MEMBANGUN BANGSA DENGAN SEMANGAT UKHUWWAH DAN UPAYA DERADIKALISASI AGAMA MELALUI PENDIDIKAN
Mukaromah Asy Syarmidi, PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ‘15, HMI, LPM Paradigma UIN Sunan Kalijaga
Ramadhan tahun ini sama dengan tahun kemarin, yakni serempak antara NU dan Muhammadiyah. Itu berarti lebaran pun kian kompak dan meriah. Jika kita menilik pada sejarah, NU dan Muhammadiyah merupakan dua ormas terbesar di Indonesia. Seiring dengan bergulirnya reformasi, kedua ormas islam ini telah mampu memperkokoh ukhuwwah islamiyah. Hal itu tentu tidak lepas dari peran sosok Gusdur (KH. Abdurrahman Wahid) dan Amien Rais. Hubungan keduanya telah teralisasikan dalam bentuk kongkrit untuk bersama-sama membangun bangsa yang lebih baik. Dan kini, realisasi hubungan itu tidak hanya terbatas pada Gus Dur dan Amien Rais, akan tetapi telah terimplementasi dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam dunia pendidikan. Terlihat bahwa adanya sinergisitas antara pemuda NU dan Pemuda Muhammadiyah, antara KMNU, PMII dengan IPM dan IMM untuk bersama-sama membangun Negeri dengan melalui berbagai macam jalan dan cara yang berbeda-beda tetapi satu tujuan guna mencerdaskan kehidupan bangsa agar tercipta kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.
Tak diragukan lagi bahwa peran Gus Dur dan Amin Rais yang merupakan tokoh demokrasi dan reformasi amat berjasa dalam memperkokoh tali ukhuwwah antara NU dan Muhammadiyah. Karena antara NU dan Muhammadiyah mempunyai banyak persamaan. Kedua ormas ini sama-sama berjuang dalam bidang Dakwah. NU dan Muhammadiyah mempunyai komitmen tinggi untuk menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar ditengah modernisasi zaman. NU banyak melaksanakan dakwah lewat pendiidkan pesantren, majlis ta’lim, pengajian-pengajian, istighosah dsb. Sedangkan Muhammadiyah berdakwah lewat pendidikan modern seperti rumah sakit, panti asuhan, pengembangan ekonomi dsb.
Hal ini jelas menunjukkan adanya visi misi yang sama antara kedua ormas tersebut untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Adanya anggapan dan stigma di masyarakat luas mengenai dakwah NU yang berkonsentrasi didaerah pedesaan, sedangkan Muhammadiyah berkonsentrasi di daerah perkotaan merupakan hal yang wajar dan lumrah-lumrah saja. Karena untuk memahami itu perlu membuka sejarah kembali, yakni adanya negosiasi antara Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai pelopor berdirinya NU dengan Hadratusy Syaikh KH. Ahmad Dahlan sebagai pelopor berdirinya Muhammadiyah. Yakni mereka memilih untuk memajukan dan mengembangkan masyarakat di daerah pedesaan (bagi mbah Hasyim) sedangkan diperkotaan (bagi mbah Dahlan), yang pada akhirnya muncul kesan tradisional bagi NU dan Muhammadiyah dikenal dengan modernisasi nya. Hal itu tentu tidak menjadi mas.alah karena yang terpenting adalah mereka bisa melaksanakan tugas luhur dan tanggungjawabnya di tengah masyarakat baik pedesaan maupun perkotaan.
Baru-baru ini bangsa kita dikejutkan bahwa hubungan antara NU dan Muhammadiyah tidak harmonis, adanya persaingan tidak sehat antara keduanya terutama dalam hal kepemimpinan. Hal itu menurut hemat penulis karena ada unsur politis nya. Jika kita berkaca pada sejarah, pada masa orde baru banyak kelompok yang tidak menginginkan kuatnya peran politik umat islam. Maka untuk melemahkan itu, dibuat rekayasa politik adu domba antar ormas islam. Adapun rekayasa politik yang dipraktikkan selama ini untuk memecah belah kekuatan politik umat islam memang berhasil. Hal ini bisa dilihat dengan perlakuan upperclass yang kurang adil terhadap NU dan Muhammadiyah, yakni disatu pihak memberi peluang politik kepada NU, namun disisi lain Muhammadiyah seolah dipinggirkan dari panggung politik, begitu sebaliknya. Dan tidak sedikit kita menjumpai adanya polarisasi jabatan di sebuah institusi/lembaga. Akibat nya, hubungan antara NU dan Muhammadiyah kurang harmonis. Oleh karenanya, adakah urgensi dari polarisasi semacam itu? Padahal mereka berjuang bersama, yakni untuk memajukan institusi tersebut. Sehingga menurut hemat penulis, polarisasi semacam itu hanya akan menghambat kinerja dan produktivitas kerja dari suatu lembaga maupun institusi yang bersangkutan.
Akan tetapi kini umat islam telah menyadari berbagai rekayasa politik tersebut, Sehingga harus memperkokoh ukhuwah, agar tidak mudah dipecah belah, sebagaimana firman Allah SWT dalam Qs. Ali Imran : 104
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا
مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya : Dan
janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang
mendapat siksa yang berat.
Ayat diatas mengisyaratkan kepada manusia untuk membentuk suatu relasi dengan bertumpu pada prinsip keimanan dan persaudaraan agar manusia bisa saling menguatkan sehingga sanggup menunaikan tugas dan tanggung jawab hidup sebagai khalifatullah fil ardhi. Dan Allah melarang umat manusia untuk saling bercerai-berai dan bersengketa karena hal itu akan merugikan islam, yakni islam menjadi lemah dan goyah. Oleh karenanya umat islam harus bersatu padu agar menjadi kuat, meskipun berbeda organisasi dan latarbelakangnya, seperti yang tersebut dalam Qs. Ali Imron ayat 103
Ayat diatas mengisyaratkan kepada manusia untuk membentuk suatu relasi dengan bertumpu pada prinsip keimanan dan persaudaraan agar manusia bisa saling menguatkan sehingga sanggup menunaikan tugas dan tanggung jawab hidup sebagai khalifatullah fil ardhi. Dan Allah melarang umat manusia untuk saling bercerai-berai dan bersengketa karena hal itu akan merugikan islam, yakni islam menjadi lemah dan goyah. Oleh karenanya umat islam harus bersatu padu agar menjadi kuat, meskipun berbeda organisasi dan latarbelakangnya, seperti yang tersebut dalam Qs. Ali Imron ayat 103
واَعْتصِمُواْ
بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله
عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ
فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ
مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ
اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ
Artinya : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali
Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah
nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah)
menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan
kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu.
Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”
(Q.S. Ali Imron ayat 103)
Selain hal itu, NU dan Muhammadiyah merupakan benteng terkuat untuk menghadapi arus radikalisasi agama yang mengancam keutuhan NKRI. Selama NU dan Muhammadiyah masih berdiri dan aling bersinergi, insyaAllah aliran-aliran radikal tidak akan berhasil untuk memecah belah keutuhan NKRI. Adapun langkah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi tumbuh dan berkembangnya aliran radikal tersebut ialah dengan melalui Pendidikan. Dunia pendidikan merupakan alat vital yang strategis untuk menghadang hal itu. Adapun langkah tesebut dapat di implementasikan dengan :
1. Guru/pendidik
harus menjelaskan secara detail sejarah berdiri nya NKRI. Meminjam kata mutiara
dari Ir. Soekarno Jas merah (Jangan melupakan sejarah. Hal ini
guru harus menjelaskan bagaimana kiprah perjuangan dan peran dari para kiyahi
NU dan tokoh muhammadiyah dalam mendirikan Negara ini. Dalam kaitan tersebut,
guru bisa menjelaskan sebagian dari anggota BPUPKI merupakan orang-orang NU dan
Muhammmadiyah. Sehingga, jelas bahwa NU dan Muhammadiyah merupakan pelopor
berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karenanya jelas
bahwa Negeri yang berideologi pancasila ini sudah valid dan berkah karena
di dirikan dan diperjuangkan oleh para kiyahi dan Ulama’. Jadi, guru harus
menjelaskan hal ini secara detail kepada siswa-siswa nya agar mereka mengetahui
seluk beluk dan sejarah dari NKRI, sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi oleh
aliran-aliran yang mengatasnamakan agama untuk mendirikan khilafah islamiyah di
Negeri ini dengan dalil Pancasila is kafir. Na’udzubillahi min dzalik J
2. Adapun
peran dari pemerintah sendiri ialah dengan memfliter buku-buku yang dikonsumsi
oleh anak-anak sekolah. Selama ini ketika berbicara mengenai sejarah
kemerdekaan Indonesia, dalam buku-buku sekolah belum dituliskan kata atau
kalimat “Indonesia merdeka karena kiprah dan peran dari para kiyai dan ulama’”
dan juga belum dijabarkan mengenai anggota-anggota BPUPKI yang diantaranya
adalah orang-orang NU, MD. Sehingga, pemerintah mencetak buku tidak hanya
sekedar copas (copy paste) dari terbitan-terbitan sebelumnya, akan
tetapi perlu adanya rekonstruksi dan penjabaran lebih detail agar anak-anak
Indonesia paham betul mengenai asal-usul sejarah Indonesia.
3. Guru
dalam mengajarkan materi pelajaran haruslah fiks dan tuntas. Seperti ketika
berhadapan dengan ayat al qur’an yang berbunyi
Wa man lam
yahkum bimaa anzala Allahu faulaaika humul khosirun, dzalimun, fasiqun. Guru jangan hanya menjelaskan artinya saja, barangsiapa
yang tidak berhukum dengan hukum Allah berarti ia kafir, fasiq dan dzalim. Tentu
jika ayat semacam itu dimaknai secara tekstual saja, pasti akan menimbulkan
pertanyaan radikal dari peserta didik, meskipun mereka tidak mengungkapkan nya
akan tetapi secara tidak langsung hal itu akan mempengaruhi pola fikirnya.
Karena apa yang ada di benak mereka berdasar pada informasi yang mereka dapat.
Entah dari guru ataupun orangtua nya. Oleh sebab itu, guru harus menjelaskan
secara gamblang maksud ayat tersebut dengan disertai rasionalitas dan keadaan
empirik yang ada di lingkungan sekitar.
4 4. Harus
ada sinegisitas peran orangtua. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa keluarga
merupakan pondasi pokok dan utama dalam membentengi paham radikalisme. Seperti
kata bu Tafsiyah (Narasumber PJTD Paradigma UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta) anak akan meniru apa yang ia lihat, dengar dan rasakan. Dalam
kaitan ini, orangtua lebih mendominasi pembentukan jati diri anak, karena interaksi
primer yang didapatkan anak pertama kali berasal dari keluarga. Itulah
mengapa Nabi SAW menganjurkan kepada orangtua untuk mengajarkan ilmu agama
kepada anak sebelum mereka mempelajari ilmu-ilmu lain. Tak lain, karena ilmu
agama menjadi pondasi pokok bagi ilmu-ilmu yang lain.
Akhirnya, saya harus mengatakan
bahwa Hubbul Wathan minal iman. Marilah kita bersama-sama menjaga
ukhuwwah islamiyah guna terciptanya kehidupan yang adil dan demokratis sesuai
dengan nilai-nilai luhur bangsa Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia dengan tidak melupakan unsur terpenting diantara unsur-unsur lain yakni
Ketuhanan Yang Maha Esa dengan digenapkan unsur Kemanusiaan yang adil
dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh
hiikmah kebijaksanaan dalam permusyawatan perwakilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar