MENULIS UNTUK
KEABADIAN
mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak ulama’ besar, maka
Menulislah (Imam Ghazali)
Kata-kata inspirasi itulah yang menggetarkan jiwa manusia untuk berkarya nan
menjadi insan yang bermakna. Seiring dengan perkembangan zaman, hal itu tak
hanya sekedar kata-kata akan tetapi dapat dimaknai sebagai amanah (pesan
yang harus direalisasikan oleh setiap insan, tanpa terkecuali). Karena pada
realitanya, menulis merupakan hal yang urgent dalam kehidupan manusia. Menulis
merupakan bahasa komunikasi untuk mengungkapkan suatu hal kepada orang lain
yang dengan hal itu akan menambah informasi,
ilmu dan wawasan orang lain. Karena setiap orang diberi otak untuk
berpikir, maka otak manusia tersebut bisa memikirkan banyak hal. Sehingga
Menulis merupakan manifestasi dari uraian pikiran di otak nya sekaligus sebagai
luapan emosinya. Dengan tulisan, manusia bebas mengungkapkan apa yang ia rasa
dan pikirkan.
Selain itu, tulisan juga dapat memotivasi dan menginspirasi
insan. Sebagai contoh, tentu kita mengenal Ahmad Fuadi, Habiburrahman el
Shirazy, Asma Nadia bahkan dosen saya sendiri Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag,
Dr. H. Karwadi, M.Ag, Dr. Mujahid, Dr. Rofiq, bu dosen Eni Munawaroh, M.Si, dll mereka lah penulis-penulis hebat yang melalui
karya-karya nya dapat memotivasi dan menginspirasi banyak orang. Hal itu pasti
menambah kebahagiaan tersendiri bagi mereka, karena hakikat dari kebahagiaan
ialah ketika melihat orang lain juga bahagia dan merasa terdorong (termotivasi)
untuk melakukan suatu hal ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
Oleh
karenanya, seorang penulis (orang yang menulis) disadari ataupun tidak ia telah
menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sehingga menulis merupakan ladang
beramal yang tiada habisnya. Hal ini senada dengan ungkapan gajah mati
meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya, salah satunya adalah
tulisan. Jasad dan raga memang sudah tiada, tapi kata-kata inspirasi,
petuah, nasihat, pikiran, ide, gagasan penulis akan tetap abadi dan akan
terkenang sepanjang masa.
Karena sebab itulah, Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag
memberikan nasihat kepada kami sebagai pamungkas (penutup) kuliah Maanil Qur’an,
di IAT Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, yakni tulisan dapat memberikan
motivasi dan inspirasi orang, yang pada akhirnya pembaca akan menemukan
secercah cahaya kesadaran meski sedetik namun menggugah jiwa raga nya itu lebih
berharga nan bermakna daripada pengalaman seumur hidupnya yang hanya
membekas dalam memori otaknya tanpa menghasilkan perubahan dalam hidupnya.
Banyak orang yang mengetahui manfaat dari menulis, akan tetapi belum
merefleksikan dalam diri pribadinya sehingga berimplikasi pada rendahnya rasa
ingin tahu, mencoba dan berkarya. Bukankah untuk mewujudkan sesuatu hal yang
besar harus diawali dengan sesuatu hal yang sederhana? Banyak orang
berpendapat, ironisnya mahasiswa, pelajar, kaum intelektual dan akademisi yang
mengkritik habis-habis-an mengenai Negeri ini, mengapa dari dulu hingga
sekarang Indonesia merupakan negera yang berkembang? Tidakkah sadar, bahwa
aktivitas membaca dan menulis merupakan modal pertama bagi suatu bangsa untuk
memajukan negaranya. Seandainya masyarakat Indonesia paham akan pentingnya
membaca dan menulis, tentu Indonesia lebih dulu maju daripada Malaysia,
Singapura dan Jepang. Berdasar pada
penelitian UNESCO yang mengatakan bahwa minat membaca orang Indonesia sangat
rendah, bisa dijadikan sebagai acuan (referensi) yang melatarbelakangi
rendahnya tulis menulis. Karena kunci utama bagi seorang penulis ialah membaca,
sehingga sangat relevan maqolah yang mengatakan Al kitabu khairu jalisun
wa khairu anisun, Al qiro’ah asasun najah.
Saya masih ingat ketika Seminar yang diadakan oleh Prodi PAI UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta yang bertempat di CH UIN dengan narasumber Dr. Suyatno
(Dosen UAD Yogyakarta) yang mengangkat tema Menghadapi Bonus Demografi
dengan meningkatkan Budaya Literasi dikalangan Akademisi beliau mengatakan
bahwa literasi merupakan jantung kehidupan bagi rakyat indonesia dalam
menghadapai tantangan pada abad 21. Kemajuan Indonesia bergantung pada budaya
literasinya, sehingga menurut Penelitian Programme for International Student
Assessment (PISA), budaya literasi masyarakat indonesia (nimat baca dan
tulis) amat rendah. Orang-orang Indonesia harus menyadari urgensi baca tulis
kemudian melestarikannya sehingga menjadi suatu kebudayaan yang akan turun
temurun dari generasi ke generasi, yang dengan itu merupakan salah satu langkah
diantara langkah-langkah lain yang harus ditempuh untuk membangun Negeri yang
lebih baik.
Terkhusus kepada Mahasiswa sebagai kaum intelek sekaligus agent
social control, mari tingkatkan diskusi dengan memperbanyak referensi dan
menuliskan nya sebagai permata abadi yang tak kan lekang oleh waktu....
Menulis untuk Keabadian ! Jika tidak berkaya, lantas apa makna umur kita
ini ???
Jadilah pelaku sejarah, bukan hanya menjadi pembaca dan penikmat
sejarah !
Selamat Menulis, Selamat Menginspirasi....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar