DEGRADASI MORAL.
Oleh : Mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Tadi pagi skitar pukul 7.20 diperjalanan mau ke kampus, ku lihat berdasar pengamatan empirik (lihat, dengar dan rasa).
Begini kronologinya, ketika sy berhenti di perempatan lampu merah dkt
SGM, dari arah barat mau ke Timur trjd kecelakaan (srempetan) yg korban
nya bapak2 sdgkan yg nyrempet adl anak umur krg lebih 18 th dg memakai
celana biru tua (SMP) sdgkan baju kaos dn mengendarai Vixion.
Korban yg berinisial laki2 separuh baya itu mengenderai motor Vario
putih dan tergletak di tengah jalan. Pelaku srempet sempat mau melarikan
diri, tapi Alhasil Alhamdulillah Allah tidak mengizinkan nya, dg
hambatan Motor Vixion nya mogok dan di piting (di halangi oleh bapak2
pengendara motor yg berada disampingnya). akhirnya, didekati polisi dan
di introgasi oleh polisi. Kemudian mereka berembug.
Cerita yg
hampir sama, seminggu yg lalu saat sy dlm perjalanan pulang dr kampus,
di jalan Imogiri Barat (lokasi: Warung makan Ma'pinah) ada bubaran
supporter sepak bola dr Stadion Sultan Agung Bantul dg membawa bendera
putih biru. Dalam kondisi hujan yg lebat, kebetulan sy tdk membawa
mantrol, sy nekat menerobos lebatnya hujan agar bs segera smpai dirumah
dn tentunya hati2 itu sll menjadi prioritas utama...
Supporter tsb
mayoritas pelajar skitar umur 16-23, naik motor se-enak nya dengan
mengibarkan bendera tsb shingga nutupi jalan dn bisa mmbahayakan bagi
pengendara motor disamping kanannya (krn posisi mereka dari selatan ke
utara (kiri jalan) dn sy saat itu dari arah Utara mau ke Selatan (kanan
jalan).
Jalan Raya dipenuhi mereka, sambil mngibarkan bendera pula. Bisa dibayangkan bgaimana seremnya?
Saat itu, sy tidak kuat shingga berhenti di tengah2 jalan sambil menjerit dan menciptakan daya tarik kpd Allah...
Ku tak bisa membayangkan jika tanpa Ma'unah Nya, mngkin sy telah berada
di kehidupan yg berbeda. Alhamdulillah, smg sll dlm naungan dn Ridho
Nya.
(Berkat doa ibu juga)
Jika kita berkaca pd Indonesia,
sebenarnya Indonesia tdk kekurangan orang-orang yg pinter (pengetahuan),
tetapi kekurangan org2 yg berkarakter dan berjiwa nawabrata. Generasi
Muda yg diharapkan Bangsa sbg penopang utama skaligus penerus masa
depan, ketika melakukan hal2 yg sperti itu sangat tidak manusiawi dan
tidak wajar. Dimana letak saling menghormati, mencintai, saling
menghargai, tanggung jawab, berjiwa agamis dn nasionalis? Apakah mereka
tidak mikir bagaimana hidup dizaman 15 th yg akan dtg? Apakah tidak
berkaca pd orgtua yg mencari nafkah hingga mandi keringat?
jika dihubungkan dlm pendidikan, mayoritas dr mereka alumni setara SMP dan SMA.
Apakah di Sekolah tidak di ajari tata krama? Apakah tidak ada pelajaran
PAI? Siapa guru PAI nya? Pertanyaan2 tsb pasti terbesit dlm benak org
yg sekilas melihat dn merasakan perilaku mereka.
Sy yakin, ketika
pelajaran AGAMA, guru Agama oke dlm menjelaskan materi pelajaran dan
tanpa disadari, Guru dlm mnjelaskan materi pelajaran pasti menyelipkan
kisah2, amsal, tauladan, pengalaman dsb yg bersumber pd Al Qur'an dn
hadist Nabi...
Sehingga, SALAH BESAR jika ada org yg mengatakan mjd Guru PAI itu mudah.
amanah dn Tanggung jawab yg dipikul sangatlah besar. Terutama dlm membentuk karakter / akhlaq peserta didik.
Berdasar pengalaman penulis, guru2 di Sekolah/madrasah juga telah
menjalankan tugas dn kewajiban nya dg baik, tak hanya mengajar tetapi
mereka juga mendidik, menginspirasi dan memotivasi anak Indonesia utk
maju dan berprestasi, mencetak Anak2 yg cerdas iman, cerdas hati,
pikiran dan tindakan. Karena sy smpe skrg masih ingat, pepatah dr guru
Matematika (Ibu Rita Yuana, MTs Gondowulung Bantul) "Jadilah Bintang,
diantara bintang-bintang yg lainnya" yg smpe skrg sll ku jadikan
motivasi utk maju dn berprestasi. Amin
Lalu? Klu begitu...kita
tidak boleh mengabaikan unsur2 pembentukan jati diri anak yg lain. Ada
tripusat pendidikan, yakni Keluarga, Sekolah dn masyarakat.
Di Sekolah sdh sy jabarkan tadi.
Lalu bagaimana peran keluarga yg dlm konteks ini adalah Orangtua?
Bagaimana dlm mendidiknya? Bagaimana pola asah, asih dan asuh org tua?
hal ini....harus di renungkan bersama. Seperti apapun Wanita, entah S1
atau bahkan Professor pasti akan mjd seorang ibu. Dan akhirnya
pendidikan tingginya utk membina keluarganya (khususnya dlm mendidik
anak). Karena al umm madrosatul ula.
bukankah Buah yg jatuh tidak
jauh dari pohonnya? Ketika melihat anak itu hebat, pasti tidak lain
karena didikan org tua nya, terutama didikan seorang IBU.
Lalu di
masyarakat/lingkungan nya...dengan siapa ia berteman? Bagaimana
interaksi pergaulan nya? Karena teman pergaulan sngat memberikan
pengaruh besar bagi pembentukan jati diri individu. Kalau berteman dg
penjual perfum, akan ketularan Wangi nya. Begitu sebaliknya, kira nya
begitu...
Dan penulis rasa...jika ada problem sprt ini, SANGAT
SALAH BESAR jika menyalahkan Sekolah, menyalahkan GURU BISA ngajar nggak
sih? Kok output nya kyk gini???? Tetapi...bercermin lah pd bagaimana
keluarga nya, bagaimana lingkungan nya...
Dan seharusnya, ini
menjadi tanggung jawab kita semua (orangtua, pendidik, msyarakat) dlm
mendidik anak-anak bangsa. Karena sejatinya, manusia adl makhluk
educandum dn educandus yg bisa dididik dan bisa mendidik org lain. Mari
Ciptakan suasana yg ramah, hangat dan menyenangkan dalam keluarga dn
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar