Jumat, 22 Juni 2018


Design for Change Kamis, 22 Februari 2018.
(KARENA WHATSAPP)
Feel
Pada hari Rabu, tepatnya pada tanggal 21 Februari seseorang yang sangat berjasa dalam hidup saya me-WA saya dan memberikan kritik konstruktif. Disisi lain saya senang, namun juga sedih. Senang karena ternyata beliau masih peduli dan sayang, buktinya memberikan saya kritik konstruktif. Sedih karena isi WA nya menyayat hati. Diantara isi WA nya ialah beliau tidak sependapat dengan jalan yang saya tempuh sekarang, yakni kuliah sambil ber-organisasi. Saya enjoy dengan jalan hidup yang saya pilih, karena itu baik dan saya yakin dijalan kebenaran.Organisasi yang saya ikuti juga organisasi pemuda dan organisasi mahasiswa yang tidak menentang pancasila, justru memberikan sumbangsih pemikiran yang sangat banyak dalam hidup saya, karena sejak masuk dalam organisasi mahasiswa ini saya lebih giat membaca dan optimis dalam menatap masa depan. Namun entah mengapa orang yang saya hormati itu tidak suka melihat saya gabung di organisasi ini, karena perbedaan mindset.

Imagine
Saya akan tetap berada di organisasi ini meski banyak tantangan dan hambatan, karena bagi saya boleh berbeda pendapat asal tidak saling membenci dan memusuhi sekalipun kepada orang yang berjasa dalam hidup saya tadi. Saran saya kepada orang tadi boleh antisipasi, namun jangan saling mencurigai karena dapat berujung su’udzan. Perluas mindset dan berikan kebebasan kepada orang untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Apapun yang terjadi saya akan tetap mencintai-nya.

Do
Karena orang tadi lebih tua daripada saya, maka kurang etis jika saya tegur. Oleh karena itu saya hanya bisa bersabar dan tetap pada pendirian-ku untuk tetap dalam satu tujuan. Problem ini memberikan-ku hikmah agar melihat orang secara komprehensif, alias tidak langsung menyimpulkan berdasar pada satu kacamata. Sayang boleh, yang tidak boleh ialah berlebihan karena akan berujung over protektif. Padahal tiap orang memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, dan bertanggungjawab atas pilihan hidupnya.

Share
Melihat sikap orang yang saya hormati dan hargai seperti itu, saya mencoba untuk menenangkan diri dan bermuhasabah dengan cara meminta pendapat orang lain mengenai sikap dan sifatku selama menjadi aktivis. Adakah perubahan, dan perubahan tersebut negatif atau positif? Mayoritas teman-teman berpendapat positif kok, mbak. Dengan demikan, berarti saya masih tetap seperti yang dulu hanya saja waktu saja tersita untuk organisasi, kumpul-kumpul, rapat dll. Tentu saya menikmati semua itu, karena hal tersebut merupakan bagian dari sebuah proses dan pendewasaan diri guna menyiapkan hidup untuk membaur di masyarakat. Oleh sebab itu, saya segera minta maaf kepada ibu tersebut dan memberikan penjelasan mengenai langkah yang saya ambil.

VALUE
Nabi Muhammad SAW sang Revolusioner yang menerima perintah shalat dan menerima wahyu Al Qur’an membutuhkan bimbingan Malaikat Jibril. Begitu pula manusia, saya yakin bahwa setiap orang yang hidup di dunia ini membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang. Sehingga disini pentingnya peran seorang guru untuk mendidik dan membimbing muridnya untuk menemukan rencana Tuhan bagi diri-nya. Namun guru tetaplah guru, yang sifatnya hanyalah sebagai pengarah dan pembimbing. Tindakan dan pilihan hidup diri muridnya sendirilah yang menentukan kemana dan mau bagaimana arah dan langkah yang akan diambil, tentu dengan pertimbangan yang matang. Sehingga jelas-lah bahwa peran guru dan atau orang lain hanyalah sebagai pemberi alternatif jalan, bukan yang “menentukan segalanya” jalan yang harus diambil, karena itu merupakan hak pribadi orang untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar