Dobalan, 21 Agustus 2016.
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
Melalui status ini, pertama sy ingin minta maaf mengenai status yg sy
update kemarin “how about Pacaran” dan sudah ku duga akan menimbulkan
pro dan kontra, it’s no problem. Dan yang kedua sy ingin klarifikasi
mengenai apa yg sy tulis agar tidak di mamah mentah oleh org yg sering
“agree” (membenarkan) apa yg sy tulis, Justru latarbelakang ku menulis
ini karena “membaca” status orang yang muncul di beranda fb ku. Senang
ada yang mengkritisi meski singkat namun melekat dan tidak menjurus pd
status kulo, hanya saja mukaromah peka. Wkwkwk
Kembali ke topik
pembicaraan, coba kita re-interpretasi Qs.Al-Isro’: 32. Seingat sy dulu
ketika pelajaran tafsir, ketika Allah menurunkan ayat Al Qur’an yang
berisi Larangan, ayat tsb tidak langsung menjurus pada sesuatu hal yang
dituju, akan tetapi bertahap (menyebutkan qorinah atau indikasi trhdp
sesuatu hal, kenapa sih kok dilarang?) Jadi Qolil faqolil (dikit demi
sedikit) alon-alon ngoten. Contoh yang diberikan Kyai wktu menjelaskan
itu ialah ttg tidak diperbolehkan nya sholat dalam keadaan mabuk. Jadi
tdk langsung mngatakan “dilarang sholat dalam keadaan mabuk” tetapi
dijelaskan dulu kenapa kok dilarang? “karena akan menghalangi dalam
mengingat Allah”. Nah, begitupula pemahaman sy ttg Al-Isro’. Indikasi
Zina itu apa saja. Tidak perlu sy jabarkan, pasti (red:pembaca) sudah
paham dan mengerti.
Namun hal tersebut tentu tidak lepas dr peran
manusia itu sendiri. Dan sy yakin, didunia ini tidak ada manusia yang
sempurna dalam artian TIDAK PERNAH melakukan maksiat. Yaa karena hakikat
manusia ditinjau dari kata “Insan” berasal dari kata “Nasiya” yang
berarti lupa atau salah. Manusia lupa terhadap sesuatu hal disebabkan ia
kehilangan kesadaran terhadap sesuatu, dengan demikian kata “nasia”
menunjukkan bahwa sifat yang melekat dalam diri manusia berbuat salah
dan lupa. Namun perbedaan seseorang dengan yang lainnya bukan terletak
pada “salah dan lupa”, tetapi terletak pada sejauh mana seseorang
MENYADARI kesalahan dan kelupaan nya, lalu ia BERUSAHA memperbaiki diri
terus menerus agar menyedikitkan perbuatan salah dan lupa nya
(Maragustam,Filsafat Pend.Islam, 2015). Nahh jika dihubungkan dengan
Konteks Pendidikan, maka seseorang selalu mengasah intelektual dan
hatinya agar secara terus menerus keluar dari kesalahan menuju perbaikan
kualitas hidup. Kulo tidak mengatakan bahwa pacaran itu halal ataupun
haram. Kembali saja pada diri sendiri, manusia mempunyai potensi yang
luar biasa diantara nya adalah potensi Insting, Indra, Akal, Hati dan
potensi Agama. Potensi Hati dan Agama-lah yang jelas membedakan antara
manusia dengan makhluk yang Lainnya. Dalam tanda kutip (Istafti Qolbaka)
karena Qolbu yang sehat bagaikan Raja (Pusat Kesadaran moral) memiliki
kemampuan membedakan mana yang baik dan buruk serta mendorong manusia
memilih hal yang baik dan meninggalkan hal yang buruk. Hanya diri kita
sendirilah yang dapat Menyetir kemana langkah yang akan kita tuju. Yaa
Meskipun Allah membekali manusia dengan Syahwat (hawa nafsu), ketika
mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan segala cobaan yang ada
serta godaan syaitan yang selalu menyertainya, maka manusia akan lebih
baik dan lebih mulia daripada malaikatullah. Itu buktinya bahwa Manusia
itu Luarr Biasa..
Berhubung status yg kemarin sy hapus, dan masih sy
ingat Kemarin di komentar ada yang sharing tentang jodoh. Kulo berikan
opini yang dulu pernah sy diskusikan dengan Mas Senior (just friend
forever) yang sebentar lagi beliau ameh lulus dr magister Islamic
Studies of UIN Jogja, mohon doanya untuk sahabat saya itu, semoga
urusan2 dipermudah oleh Nya, karena beliau org baik. Jangan lupa klu
nikah, undangan nya sampai Dobalan loh ya? Wkwk.
Opini ttg Jodoh
sperti ini. Jodoh itu seperti melempar batu. Ketika kita melempar batu,
kemanapun arah batu yang kita lempar akan tepat sesuai sasaran, Nah
terlemparnya batu tentu ada campur tangan dari Allah. Artinya kita
sebagai manusia bebas menentukan apa yang kita usahakan. Allah
memberikan kuasa kepada kita untuk menentukan taqdir kita jodoh kita.
Jatuhnya batu bukan hanya sekedar hukum alam, tapi kita yang menentukan
arahnya. Tapi tetap Allah yang menentukan apa yang kita usahakan. Hanya
saja yang utama adalah usaha, baru kemudian doa. Kalau sudah keduanya
baru menunggu keputusan Allah. Dan sy inga, dulu pas semester 1 pernah
bertanya kepada Dr.Karwadi, beliau adalah dosen favorite saya. Yang
intinya ialah Jodoh yang dimaksud dengan Takdir Mubrom ialah Laki-laki
pasangan nya perempuan begitu pula sebaliknya. Namun, dengan siapa kita
berjodoh (nama, rumah dsb) itu adalah taqdir Muallaq. Sebenarnya jodoh
itu tak terduga, yang penting selalu Berbenah dan Memataskan diri agar
dipertemukan Allah dengan jodoh yg baik, karena pd hakikatnya Jodoh
adalah Cerminan dari diri pribadi manusia seperti yang termaktub dlm
Qs.An-Nur: 26. Kuncinya kedua insan tersebut saling bilang “IYA” maka
insyaallah akan sampai di Pelaminan. Hehehe :D
Mukaromah Nitip doa yaaaaa…….Saling mendoakan dan saling berbagi ilmu.
And the last, I’m so sorry for all my mistakes because human being. Innal insaana mahaalul khotho’i wan Nisyaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar