Design for Change Rabu, 8 Februari 2018.
(MALAS KULIAH)
Feel
Bulan Februari
merupakan awal perkuliahan disemester 6. Ya, semester yang tidak lagi muda.
Semester yang penuh perjuangan dan pertanggungjawaban. Baik tanggungjawab
terhadap diri sendiri, orang lain maupun tanggungjawab akademik. Semester baru
seharusnya energi baru dan semangat baru. Namun tidak untuk saya, kali ini saya
benar-benar lelah dan penat seakan ingin tidak melangkahkan kaki ke kelas untuk
sekedar apel perkuliahan pertama. Tapi justru aku ingin pergi ke perpustakaan
untuk membaca dan mengelist buku baru yang ingin ku koleksi sebagai referensi
dari penulisan buku karya-ku. Lagi-lagi aku dihantui oleh bisikan sekilas “woy
ingat IP”, nanti kalau absen bolong satu nilai nggak bisa A loh
alias nggak bisa 4,0. Bisikan yang lain pun terdengar seperti ancaman
bagiku, “ingat besok kamu mau izin karena kamu harus LK.II jadi sekarang harus
masuk kelas biar bolong absennya nggak banyak, sehingga nggak
menjatuhkan nilai.
Imagine
Bisikan-bisikan terdengar begitu dahsyat ditelinga hingga sampai
relung batin terdalam. Akhirnya aku menyadari betapa waktu harus dimanajemen
dengan baik. Memprioritaskan sesuatu hal yang harus diprioritaskan. Dengan
demikan, aku putuskan untuk masuk kelas.
Do
Sesampainya di kelas, ternyata tiada hal yang sia-sia. Kala itu
perjumpaan pertama dengan Dr. Muqowim. Dosen Tarbiyah yang famous dalam
segala bidang, baik akademik maupun non akademik. Banyak insipirasi dan
motivasi yang saya dapatkan ketika mengikuti perkuliahan ini, salah satunya
ilmu tentang merubah diri ke arah yang lebih baik dan berusaha untuk senantiasa
mengembangkan diri. Rasanya seperti disiram air es dipagi hari, menyejukkan
tapi kaget. Dalam hati aku berkata “ah rugi sekali kalau tadi ku putuskan untuk
tidak masuk kelas ini”. Akhirnya aku berkomitmen untuk tidak menyepelekan sesuatu
hal, sekalipun itu kecil. Setelah perkuliahan selesai, saya putuskan untuk
segera menulis hal-hal yang harus segera dilaksanakan dan mencari info tentang
seminar.
Share
Tak lama kemudian, teman organisasi mengirimi sebuah artikel
terkait dengan seminar kebangsaan dan isu-isu multikultural yang akan
diselenggarakan di CH UIN Lantai 2. Saya segera mendaftar dan tidak sabar untuk
segera mengikuti seminar tersebut. Hal ini karena saya terinspirasi oleh Dr.
Muqowim yang mana beliau selalu mengatakan “Tidak ada waktu untuk menunggu dan
melamun”. Karena waktu adalah “jejak perjalanan yang tidak akan dapat terulang
kembali”. Untuk itu, manfaatkan waktu dengan baik.
Value
Kisah ini menggambarkan betapa pentingnya untuk tidak
mempertututkan hawa nafsu diatas kewajiban. Artinya, kewajiban pertama dan
prioritas harus segera diselesaikan dan dikerjakan, meski tidak sesuai dengan
keinginan. Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya bahwa orang yang
menjalankan kewajibannya dengan baik dan tuntas maka ia akan memberi reward yang
berupa hikmah/kasyf dibalik kewajiban itu. Ternyata benar, tidak ada
sesuatu yang sia-sia terhadap sebuah pilihan. Meski awalnya malas masuk kuliah
dan memilih untuk pergi ke perpus, namun dalam perkuliahan ternyata ada hikmah
besar yakni mendapatkan motivasi dan inspirasi baru dari Dr. H. Muqowim, M.Ag.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar