Rabu, 26 Juli 2017

ABOUT MY PARENTS

Mukaromah, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2015

Dibalik laki-laki yang hebat, dibelakangnya tentu ada wanita hebat yang selalu memotivasi dan menginspirasi nya untuk berbenah dan terus maju, dibalik wanita hebat tentu ada laki-laki hebat yang menopang nya agar selalu kuat dalam menjalani kehidupan, dibalik anak yang hebat tentu ada orangtua yang hebat pula yang selalu mendoakan, mensupport dan memotivasi agar lebih baik dari sebelumnya serta di balik siswa/ mahasiswa yang hebat tentu dibelakangnya ada guru/dosen-dosen yang hebat pula yang selalu menjadi inspirator dan motivator bagi mereka.

Singkat namun melekat, indah nan bermakna. Sekarang aku sedang menempuh pendidikan S1 dalam konsentrasi Islamic education di kampus putih, Kampus rakyat yang terletak di Yogyakarta yang merupakan perguruan tinggi favorite di Jogja, tak lain ialah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu, aku juga masih berthalabul ‘ilm di sebuah Pesantren di daerah Bantul, yakni PP. An Ni’mah Kanggotan Pleret, Pleret Bantul Yogyakarta.

Semua tak lain karena dorongan dan motivasi dari kedua orangtua ku, mereka adalah orangtua hebat yang telah membimbingku untuk menemukan rencana Tuhan untuk diriku, orang tua yang telah mengajarkan banyak hal kepadaku, orangtua yang setia berada di belakang ku, selalu ada untuk ku kapan pun dan dimanapun aku berada, dan orangtua yang telah meyakinkan ku untuk teru maju dan semangat dalam segala hal, termasuk dalam meniti pahit manis nya perjuangan di jalan Allah, semua tak lain karena hidup adalah amanah dan pengabdian.

berikut sekilas deskripsi mengenai orangtua ku,

1. IBU
 
Ibu Sudariyah namanya. Beliau yang melahirkan, menyusui, membimbing dan mendidik saya dan kedua mbak bi tarbiyatin hasanatin. Beliau pula yang mengajarkan arti keikhlasan nan indahnya kesabaran serta yang membesarkan kami dengan susu tauhid. Disetiap sujud panjangnya, beliau selalu berdoa agar keluarga kami selalu berada dalam Naungan dan Ridho serta Rahmat Nya. Pernah suatu malam saya menangis tanpa sepengetahuan nya, karena mendengar doa yang beliau lantunkan saat shalat lail. Ya Allah, seandainya kelak saya berhasil merealisasikan harapan dan cita-cita tentu semua itu karena tirakat beliau. Begitu besar pengorbanan dan perjuangan beliau, kasih sayang dan cinta tulus yang beliau curahkan kepada kami, tak akan pernah kami lupakan.

Saya banyak belajar dari ibu. Yakni tentang bagaimana ibu dalam mendidik anak-anaknya, sikap dan keteladanan beliau dalam memuliakan dan berbakti kepada suaminya (bapak saya). Bahkan Sedikitpun saya belum pernah melihat ibu marah karena bapak. Hanya saja saya mengerti dan paham, kadang jika hatinya terluka (entah karena suatu apa, bisa jadi karena saya ngeyel) beliau memilih menangis didalam kamar. Ketegaran hati beliau ini yang membuat saya salut dan bangga mempunyai sosok ibu yang luar biasa. Kekuatan dan ketegaran hati ibu teruji ketika bapak (partner hidup) yag dicintai Nya meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Beliau menangis dan tidak bisa menyembunyikan kesedihan nya, namun selang berapa jam kemudian tetesan air mata itu berubah bak secercah cahaya yang menyinari kami semua. Beliau mendekat dan memeluk tubuh saya yang pada saat itu lemah lunglai tak berdaya. Sebegitu kuat dan ikhlasnya ibu dalam menerima setiap Ketentuan dan ketetapan Nya.

Doa ibu yang selalu menemani perjalanan ku untuk meniti pahit manisnya perjuangan di jalan Allah. Sering saya mengalami hal yang kurang mengenakkan ketika di jalan (hampir kecelakaan), akan tetapi selalu selamat dari bahaya-bahaya tersebut. Pernah saya jatuh sekali di jalan saat dalam perjalanan pulang kuliah. Qadarullah, dibelakang saya tidak ada kendaraan yang melintas. Seandainya ada, mungkin sudah menabrak saya dan mungkin sekarang saya telah berada dalam kehidupan yang berbeda. Semua itu tak lain dan tak bukan karena doa ibu yang menjaga saya kapan dan dimanapun saya berada. Terharu ketika beliau berkata : “nok, doaku itu semoga sampean dijalan selalu aman dan sehat selalu”. Aamiin, Alhamdulillah....

Saya teringat sabda Nabi tentang kemuliaan yang melekat pada diri seorang ibu. Sampai-sampai lafal ibu diucapkan oleh Nabi SAW sebanyak tiga kali, baru kemudian beliau menyebut bapak. Dan Nabi SAW mengingatkan anak adam agar selalu menghormati ibu. Hadits tentang ibu ini tertuang dalam HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548 yang berbunyi :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.

Salah satu cara saya dalam membahagiakan dan memuliakan beliau ialah berthalabul ‘ilm dengan benar dan bersungguh-sungguh. Ibu selalu mendorong dan mensupport saya untuk terus maju dan berprestasi. Beliau berpesan bahwa Hidup hanya sekali, maka hiduplah dengan berarti. Selalu manfaatkan peluang dan kesempatan mumpung masih muda dan belum menikah, oleh karenanya matang kan semuanya (baik dalam segi mengaji maupun kuliah).



Gambar 1 : Wisuda Pondok An Ni’mah, Kanggotan

Tidak ada yang istimewa dalam wisuda pondok waktu itu, hanya saja saya berhasil memenuhi permintaan bapak dan ibu untuk mengikuti jejak kedua mbak saya (mbak Lihah dan mbak Isti). Semua bisa, karena support dan doa dari ibu. Beliau lah yang selalu memotivasi dan menginspirasi saya dalam menjalani dan memaknai hidup ini.

Sebagai seorang anak, saya wajib ‘ain menghormati, berbakti dan memuliakan beliau. Itu semua belum seberapa dibanding pengorbanan dan perjuangan beliau dalam mendidik dan membesarkan saya hingga saya bisa berada di Kampus sekaligus di jurusan yang banyak di idam-idamkan oleh orang-orang di seluruh Indonesia, tak lain dan tak bukan ialah PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Keinginan beliau yang pada akhirnya menjadi keinginan saya juga ialah “to be a lecturer”. Semoga Allah Meridhoi dan mempermudah segalanya. Terimakasih ibu hebatku, semoga kelak “mukaromah” bisa meneladani panjenengan, yakni menjadi ibu hebat bagi anak-anak, istri shalihah yang menjadi navigator bagi suami dan pendidik yang baik dan benar bagi anak-anak Indonesia. 

2. BAPAK

Bapak Sarmidi adalah nama sosok laki-laki hebat yang mengajarkan saya arti Perjuangan dan Kerja keras. Kala saya down beliau selalu menasihati saya, saat saya lelah dan penat beliau selalu meyakinkan saya bahwa perjalanan masih amat panjang. Bahkan ketika jam 9 malam pun, saat ketika saya telpon beliau rela datang ke pondok sambil membawakan makanan kesukaan saya yakni “sambal tempe” buatan ibu tercinta. Saat terkadang saya malas makan ketika dirumah, beliau tak segan mengambilkan saya makanan (manja karena anak terakhir). 




Bapak adalah sosok laki-laki hebat yang berada di belakang saya,beliau lah kawan sekaligus teman curhat setia dan diskusi yang masukan-masukan nya amat luar biasa dan sangat membangun. Beliau selalu berpesan “jadilah orang yang mandiri, nok”. Jangan menggantungkan diri kepada orang lain, apalagi kepada bapak. Dan sekarang, saya baru menyadari kenapa dahulu bapak memasukkan saya ke pesantren saat teman-teman sebaya asyik menikmati masa remaja nya, memberikan bekal kehidupan dengan mengajarkan gagahnya perjuangan nan kuatnya ghirah dan ‘azam serta membiasakan untuk bersungguh-sungguh dan bekerjakeras demi mendapatkan suatu hal. Tak lain, karena beliau meninggalkan saya terlalu cepat. Ya, diumur saya yang masih 19 tahun yang memang sebenarnya masih membutuhkan hangatnya kasih sayang dari seorang bapak. Tapi apalah daya, Rencana Nya jauh lebih indah dari apa yang terlintas dibenak saya.  

Betapa baik dan gumatinya bapak pada ibu, kedua mbak, kedua menantunya dan terlebih-lebih kepada saya. Semua ia berikan, segenap jiwa raga dan materi beliau kerahkan kepada kami demi mendapatkan pendidikan yang baik (semua beliau lakukan, karena ilmu jauh lebih utama daripada harta keduniawian). Saya masih ingat, dahulu ketika beliau mau memasukkan saya ke pesantren, nasihat yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang adalah “nok, Kelak bapak tidak bisa meninggalkan kepada kamu harta yang berlimpah, akan tetapi bapak hanya akan meninggalkan ilmu. Yang dengan ilmu itulah kapan dan dimanapun kamu berada, akan berharga. Oleh karenanya, yuk sekarang nurut perintah bapak untuk mondok di pesantren yang sama dengan kedua mbakyumu”. Kemudian saya lalui hari-hari itu dipesantren dengan bekal yakin dan penuh harapan pada Nya.

 Bapak meninggal pada hari Jum’at, 23 Desember 2016 pukul 21.30 di RS. Nur Hidayah, Blawong Bantul. H-3 sebelum meninggal, saya menangis didepan beliau sambil menceritakan perjuangan dan kebaikan beliau pada kami, bagaimana awal mula bapak memasukkan kami dipesantren, serta kasih sayang yang beliau curahkan dan segenap jiwa raga yang beliau berikan. Beliau menjawab “masih ingat”  dan bilang “ojo nangis, nok (jangan menangis, nok), nanti bapak susah. H-2 bapak bilang sudah tidak kuat. Lalu saya jawab, kalau memang bapak sudah tidak kuat mboten nopo-nopo pak kulo ikhlas. Sembari saya menceritakan planning dimasa depan, termasuk lanjut studi dan tentang keluarga saya (kelak) diantara nya saya bercerita  bahwa  ingin anak saya ada yang di Gontor. Hal itu karena salah satu cita-cita yang selamanya tidak akan pernah bisa terealisasikan dalam diri saya sendiri (mukaromah)  ialah menunutut ilmu di Gontor, oleh karenanya saya niatkan agar kelak anak atau dzurriyyah saya ada yang mewujudkan itu. H-1 saya memandikan (mengepel) beliau untuk yang terakhir kali nya, sambil saya lantunkan bacaan Al Qalam dan Ar Rahman, dan tanpa saya sadari ternyata bapak meneteskan air matanya sambil berpesan “nok, dimanapun dan seperti apapun kamu, bawalah selalu kejujuran dan kesungguhan karena itulah bekal kehidupan”.  

Saat wisuda pondok itu, bapak masih mendampingi saya akan tetapi kelak ketika saya wisuda sarjana bapak tidak bisa berada disamping saya untuk menyaksikan saya memakai toga dan bahkan kelak ketika saya menikah, bapak tidak bisa menjadi wali nasab saya dan membacakan akad kepada suami saya (kelak). Tapi ya begitulah, kullu nafsin dzaa i qatul maut. Semua yang bernyawa akan mati, semua milik Nya dan akan kembali kepada Nya. Karena hidup adalah amanah yang ketika diminta kembali oleh Nya, kapan dan dimanapun serta dengan kondisi apapun manusia harus siap dan ikhlas sekaliupun itu berat. Saya belajar dari Buya Syafi’i saat beliau ditanya bagaimana rasaanya ditinggal oleh putra-putra tercinta nya (dua putranya) meninggal dunia. Saat itu beliau menjawab, sebenarnya sakit dan pahit. Akan tetapi, dengan adanya iman dihati, maka sadar bahwa semua adalah titipan Nya.
 
Betapapun itu, hidup harus terus berlanjut. Masih banyak harapan dan cita-cita yang harus direalisasikan, masih banyak hal yang harus dilakukan dan masih banyak orang-orang yang harus dibahagiakan. Bapak, terimakasih telah mengajarkan banyak hal kepadaku, membimbing ku untuk menemukan rencana Allah yang ada pada diri ini

Dan Alhamdulillah engkau meninggalkan kami, saat tugas dan tanggungjawabmu dalam mendidik kami telah usai. Kini, mukaromah melanjutkan perjalanan kembali dengan bekal yang telah bapak beri dan ajarkan. Irfa’ Darajaatihi bil Karimah, Rabb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar