Jumat, 22 Juni 2018


Design for Change Rabu, 8 Februari 2018.
(MALAS KULIAH)
Feel
Bulan Februari merupakan awal perkuliahan disemester 6. Ya, semester yang tidak lagi muda. Semester yang penuh perjuangan dan pertanggungjawaban. Baik tanggungjawab terhadap diri sendiri, orang lain maupun tanggungjawab akademik. Semester baru seharusnya energi baru dan semangat baru. Namun tidak untuk saya, kali ini saya benar-benar lelah dan penat seakan ingin tidak melangkahkan kaki ke kelas untuk sekedar apel perkuliahan pertama. Tapi justru aku ingin pergi ke perpustakaan untuk membaca dan mengelist buku baru yang ingin ku koleksi sebagai referensi dari penulisan buku karya-ku. Lagi-lagi aku dihantui oleh bisikan sekilas “woy ingat IP”, nanti kalau absen bolong satu nilai nggak bisa A loh alias nggak bisa 4,0. Bisikan yang lain pun terdengar seperti ancaman bagiku, “ingat besok kamu mau izin karena kamu harus LK.II jadi sekarang harus masuk kelas biar bolong absennya nggak banyak, sehingga nggak menjatuhkan nilai.


Imagine
Bisikan-bisikan terdengar begitu dahsyat ditelinga hingga sampai relung batin terdalam. Akhirnya aku menyadari betapa waktu harus dimanajemen dengan baik. Memprioritaskan sesuatu hal yang harus diprioritaskan. Dengan demikan, aku putuskan untuk masuk kelas.

Do
Sesampainya di kelas, ternyata tiada hal yang sia-sia. Kala itu perjumpaan pertama dengan Dr. Muqowim. Dosen Tarbiyah yang famous dalam segala bidang, baik akademik maupun non akademik. Banyak insipirasi dan motivasi yang saya dapatkan ketika mengikuti perkuliahan ini, salah satunya ilmu tentang merubah diri ke arah yang lebih baik dan berusaha untuk senantiasa mengembangkan diri. Rasanya seperti disiram air es dipagi hari, menyejukkan tapi kaget. Dalam hati aku berkata “ah rugi sekali kalau tadi ku putuskan untuk tidak masuk kelas ini”. Akhirnya aku berkomitmen untuk tidak menyepelekan sesuatu hal, sekalipun itu kecil. Setelah perkuliahan selesai, saya putuskan untuk segera menulis hal-hal yang harus segera dilaksanakan dan mencari info tentang seminar.

Share
Tak lama kemudian, teman organisasi mengirimi sebuah artikel terkait dengan seminar kebangsaan dan isu-isu multikultural yang akan diselenggarakan di CH UIN Lantai 2. Saya segera mendaftar dan tidak sabar untuk segera mengikuti seminar tersebut. Hal ini karena saya terinspirasi oleh Dr. Muqowim yang mana beliau selalu mengatakan “Tidak ada waktu untuk menunggu dan melamun”. Karena waktu adalah “jejak perjalanan yang tidak akan dapat terulang kembali”. Untuk itu, manfaatkan waktu dengan baik.

Value
Kisah ini menggambarkan betapa pentingnya untuk tidak mempertututkan hawa nafsu diatas kewajiban. Artinya, kewajiban pertama dan prioritas harus segera diselesaikan dan dikerjakan, meski tidak sesuai dengan keinginan. Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya bahwa orang yang menjalankan kewajibannya dengan baik dan tuntas maka ia akan memberi reward yang berupa hikmah/kasyf dibalik kewajiban itu. Ternyata benar, tidak ada sesuatu yang sia-sia terhadap sebuah pilihan. Meski awalnya malas masuk kuliah dan memilih untuk pergi ke perpus, namun dalam perkuliahan ternyata ada hikmah besar yakni mendapatkan motivasi dan inspirasi baru dari Dr. H. Muqowim, M.Ag.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar