CINTA, KASIH SAYANG, DAN PERNIKAHAN
Mukaromah Asy-Syarmidi*
Laki-laki dan perempuan jangan sekali-kali menolak cinta,
terlebih menyalahkan orang yang mencintai dan menaruh perasaan kepada dirinya. Apalagi
dengan berbagai ungkapan dan pernyataan yang menyakiti, meksipun kita tidak
suka, bahkan sedikitpun tidak menaruh perasaan kepada orang tsb namun etika dan
akhlaq harus tetap di nomor satukan, termasuk dalam menanggapi sebuah persoalan
tadi. Mengapa
demikian? Selain hal itu menyangkut soal rasa, Allah pun memperingatkan kepada
kita dalam Firman Nya Qs. Al baqarah : 216
(Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui).
Belum tentu orang yang kita benci tidak bisa
membahagiakan diri kita. Dan belum tentu pula orang yang kita cintai dapat
membahagiakan diri kita sepenuhnya. Sekali lagi, jangan pernah menyakiti hati
orang yang (mencintai-mu) bahkan menolak dengan kata-kata keras, kasar dan
bengis. Karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya,
serta bisa jadi karena (kebanyakan nolak, selektif yang terlalu over) akhirnya
berujung pada sulitnya menemukan jodoh. Syukuri apa yang ada, karena itu
anugrah. Berterimakasihlah kepada Allah karena telah mengirimkan seseorang yang
mencintai diri kita. Namun juga minta maaflah karena hati kita belum siap untuk
membuka celah kepada orang tersebut, dan jangan lupa bertanya kepada Allah
mengapa hati ini belum terbuka untuk dirinya? “Seandainya dia yang terbaik untuk diri ini, ya dekatkan, namun jika
bukan jodoh diri ini, berikan alasan dan tanda mengapa hal itu terjadi”.
Toh, lambat laun Allah akan menunjukkan sebab mengapa orang tersebut bukan yang
terbaik untuk diri kita.
Hal yang harus di-ingat, kalau tidak punya niatan (krenteg) untuk saling mencinta dan merespon cinta, maka jangan pernah memberikan harapan kepada nya dengan kata-kata yang aduhaiii bikin bapeeeer. Sama saja hal itu mempermainkan perasaan nya, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada diputus cinta. (kalau tidak percaya silahkan buktikan saja).
Cinta itu sulit. Saling cinta belum tentu ber-jodoh. Dan berjodoh pun, belum tentu jodoh itu dibawa sampai mati besok di akhirat. Begitu halnya saling cinta belum tentu kesampaian sampai nikah. Ada yang sampai nikah, tapi ternyata berujung pada perceraian. Ada yang sudah menikah, namun salah satu diantara suami/istri dipanggil Allah lebih dulu, hingga akhirnya menikah lagi. Nahh berarti jodoh itu ada kelas-kelasnya, yakni belum tentu abadi sampai akhirat. Oleh karenanya, janganlah buru-buru jatuh cinta dan menolak cinta apalagi buru-buru mengambil keputusan dengan mutus cinta (Aduuuh sakitnya ya), akan tetapi kembalikan-lah semuanya kepada Allah SWT. Karena Allah adalah sebaik-baik tempat kembali. Salah satunya lewat istikharah.
Pernikahan itu saling mengisi, menguatkan dan menyempurnakan.
Ibarat sebuah botol yang membutuhkan tutup. Keduanya tidak bisa dipisahkan
karena memang harus saling bersinergi dan saling membutuhkan. Botol jika tanpa
tutup maka isi (makanan) dalam botol tersebut tidak akan bertahan lama, bahkan
bisa basi dan akhirnya tidak enak dimakan. Pun begitu halnya dengan tutup tanpa
botol, tidak ada gunanya. Untuk apa ? Tidak ada hal yang harus ditutupi dan dilindungi, kan
begitu.
Hal yang harus direnungkan pula bahwa jangan sampai tertipu oleh
cinta. Jika kita memiliki rasa kepada orang lain atau bahkan kita dicintai oleh
orang lain, maka kembalikanlah segala sesuatu itu kepada Allah SWT, “Baikkah
dia untuk diri ini ya Allah”? Karena hakikat orang yang berjodoh bukanlah “bertemunya laki-laki dan
perempuan (dari segi material/fisik semata), namun bertemu pikiran dan hatinya,
saling menguatkan dan saling mencintai (cocok-nyocoki). Bersama-sama dalam
menghadap kepada diri Nya. Shalat bareng, ngaji bareng, nangis bareng, ndongo
(berdoa) ya bareng, saling menguatkan, saling memotivasi dan saling bersinergi.
Cocok-nyocoki inilah yang sulit dipahami
manusia jika ia hanya melihat dengan satu kacamata, namun diperlukan optimisme
dan kejernihan hati untuk melihat rahasia Allah SWT. Tidak cukup hanya diracik
dan direkayasa di dalam ilmu dan pikiran. ”Aku ingin menikah dengan dia karena
dia ganteng/cantik, kaya dsb. Apakah itu menjamin kasih sayang sampai mati? Fisik
akan berubah seiring dengan perkembangan zaman dan pertambahan usia. Ada sebuah
kata-kata indah dari salah seorang ulama, beliau mengatakan “jika seorang
laki-laki mencintai wanita karena kecantikannya, niscahya itu tidak akan pernah
memuaskan dirinya meskipun sudah bertemu dengan 1000 wanita”.
Begitu pula ketika seseorang mencintai orang karena hartanya. Jika sudah habis, apakah cinta itu akan tetap melekat? Mencari yang berpendidikan tinggi, apakah itu juga menjamin? Cerdas secara intelektual itu tidak menjamin segalanya oey, namun kejernihan dan kesucian hati-lah yang akan mampu meredam api saat tersulut, menentramkan saat dipandang dan ngademke (memberikan rasa aman saat ada persoalan). So, semuanya perlu istikharah. Apakah bisa menimbulkan kasih sayang sampai mati? Kasih sayang inilah yang kita tidak akan pernah tau.
Bukanlah tidak penting mencari dan memilih seseorang karena fisik, harta, kecerdasan (pendidikan). Justru itu merupakan unsur-unsur penopang cinta agar awet dan pelengkap kebutuhan dimasa yang akan datang. Hanya saja, modal yang utama adalah intangible capital. Sesuatu yang tidak kasat mata berupa niat, ketulusan, kejujuran, kesetiaan, kerjakeras, kemauan, sungguh-sungguh, punya visi misi yang jelas kemana bahtera rumah tangganya akan dibawa dsb. Tidak usah khawatir, harta itu bisa dicari asal mau bergerak. Sehingga tak jarang banyak kita jumpai orang-orang yang dulunya dari nol, dengan berjuang ditemani lifepartner akhirnya sukses luar biasa.
Cinta tak hanya sekedar cinta, namun juga harus dikuatkan
dengan kasih sayang. Kasih sayang itu memberi tanpa berharap kembali, sehingga
ketika seseorang telah ikhlas mencintai orang lain maka ia sadar bahwa cinta
itu tidak harus memiliki seutuhnya, namun hanya untuk membahagiakan orang yang
dicintainya. Inilah hakikat pengorbanan. Pengorbanan yang paling besar adalah
mengorbankan orang yang dicintai-nya menjadi milik orang lain demi
kebahagiaan-nya. Dalam pernikahan, masa-masa indah ialah saat pengantin baru
(berumur sebiji jagung), namun ketika menginjak hampir 15-30 tahun usia
perikahan itulah masa-masa penuh ujian. Apakah akan tetap mesra, langgeng dan
kompak? Kuncinya saling mengalah, saling mendahulukan dan tidak saling menuntut
tapi justru saling menguatkan dan meyakinkan. Makan seadanya pun juga berdua,
saling memahami dan peka serta saling meyakinkan bahwa ada hal-hal yang harus dilalui
berdua agar kuat dan semangat dalam meniti pahit manisnya perjuangan di jalan
Allah.
Jika tidak ada hal-hal itu, tentu pernikahan tidak akan
langgeng, sebagaimana semakin tinggi pohon maka akan semakin kuat badai yang
menerjangnya. Dan tentu dalam pernikahan pun harus ada rasa rela, nrimo dan
sabar untuk saling menuntun, mengarahkan dan membimbing ke jalan benar yang di
ridhai Allah SWT.
*Dobalan.blogspot.com,
mukaromah7mei@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar