SEMARAK LOMBA 17-an di KAMPOENG DOBALAN, TIMBULHARJO SEWON BANTUL
Oleh : Mukaromah, Dobalan Timbulharjo Sewon Bantul
Dalam rangka menyemarakkan kemerdekaan R1 yang -72 Warga kampung
Dobalan, Timbulharjo sewon Bantul melakukan kerja bakti bersama. Kegiatan
tersebut bertujuan agar kampung terlihat indah, rapi, bersih dan enak dipandang
mata. Hal ini sebagai implementasi dari manifestasi orang yang cinta
kebersihan. Sebagaimana maqalah mengatakan an nadzafatu minal iman, yang
artinya kebersihan sebagian dari iman.
Gambar 1 : Foto kerja bakti bersama
Kerja bakti/gotong royong dapat mempererat pasuduluran,
kekeluargaan dan kebersamaan. Sesuatu yang awalnya sulit menjadi mudah, yang
berat menjadi ringan jika dikerjakan bersama-sama. Dan ini merupakan bentuk
rasa cinta dan peduli warga terhadap agama, masyarakat dan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Agama mengajarkan kepada kita untuk saling tolong
menolong, mempererat tali persaudaraan sebagaimana dalam Qs. Al Maidah : 2
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا
عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ
الْعِقَابِ
(Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat
berat siksa-Nya). Agama juga menganjurkan kepada kita untuk
berlomba-lomba dalam kebaikan, termaktub dalam Qs. Al Baqarah : 148
هُوَ
مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ
(..... berlomba-lomba lah dalam kebaikan).
Tak hanya itu, agama pun memerintahkan kepada kita untuk cinta
kebersihan dan peduli terhadap lingkungan (lihat Qs. Ar Rum : 41-42).
Berbicara mengenai Kemerdekaan, hal itu tidak hanya diperuntukkan
bagi sebuah negara, akan tetapi juga untuk masyarakat/desa. Masyarakat
merupakan sekumpulan orang yang berada dalam suatu wilayah yang mempunyai visi
misi dan tujuan yang sama untuk mencapai kemaslahatan bersama yakni membangun
suatu tatanan yang adil, makmur dan diridhai Allah SWT. Visi misi yang sama itu
terletak pada keinginanan untuk memperoleh rasa aman dan nyaman dalam
melaksanakan berbagai kegiatan dan aktivitas, yakni diantaranya :
Pertama, Nyaman dalam
bertempat tinggal. Setiap warga berhak mendapatkan jaminan keamanan bertempat
tinggal di rumahnya masing-masing ketika berada dalam suatu masyarakat. Begitu
pula ketika warga tersebut memperoleh gangguan atau ketidaknyamanan lain nya
saat berada dalam rumahnya, maka warga yang lain (read : tetangga) mempunyai kewajiban untuk melindungi nya.
Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW yang mengatakan harus saling menghormati
dan menjaga tetangga nya. Dan iman seseorang belum lah dapat dikatakan
sempurna manakala belum mencintai saudara nya (tetangga/orang lain) seperti
mencintai dirinya sendiri.
Kedua, Nyaman dalam
beribadah.
Ketiga, Nyaman dalam
bersosialisasi dan nyaman dalam melaksanakan kegiatan dan berbagai macam aktivitas.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah
menganugrahkan kemerdekaan bagi Indonesia, masing-masing daerah mempunyai cara,
ide dan bentuk yang berbeda-beda untuk menyemarakkan kemerdekaan tersebut,
termasuk di desa Dobalan Timbulharjo Sewon Bantul.
Tahun 2017 ini KMM ( Karya Muda Mandiri) Dobalan mengadakan
berbagai macam lomba yang di ikuti oleh semua anak-anak kecil dobalan. Ya, tak
lain dan tak bukan mereka lah re-generasi muda/i dobalan selanjutnya. Lomba
tersebut diantara nya : Makan krupuk, lari marathon, balap karung dll. Lomba
marathon tahun ini didesain berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya, yakni
lebih edukatif dan berkualitas. Siapa yang cepat dan tepat menjawab pertanyaan
yang diajukan oleh koordinator marathon ya dialah yang akan cepat sampai
digaris finish. Sehingga anak-anak tidak hanya dilihat dari aspek psikomotor
(kecepatan berlari) akan tetapi juga ditekankan aspek kognitif (menjawab
pertanyaan).
Kami berharap dengan adanya berbagai lomba ini dapat merekatkan
hubungan antara muda/i dengan anak-anak pada umumnya serta besar harapan semoga
lomba ini dapat menarik antusias dan mengajak anak-anak untuk bersama-sama
mensukseskan acara 17-an sebagai wujud cinta kepada desa dan NKRI, ujar Irman
Hari Rustaman (ketua KMM)
Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti
oleh semua elemen muda-mudi dan anak-anak di desa Kampung Dobalan. Betapapun
itu, semangat nasionalisme harus selalu dipupuk dan dikuatkan dengan berbagai
macam hal, salah satunya dengan menyanyikan lagu kebangsaan.
Perlombaan dimulai tepat pada pukul 08.30 WIB, dan diawali Lomba
lari marathon dengan rute mengeliling desa Dobalan Timbulharjo Sewon Bantul.
Setelah Lomba Marathon berakhir, dilanjutkan lomba yang kedua,
yakni Makan krupuk.

Gambar : Lomba Makan Krupuk.
Antusias dan semangat mereka menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah
milik kita serta harus kita pertahankan dan mengisi nya dengan hal-hal yang
bermanfaat. Karena anak muda mempunyai peran sentral dalam membangun dan
mengembangkan laju perekonomian, pendidikan, industri, dakwah serta pembangunan
negara. Hal itu karena anak muda memiliki kekuatan (power), kehendak (will),
semangat (ghirah) dan ‘azam bak lapisan baja yang lebih kuat dari sekedar besi
yang tak terawat.

Gambar : Semangat pemudi untuk menjadi garda terdepan Indonesia
Benar ungkapan bahwa dibalik keberhasilan seseorang, pasti ada
wanita dibelakangnya. Begitu pula dengan kesuksesan acara 17-an Kampung
Dobalan, semua tidak terlepas dari peran dan dukungan wanita (read : pemudi). Bersatu
bahu membahu untuk bersama-sama membangun desa yang baldatun thayyibatun wa
rabbun ghafur serta merealisasikan cita-cita desa Dobalan bagi kemaslahatan
bersama.
Selain lomba-lomba diatas, yang tidak kalah menariknya adalah lomba
untuk pemuda dan pemudi. Lomba tersebut ialah Gebuk Bantal (pemuda) dan lomba
masak untuk pemudi. Hal itu karena adanya rasa memiliki yang kemudian
termanifestasikan dengan berbagai macam lomba yang bervariasi sebagai bentuk
ungkapan syukur kepada Allah karena telah di anugrahkan hidup di Negara yang
luar biasa sekaligus di desa yang amat sangat damai loh jinawe.

Gambar : Foto hasil masakan pemudi Desa Dobalan.
Setelah acara masak-masak selesai, kini tiba saat nya lomba Gebuk
Bantal dimulai.
Betapa asyik nya perlombaan ini. Ada banyak hal yang dapat kita
petik dari berbagai perlombaan tahun ini. Lomba masak misalnya, : Yakni melatih
kekompakan, kebersamaan, olah rasa ( karena kalau masak tidak makai
perasaa rasa masakan nya menjadi
hambar), selain daripada itu mengingatkan kepada wanita diseluruh Indonesia,
secerdas, sehebat apapun wanita bahkan berpendidikan tinggi sekalipun jangan
pernah melupakan kodrat nya sebagai seorang wanita yang kelak akan menjadi
istri sekaligus ibu di keluarganya. Maka dari itu, memasak adalah sesuatu yang
paling penting untuk dipersiapkan sejak sekarang. Agar kelak tidak kaget saat
sudah berumah tangga. Betapapun itu, wanita haruslah menjadi figure keteladanan
bagi anak-anak indonesia. (penulis juga sedang belajar memasak) hehe....
Adapun moral value dari perlombaan Gebuk bantal ialah mengajarkan
kepada kita untuk tetap semangat dan gigih dalam memperjuangkan sesuatu. Hal
ini bisa dilihat, ketika si A di pukul oleh si B, jika ia tidak gigih dan
semangat dalam mempertahankan tubuhnya, maka ia dengan mudah nya terjebur di
kali.
Manusia dibekali Allah dengan instrumen yang luar biasa, sudah
seharusnya kita syukuri. Adapun wujud syukur itu dapat dimanifestasikan dalam
berbagai bentuk. Salah satunya ialah Semangat dalam berbagai hal, termasuk
dalam mengarungi kehidupan ini. Senantiasa berbuat baik kepada siapapun tanpa
mendiskriditkan golongan lain.
Lihatlah, mereka bersatu, tertawa bersama, menikmati meriahnya
17-an Agustus di desa tercinta. Bersatu merupakan cara yang luar biasa untuk
mensyukuri anugrah Tuhan Yang Maha Esa. Dan karena bersatu itulah, Kemerdekaan
Indonesia kita dapat (Indonesia merdeka, karena semua rakyat bersatu serta
tidak membeda-bedakan ras, agama, suku, etnis, dan budaya). Indahnya Desa,
Indahnya Indonesia. Ini Milik Kita, BUNG ! PERTAHANKAN
Pembagian hadiah di laksanakan pada tanggal 17 Agustus malam yang
dihadiri oleh tokoh Desa Dobalan, yakni : Ketua RT 03(Bp. Murtijan), Ketua RT
04 (Bp. Ervan Ari Wibowo) Ketua RT 05 (Bp. Sriyanto) , Dukuh Dobalan (Bp. Ali
Arifin), Bp. Takmir Masjid Dobalan (Bp. Alimuddin), Bpk. KH. Khozin FA, Bp. R.
Wahib FA dan semua element masyarakat desa dobalan (ibu-ibu PKK, Dasawisma,
dsb) sembari pentas seni dan harlah Karya muda mandiri Dobalan Timbulharjo
Sewon Bantul.
Mari kita menilik sejarah kemerdekaan Indonesia,Indonesia merdeka
karena adanya rasa persatuan dan kesatuan dari berbagai macam etnis, ras, suku,
agama, dan budaya. Semuanya bersatu dan berseru MERDEKA. Dan yang tidak kalah
pentingnya ialah peran pemuda amat mendominasi perjuangan Indonesia,
Begitu hal nya dengan rasa persatuan dan kesatuan haruslah selalu
dipupuk dan dieratkan. Kita tahu bahwa Indonesia merdeka karena peran pemuda
yang mempunyai kesadaran dan inisiatif untuk bersatu dan bersama-sama melawan
penjajah. Konggres pemuda I tidak menghasilkan keputusan apa-apa karena pada
saat itu, masing-masing daerah masih mengedepankan egonya dan memperjuangkan
golongannya sendiri-sendiri. Ada Jong Java, jong Sumatra dsb mereka masih
terapaku dengan kepentingan kedaerahan, padahal hal itu hanya akan menghambat
kebersamaan antar suku dan golongan. Akhirnya, konggres pemuda II dilaksanakan
dan menghasilkan keputusan yang amat sangat menguntungkan Indonesia, yakni
semua pemuda bersatu menyamakan persepsi dan sadar bahwa mereka selama ini
hanya dijadikan sebagai tumbal untuk memperpecah belah persatuan dan kesatuan
yang pada akhirnya berimplikasi pada sulitnya mendapatkan kemerdekaan
Indonesia. Konggres Pemuda II menghasilkan keputusan sumpah pemuda yang
mengakui akan persamaan bahasa yakni bahasa Indonesia, tanah air dan bangsa
yang satu yakni Indonesia.
Hikmah dari konggres II yang dapat kita tauladani ialah,
kepentingan golongan dan atau pribadi dihilangkan, diganti dengan kepentingan
bersama yakni dengan bersatu puntuk melawan penjajah. Kita belajar dari
sejarah, bahwa untuk membangun suatu tatanan organisasi yang kuat atau dalam
hal ini untuk membangun desa yang besar dan bijaksana, harus ada sinergisitas
dan kerjasama antar berbagai pihak. Dalam islam kita mengenal umat muslim
bagaikan satu bangunan, ketika tiang (penyangga bangunan) tersebut roboh,
maka robohlah dan hancurlah bangunan tersebut. Begitu hal nya dengan
organisasi. Organisasi ibarat sebuah sistem. Ketika satu sistem tidak berjalan
dengan baik, maka akan menghambat kinerja sistem yang lain.
Oleh karena itu, kami Pemuda Pemudi Desa Dobalan berusaha selalu
menjaga kekompakkan, kebersamaan, solidaritas dan chemistry guna merealisasikan
visi misi organisasi yakni terciptanya tatanan organisasi yang berkualitas
lahir maupun batin dengan harapan menciptakan kemaslahatan ummat dan membangun
desa yang nyaman, aman tentram dan damai. Kunci dari itu semua ialah sikap arif
dan bijaksana dalam menanggapi suatu problem sosial dan dalam mengambil
tindakan dan keputusan. Tak kalah pentingnya pun juga harus di landasi kepekaan
terhadap realitas sosial serta harus ada rasa saling memiliki. Jika rasa
memiliki itu ada, maka orang akan mempunyai kesadaran bahwa ia membutuhkan
suatu wadah untuk mengekspresikan keinginan nya yang kemudian mendorong nya
untuk berbuat sesuatu dan berusaha menjadi insan paripurna yang dapat
memberikan manfaat bagi orang-orang disekelilingnya.
Sejauh apapun kita melangkah, jangan pernah lupakan desa tempat
tinggal kita. Desa yang telah mengajarkan kita banyak hal, menyadarkan kita
bahwa kita punya peran dan tanggungjawab untuk membangun, memajukan serta
mensejahterakan desa agar lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya, semampu
kita. BERSAMA KITA BISA.!
MERDEKAAAAA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar