SYUBBAANUL YAUM RIJAALUL GHOD
Oleh : Mukaromah, PAI UIN Jogja.
Tulisan ini sy persembahkan kepada Seluruh Rakyat Indonesia (Pendidik, Mahasiswa-i, Santri dan orang-orang yang Mencintai dan Peduli Bangsa ini yang tidak dapat disebut satu persatu karena keterbatasan penulis).
Memang benar adanya bahwa memaknai hidup dalam bergaul, berorganisasi dan bermasyarakat akan berjalan mengalir dengan melihat, mendengar, mengamati, mencermati lalu menginternalisasikan dalam lubuk hati yang paling dalam baru kemudian mengaplikasikan (Action) dalam tindakan nyata.
Sebenarnya kunci utama dalam bergaul kepada orang entah itu di Pondok, kampus, organisasi maupun masyarakat adalah “RAMAH”dan “MUDAH BERGAUL”.That’s Right. Dan itu pula yang menjadi ciri khas orang berpendidikan (dalam arti luas) dan paham agama.
The Gold generation of Indonesia ada pada Pemuda nya. Karena 15 tahun yang akan datang, estafet kepemimpinan Bangsa ini akan dipegang oleh Generasi Muda nya, termasuk kita semua. Alaysa kadzalik ?
Berbicara mengenai Bangsa Indonesia, Humanisme Indonesia dibawah naungan PBB hanya sbg objek/ Maf’ulun bihi, Karena Indonesia lemah lahir dan batin. Maaf ini kritikan, karena sy melihat Problematika Indonesia yang kian kompleks dan merajalela dari hari per hari. Baik itu dalam bidang Agama, social humaniora, ekonomi maupun budaya. Seperti : Kemiskinan, Korupsi, Narkoba, Penegakan hukum yang lemah, kejahatan Seksual, kualitas PENDIDIKAN yang LEMAH, Pengelolaan SDA yang buruk (penebangan hutan scr liar, bom ikan dsb), Pengangguran dan sejatinya problematika tsb saling berkaitan antara problematika yang satu dengan yang lainnya. Sebagai Generasi Muda, apalagi pelajar hal yang harus dilakukan ialah dengan belajar bersungguh-sungguh. Belajar apapun itu, karena belajar tidak terbatas hanya di ruang kelas saja. Tetapi, Belajar dapat dilakukan dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Terutama belajar Memaknai hidup dan Menjadi orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain khoirunnaas anfa’uhum linnaas
Mengutip Nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya Kiyai Haji Hasyim Asy’ari karya _Heru Soekardi_ cet. Department Pendidikan Dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventaris dan Dokumentasi 1977/1920), beliau ngendiko :
“Seorang pemuda-pemudi merupakan calon generasi penerus perjuangan bangsa dan Islam di masa depan. Mereka harus mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang cukup. Merawatnya untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa membutuhkan kesabaran. Kaum pemuda yang sedang dalam berproses menyiapkan masa depannya seringkali tidaksabaran dengan proses yang digelutinya. Ia pun mudah terjebak dan tersihir dengan sesuatu yang menyilaukannya. Misalnya, kememawahan, jabatan, dan lain sebagainnya.Kini sudah tiba di zaman penuh dengan hiruk pikuk. Dimana banyak kaum muda yang tidak memiliki karakter kuat, terjerembab narkoba, tawuran dan sebagainya. Sudah selayaknya mereka itu perlu diselamatkan.Tidak dapat dibayangkan, jika generasi muda kita sekarang ini sudah seperti itu, bagaimana kedepan bangsa ini.Semasa hidupnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan pesan yang amat mendalam untuk diresapi. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita, karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dan lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Di sini letak arti dari suatu perjuangan. Dan untuk perjuangan ini kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada lagi,”
Oleh : Mukaromah, PAI UIN Jogja.
Tulisan ini sy persembahkan kepada Seluruh Rakyat Indonesia (Pendidik, Mahasiswa-i, Santri dan orang-orang yang Mencintai dan Peduli Bangsa ini yang tidak dapat disebut satu persatu karena keterbatasan penulis).
Memang benar adanya bahwa memaknai hidup dalam bergaul, berorganisasi dan bermasyarakat akan berjalan mengalir dengan melihat, mendengar, mengamati, mencermati lalu menginternalisasikan dalam lubuk hati yang paling dalam baru kemudian mengaplikasikan (Action) dalam tindakan nyata.
Sebenarnya kunci utama dalam bergaul kepada orang entah itu di Pondok, kampus, organisasi maupun masyarakat adalah “RAMAH”dan “MUDAH BERGAUL”.That’s Right. Dan itu pula yang menjadi ciri khas orang berpendidikan (dalam arti luas) dan paham agama.
The Gold generation of Indonesia ada pada Pemuda nya. Karena 15 tahun yang akan datang, estafet kepemimpinan Bangsa ini akan dipegang oleh Generasi Muda nya, termasuk kita semua. Alaysa kadzalik ?
Berbicara mengenai Bangsa Indonesia, Humanisme Indonesia dibawah naungan PBB hanya sbg objek/ Maf’ulun bihi, Karena Indonesia lemah lahir dan batin. Maaf ini kritikan, karena sy melihat Problematika Indonesia yang kian kompleks dan merajalela dari hari per hari. Baik itu dalam bidang Agama, social humaniora, ekonomi maupun budaya. Seperti : Kemiskinan, Korupsi, Narkoba, Penegakan hukum yang lemah, kejahatan Seksual, kualitas PENDIDIKAN yang LEMAH, Pengelolaan SDA yang buruk (penebangan hutan scr liar, bom ikan dsb), Pengangguran dan sejatinya problematika tsb saling berkaitan antara problematika yang satu dengan yang lainnya. Sebagai Generasi Muda, apalagi pelajar hal yang harus dilakukan ialah dengan belajar bersungguh-sungguh. Belajar apapun itu, karena belajar tidak terbatas hanya di ruang kelas saja. Tetapi, Belajar dapat dilakukan dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun. Terutama belajar Memaknai hidup dan Menjadi orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain khoirunnaas anfa’uhum linnaas
Mengutip Nasihat KH. Hasyim Asy’ari dalam bukunya Kiyai Haji Hasyim Asy’ari karya _Heru Soekardi_ cet. Department Pendidikan Dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventaris dan Dokumentasi 1977/1920), beliau ngendiko :
“Seorang pemuda-pemudi merupakan calon generasi penerus perjuangan bangsa dan Islam di masa depan. Mereka harus mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang cukup. Merawatnya untuk menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa membutuhkan kesabaran. Kaum pemuda yang sedang dalam berproses menyiapkan masa depannya seringkali tidaksabaran dengan proses yang digelutinya. Ia pun mudah terjebak dan tersihir dengan sesuatu yang menyilaukannya. Misalnya, kememawahan, jabatan, dan lain sebagainnya.Kini sudah tiba di zaman penuh dengan hiruk pikuk. Dimana banyak kaum muda yang tidak memiliki karakter kuat, terjerembab narkoba, tawuran dan sebagainya. Sudah selayaknya mereka itu perlu diselamatkan.Tidak dapat dibayangkan, jika generasi muda kita sekarang ini sudah seperti itu, bagaimana kedepan bangsa ini.Semasa hidupnya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah memberikan pesan yang amat mendalam untuk diresapi. “Didik dan bimbinglah pemuda-pemuda kita, karena mereka pewaris masa depan kita. Islam memang selamanya akan tegak berdiri tak terkalahkan. Namun tidak mustahil akan sirna dan lingkungan kita untuk timbul di tempat lain. Pemeliharaan tidak hanya pada waktu kini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jangan dilupakan bahwa tidak semua orang menyukai Islam. Di sini letak arti dari suatu perjuangan. Dan untuk perjuangan ini kedudukan pemuda sangatlah penting. Mereka akan mengarungi hidup di masa yang akan datang, saat mana kita yang tua-tua ini sudah tidak ada lagi,”
dengan nasihat beliau, saya teringat ayat
didalam Al Qur’an Qs. An Nisa' : 9
yang bermakna janganlah orangtua meningalkan anak-anak nya dalam keadaan Dho’if atau lemah. Lemah dalam hal pikir, harta, jiwa maupun raga (spiritual). Lalu kenapa orangtua Menyekolahkan bahkan Me-nyantrikan anak-anaknya? Yaa karena orangtua sadar, kelak mereka akan meninggal dunia dan hanya anak-anak nya lah yang menjadi “harta berharga” bagi diri dan keluarganya. Karena sejatinya PENDIDIKAN dalam arti seluas-luas nya adalah INVESTASI MASA DEPAN. Dan dengan melalui Pendidikan, Bangsa ini akan jauh lebih baik. Masih ingat dengan Pidato Pak Anies Baswedan saat melepaskan Pengajar Muda untuk mengabdi didaerah terpencil? Berikut intinya : “Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan (salah satunya ) yakni : “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Itu adalah hak dankewajiban bagi rakyat Indonesia. Janji Mencerdaskan kehidupan Bangsa belum sepenuh nya terpenuhi jika masih ada 1 saja anak Indonesia yang BELUM BISA merasakan bangku sekolah”. Berdasar buku KISAH PENGAJAR MUDA yg telah sy baca, di daerah terpencil masih buanyak sekali anak-anak yang belum bisa merasakan nikmatnya Sekolah. Bahkan Fasilitas di sekolah pun masih jauh dikatakan layak. Semoga Pemerintah lebih memperhatikan Pendidikan khususnya didaerah yang jauh dari jangkauan pemerintah (3T) Karena Pada hakikatnya, Mendidik bukan hanya tanggung jawab Guru dan orangtua. Akan tetapi, mendidik adalah tanggung jawab semua orang yang memiliki ilmu walau qolil. Bukankah Ballighu ‘anni walau aayah? Selain itu juga karena manusia adalah makhluk EDUCANDUM (membutuhkan pendidikan) dan EDUCANDUS (dapat mendidik orang lain)
Mari, bersama-sama melunasi Janji Kemerdekaan RI dan Bersatu Membangun Pendidikan yang lebih baik.
Terakhir, saya mengutip makna Pendidikan dari tokoh yang amat sy kagumi, yakni Ahmad D. Marimba: Pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yg tujuannya agar kepribadian peserta didik terbentuk dengan sangat unggul.
Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter. Pendidikan yang baik tidak hanya mentransfer materi pelajaran/kuliah saja, akan tetapi yang lebih dari itu ialah Penanaman Karakter
Mengajarkan dan menanamkan sifat dan sikap yang terpuji pada anak, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Terutama sifat JUJUR dan sikap TANGGUNG JAWAB. Selain itu juga, Membimbing dan Memotivasi anak agar mereka mempunyai kepercayaan diri dan siap untuk menatap masa depan. Sehingga, Peran guru dan atau dosen tidak hanya sebagai Pendidik dan Fasilitator semata, tetapi juga harus (wajib ‘ain hukumnya) menjadi Motivator dan Inspirator Anak Indonesia.
yang bermakna janganlah orangtua meningalkan anak-anak nya dalam keadaan Dho’if atau lemah. Lemah dalam hal pikir, harta, jiwa maupun raga (spiritual). Lalu kenapa orangtua Menyekolahkan bahkan Me-nyantrikan anak-anaknya? Yaa karena orangtua sadar, kelak mereka akan meninggal dunia dan hanya anak-anak nya lah yang menjadi “harta berharga” bagi diri dan keluarganya. Karena sejatinya PENDIDIKAN dalam arti seluas-luas nya adalah INVESTASI MASA DEPAN. Dan dengan melalui Pendidikan, Bangsa ini akan jauh lebih baik. Masih ingat dengan Pidato Pak Anies Baswedan saat melepaskan Pengajar Muda untuk mengabdi didaerah terpencil? Berikut intinya : “Dalam Pembukaan UUD 1945 alenia 4 disebutkan (salah satunya ) yakni : “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Itu adalah hak dankewajiban bagi rakyat Indonesia. Janji Mencerdaskan kehidupan Bangsa belum sepenuh nya terpenuhi jika masih ada 1 saja anak Indonesia yang BELUM BISA merasakan bangku sekolah”. Berdasar buku KISAH PENGAJAR MUDA yg telah sy baca, di daerah terpencil masih buanyak sekali anak-anak yang belum bisa merasakan nikmatnya Sekolah. Bahkan Fasilitas di sekolah pun masih jauh dikatakan layak. Semoga Pemerintah lebih memperhatikan Pendidikan khususnya didaerah yang jauh dari jangkauan pemerintah (3T) Karena Pada hakikatnya, Mendidik bukan hanya tanggung jawab Guru dan orangtua. Akan tetapi, mendidik adalah tanggung jawab semua orang yang memiliki ilmu walau qolil. Bukankah Ballighu ‘anni walau aayah? Selain itu juga karena manusia adalah makhluk EDUCANDUM (membutuhkan pendidikan) dan EDUCANDUS (dapat mendidik orang lain)
Mari, bersama-sama melunasi Janji Kemerdekaan RI dan Bersatu Membangun Pendidikan yang lebih baik.
Terakhir, saya mengutip makna Pendidikan dari tokoh yang amat sy kagumi, yakni Ahmad D. Marimba: Pendidikan ialah suatu proses bimbingan yang dilaksanakan secara sadar oleh pendidik terhadap suatu proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, yg tujuannya agar kepribadian peserta didik terbentuk dengan sangat unggul.
Kepribadian yang dimaksud ini bermakna cukup dalam yaitu pribadi yang tidak hanya pintar secara akademis saja, akan tetapi baik juga secara karakter. Pendidikan yang baik tidak hanya mentransfer materi pelajaran/kuliah saja, akan tetapi yang lebih dari itu ialah Penanaman Karakter
Mengajarkan dan menanamkan sifat dan sikap yang terpuji pada anak, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Terutama sifat JUJUR dan sikap TANGGUNG JAWAB. Selain itu juga, Membimbing dan Memotivasi anak agar mereka mempunyai kepercayaan diri dan siap untuk menatap masa depan. Sehingga, Peran guru dan atau dosen tidak hanya sebagai Pendidik dan Fasilitator semata, tetapi juga harus (wajib ‘ain hukumnya) menjadi Motivator dan Inspirator Anak Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar