Design for Change Kamis, 22 Februari 2018.
(KARENA WHATSAPP)
Feel
Pada hari Rabu,
tepatnya pada tanggal 21 Februari seseorang yang sangat berjasa dalam hidup saya
me-WA saya dan memberikan kritik konstruktif. Disisi lain saya senang, namun
juga sedih. Senang karena ternyata beliau masih peduli dan sayang, buktinya
memberikan saya kritik konstruktif. Sedih karena isi WA nya menyayat hati.
Diantara isi WA nya ialah beliau tidak sependapat dengan jalan yang saya tempuh
sekarang, yakni kuliah sambil ber-organisasi. Saya enjoy dengan jalan hidup
yang saya pilih, karena itu baik dan saya yakin dijalan kebenaran.Organisasi
yang saya ikuti juga organisasi pemuda dan organisasi mahasiswa yang tidak
menentang pancasila, justru memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat banyak
dalam hidup saya, karena sejak masuk dalam organisasi mahasiswa ini saya lebih
giat membaca dan optimis dalam menatap masa depan. Namun entah mengapa orang
yang saya hormati itu tidak suka melihat saya gabung di organisasi ini, karena
perbedaan mindset.
Imagine
Saya akan tetap
berada di organisasi ini meski banyak tantangan dan hambatan, karena bagi saya
boleh berbeda pendapat asal tidak saling membenci dan memusuhi sekalipun kepada
orang yang berjasa dalam hidup saya tadi. Saran saya kepada orang tadi boleh
antisipasi, namun jangan saling mencurigai karena dapat berujung su’udzan. Perluas
mindset dan berikan kebebasan kepada orang untuk memilih jalan hidupnya
sendiri. Apapun yang terjadi saya akan tetap mencintai-nya.
Do
Karena orang
tadi lebih tua daripada saya, maka kurang etis jika saya tegur. Oleh karena itu
saya hanya bisa bersabar dan tetap pada pendirian-ku untuk tetap dalam satu
tujuan. Problem ini memberikan-ku hikmah agar melihat orang secara
komprehensif, alias tidak langsung menyimpulkan berdasar pada satu kacamata.
Sayang boleh, yang tidak boleh ialah berlebihan karena akan berujung over
protektif. Padahal tiap orang memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya
sendiri, dan bertanggungjawab atas pilihan hidupnya.
Share
Melihat sikap
orang yang saya hormati dan hargai seperti itu, saya mencoba untuk menenangkan
diri dan bermuhasabah dengan cara meminta pendapat orang lain mengenai sikap
dan sifatku selama menjadi aktivis. Adakah perubahan, dan perubahan tersebut
negatif atau positif? Mayoritas teman-teman berpendapat positif kok, mbak.
Dengan demikan, berarti saya masih tetap seperti yang dulu hanya saja waktu
saja tersita untuk organisasi, kumpul-kumpul, rapat dll. Tentu saya menikmati
semua itu, karena hal tersebut merupakan bagian dari sebuah proses dan
pendewasaan diri guna menyiapkan hidup untuk membaur di masyarakat. Oleh sebab
itu, saya segera minta maaf kepada ibu tersebut dan memberikan penjelasan
mengenai langkah yang saya ambil.
VALUE
Nabi Muhammad
SAW sang Revolusioner yang menerima perintah shalat dan menerima wahyu Al
Qur’an membutuhkan bimbingan Malaikat Jibril. Begitu pula manusia, saya yakin
bahwa setiap orang yang hidup di dunia ini membutuhkan bimbingan dan arahan
dari orang. Sehingga disini pentingnya peran seorang guru untuk mendidik dan
membimbing muridnya untuk menemukan rencana Tuhan bagi diri-nya. Namun guru
tetaplah guru, yang sifatnya hanyalah sebagai pengarah dan pembimbing. Tindakan
dan pilihan hidup diri muridnya sendirilah yang menentukan kemana dan mau
bagaimana arah dan langkah yang akan diambil, tentu dengan pertimbangan yang matang.
Sehingga jelas-lah bahwa peran guru dan atau orang lain hanyalah sebagai
pemberi alternatif jalan, bukan yang “menentukan segalanya” jalan yang harus
diambil, karena itu merupakan hak pribadi orang untuk memilih jalan hidupnya
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar