FILOSOFI SYAWALAN
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi, PAI UIN Sunan Kalijaga YogyakartaBerangkat dari ayat fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaahaa menunjukkan bahwa hakikat manusia ialah makhluk dualisme yang terkadang khilaf (berbuat salah dan lupa) akan tetapi manusia juga makhluk sempurna sebagaimana Al Qur'an mengatakan manusia sebagai ahsanu taqwim wa ahsanul khaliqin yang cenderung kepada kebaikan. Sehingga fitrah manusia adalah baik, dengan dasar :
1. Potensi beragama, (25%) / (+)
2. Potensi akal, (25%) / (+)
3. Potensi fisik (25%) / (+)
Dann terakhir adalah potensi Nafsu (20%) / (+ dan -)
Yang mana pembagian nafsu tersebut ada :
a. Muthmainnah, : Nafsu yang mendorong manusia utk berbuat baik dan terbaik. Sehingga ketika manusia melakukan suatu perbuatan yang baik maka akan merasakan ketenangan, kenyamanan dan perdamaian dengan hati, diri sendiri maupun orang lain. Sehingga hati nya akan terpaut kepada Rabbil 'izzati, dengan dalil "ala bi dzikrillahi tathmainnul qulub" dengan Mengingat Allah. Maka hati akan tenang. Mengingat Allah tidak hanya sekedar dzikir lisan dengan mengucap Alhamdulillah, Allahu akbar, subhanallah dan yang lain nya. Akan tetapi juga harus di manifestasikan dalam tindakan nyata sebagai wujud ketaqwaan Nya, salah satunya dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu kebencian, dengki, iri hati, sombong dll. Serta dengan menyambung tali-tali yang sebelumnya putus karena rasa permusuhan, kekecewaan, dan perselisihan. Jika kita mampu membebaskan diri dari belenggu penjajahan batin, insyaAllah hati akan merasa tenang dan nyaman
b. Waswasah : Nafsu yang menuntun manusia untuk selalu berhati-hati dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana dalam hadist disebutkan, sebaik-baik manusia ialah yang menjaga lisan nya.
Mengapa Lisan? Karena akar dari segala kerisauan, permusuhan dan kedengkian adalah Lisan. Sehingga Nabi SAW bersabda : "Jika engkau tidak bisa berbicara baik, maka diam lah" Sebuah kata yang sangat bermakna. Dan seharusnya, ini menjadi renungan kita bersama
3. Lawwamah : Nafsu yang mendorong manusia untuk berbuat kejelekan, madharat dan mafsadat bagi kehidupan. Dan nafsu lawwamah inilah yang menjadikan manusia terkadang khilaf dan berbuat dosa jika tidak bisa menghindari nya. Sehingga ini jika di prosentasekan sebanyak (5%) /(-)
Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang luar biasa. Bisa lebih mulia daripada malaikat, akan tetapi juga bisa lebih hina daripada iblis dan syaithan manakala manusia tidak bisa menempatkan nafsu nya dengan baik.
Itulah mengapa, Allah SWT mengistimewakan manusia dengan segala aspek dan dimensi nya. Tak lain karena manusia mempunyai akal dan hati. Akal manusia menuntun kepada jalan kebenaran, yang dengan akal itulah manusia dapat membedakan yang haq maupun yang bathil. Dengan akal pula, manusia berbeda dengan hewan yang hidup hanya sekedar hidup tanpa mengetahui arah tujuan yang jelas. Manusia hidup harus mempunyai goal (tujuan), visi misi, target dan harapan. Namun.. Sebaik-baik tujuan hidup manusia ialah Menuju kehadirat Nya dengan jalan yang sesuai dengan yang telah ditentukan oleh Nya, termaktub dalam Way of life manusia, yakni Al Qur'an.
Dengan hati. Manusia bisa lebih berhati-hati. Karena hati mampu merasakan sesuatu lebih dalam, jauh lebih dalam daripada mata yang hanya sekedar mampu melihat obyek benda dengan wujud material/fisik. Namun, hati yang suci akan merasakan betapa indahnya persaudaraan, ukhuwwah, perdamaian, Kasih sayang, Cinta suci, saling memaafkan dan saling berbagi.
Allah mengingatkan kepada manusia, dalam Firman Nya :
"wa laqad dzara'naa li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum quluubun laa yafqahuna bihaa, wa lahum a'yunun laa yubsiruna bihaa, wa lahum adzanun la yasma'una bihaa, ulaika kal an'ami bal hum adhalla, ulaika humul ghafiluna"
Manusia yang tidak menggunakan hati, mata, dan telinga nya untuk hal-hal yang semestinya, maka Allah akan menyamakan ia dengan binatang yang tersesat. Yang bingung dan risau dalam menjalani kehidupan ini.
Allah memberikan kita hati, agar kita peka terhadap realita sosial sebagaimana agar kita mengetahui keadaan orang dibawah kita dan kemudian kita mampu memposisikan diri kita seperti nya. (Olah rasa)
Dengan mata, kita mampu melihat orang-orang sekitar yang hidupnya berada dibawah kita agar kita pandai bersyukur.
Dengan teliga, kita mampu untuk mendengar jerit tangis mereka serta mendorong kita untuk berbuat sesuatu.
A
dapun relevansi nya dengan makna Puasa ialah agar kita dapat merasakan betapa perih nya orang yang kekurangan makanan, menahan diri dari sesuatu yang secara dzahir terlihat Indah nan mempesona. Seperti kata pak dosen Radino Fernando, puasa itu belajar mati. Meskipun kita di iming-imingi sesuatu yang menggoda di depan mata, kita tidak akan tertarik untuk mencicipi nya.
Kemudian, seusai Bulan Ramadhan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama maka Allah memerintahkan kepada kita untuk berzakat. Mensucikan diri kita, dari segala kotoran. Dan mengasah kepedulian kita terhadap sesama yakni dengn menyantuni fakir miskin. Inilah bukti bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemasyarakatan.
Berdasar ulasan tadi, kesimpulan nya adalah manusia cenderung kepada kebaikan. Dan gelisah atopun ada yang mengganjal di hati apabila ia melakukan dosa dan salah, entah yang diperbuat kepada Allah ataupun kepada sesama manusia. Oleh karenanya, meminta maaf dan saling memaafkan merupakan salah satu alternatif untuk mensucikan diri dan kembali kepada Fitrah sejati manusia yang menghambakan diri kepada Nya, dan sadar akan eksistensi dirinya sebagai hamba, ummat dan manusia yang tidak luput dari salah dan lupa.
Sebagaimana Firman Nya :
"Rabbanaa la tuakhidznaa in nasiina au akhtha'naa"
Mengapa prof disitu Allah berfirman dengan menggunakan kata AU? bukankah faktanya, manusia itu tempatnya salah DAN lupa? Hal itu saya tanyakan kepada Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M. Ag. Beliau mengatakan : "Ayat tersebut mengandung makna psikologis yang amat sangat dalam. Faktanya, kita sebagai manusia sering berbuat salah DAN lupa. Tapi, Allah berkenan membesarkan hati kita seolah-olah ketidakpasan sesuatu yang kita perbuat karena kesalahan ATAU kelupaan kita"
Begitu besar curahan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba Nya, dan seharusnya kita pun juga demikan.
Ada pertanyaan, Lalu lebih baik mana :
Memohon maaf kepada semua orang, atau memaafkan semua orang ?
Menurut saya, memaafkan orang lain lebih utama. Akan tetapi, kita harus sadar bahwa seperti apapun manusia, secerdas dan sehebat apapun manusia tentu selama srawung (kenal) Pasti pernah berbuat salah dan lupa pada orang lain, sehingga tak salah jika orang tersebut meminta maaf kepada orang lain. Kerena minta maaf merupakan wujud Kasih sayang dan cerminan serta manifestasi hati sebagai seorang manusia yang insyaAllah mempunyai kecerdasan EQ dan MaQ yang baik, sehingga ia menyadari bahwa tak lebih hanya sekedar manusia biasa.
Oleh karenanya, memaafkan semua orang juga harus bersinergi dengan memohon maaf kepada orang-orang. Karena "innal insana mahaalul khata'i wa nisyan". Tak lain karena manusia ialah human being. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar