku sendiri, yakni “Menuntut Ilmu di Gontor” , maka dari itu bismillah semoga kelak dzurriyyah2 ku, dan atau putra-cucu nya mbak2 ku bisa merealisasikan Mimpiku itu. Aamiin.. Saatnya Mencetak Keturunan dengan Berbenah diri dan Mengindahkan Cetakannya


انّ اللّه فى ظنّ عبدهِ
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَافَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَافَعَلَيْهِ باِلعِلْم.
mukaromah orang biasa yang tidak punya sesuatu untuk dibanggakan, yang memang seharusnya tidak perlu dan tidak pantas untuk dibanggakan, hanya bermodalkan niat, tekad dan Semangatt untuk mewujudkan sesuatu yang “Luar biasa” dengan cara yang “apa adanya”. Hanya saja, bapak dari kecil selalu mengajarkanku bagaimana “berjuang, kerja keras dan bersungguh-sungguh” untuk mendapatkan sesuatu hal. Dalam mendidik anak-anaknya, Bapak selalu bersikap ‘adalah (adil). Sejak SD-SMP bahkan Pondok pesantren pun “sama” dengan kedua kakaku. Yang membedakan, aku hanyalah sedikit beruntung daripada kedua kakakku. Setelah selesai mondok, mereka langsung “nikah”. Hingga kini aku menginjak semester 3 di PTN yang sejak dulu ku impikan, yang selamanya tidak akan pernah dirasakan oleh kedua mbak ku. Alhamdulillah ya Allaaah.
Teringat ngendikane bapak “kalau kamu pengen sesuatu hal, dan ternyata itu tidak akan pernah kamu rasakan (pada dirimu) sendiri, maka NIATKAN lah keinginanmu (mimpi) itu untuk dzurriyyah-dzurriyyahmu kelak. Ada 1 mimpi yang tidak akan pernah terealisasikan pd diriku sendiri, yakni “Menuntut Ilmu di Gontor” , maka dari itu bismillah semoga kelak dzurriyyah2 ku, dan atau putra-cucu nya mbak2 ku bisa merealisasikan Mimpiku itu. Aamiin.. Saatnya Mencetak Keturunan dengan Berbenah diri dan Mengindahkan Cetakannya
انّ اللّه فى ظنّ عبدهِ
Dari sini, ku belajar bahwa Peran orangtua amat mendominasi
perjalanan hidup anaknya. Karena pada
Hakikatnya, Yang membuat kita mulia dan berharga, bukan terletak pada
Kecantikan/kegantengan Fisik, bukan pula terletak pada Nasab (anak kiyahi/nyai),
bukan pula terletak pada kekayaan harta. Melainkan terletak pada Perjuangan dan
Kerja keras kita. Dari diri kita-lah, akan tercetak generasi-genarasi Bangsa
selanjutnya. Generasi2 yang Agamis dan
Nasionalis. Yuk…mulai mencetak keturunan J
Bapak dan ibu, kalian berhasil mendidik kami. Kini saatnya,
kulo mencetak generasi selanjutnya dengan dimulai dari Memperbaiki dan
Mengindahkan cetakan nya (diriku).
Terakhir, ketika aku mengeluh, merasa lelah, penat dan
malas,Bapak selalu menasihatiku dengan “Hanya dirimu sendirilah yang Mampu
Merubah dirimu Sendiri”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar