Dobalan, 19 Juli 2016.
22.00 WIB.
KAMI BANGGA MENJADI ANAK INDONESIA.
(Belajar, Berjuang, Bertaqwa, Berkarya dan Berprestasi)
Tulisan ini sy persembahkan kepada Seluruh Rakyat Indonesia
(Pendidik, Mahasiswa-i, Santri dan orang-orang yang Mencintai dan Peduli Bangsa
ini yang tidak dapat disebut satu persatu karena keterbatasan penulis).
Alhamdulilah. Terimakasih sahabat, mukaromah belajar banyak hal
dari kalian. Memang benar adanya bahwa Memaknai Hidup dalam Bergaul,
Berorganisasi dan Bermasyarakat akan berjalan mengalir dengan melihat,
mendengar, mengamati, mencermati lalu
meninternalisasikan dalam lubuk hati yang paling dalam baru kemudian
Mengaplikasikan (Action) dalam tindakan nyata.(Nasihat yang diberikan bu Dosen
Muna).
Sebenarnya kunci
utama dalam bergaul kepada orang entah itu di Pondok, kampus, organisasi maupun
masyarakat adalah “RAMAH” dan “MUDAH BERGAUL”. That’s Right. Dan
itu pula yang menjadi Ciri khas orang berpendidikan (dalam arti luas) dan paham
Agama.. Oke, saat nya perkenalan… ini sahabat-sahabat saya di PAC IPNU IPPNU.
Mereka adalah Generasi Muda Indonesia. Karena 15 tahun yang akan datang,
Estafet kepemimpinan Bangsa ini akan dipegang oleh Generasi Muda nya, termasuk
kita dan kalian semua (red: pembaca status kulo). Syubbaanul Yaum Rijaalul
Ghodd, Maju mundurnya Bangsa ada ditangan Pemuda nya saat ini, Alaysa kadzalik
? Berbicara tentang Bangsa Indonesia, Humanisme Indonesia dibawah naungan PBB hanya sbg objek/ Maf’ulun bihi, Karena
Indonesia lemah lahir dan batin. Maaf ini kritikan, karena sy melihat
Problematika Indonesia yang kian kompleks dan merajalela dari hari per hari.
Baik itu dalam bidang Agama, social humaniora, ekonomi maupun budaya. Seperti :
Kemiskinan, Korupsi, Narkoba, Penegakan hukum yang lemah, kejahatan Seksual,
kualitas PENDIDIKAN yang LEMAH, Pengelolaan SDA yang buruk (penebangan hutan
scr liar, bom ikan dsb), Pengangguran dan problematika tsb saling berkaitan
antara problematika yang satu dengan yang lainnya. Sebagai Generasi Muda,
apalagi pelajar hal yang harus dilakukan ialah dengan belajar
bersungguh-sungguh. Belajar apapun itu, Karena belajar tidak terbatas hanya di
ruang kelas saja. Tetapi, Belajar dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, asal
disitu ada ilmu. Yakni Belajar Memaknai hidup dan Menjadi orang yang dapat
bermanfaat bagi orang lain (khoirunnaas anfa’uhum linnaas).
Seperti Nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya “Kiyai Haji Hasyim Asy’ari”, karya Heru Soekardi, cet. Department Pendidikan Dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventaris dan Dokumentasi 1977/1920), beliau ngendiko : “Seorang pemuda-pemudi merupakan calon generasi penerus perjuangan bangsa dan Islam di masa depan. Mereka harus mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang cukup. Merawatnya untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa membutuhkan kesabaran. Kaum pemuda yang sedang dalam berproses menyiapkan masa depannya seringkali tidak sabaran dengan proses yang digelutinya. Ia pun mudah terjebak dan tersihir dengan sesuatu yang menyilaukannya. Misalnya, kememawahan, jabatan, dan lain sebagainnya.
Kini sudah tiba di zaman penuh dengan hiruk pikuk. Dimana banyak kaum muda yang tidak memiliki karakter kuat, terjerembab narkoba, tawuran dan sebagainya. Sudah selayaknya mereka itu perlu diselamatkan. Tidak dapat dibayangkan, jika generasi muda kita sekarang ini sudah seperti itu, bagaimana kedepan bangsa ini.
Semasa hidupnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan pesan yang amat mendalam untuk diresapi. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita, karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dan lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Di sini letak arti dari suatu perjuangan. Dan untuk perjuangan ini kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada lagi,”
Seperti Nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya “Kiyai Haji Hasyim Asy’ari”, karya Heru Soekardi, cet. Department Pendidikan Dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventaris dan Dokumentasi 1977/1920), beliau ngendiko : “Seorang pemuda-pemudi merupakan calon generasi penerus perjuangan bangsa dan Islam di masa depan. Mereka harus mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang cukup. Merawatnya untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa membutuhkan kesabaran. Kaum pemuda yang sedang dalam berproses menyiapkan masa depannya seringkali tidak sabaran dengan proses yang digelutinya. Ia pun mudah terjebak dan tersihir dengan sesuatu yang menyilaukannya. Misalnya, kememawahan, jabatan, dan lain sebagainnya.
Kini sudah tiba di zaman penuh dengan hiruk pikuk. Dimana banyak kaum muda yang tidak memiliki karakter kuat, terjerembab narkoba, tawuran dan sebagainya. Sudah selayaknya mereka itu perlu diselamatkan. Tidak dapat dibayangkan, jika generasi muda kita sekarang ini sudah seperti itu, bagaimana kedepan bangsa ini.
Semasa hidupnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan pesan yang amat mendalam untuk diresapi. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita, karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dan lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Di sini letak arti dari suatu perjuangan. Dan untuk perjuangan ini kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada lagi,”
dengan nasihat beliau, saya teringat ayat
didalam Al Qur’an Qs. An Nisa' yang intinya
janganlah orangtua itu meningalkan anak-anak nya dalam keadaan Dho’if atau
lemah. Lemah dalam hal pikir, harta, jiwa maupun raga (spiritual). Lalu kenapa
orangtua Menyekolahkan bahkan Me-nyantrikan anak-anaknya? Yaa karena
orangtua sadar, kelak mereka akan meninggal dunia dan hanya anak-anak
nya lah yang menjadi “harta berharga” bagi diri dan keluarganya. Karena
sejatinya PENDIDIKAN dalam arti seluas-luas nya adalah INVESTASI MASA
DEPAN. Dan mungkin dengan melalui
Pendidikan, Bangsa ini akan jauh lebih baik. Masih ingat dengan Pidato Pak
Anies Baswedan saat melepaskan Pengajar Muda untuk mengabdi di daerah
terpencil? Berikut intinya : “Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan
(salah satunya ) yakni : “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Itu adalah hak dan
kewajiban bagi rakyat Indonesia. Janji Mencerdaskan kehidupan Bangsa belum
sepenuh nya terpenuhi jika masih ada 1 saja anak Indonesia yang BELUM BISA
merasakan bangku sekolah”.
Berdasar buku “KISAH
PENGAJAR MUDA” yang telah sy baca, di daerah terpencil masih buanyak sekali
anak-anak yang belum bisa merasakan nikmatnya Sekolah. Bahkan Fasilitas di
sekolah pun masih jauh dikatakan layak. Semoga Pemerintah lebih memperhatikan
Pendidikan khusunya didaerah yang jauh dari jangkauan pemerintah (3T)
Karena Pada
hakikatnya, Mendidik bukan hanya tanggung jawab Guru dan orangtua. Akan tetapi,
mendidik adalah tanggung jawab semua orang yang memiliki ilmu walau qolil.
Bukankah Ballighu ‘anni walau aayah? Selain itu juga karena manusia adalah
makhluk EDUCANDUM (membutuhkan pendidikan) dan EDUCANDUS (dapat
mendidik orang lain). Mari, bersama-sama melunasi Janji Kemerdekaan RI dan
Bersatu Membangun Pendidikan yang lebih baik
Saya mengtip makna Pendidikan
dari tokoh yang amat sy kagumi, yakni Ahmad D.
Marimba: Pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang
dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan
jasmani dan rohani peserta didik, yang tujuannya agar kepribadian peserta
didik terbetuk dengan sangat unggul. Kepribadian yang dimaksud ini bermakna
cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar secara akademis saja,
akan tetapi baik juga secara karakter.
Pendidikan yang
baik itu tidak hanya mentransfer materi pelajaran/kuliah saja, akan tetapi yang
lebih dari itu ialah Penanaman Karakter. Mengajarkan dan menanamkan
sifat dan sikap yang terpuji pada anak, sebagaimana yang dicontohkan oleh
Rasulullah. Terutama sifat JUJUR dan sikap TANGGUNG JAWAB. Selain
itu juga, Membimbing dan Memotivasi anak agar mereka mempunyai
kepercayaan diri dan siap untuk menatap masa depan. Sehingga, Peran Guru
tidak hanya sebagai Pendidik dan Fasilitator semata, tetapi juga harus (wajib
‘ain hukumnya) menjadi Motivator dan Inspirator Anak Indonesia.
Salam, Mukaromah Mahasiswi Fakultas Tarbiyah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar