ABOUT THE PLAN OF MY FUTURE
(Senin, 5 September 2016
adalah Kuliah Perdana-ku di semester 3. Semangat adalah Kunci segala hal).
ini foto saya bersama Umar, anak dari Jeddah umur 10 tahun. Foto ini mendeskripsikan seorang ibu dan anaknya.
ini foto saya bersama Umar, anak dari Jeddah umur 10 tahun. Foto ini mendeskripsikan seorang ibu dan anaknya.
وَالْبَلَدُ
الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ وَالَّذِي خَبُثَ لاَ يَخْرُجُ
إِلاَّ نَكِداً كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُون
Arti : Dan tanah yang baik,
tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur,
tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda
kebesaran Kami bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-A’rof :58).
Ayat tsb yang memotivasi dan
menginspirasi sy untuk menyadari apa, siapa dan bagaimana diri ini. Seperti
apapun seorang wanita, mau tak mau kelak akan menjadi seorang IBU. Klu
ngendikane Yai Chudhori ayat tsb dpt
dipahami bahwa tanah itu ibarat orangtua, dan tanaman itu ibarat anak nya.
Jadi, sejatinya klu diri kita baik insyaallah dzurriyah kita pun juga akan baik
(factor hereditas) begitupula sebaliknya. Ya meskipun klu membahas ttg
Pembentukan jati diri manusia pasti tdk akan pernah terlepas dr Faktor
hereditas, Lingkungan dan kehendak bebas manusia atas Hidayah Allah SWT.
Tetapi, tulisan sy kali ini
menitikberatkan pada pembahasan Hereditas. Masih sy ingat smpe sekarang,
ngendikanipun Kyai Luthfi, M.Pd (Guru Tafsir Aliyah) bahwasannya “Mencetak
Keturunan Harus dimulai sejak sekarang”. Ya dengan cara apa yg kita lakukan
sekarang di Niatkan untuk dzurriyah kita kelak, agar mereka sperti kita (bahkan
bisa lebih daripada kita), kalau kata mba Lathif, dengan cara “Mengindahkan
Cetakannya. Kita ngaji, kita kuliah, kita bertholabul ‘ilm sejatinya untuk mendidik anak2 kita kelak”.
Wanita lah yang akan mengandung,
melahirkan, menyusui dan menjadi Madrasatul ulaa bagi anak2 nya. Membesarkan
dan mendidik anak2 dg susu tauhid, Mengajarkan Gagahnya Perjuangan nan Indahnya
Kesabaran serta Keikhlasan. Hingga pada akhirnya menjadi bu Nyai bagi anak-anak
sekaligus Navigator bagi suaminya. Bukankah dibalik laki-laki yang hebat
dibelakangnya ada wanita yang hebat pula? Hhh
Banyak sahabt sy yang bilang begini
“mukaromah kamu narget nikah nggak, jangan karena semangat bertholabul ‘ilm
menjadikanmu lupa akan Sunnah Rasul”. Ku balas dgn senyum smbil bilang “besok
klu kulo nikah, njenengan rewang dan nginep di rumah yaa”. Wkwk
Yang namanya wanita, seperti apapun
dia pasti punya keinganan menikah. Menikah adalah sesuatu hal yang Sakral, yang
harus dipikirkan matang-matang. Memilih seorang Partner (suami/istri) yang
memang benar2 bisa Mendidik, dididik, bertanggungjawab dan saling mendukung
serta memotivasi. Karena Lika-liku dalam
rumah tangga tak semudah yang dipikirkan banyak orang. Maka seharusnya, pada
saat “Single” seperti ini dijadikan proses utk perbaikan kualitas hidup dengan
belajar menjadi seorang Ayah ataupun Ibu bagi anak-anak kelak. Sehingga, jika
sudah tiba waktunya menikah , lika liku apapun yang terjadi tidak akan kaget
dan dengan berbekal pengalaman maka akan siap (menjadi imam /pun makmum) yang
baik dan bertanggungjawab dengan mendidik anak-anak “bi tarbiyatin hasanatin”.
Aaamiiin InsyaAllah
Berbicara tentang pernikahan, sy
jadi teringat kedua mbak-ku. Satu hal yang membedakanku dengan mereka ialah
“mereka Nikah muda”, ya selesai mondok mereka langsung ijab sah.
Alhamdulillahnya, dapat suami yang selisihnya 8 smpe 10 tahun, sehingga bisa
momong mbak. Bagaimana sih Nikah Muda itu? Sebenarnya tidak jadi masalah nikah
muda itu, tetapi yang harus diingat ialah hidup hanya sekali. Ibarat bunga,
baru mekar kok udah dipetik orang? Bukankah Masa remaja adalah masa ke-emasan?
Masa dimana seluruh kekuatan dan potensi menjadi satu. Ya tak apa, selagi si
suami nggak labil. Karena menurut penelitian, kedewasaan seorang wanita dan
laki2 itu berbeda, ya meski tak bisa dipungkiri dewasa bukan karena umur tapi
karena pengalaman. So, semua harus direncanakan dengan sebaik mungkin karena
tugas kita Berusaha dan berdoa selebihnya serahkan pd Allah.
Sy sering
mengajak sharing pada sahabat perempuan dan laki-laki. Yang dr perempuan curhatnya
takut berpendidikan tinggi karena khawatir tidak di dekati oleh Laki-laki,
shingga berimplikasi pada “telat nikah”, dan yang dari laki-laki sendiri takut
mendekati wanita yang “lebih” daripada dirinya, takut diatur istri, takut tidak
dapat menjadi kawan diskusi yg baik dsb sehingga memang telah termindset hal
seperti itu dibenak “sebagian” laki-laki. Kenapa sy mengatakan sebagian ?
Karena sy yakin, sebagian laki-laki menginginkan anak-anaknya terlahir dari
Rahim perempuan yang cerdas, seorang istri yang nyambung ketika diajak diskusi
dalam hal apapun itu, seorang istri yg sll memotivasi sekaligus menjadi partner
yg baik bagi dirinya, seorang istri yg
mampu memahami dan memaknai setiap hal yang terjadi dalam kehidupan ini.
Akhirnya, sy sahringkan hal ini pada dosen sy yakni bu dosen Muna dan Prof.
Sutrisno,
Ngendikane bu
dosen Muna: “didalam hidup berumah tangga yang terpenting bukan masalah yg
mempimpin dan yang dipimpin, tetapi sejatinya ialah siapa yang mau mengerti dan
memahami dalam konteks berjalan bersama demi kehidupan yang damai. Dan dalam
realita disebut laki-laki adalah pemimpin agar ada rasa hormat antara si istri
pada suaminya dan tentu Wanita yang
berpendidikan, jika ia telah menginternalisasikan hakikat pendidikan maka ia
akan menjadi makmum yang baik didalam rumah tangganya”.
Ngendikane
Prof. Sutrisno, beliau mengatakan hal yg sama seperti yang diutarakan bu dosen
Muna, tambahannya begini “bagi sorang wanita jangan takut untuk berpendidikan
tinggi, karena kelak wanita adalah Madrasatul ulaa bagi anak-anaknya dan jangan
pula khawatir tidak didekati laki-laki apalagi telat menikah, hanya laki-laki
yang berpikiran dangkal bahwa pendidikan menjadi jurang pembatas untuk saling
kenal mengenal. Banyak laki-laki yang doktor dan prof. yang masih single,
begitu katanya.. hhh
Terlepas dari
itu semua, sy masih ingat ada seorang laki-laki yang bertanya padaku seperti
ini “apakah wanita menginginkan seorang laki-laki yang lebih dlm hal
“segalanya?”.
Sy hanya
menjawab berdasar apa yang telah sy alami dan rasakan. Klu dalam hal
“segalanya” menurutku itu langka. Bukankah no body is perfect? Klu dalam
pernikahan, selain menyatukan 2 keluarga dan 2 insan, sejatinya itupun juga
untuk saling melengkapi. Lalu kata “lebih” disitu dalam hal apa? Ya memang ada
wanita yang bertipe high class, tetapi high class yang bagaimana? ada wanita
yang ber-tipe “putra kiyahi/gus” (segi nasab), tetapi apa itu menjamin
segalanya ? Menurutku, Nasab itu bisa dibuat dengan cara Memperbaiki dan Mengindahkan
cetakannya (diri kita sendiri), ketika seorang laki2 baik bertemu dengan
seorang wanita yang baik-baik, InsyaAllah outputnya pun juga akan baik. Nahh
mayoritas seorang wanita menginginkan seorang laki2 yang sholeh dan Agama nya
baik serta ia berhasil (Sukses) karena “tirakatnya sendiri” dalam arti Karena
perjuangan, kerja keras dan prestasinya bukan karena latarbelakang keluarganya
dalam artian dia pasif, tidak mau hardwork hanya mengandalkan nasab semata.
رَبِّ هَبْ لى مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ
الدُّعاء
Terakhir, ketika aku mengeluh,
merasa lelah, penat dan malas, Bapak selalu menasihatiku dengan “Hanya dirimu
sendirilah yang Mampu Merubah dirimu Sendiri”.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا
NB : Ini foto kulo sama anak Jeddah,
Umar namanya. Umur 10 th, lokasi di Brilliant English Course, Pare Kediri.
Sejatinya Hidup adalah Perjalanan
Mencari Ilmu yang Tiada Habisnya, Man Jadda Wajada wa Man Saaro ‘Ala Darbi
Washola !
Salam, mukaromah Mahasiswi PAI UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar