Kamis, 06 Juli 2017

LEBARAN, NYADRAN DAN MAKNA KEDUANYA
Mukaromah Zain Asy-Syarmidi

Lebaran merupakan moment yang paling dinanti-nantikan oleh mayoritas muslim diseluruh dunia. Bahkan di Indonesia pun, lebaran merupakan salah satu alternatif yang digunakan untuk berkumpul bersama keluarga besar. Moment setahun sekali ini sangat sayang jika dilewatkan, sehingga tak ayal jika jalanan macet, hal itu karena orang-orang sangat antusias untuk merayakan lebaran bersama keluarga, bahkan perantau jauh pun sudah memesan tiket dari jauh-jauh hari sebelum lebaran untuk mudik ke kampung halaman dengan harapan lebaran bersama keluarga dan sanak saudara.

Masing-masing daerah tentu mempunyai adat yang berbeda-beda, termasuk untuk merayakan lebaran. Ada desa yang mempunyai tradisi seusai shalat ’idul Fitri kemudian berkumpul bersama para jamaah di masjid, untuk bersalam-salaman sehingga tidak perlu lagi datang ke tiap-tiap rumah untuk meminta maaf. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meng-efektifkan waktu barangkali ada yang mau silaturrahmi ke tempat saudara yang berada di desa lain ataupun kepentingan yang lain. Selain itu, ada pula desa yang mempunyai tradisi seusai shalat idul fitri kemudian bergegas bersama-bersama untuk pergi ke makam desa guna ziarah kubur. Adapun acara yang di selenggarakan di makam ialah tahlil bersama.

 Asal muasal ini ialah adanya anggapan atau stigma yang sudah turun temurun di masyarakat bahwa ketika bulan puasa, tahlil yang dikhususkan kepada orang yang sudah meninggal dunia tidak sampai. Akan tetapi doa tersebut akan sampai manakala telah berakhirnya bulan Ramadhan. Oleh karenanya, sebelum memasuki bulan puasa (ramadhan), masyarakat ini biasanya mengadakan nyadran.

Berbicara mengenai nyadran, sebenarnya nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha. Akan tetapi pada abad ke-15, Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya, para wali tersebut berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada tradisi masyarakat Jawa saat itu, yakni mengenai pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musyrik. Oleh karenanya, agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa pada saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelasraskan dan mengisinya (akulturasi dan asimilasi) dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Sehingga nyadran merupakan bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan. Yang dengan hal inilah, orang jawa mengatakan nyadran sebagai bekal makanan (read : Doa) leluhur untuk sebulan, karena mengingat pada bulan Ramadhan nanti tidak tahlil (mendoakan leluhur).

Dan nyadran merupakan salah satu bentuk penghormatan dan birrul walidain kepada para leluhur yang telah lebih dulu menghadap ke hadirat Nya. Ya, begitulah keyakinan dan seperti itulah adat tradisi yang telah turun temurun dalam suatu masyarakat, dan menurut hemat saya hal tersebut merupakan adat yang baik, jika ada yang mengatakan perbuatan semacam itu adalah bid’ah, dengan tegas sy menjawab bid’ah hasanah yang harus dilestarikan dan dijaga sepanjang masa, karena itu merupakan ajaran yang sesuai dengan Al Qur’an dan warisan nusantara.

Mungkin mudah bagi orang untuk mengatakan hal semacam itu bid’ah sayyiah karena memang orang tersebut belum pernah merasakan yang namanya mati. Bukan kah orang mati juga membutuhkan asupan makanan yang dalam hal ini makanan tersebut berbentuk doa? Seperti sabda Rasulullah SAW : Apabila seseorang itu meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan untuknya.

Seusai membaca doa untuk lelehur di makam pada moment lebaran, biasanya dalam suatu masyarakat ada tradisi keliling kampung. Yang mana tiap-tiap rumah menyediakan jamuan makanan untuk para tamu. Tak hanya sekedar jamuan makanan, tetapi juga ngobras (ngobrol santai) entah itu seputar pekerjaan, pendidikan, maupun tentang jodoh. Pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan ialah “kapan nikah nya”? sudah ada yang melamar belum? Dsb. Yang terkadang hal itu membuat baper alias bawa perasaan. Hahaha...

Betapapun itu, moment lebaran sungguhlah indah nan bermakna. Lebaran merupakan moment untuk merekatkan pasuduluran, ukhuwwah sekaligus simpul perdamaian dan wujud kongkrit dari islam rahmatan lil ‘alamin.

Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya kariem. Sugeng riyadi, kathah lepat kulo nyuwun pangapunten lahir batos lan nyuwun doa pangestunipun.....
selamat hari raya Idul Fitri 1438 H, mohon maaf lahir dan batin. Semoga selalu dalam naungan, bimbingan, ridha dan rahmat Nya.
(laqad khalaqnal insana fii ahsani taqwim)

Mukaromah Zain Baiikbaiix (yang belum ber-) Keluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar