Jumat, 26 Agustus 2016

Dobalan, 21 Agustus 2016.
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Melalui status ini, pertama sy ingin minta maaf mengenai status yg sy update kemarin “how about Pacaran” dan sudah ku duga akan menimbulkan pro dan kontra, it’s no problem. Dan yang kedua sy ingin klarifikasi mengenai apa yg sy tulis agar tidak di mamah mentah oleh org yg sering “agree” (membenarkan) apa yg sy tulis, Justru latarbelakang ku menulis ini karena “membaca” status orang yang muncul di beranda fb ku. Senang ada yang mengkritisi meski singkat namun melekat dan tidak menjurus pd status kulo, hanya saja mukaromah peka. Wkwkwk
Kembali ke topik pembicaraan, coba kita re-interpretasi Qs.Al-Isro’: 32. Seingat sy dulu ketika pelajaran tafsir, ketika Allah menurunkan ayat Al Qur’an yang berisi Larangan, ayat tsb tidak langsung menjurus pada sesuatu hal yang dituju, akan tetapi bertahap (menyebutkan qorinah atau indikasi trhdp sesuatu hal, kenapa sih kok dilarang?) Jadi Qolil faqolil (dikit demi sedikit) alon-alon ngoten. Contoh yang diberikan Kyai wktu menjelaskan itu ialah ttg tidak diperbolehkan nya sholat dalam keadaan mabuk. Jadi tdk langsung mngatakan “dilarang sholat dalam keadaan mabuk” tetapi dijelaskan dulu kenapa kok dilarang? “karena akan menghalangi dalam mengingat Allah”. Nah, begitupula pemahaman sy ttg Al-Isro’. Indikasi Zina itu apa saja. Tidak perlu sy jabarkan, pasti (red:pembaca) sudah paham dan mengerti.
Namun hal tersebut tentu tidak lepas dr peran manusia itu sendiri. Dan sy yakin, didunia ini tidak ada manusia yang sempurna dalam artian TIDAK PERNAH melakukan maksiat. Yaa karena hakikat manusia ditinjau dari kata “Insan” berasal dari kata “Nasiya” yang berarti lupa atau salah. Manusia lupa terhadap sesuatu hal disebabkan ia kehilangan kesadaran terhadap sesuatu, dengan demikian kata “nasia” menunjukkan bahwa sifat yang melekat dalam diri manusia berbuat salah dan lupa. Namun perbedaan seseorang dengan yang lainnya bukan terletak pada “salah dan lupa”, tetapi terletak pada sejauh mana seseorang MENYADARI kesalahan dan kelupaan nya, lalu ia BERUSAHA memperbaiki diri terus menerus agar menyedikitkan perbuatan salah dan lupa nya (Maragustam,Filsafat Pend.Islam, 2015). Nahh jika dihubungkan dengan Konteks Pendidikan, maka seseorang selalu mengasah intelektual dan hatinya agar secara terus menerus keluar dari kesalahan menuju perbaikan kualitas hidup. Kulo tidak mengatakan bahwa pacaran itu halal ataupun haram. Kembali saja pada diri sendiri, manusia mempunyai potensi yang luar biasa diantara nya adalah potensi Insting, Indra, Akal, Hati dan potensi Agama. Potensi Hati dan Agama-lah yang jelas membedakan antara manusia dengan makhluk yang Lainnya. Dalam tanda kutip (Istafti Qolbaka) karena Qolbu yang sehat bagaikan Raja (Pusat Kesadaran moral) memiliki kemampuan membedakan mana yang baik dan buruk serta mendorong manusia memilih hal yang baik dan meninggalkan hal yang buruk. Hanya diri kita sendirilah yang dapat Menyetir kemana langkah yang akan kita tuju. Yaa Meskipun Allah membekali manusia dengan Syahwat (hawa nafsu), ketika mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan segala cobaan yang ada serta godaan syaitan yang selalu menyertainya, maka manusia akan lebih baik dan lebih mulia daripada malaikatullah. Itu buktinya bahwa Manusia itu Luarr Biasa..
Berhubung status yg kemarin sy hapus, dan masih sy ingat Kemarin di komentar ada yang sharing tentang jodoh. Kulo berikan opini yang dulu pernah sy diskusikan dengan Mas Senior (just friend forever) yang sebentar lagi beliau ameh lulus dr magister Islamic Studies of UIN Jogja, mohon doanya untuk sahabat saya itu, semoga urusan2 dipermudah oleh Nya, karena beliau org baik. Jangan lupa klu nikah, undangan nya sampai Dobalan loh ya? Wkwk.
Opini ttg Jodoh sperti ini. Jodoh itu seperti melempar batu. Ketika kita melempar batu, kemanapun arah batu yang kita lempar akan tepat sesuai sasaran, Nah terlemparnya batu tentu ada campur tangan dari Allah. Artinya kita sebagai manusia bebas menentukan apa yang kita usahakan. Allah memberikan kuasa kepada kita untuk menentukan taqdir kita jodoh kita. Jatuhnya batu bukan hanya sekedar hukum alam, tapi kita yang menentukan arahnya. Tapi tetap Allah yang menentukan apa yang kita usahakan. Hanya saja yang utama adalah usaha, baru kemudian doa. Kalau sudah keduanya baru menunggu keputusan Allah. Dan sy inga, dulu pas semester 1 pernah bertanya kepada Dr.Karwadi, beliau adalah dosen favorite saya. Yang intinya ialah Jodoh yang dimaksud dengan Takdir Mubrom ialah Laki-laki pasangan nya perempuan begitu pula sebaliknya. Namun, dengan siapa kita berjodoh (nama, rumah dsb) itu adalah taqdir Muallaq. Sebenarnya jodoh itu tak terduga, yang penting selalu Berbenah dan Memataskan diri agar dipertemukan Allah dengan jodoh yg baik, karena pd hakikatnya Jodoh adalah Cerminan dari diri pribadi manusia seperti yang termaktub dlm Qs.An-Nur: 26. Kuncinya kedua insan tersebut saling bilang “IYA” maka insyaallah akan sampai di Pelaminan. Hehehe :D
Mukaromah Nitip doa yaaaaa…….Saling mendoakan dan saling berbagi ilmu.
And the last, I’m so sorry for all my mistakes because human being. Innal insaana mahaalul khotho’i wan Nisyaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar