SUARA SANTRI UNTUK NEGERI
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi
bukan karena benci ataupun tidak hormat kepada ulil amri, juga bukan
men-judge. Ini hanyalah Untaian kata dari Mahasiswi Semester 3 dg
segala kelemahan dan kekurangan nya, utk itu undzur maa qoola wa laa
tandzur man Qoolaa dg berlandaskan pd Qs.An-Nisaa’: 1, al-A’raf : 189,
Fathir:11 bahwa semua manusia adalah sama hanya iman dn taqwa yg
membedakan nya dan UUD '45 Pasal 28 tentang kebebasan berpendapat.
Biasanya sy tdk banyak komentar mengenai kebijakan2 Pemerintah.
Meskipun kebijakan ini baru wacana. Sebelumnya saya minta maaf, Tanpa
mengurangi rasa hormat.
Bagaimana nasib Santri jika seharian full
di habis kan di Sekolah? Dari jam 07.00 smpe pukul 17.00 ? Padahal
setiap ba'da Ashar entah itu di Pondok pesantren yg Salafi maupun Qur'an
pasti ada yg namanya Madrasah Diniyah, dan itu WAJIB diikuti oleh semua
santri, tanpa terkecuali.
1. Argumen Full Day school : Tujuan
full day school utk kemaslahatan ummat agar anak2 tdk menghabiskan sisa
wktu disekolah utk hal2 yg tdk bermanfaat shingga dikhawatirkan
terjrumus dalam pergaulan bebas (narkoba,pacaran tingkat dewa,mabuk2an)
dsb lalu dicanangkan kebijakan full day school utk penanaman karakater
anak (pendidikan karakter).
Opiniku : kl memang tujuan nya sprti
itu, alangkah baiknya dimulai dr hal kecil dlu yakni PENAMBAHAN JAM
MAPEL AGAMA disemua jenjang. Selain itu juga, yang diutamakan sebagai
pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure
keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Kemudian
guru juga tdk hanya mentransfer mata pelajaran saja akan tetapi yg
lebih dr itu mjd Motivator, dan sebelum memulai pelajaran sebaik nya
guru memberikan cerita tauladan (kisah org2 hebat; Nabi, Sahabat, ilmuan
muslim dsb), selain itu juga di lingkungan sekolah harus membiasakan
dlm mengimplementasikan nilai2 agama dn pancasila. tanpa harus sy
jabarkan, pasti kalian(red: pembaca) sudah pd faham dn mengerti.
Bagaimana mungkin anak akan tau dan paham Etika (norma) kl jam pelajaran
Agama saja hanya max.2x dalam seminggu, itupun masih lumayan. Ada juga
sekolah yg mapel agama hanya 1x dalam seminggu..miris bukan?
argumen Full Day school 2 : Maksud dr full day school bkn belajar
pelajaran seharian suntuk tp mengisi dg kegiatan ekstrakurikuler yg
mendukung pembentukan karakter anak.
Opiniku : Menurut pengalaman
ku, Sejak MTs smpe Aliyah, ekstrakurikuler itu selalu ada..ada
ekstrakurikuler wajib dn pilihan. Yg wajib antara lain adl Pramuka, dan
ekstrakurikuler pilihan diantaranya Tahfidz, qiroah, volli, basket,
paduan suara, arabic and english club, dsb. Menurutku itu udh program
lama. Anak2 yg memiliki bakat ttu pasti akan memilih ekstrakurikeluer yg
mendukung bakat nya tsb. Sehingga ia pnya skill komparatif, kuncinya
tlaten dan nggak males2an..
Lalu yg nggak ikut eks.pilihan
gimana? Yaa mungkin mereka sibuk, dipondok sudah ada kegiatan sendiri
yakni diniyah. Ada juga anak yg takut ntar klu nggak ikut kegiatan
pondok dita'zir atau ada juga yg berpendapat bahwa Waktu sekolah yaa
pagi smpe siang. Klu sore wktunya Ngaji di pondok. Masing2 sudah ada
waktunya sendiri2.
3. Argumen full day School 3 : tujuan nya utk
menunggu orgtua yg lagi sibuk bekerja, agar ketika orgtua pulang
anakpun juga pulang. Biar disekolah, anak ada yg menemani.
Opiniku : lihat dlu subjek nya. Iya mngkin itu dpt terjadi di daerah
perkotaan yg highclass. Tapi beda di Desa. Setiap ba'da Ashar anak2 sll
mengisi waktunya utk ngaji di TPA dsb. Begitupula dg gurunya, banyak yg
pnya tanggungan ngajar ataupun privat. Sebenarnya jika memang itu
kekhawatirannya, kita kembalikan lagi pd pendidikan dalam keluarga si
anak. Karena Keluarga lah Pusat pendidikan pertama dan utama. Orgtua
SALAH BESAR jika kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan si anak kpd
guru, kemudian orgtua lepas tangan. Shingga mereka cuek bebek dg
perilaku anak, bahkan tdk mengontrol anak. Mari, saling koreksi.
Lalu terkait dg ekstrakurikuler yg bertujuan Penanaman pendidikan
karakter, saya setuju. tapi itu dibatasi dg waktu. Karena apa?kasihan
anak Pondok. Jika full day school dilaksanakan dg berangkat jam 7 pagi
pulang jam 5 sore. Apa tidak kasihan?lelah fisik bisa beristirahat,
tetapi jika lelah Pikir??semuanya malah membuat down anak. Padahal
Pendidikan mnurut Ki.Hajar Dewantara adalah Taman yakni berharap org yg
dtg disitu sll senang dan tdk ingin jauh dr Taman tsb.
Jika
melihat latar belakang bp.Muhajir, memang Pendidikan Muhammadiyah itu
Bagus sekali. Dan saya sendiripun mengapresiasi sekali. Ada Boarding
schoolnya juga, Namun yg sy tau, kebanyakan pondok muhammadiyah pasti
sepaket dg sekolahnya, jd itu yg mmbuat segalanya efisien. Tetapi akan
lebih baik lg, juga melihat pendidikan umum. Pondok non muhammadiyah tdk
semua memiliki sekolah di dalamnya. Ada anak yg harus menempuh Jalan
berkilo2 utk menuju dr pondok ke sekolah. Dan itupun harus berangkat
pagi2 agar tdk telat ke sekolah. Belum pulangnya juga. Akn lebih bijak
jika sebelum mengeluarkan kebijakan, melihat segala sesuatu itu dr
berbagai perspektif dan paradigma. Memang yg namanya plus dan minus
pasti ada, krn kembalikan lagi bahwa human being.
Bukankah Agama
mengajarkan kita utk seimbang antara duniawi dan ukhrowi? Lihat Santri
yg mencuri2 wktu disela2 kesibukannya utk nderes, utk nyetor hafalan,
utk murojaah kitab dsb.
Problem pendidikan BUKAN HANYA tnggung jawab
guru, orgtua dan mentri, tetapi tanggung jawab SETIAP WARGA NEGARA.
Karena maju mundurnya bangsa, dilihat dr Pendidikan nya. Besar harapan,
smg ada yg memperjuangkan Nasib "Santri".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar