Minggu, 15 Mei 2016



MAKALAH
HAKIKAT HEREDITAS, LINGKUNGAN DAN KEBEBASAN MANUSIA
Dosen pengampu : Prof.Dr.H.Maragustam Siregar, MA




Program Studi
Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
2016





















BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Manusia dalam perkembangangan pembentukan kepribadiannya dipenggaruhi oleh berbagai hal, seperti faktor pembawaan yaitu hereditas, lingkungan, serta kehendak bebas manusia yang mampu mengalahkan pengaruh hereditas dan lingkungan. Hereditas adalah pewarisan sifat-sifat fisik dan psikologi serta pola-pola pertumbuhan lainnya yang secara biologis diwarisi oleh setiap anak dari orang tuanya melalui proses genetis. Hereditas juga merupakan kecenderungan alami cabang-cabang untuk meniru sumber mulanya dalam komposisi fisik dan psikologi.[1] Hereditas itu akan membentuk perkembangan dengan memberikan/menyediakan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinannya yang akan diwujudkan melalui proses belajar belajar dengan ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan. Baik lingkungan psikologi, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari pada hereditas dan lingkungan. Selain dikarenakan hereditas dan lingkungan pembentukan pribadi seseorang juga dipengaruhi oleh kehendak bebas diri sendiri, kehendak bebas didefinisikan sebagai kondisi keislaman dan keimanan yang membuat manusia mampu mengerjakan atau meninggalkan sesuatu sesuai kemauan dan pilihannya, dalam koridor sistem Islam, baik aqidah maupun moral. Dengan adanya kehendak bebas manusia, akan mampu mengalahkan pengaruh faktor al-waritsah dan lingkungan atas pertolongan Allah SWT. Tak kalah juga, pembentukan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh pendidikan islam yang akan mengarahkan hereditas, lingkungan, kehendak bebas dengan hidayah Allah SWT secara tepat.
Untuk itu kami membuat makalah berjudul “Peranan Pendidikan Islam dalam memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT”. Makalah ini dimaksudkan untuk memberi gambaran tentang bagaimana pembentukan kepribadian individu berlandaskan dengan proses pendidikan islam dengan didukung oleh hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT. Makalah ini dititik beratkan pada pengertian pendidikan islam, tujuan pendidikan islam, dan peran pendidikan islam dalam membentuk karakter individu.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasar pada uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka yang menjadi pokok masalah dalam kajian makalah ini adalah bagaimana peranan pendidikan islam dalam memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas hidayah Allah SWT ?. Untuk kajian lebih lanjut, makalah ini membahas tiga sub masalah yang menjadi pertanyaan mendasar, sebagai berikut :
1.      Apa pengertian pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam?
2.      Apa hakikat hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas hidayah Allah SWT?
3.      Bagaimana peranan pendidikan islam dalam memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas hidayah Allah SWT?
C.    TUJUAN MAKALAH
Makalah “Peranan Pendidikan Islam dalam memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT” dibuat bertujuan untuk :
1.      Memahami tentang arti pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam.
2.      Memahami hakikat hakikat hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT.
3.      Mengungkap pentingnya konsep pendidikan islam guna memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT.
4.      Agar bisa memaksimalkan hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT untuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui pendidikan islam
5.      Memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.



















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM

Kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani, yakni paedagogie yang merupakan kata majemuk yang terdiri atas kata paes dan ago. Kata paes berarti anak dan kata ago berarti aku membimbing.[2]Dalam bahasa Indonesia kata pendidikan tersebut berasal dari kata “didik” yang didahului awalan “pe” dan akhiran “an”, yang mengandung arti perbuatan, hal, cara dan sebagainya[3]. Dalam bahasa Inggris disebut dengan education[4]. Dan dalam bahasa Arab disebut dengan tarbiyah[5] yang berasal dari tiga kata yaitu: (1) raba; (2) rabiya; dan (3) rabba. . Kata raba-yarbu, dengan arti nama-yanmu yang berarti bertambah; tumbuh menjadi besar. Kata rabiya-yarba dengan wazan khafia-yakhfa artinya naik, menjadi besar/dewasa, tumbuh dan berkembang. Kata rabba-yarubbu, dengan arti: aslahahu (memperbaikinya), tawalla amrahu (mengurusi perkaranya, bertanggung jawab atasnya), sasah (melatih; mengatur; memerintah), qama’alaihi (menjaga, mengamati, membantu), ra’ahu (memelihara, memimpin).[6]
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadiankecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuanpertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.[7]
Bila kata “pendidikan” dihubungkan dengan kata “Islam” sehingga menjadi kalimat “Pendidikan Islam”, maka secara otomatis ia terdiri atas dua suku kata yakni “pendidikan” dan “Islam”. Kata Islam jika ditinjau dari segi bahasa berasal dari salima, yaslimu, islaman yang artinya selamat, damai, tunduk dan sentosa[8]. Dari sini dapat dipahami bahwa Islam adalah suatu agama yang menuntut sikap ketundukan dengan penyerahan dan sikap pasrah, disertai sifat batin yang tulus, sehingga intisari yang terkandung dalam Islam ada dua yaitu; pertama berserah diri, menudukkan diri atau taat sepenuh hati; kedua sejahtera, damai hubungan yang harmonis. Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat mem-berikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak ke-pribadiannya[9]. Pendidikan islam tidak hanya terbatas pada menumbuhkan, mengembangkan, memelihara, memimpin, dan menjaga potensi-potensi peserta didik pada masa anak-anak tetapi juga sampai dewasa bahkan sampai akhir kehidupan manusia itu sendiri[10].     Hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian Pendidikan Islam: “Sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam[11].
Dengan keluasan dan keluesan pengertian pendidikan Islam di atas, ternyata sejalan dengan pengertian pendidikan yang terdapat dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 bagwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara[12].

B.     TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan pendidikan dalam Islam merupakan arah yang selalu diusahakan oleh pendidik agar tercapai. Tujuan ini sangat penting artinya karena pada hakikatnya tujuan itu berfungsi sebagai (1) pengakhir dan pengarah usaha pendidikan, (2) merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang lebih tinggi, (3) memberi nilai pada usaha-usaha tersebut, apakah berhasil atau gagal sesuai dengan kriteria-kriteria dalam tujuan tersebut, (4) memberi arah kepada proses yang bersifat edukatif, dan (5) memberi motivasi terbaik pada pendidikan.[13]
Jika kita berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti berbicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi identitas islami. Sedang identitas islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.[14] Tujuan pendidikan islam identik dengan tujuan hidup seorang muslim yakni menjadi kepribadian muslim. Penentuan tercapainya kepribadian muslim pada seseorang, tidaklah terletak pada pendidikan sendiri, sebab pendidikan hanyalah alat untuk itu.[15]
Tujuan akhir dan tertinggi pendidikan Islam ialah menjadikan manusia bertakwa yang beribadah/menghamba kepada Allah (ketundukan secara total kepada Allah) dalam arti yang seluas-luasnya.[16] Menciptakan peradaban dan kebudayaan yang positif juga ibadah, mengadakan hubungan vertikal kepada Allah juga ibadah, mengembangkan dimensi-dimensi psikologis manusia kearah yang positif juga ibadah, dan memakmurkan alam semesta juga ibadah. Maka pada prinsipnya ibadah itu tercermin pada tiga hubungan baik yakni hubungan baik kepada Allah,; hubungan baik kepada manusia termasuk dirinya sendiri yang dilandasi nilai-nilai Islam; dan hubungan baik dengan alam semesta selain manusia yang dilandasi juga nilai-nilai islam.[17] Itukah ibadah dalam arti yang sesungguhnya dalam batas-batas takwa.[18]
Manusia baru dapat menjalankan fungsinya sebagai hamba yang sesungguhnya apabila potensi-potensi dan kemampuan-kemampuannya dikembangkan menjadi nyata secara seimbang atau dari potensialitas menjadi aktualitas secara total dan seimbang. Potensi-potensi itu antara lain dimensi material (jasmani) dan dimensi immaterial (akal, roh, dan nafs/jiwa). Roh manusia mengandung tiga unsur yakni akal, kalbu, dan nafsu.
Dengan demikian tujuan-tujuan khusus pendidikan dalam Islam seperti, menciptakan kebahagiaan dunia dan akhirat, pembinaan akhlak terpuji, pengembangan dimensi kinestetik (jasmani), dimensi akal, dimensi rohani/kalbu dan emosi sehingga memiliki ilmu dan malakah (dimensi skill), membersihkan diri (tazkiyah al-nufus), dan lain sebagainya adalah dimaksudkan agar manusia itu dapat menjalankan fungsinya sebagai hamba sesuai garis-garis yang ditetapkan oleh pemberi tanggung jawab (Allah) baik dalam hal-hal melaksanakan kebajikan maupun menghindari segala bentuk kemaksiatan.[19]


C.    HAKIKAT HEREDITAS, LINGKUNGAN, DAN KEBEBASAN MANUSIA ATAS HIDAYAH ALLAH SWT

a.        HAKIKAT HEREDITAS
Hereditas merupakan kecenderungan alami cabang-cabang untuk meniru sumber mulanya dalam komposisi fisik dan psikologi.
Ada tiga teori tentang hereditas, yakni : Partiality, coalition dan association.
Hereditas dengan Partiality ( Pernikahan) yakni anak yang lahir mewarisi salah satu dari sumber aslinya secara keseluruhan atau sebagian besar sifat-sifatnya.
Hereditas dengan Coalition ( penyatuan ) yakni sifat anak tidak menyalin cang-cabang dari sifat aslinya (orangtua) nya, tetapi mungkin menyalin sifat-sifat dari kakeknya baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.
Hereditas Association ( Penggabungan ) yakni anak menyalin salah satu dari sifat tertentu dari ayahnya dan sebagian dari ibunya.
Prinsip-prinsip hereditas seperti yang ditulis oleh Ki. RBS.Fudyartanto ada empat, yakni :
1.      Prinsip Reproduksi
Hereditas yang diturunkan kepada anak oleh orangtua nya mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Misalnya, kepandaian anak berbeda dengan kepandaian orngtuanya. Kepandaian anak berasal karena belajar bukan dari sel-sel benih yang diturunkan oleh kedua orangtuanya.
2.      Prinsip Konformitas
Setiap jenis atau golongan akan menghasilkan jenisnya sendiri bukan jenis yang lain. Contohnya jenis manusia maka akan menghasilkan keturunan dengan jenis manusia, bukan yang lain. Dan antara anak dan oangtua nya bisa saja mempunyai persamaan-persamaan, namun tetap saja diantara anak dan orangtua mempunyai perbedaan-perbedaan, maka dalam prinip ini dilihat yang dominan ialah persamaan-persamaan nya.

3.      Prinsip Variasi
Prinsip ini memberikan landasan berpikir bahwa sel-sel benih berisi banyak determinan yang mempunyai mekanisme percampuran atau perpaduan sehingga menghasilkan perbedaan-perbedaan individual.
Variasi-variasi yang terjadi pada anak umumnya lebih tampak dari orangtua yang terdekat, misalnya dari ayah atau ibunya dibandingkan dengan kakek maupun neneknya.
4.      Prinsip Regresi Filial
Bahwa sifat-sifat dari orangtua akan menghasilkan keturunan dengan kecenderungan pada sifat rata-rata umumnya[20].
Islam sangat memperhatikan factor al-waritsah (hereditas) ini dalam pembentukan kepribadian seseorang dan mengarahkan nya ke hal yang postif. Seperti Allah melebihkan keturunan Nabi Ibrahim dan keturunan Imron diatas bumi karena hereditas yang baik dan cenderung meniru dari generasi ke generasi, seperti halnya dalm surat Ali Imron ayat 34[21].
ذُرِّيَّةً بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya : (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain.Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Adanya pemilihan isteri sebelum menikahinya memberikan indikasi yang halus bahwa factor hereditas ini mempunyai pengaruh yang signifikan. Tentu tujuan pemilihan jodoh bukan sekedar mempertimbangkan sisi kecantikan wanita, tetapi mempertimbangkan hereditas dan kualitas agamanya sehingga mendapat keturunan yang tidak cacat mental/fisik, seperti dalam QS. Al baqoroh ayat 221
Description: http://www.surah.my/images/s002/a221.png



Artinya : Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran ( Al-Baqoroh :221 )[22]. Dalam Hadist juga disebutkan :


Artinya : Jauhilah oleh kalian rumput hijau. Para Sahabt bertanya: Apakah yang dimaksud dengan rumput hijau itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Yaitu wanita yang cantik, yang tumbuh ditempat yang tidak baik (HR.Daruquthni).


Artinya : Seleksilah untuk wadah air manimu untuk istrimusekalian. Nikahilah yang sederajat dan nikahkanlah kepada mereka (HR.Bukhori).


Artinya : Seleksi untuk air mani (istri) kamu sekalian. Karena sesungguhnya keturunan itu kuat pengaruhnya. (HR. Dailami dan Ibnu Majah)[23].


Berbagai ayat Al Qur’an dan hadist terdapat indikasi bahwa keturunan orang-orang kafir yang secara genetic menerima sifat-sifat buruk dari ayah-ayah mereka, juga akan mewarisi keyakinan mereka. Ilmu yang membahas tentang hereditas telah menetapkan, bahwa anak kan mewarisi sifat-sifat dari kedua orangtuanya, baik moral ( Al Khalqiyah ), kinestetik ( Al Jismiyah ) dan intelektual ( Al ‘Aqliyah ) sejak masa kelahirannya.
Hereditas pada individu berupa warisan “specific genes” yang berasal dari kedua orang tuanya. “ genes” ini terhimpun di dalam kromosom-kromosom atau “colored bodies”. Kromosom- kromosom baik dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu berinteraksi membentuk pasangan-pasangan. Dua anggota masing-masing pasangan memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Pasangan kromosom dimana dalam masing-masing kromosom terdapat sejumlah genes dan masing-masing genes memiliki sifat tertentu, membentuk persenyawaan genes yang demikian menjalin sifat-sifat genes.[24]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembawaan ialah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika ia lahir merupakan warisan dari orang tuanya. Unsur-unsur pembawaan yang berupa potensi-potensi fisik dan mental psikologis itu dalam proses perkembangannya akan berfungsi sebagai faktor dasar atau faktor bahan yang akan mempengaruhi proses perkembangan. Dalam setiap proses perkembangan itu diperlukan bahan dasar sebab tanpa bahan dasar itu maka pertumbuhan fisik atau perkembangan mental anak tidak akan terjadi. Tentunya makin baik potensi kondisi pembawaan sebagai faktor dasar  maka dapat diharapkan akan baik pula perkembangan yang akan terjadi, dan sebaliknya.
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan satu heriditas tertentu. Ini berarti karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan atau pemindahan cairan-cairan  “germina  “ dari  pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkuntgan  pisis, psikologis, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari dari para heriditas dan lingkungan.

b.      HAKIKAT LINGKUNGAN
Lingkungan atau alam sekitar punya peranan penting dalam pendidikan islam. Karena lingkungan merupakan elemen yang signifikan dalam pembentukan personalitas serta pencapaian keinginan-keinginan individu dalam kerangka umum peradaban. Biasanya individu-individu di masyarakat mengikuti kebiasan yang ada disekitarnya dengan sadar atau tidak sadar. Lingkungan itu mencangkup segala materiil dan stimuli didalam dan diluar dari individu, baik yang bersifat Fisiologis, psikologis maupun sosio kultural serta tradisi.
Secara Fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan materi jasmani didalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, system saraf, peredaran darah, pernafasan, pencernaan makanan. Secara Psikologis, Lingkungan mencakup segala stimulasi yang diterima oleh individu mulai sejak dalam kandungan, kelahiran sampai matinya. Secara Sosio Kultural, Lingkungan mencakup segenap stimulasi interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungan nya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Nilai-nilai mental dan spiritual memainkan sebuah peran efektif yang berharga dalam lingkungan social melalui pendidikan.
Setiap individu mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan sekitar terutama lingkungan pergaulan. Hubungan-hubungan antara manusia baik individu maupun antar kelompok, tingkat keharmonisan yang dirasakan oleh masyarakat serta tingkat kemampuan lingkungan untuk merealisasikan berbagai kebutuhan individu, semuanya bisa mempermudah atau mempersulit proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian. Manusia berkembang dalam dua dimensinya sekaligus, yakni potensi-potensi internal manusia dan lingkungan alam maupun lingkungan social. Al-Qur’an menyinggung ini dalam QS. Al A’raf ayat 58.[25]
وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ إِلَّا نَكِدًا ۚ
 كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَشْكُرُونَ
Artinya : Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.

Para ahli pendidikan membagi lingkungan dimana umat manusia hidup menjadi dua. Pertama, Lingkungan alam yakni bumi dengan semua yang ada diatas dan dibawah serta pada berbagai kekuatan dan energinya. Ilmu Pengetahuan alam yang dimulai dengan informasi sederhana yang diberikan kepada pembelajar sampai kepada biologi, kimia, fisika adalah berkaitan dengan lingkungan alam. Kedua, lingkungan social yakni masyarakat manusia serta berbagai hubungan antara individu-individu dan kelompok-kelompok. Hubungan pergaulan, ekonomi, politik, profesi, budaya dan psikologi semuanya itu berkaitan dengan lingkungan social.[26]
Namun demikian, Lingkungan bukanlah factor yang tetap membentuk dan mengarahkan jati diri manusia, kaena ternyata para Nabi tumbuh diantara lingkungan social yang kaumnya mencaci maki dan keras hati untuk diajak kepada agama Allah. Allah juga memberikan contoh istri Nabi Nuh dan Nabi Luth yang keduanya sangat tidak suka keberadaan kedua Rasul tersebut. Iman istri Fir’aun kokoh sekalipun berada dalam genggaman Fir’aun yang Dzalim bahkan  mengaku sebagai Tuhan[27].
c.       HAKIKAT KEBEBASAN MANUSIA

Islam mengakui keberadaan pengaruh hereditas dan alam lingkungan alam maupun lingkungan social dalam pembentukan kepribadian. Namun kedua factor yakni endogen ( hereditas ) dan eksogen (alam lingkungan ) tidaklah berjalan secara otomatis. Sekalipun seseorang berada pada lingkungan sekitar yang baik dan heredtasnya baik, belum tentu ia menjadi baik pula. Begitu juga sebaliknya. Karena dengan kehendak bebas manusia dan kemampuannya sesuai dengan batas-batas kemanusiaan nya akan dapat mengalahkan dua factor pengaruh tersebut dengan pertolongan Allah ( Bi Ma’unatillah) dan hidayah Allah[28].
Menurut Iman Ibnu Katsir bahwa hidayah ini dibatasi masalah iman saja. Karena hidayah ialah sesuatu yang ditetapkan dan dihujamkan dalam kalbu seseorang yakni iman. Apa yang diketahui oleh manusia tentang hukum-hukum alam (sunnatullah) termasuk hereditas alam dan alam lingkungan tentu sifatnya nisbi (masih bersifat mungkin) bukan absolut (kepastian). Karena Absolut dan pasti sebenarnya hanyalah kebenaran yang datang dari Allah. Kisah kafirnya Kan’an bin Nabi Nuh, keteguhan iman istri Fir’aun dan lain-lain merupakan cerminan dari pernyataan bahwa ilmu manusia itu sifatnya nisbi.
Dengan demikian, pendidikan islam bersandar pada tiga nilai dasar yang saling berpengaruh dalam pembentukan kepribadian, yakni : Tabiat individu, factor lingkungan (Lingkungan alam maupun lingkungan social) serta factor kehendak  bebas manusia. Tiga hal tersebut di bawah naungan Pertolongan dan hidayah Allah. Kepribadian seseorang tidak lain merupakan hasil interaksi antara tabiat (nature) kemanusiaannya, kehendak dan kemauan bebasnya serta factor-faktor lingkungan sosialnya[29].








D.    PERANAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBERDAYAKAN HAKIKAT HEREDITAS, LINGKUNGAN, DAN KEHENDAK BEBAS ATAS HIDAYAH ALLAH SWT
Ilmu yang membahas tentang hereditas telah menetapkan, bahwa anak akan mewarisi sifat-sifat dari orang tuanya, baik moral (al-khalqiyah), kinestetik (al-jismiyah) maupun inteklektual (al-‘aqliyah), sejak masa kelahirannya. Namun harus diakui pula tidak selamanya faktor hereditas berjalan secara otomatis. Karena dengan adanya kehendak bebas manusia, akan mampu mengalahkan faktor al-warisah dan liungkungan atas pertolongan allah. Seperti anak Nabi Nuh, yang bernama Kan’an, ia kafir terhadap risalah bapaknya, sekalipun Nabi Nuh adalah manusia pilihan Allah dan menjadi Rasun-Nya (QS. Hud [11]:43 dan 46). Azir, Bapak Nabi Ibrahim adalah musyrik dan Ibrahim berusaha mengajaknya ke jalan Allah. Namun Azir menjawab dengan perlakuan yang kejam dan mengancam dengan ancaman rajam kalau Ibrahim tidak behenti dari mengajaknya ke petunjuk Allah (QS. Maryam,[19]:46). Dari sini dapat dipahami pendapat al-azim, bahwa baik faktor hereditas maupun faktor lingkungan secara signifikan ilkut membentuk kepribadian manusia. Namun harus diingat pula bahwa kehendak bebas manusia akan mampu mengalahkan dua pengaruh tersebut atas pertolongan Allah (bi ma’unatillah) sekalipun hal ini dilupakan oleh ulama[30].
Lingkungan atau alam sekitar punya peranan penting dalam pendidikan islam. Karena lingkungan merupakan elemen yang signifikan dalam pembentukan personalitas serta pencapaian  keinginan-keinginan individu dalam kerangka umum peradaban. Biasanya individu-individu dimasyarakat mengikuti kebisasaan yang ada dimasyarakat dengan sadar atau tidak sadar. lingkungan itu sebenarnya mencangkup segala material dan stimuli didalam dan diuar dari individu, baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosi-okultural serta tradisi. Dengan demikian, lingkungan dapat diartikan secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sosio-kultural.
Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan materi jasmani di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, sistem syaraf, peredaran darah, pernafasan, pencernaan makanan, kenlenjar-kelenjar indokrin sel-sel pertumbuhan, dan kesehatan jasmani. Secara psikologis, lingkungan mencangkup segenap stimulus yang diterima oleh individu sejak dalam kandungan, kelahiran, sampai matinya. Secara sosio-kultural, lingkungan mencangkup segenap stimulus interaksi, dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup keluarga, pendidikan, pergaluan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan belajar, pendidikan pengajaran, bimbingan, dan penyeluruhan, budaya, dan tradisi. Selain itu, ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, geografis, pendidikan, ekonomi dan politik, berkaitan dengan lingkungan sosial. Nilai-nilai mental dan spiritual memainkan sebuah peran efektif yang berharga dengan lingkungan sosial melalui pendidikan[31].
Islam telah mengenal aspek paling signifikan untuk memunculkan reaksi-reaksi individu dalam mendapatkan berbagai kebiasaan dan moralitas. Aspek ini ialah persahabatan, yang merupakan unsur pendidikan paling kuat yang mentransfer sifat-sifat dan kecenderungan-kecenderungan individu. Kehidupan sosial adalah kehidupan saling pengaruh. Setiap individu dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan sekitar terutama lingkungan pergaulan. Hubungan-hubungan antar manusia, baik individu maupun antar kelompok, tingkat keharmonisan yang dirasakan oleh masyarakat, serta tingkat kemampuan lingkungan untuk merealisasikan berbagai kebutuhan individu, semuanya bisa mempermudah atau mempersulit proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian. Manusia berkembang dalam dua dimensinya sekaligus, yakni potensi-potensi internal manusia dan lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial[32].
Al-qur’an dan hadits memperhatikan faktor lingkungan ini dalam pembentukan jati diri manusia. Pengaruh lingkungan ini dapat dijumpai dalam Al-Qur’an, seperti tanah yang subur akan tumbuh dengan  subur tanaman-tanaman :dengan seizin allah. Dan sebaliknya tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana (qs. Al-a’raf [7]:58). Allah melebihkan sebagian tempat daripada tempat lainya. Seperti kelebihan kota Mekah, Baitul Maqdis, Bukit Sina yang merupakan tempat besar para Nabi (QS. At-Tin, [95]:1-6, Al-Maidah [5]:21;Al-Isra’[17]:1). Pengaruh lingkungan itu nampak pada pertumbuhan Maryam ketika allah melindunginya karena kemuliaan keluarga yang baik (QS. Ali Imran [3]:37). Dalam hadits juga disebutkan:



Artinya: bahwa nabi SAW bersabda: sekali sholat dimasjidku (Nabi SAW) lebih utama dari pada 1000 kali sholat dimasjid lain kecuali dimasjidil haram.


Artinya: bahwa sekali sholat dimasjid nabi lebih utama dari pada seribu kali sholat dimasjid lainnya kecuali masjid haram dan sekali sholat di masjid haram lebih utama seratus ribu dari pada sholat dimasjid lainya[33].
Namun demikian, bahwa lingkungan itu bukan faktor yang tetap membentuk dan mengarahkan jati diri manusia, karena ternyata para  nabi tumbuh fokepada agama allah. Allah memberikan contoh Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang keduanya dsangat tidak suka keberadaan kedua rasul tersebut. Iman istri Fir’aun kokoh sekalipun berada dalam genggaman Fir’aun yang zalim, bahkan Fir’aun mengaku dirinya sebagai Tuhan (QS. Al-Tahrim [66]:1-12).[34]
Dengan demikian islam mengaku keberadaan pengaruh hereditas dan alam baik lingkungan alam maupun lingakungan sosial dalam pembentukan kepribadian manusia. Namun dua faktor yakni endogen (hereditas) dan eksogen (alam lingkungan) tersebut tidaklan berjalan secara otomatis. Artinya, sekalipun seorang berada dalam lingkungan yang jelek dan hereditasnya baik, belum tentu ia menjadi baik pula. Sebaliknya, sekalipun seseorang berada dalam lingkungan yang jelek dan hereditasnya yang kurang baik, mungkin saja ia menjadi baik. Karena dengan kehendak bebas manusia dan kemanpuannya sesuai dengan batas-batas kemanusiaanya akan dapat mengalahkan dua faktor pengaruh tersebut atas pertolongan allah dan hidayah allah. Menurut imam ibnu katsir bahwa, hidayah ini dibatasi masalah iman saja. Yang dimaksud dengan hidayah adalah sesuatu yang ditetapkan dan dihujamkan dalam qolbu seseorang yakni iman. Apa yang ketahui oleh manusia tentang hukum-hukum alam (sunatullah) termasuk hereditas dan alam lingkungan tentu sifatnya nisbi (masih bersifat mungkin) bukanlah suatu kepastian dan absolut. Absolut dan pasti sebenarnya hanyalah kebenaran yang datang dari allah. Hal ini juga yang disinyalir Shihab, seseorang ahli tafsir konteporer, bahwa setiapmuslim percaya sepenuhnya bahwa tata kerja alam raya berjalan konsisten sesuai dengan hukum-hukum yang ditetapkan oleh allah. Tetapi, pada saat yang sama, tidak tertuup kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang berbeda dengan kebebasan-kebebasan yang dilihatnya sehari-hari, karena baik yang terlihat sehari-hari maupun yang tidak bisa terlihat, keduanya sama ajaib dan mengagumkan. Apalagi sebagian banyak hal yang oleh generasi masa kini dinilai ‘biasa’, pernah dinilai luar biasa oleh generasi terdahulu. Kisah kafirnya Kan’an bin nabi nuh, keteguhan iman istri Fir’aun dan lain-lain merupakan cerminan dari peryataan bahwa ilmu manusia itu sifatnya nisbi. Dengan demikian, pendidikan islam bersandar pada 3 nilai dasar yang asasi yang saling berpengaruh dalam proses pembentukamn kepribadian manusia, yaitu : tabiat indibvidu, seperti kapasitas akal, kalbu, nafs, fisik, dan lain-lain; Faktor lingkungan, baik lingkungan lam maupun sosial, teristimewa lingkungan sosial; dan Faktor kehendak bebas manusia merespon dirinya, dan lingkungannya. Tiga faktor tersebut berada dalam kawalan pertolongan dan hidayah Allah. Kepribadian seseorang tidak lain merupakan hasil interaksi antara tabiat (nature) kemanusiaan nya, kehendak dan kemauan bebasnya dan faktor-faktor lingkungan sosialnya.[35]
















BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Pendidikan Islam merupakan suatu tabiat yang sekaligus amanat yang harus diperkenalkan oleh suatu generasi ke generasi berikutnya, terutama dari orang tua atau pendidik kepada anak-anak dan murid-muridnya. Dalam hal ini, konsep pendidikan Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada syariat Allah SWT.
2.      Tujuan akhir dan tertinggi pendidikan Islam ialah menjadikan manusia bertakwa yang beribadah/menghamba kepada Allah (ketundukan secara total kepada Allah) dalam arti yang seluas-luasnya.
3.      Pengaruh hereditas dan lingkungan tidaklah berjalan secara otomatis dalam pembentukan kepribadian manusia, diperlukan kehendak bebas manusia karena dengan kehendak bebas manusia dan kemanpuannya sesuai dengan batas-batas kemanusiaanya akan dapat mengalahkan dua faktor pengaruh tersebut atas pertolongan allah dan hidayah allah.

B.     SARAN
Pembahasan tentang konsep peranan pendidikan Islam dalam memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas hidayah Allah SWT ini sangat menarik jika terdapat banyak referensi pembanding selain yang penulis sampaikan dalam makalah ini. Dengan otomatis suasana akademik lebih mewarnai bagi pembaca, dari sisi lain penulis menyarankan agar para pembaca terus melakukan kajian lebih lanjut dan mendalam agar pemahaman yang lebih luas akan diperoleh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar