Minggu, 04 September 2016


ABOUT THE PLAN OF MY FUTURE
(Senin, 5 September 2016 adalah Kuliah Perdana-ku di semester 3. Semangat adalah Kunci segala hal).
ini foto saya bersama Umar, anak dari Jeddah umur 10 tahun. Foto ini mendeskripsikan seorang ibu dan anaknya.

 وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ إِلاَّ نَكِداً كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُون

Arti : Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran Kami bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-A’rof :58).

Ayat tsb yang memotivasi dan menginspirasi sy untuk menyadari apa, siapa dan bagaimana diri ini. Seperti apapun seorang wanita, mau tak mau kelak akan menjadi seorang IBU. Klu ngendikane Yai Chudhori  ayat tsb dpt dipahami bahwa tanah itu ibarat orangtua, dan tanaman itu ibarat anak nya. Jadi, sejatinya klu diri kita baik insyaallah dzurriyah kita pun juga akan baik (factor hereditas) begitupula sebaliknya. Ya meskipun klu membahas ttg Pembentukan jati diri manusia pasti tdk akan pernah terlepas dr Faktor hereditas, Lingkungan dan kehendak bebas manusia atas Hidayah Allah SWT.

Tetapi, tulisan sy kali ini menitikberatkan pada pembahasan Hereditas. Masih sy ingat smpe sekarang, ngendikanipun Kyai Luthfi, M.Pd (Guru Tafsir Aliyah) bahwasannya “Mencetak Keturunan Harus dimulai sejak sekarang”. Ya dengan cara apa yg kita lakukan sekarang di Niatkan untuk dzurriyah kita kelak, agar mereka sperti kita (bahkan bisa lebih daripada kita), kalau kata mba Lathif, dengan cara “Mengindahkan Cetakannya. Kita ngaji, kita kuliah, kita bertholabul ‘ilm sejatinya untuk  mendidik anak2 kita kelak”.

Wanita lah yang akan mengandung, melahirkan, menyusui dan menjadi Madrasatul ulaa bagi anak2 nya. Membesarkan dan mendidik anak2 dg susu tauhid, Mengajarkan Gagahnya Perjuangan nan Indahnya Kesabaran serta Keikhlasan. Hingga pada akhirnya menjadi bu Nyai bagi anak-anak sekaligus Navigator bagi suaminya. Bukankah dibalik laki-laki yang hebat dibelakangnya ada wanita yang hebat pula? Hhh

Banyak sahabt sy yang bilang begini “mukaromah kamu narget nikah nggak, jangan karena semangat bertholabul ‘ilm menjadikanmu lupa akan Sunnah Rasul”. Ku balas dgn senyum smbil bilang “besok klu kulo nikah, njenengan rewang dan nginep di rumah yaa”. Wkwk
Yang namanya wanita, seperti apapun dia pasti punya keinganan menikah. Menikah adalah sesuatu hal yang Sakral, yang harus dipikirkan matang-matang. Memilih seorang Partner (suami/istri) yang memang benar2 bisa Mendidik, dididik, bertanggungjawab dan saling mendukung serta  memotivasi. Karena Lika-liku dalam rumah tangga tak semudah yang dipikirkan banyak orang. Maka seharusnya, pada saat “Single” seperti ini dijadikan proses utk perbaikan kualitas hidup dengan belajar menjadi seorang Ayah ataupun Ibu bagi anak-anak kelak. Sehingga, jika sudah tiba waktunya menikah , lika liku apapun yang terjadi tidak akan kaget dan dengan berbekal pengalaman maka akan siap (menjadi imam /pun makmum) yang baik dan bertanggungjawab dengan mendidik anak-anak “bi tarbiyatin hasanatin”. Aaamiiin InsyaAllah

Berbicara tentang pernikahan, sy jadi teringat kedua mbak-ku. Satu hal yang membedakanku dengan mereka ialah “mereka Nikah muda”, ya selesai mondok mereka langsung ijab sah. Alhamdulillahnya, dapat suami yang selisihnya 8 smpe 10 tahun, sehingga bisa momong mbak. Bagaimana sih Nikah Muda itu? Sebenarnya tidak jadi masalah nikah muda itu, tetapi yang harus diingat ialah hidup hanya sekali. Ibarat bunga, baru mekar kok udah dipetik orang? Bukankah Masa remaja adalah masa ke-emasan? Masa dimana seluruh kekuatan dan potensi menjadi satu. Ya tak apa, selagi si suami nggak labil. Karena menurut penelitian, kedewasaan seorang wanita dan laki2 itu berbeda, ya meski tak bisa dipungkiri dewasa bukan karena umur tapi karena pengalaman. So, semua harus direncanakan dengan sebaik mungkin karena tugas kita Berusaha dan berdoa selebihnya serahkan pd Allah.

Sy sering mengajak sharing pada sahabat perempuan dan laki-laki. Yang dr perempuan curhatnya takut berpendidikan tinggi karena khawatir tidak di dekati oleh Laki-laki, shingga berimplikasi pada “telat nikah”, dan yang dari laki-laki sendiri takut mendekati wanita yang “lebih” daripada dirinya, takut diatur istri, takut tidak dapat menjadi kawan diskusi yg baik dsb sehingga memang telah termindset hal seperti itu dibenak “sebagian” laki-laki. Kenapa sy mengatakan sebagian ? Karena sy yakin, sebagian laki-laki menginginkan anak-anaknya terlahir dari Rahim perempuan yang cerdas, seorang istri yang nyambung ketika diajak diskusi dalam hal apapun itu, seorang istri yg sll memotivasi sekaligus menjadi partner yg baik bagi dirinya, seorang istri yg  mampu memahami dan memaknai setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini. Akhirnya, sy sahringkan hal ini pada dosen sy yakni bu dosen Muna dan Prof. Sutrisno, 

Ngendikane bu dosen Muna: “didalam hidup berumah tangga yang terpenting bukan masalah yg mempimpin dan yang dipimpin, tetapi sejatinya ialah siapa yang mau mengerti dan memahami dalam konteks berjalan bersama demi kehidupan yang damai. Dan dalam realita disebut laki-laki adalah pemimpin agar ada rasa hormat antara si istri pada suaminya dan tentu  Wanita yang berpendidikan, jika ia telah menginternalisasikan hakikat pendidikan maka ia akan menjadi makmum yang baik didalam rumah tangganya”.

Ngendikane Prof. Sutrisno, beliau mengatakan hal yg sama seperti yang diutarakan bu dosen Muna, tambahannya begini “bagi sorang wanita jangan takut untuk berpendidikan tinggi, karena kelak wanita adalah Madrasatul ulaa bagi anak-anaknya dan jangan pula khawatir tidak didekati laki-laki apalagi telat menikah, hanya laki-laki yang berpikiran dangkal bahwa pendidikan menjadi jurang pembatas untuk saling kenal mengenal. Banyak laki-laki yang doktor dan prof. yang masih single, begitu katanya.. hhh

Terlepas dari itu semua, sy masih ingat ada seorang laki-laki yang bertanya padaku seperti ini “apakah wanita menginginkan seorang laki-laki yang lebih dlm hal “segalanya?”.
Sy hanya menjawab berdasar apa yang telah sy alami dan rasakan. Klu dalam hal “segalanya” menurutku itu langka. Bukankah no body is perfect? Klu dalam pernikahan, selain menyatukan 2 keluarga dan 2 insan, sejatinya itupun juga untuk saling melengkapi. Lalu kata “lebih” disitu dalam hal apa? Ya memang ada wanita yang bertipe high class, tetapi high class yang bagaimana? ada wanita yang ber-tipe “putra kiyahi/gus” (segi nasab), tetapi apa itu menjamin segalanya ? Menurutku, Nasab itu bisa dibuat dengan cara Memperbaiki dan Mengindahkan cetakannya (diri kita sendiri), ketika seorang laki2 baik bertemu dengan seorang wanita yang baik-baik, InsyaAllah outputnya pun juga akan baik. Nahh mayoritas seorang wanita menginginkan seorang laki2 yang sholeh dan Agama nya baik serta ia berhasil (Sukses) karena “tirakatnya sendiri” dalam arti Karena perjuangan, kerja keras dan prestasinya bukan karena latarbelakang keluarganya dalam artian dia pasif, tidak mau hardwork hanya mengandalkan nasab semata.

رَبِّ هَبْ لى‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء

Terakhir, ketika aku mengeluh, merasa lelah, penat dan malas, Bapak selalu menasihatiku dengan “Hanya dirimu sendirilah yang Mampu Merubah dirimu Sendiri”.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

NB : Ini foto kulo sama anak Jeddah, Umar namanya. Umur 10 th, lokasi di Brilliant English Course, Pare Kediri.

Sejatinya Hidup adalah Perjalanan Mencari Ilmu yang Tiada Habisnya, Man Jadda Wajada wa Man Saaro ‘Ala Darbi Washola !

Salam, mukaromah Mahasiswi PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar