Selasa, 09 Agustus 2016

SUARA SANTRI UNTUK NEGERI
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
bukan karena benci ataupun tidak hormat kepada ulil amri, juga bukan men-judge. Ini hanyalah Untaian kata dari Mahasiswi Semester 3 dg segala kelemahan dan kekurangan nya, utk itu undzur maa qoola wa laa tandzur man Qoolaa dg berlandaskan pd Qs.An-Nisaa’: 1, al-A’raf : 189, Fathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya iman dn taqwa yg membedakan nya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.
Biasanya sy tdk banyak komentar mengenai kebijakan2 Pemerintah. Meskipun kebijakan ini baru wacana. Sebelumnya saya minta maaf, Tanpa mengurangi rasa hormat.
Bagaimana nasib Santri jika seharian full di habis kan di Sekolah? Dari jam 07.00 smpe pukul 17.00 ? Padahal setiap ba'da Ashar entah itu di Pondok pesantren yg Salafi maupun Qur'an pasti ada yg namanya Madrasah Diniyah, dan itu WAJIB diikuti oleh semua santri, tanpa terkecuali.
1. Argumen Full Day school : Tujuan full day school utk kemaslahatan ummat agar anak2 tdk menghabiskan sisa wktu disekolah utk hal2 yg tdk bermanfaat shingga dikhawatirkan terjrumus dalam pergaulan bebas (narkoba,pacaran tingkat dewa,mabuk2an) dsb lalu dicanangkan kebijakan full day school utk penanaman karakater anak (pendidikan karakter).
Opiniku : kl memang tujuan nya sprti itu, alangkah baiknya dimulai dr hal kecil dlu yakni PENAMBAHAN JAM MAPEL AGAMA disemua jenjang. Selain itu juga, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Kemudian guru juga tdk hanya mentransfer mata pelajaran saja akan tetapi yg lebih dr itu mjd Motivator, dan sebelum memulai pelajaran sebaik nya guru memberikan cerita tauladan (kisah org2 hebat; Nabi, Sahabat, ilmuan muslim dsb), selain itu juga di lingkungan sekolah harus membiasakan dlm mengimplementasikan nilai2 agama dn pancasila. tanpa harus sy jabarkan, pasti kalian(red: pembaca) sudah pd faham dn mengerti.
Bagaimana mungkin anak akan tau dan paham Etika (norma) kl jam pelajaran Agama saja hanya max.2x dalam seminggu, itupun masih lumayan. Ada juga sekolah yg mapel agama hanya 1x dalam seminggu..miris bukan?
argumen Full Day school 2 : Maksud dr full day school bkn belajar pelajaran seharian suntuk tp mengisi dg kegiatan ekstrakurikuler yg mendukung pembentukan karakter anak.
Opiniku : Menurut pengalaman ku, Sejak MTs smpe Aliyah, ekstrakurikuler itu selalu ada..ada ekstrakurikuler wajib dn pilihan. Yg wajib antara lain adl Pramuka, dan ekstrakurikuler pilihan diantaranya Tahfidz, qiroah, volli, basket, paduan suara, arabic and english club, dsb. Menurutku itu udh program lama. Anak2 yg memiliki bakat ttu pasti akan memilih ekstrakurikeluer yg mendukung bakat nya tsb. Sehingga ia pnya skill komparatif, kuncinya tlaten dan nggak males2an..
Lalu yg nggak ikut eks.pilihan gimana? Yaa mungkin mereka sibuk, dipondok sudah ada kegiatan sendiri yakni diniyah. Ada juga anak yg takut ntar klu nggak ikut kegiatan pondok dita'zir atau ada juga yg berpendapat bahwa Waktu sekolah yaa pagi smpe siang. Klu sore wktunya Ngaji di pondok. Masing2 sudah ada waktunya sendiri2.
3. Argumen full day School 3 : tujuan nya utk menunggu orgtua yg lagi sibuk bekerja, agar ketika orgtua pulang anakpun juga pulang. Biar disekolah, anak ada yg menemani.
Opiniku : lihat dlu subjek nya. Iya mngkin itu dpt terjadi di daerah perkotaan yg highclass. Tapi beda di Desa. Setiap ba'da Ashar anak2 sll mengisi waktunya utk ngaji di TPA dsb. Begitupula dg gurunya, banyak yg pnya tanggungan ngajar ataupun privat. Sebenarnya jika memang itu kekhawatirannya, kita kembalikan lagi pd pendidikan dalam keluarga si anak. Karena Keluarga lah Pusat pendidikan pertama dan utama. Orgtua SALAH BESAR jika kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan si anak kpd guru, kemudian orgtua lepas tangan. Shingga mereka cuek bebek dg perilaku anak, bahkan tdk mengontrol anak. Mari, saling koreksi.
Lalu terkait dg ekstrakurikuler yg bertujuan Penanaman pendidikan karakter, saya setuju. tapi itu dibatasi dg waktu. Karena apa?kasihan anak Pondok. Jika full day school dilaksanakan dg berangkat jam 7 pagi pulang jam 5 sore. Apa tidak kasihan?lelah fisik bisa beristirahat, tetapi jika lelah Pikir??semuanya malah membuat down anak. Padahal Pendidikan mnurut Ki.Hajar Dewantara adalah Taman yakni berharap org yg dtg disitu sll senang dan tdk ingin jauh dr Taman tsb.
Jika melihat latar belakang bp.Muhajir, memang Pendidikan Muhammadiyah itu Bagus sekali. Dan saya sendiripun mengapresiasi sekali. Ada Boarding schoolnya juga, Namun yg sy tau, kebanyakan pondok muhammadiyah pasti sepaket dg sekolahnya, jd itu yg mmbuat segalanya efisien. Tetapi akan lebih baik lg, juga melihat pendidikan umum. Pondok non muhammadiyah tdk semua memiliki sekolah di dalamnya. Ada anak yg harus menempuh Jalan berkilo2 utk menuju dr pondok ke sekolah. Dan itupun harus berangkat pagi2 agar tdk telat ke sekolah. Belum pulangnya juga. Akn lebih bijak jika sebelum mengeluarkan kebijakan, melihat segala sesuatu itu dr berbagai perspektif dan paradigma. Memang yg namanya plus dan minus pasti ada, krn kembalikan lagi bahwa human being.
Bukankah Agama mengajarkan kita utk seimbang antara duniawi dan ukhrowi? Lihat Santri yg mencuri2 wktu disela2 kesibukannya utk nderes, utk nyetor hafalan, utk murojaah kitab dsb.
Problem pendidikan BUKAN HANYA tnggung jawab guru, orgtua dan mentri, tetapi tanggung jawab SETIAP WARGA NEGARA. Karena maju mundurnya bangsa, dilihat dr Pendidikan nya. Besar harapan, smg ada yg memperjuangkan Nasib "Santri".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar