MAKALAH
HAKIKAT HEREDITAS, LINGKUNGAN DAN KEBEBASAN
MANUSIA
Dosen pengampu : Prof.Dr.H.Maragustam Siregar,
MA
Program Studi
Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
2016
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Manusia dalam perkembangangan pembentukan
kepribadiannya dipenggaruhi oleh berbagai hal, seperti faktor pembawaan yaitu
hereditas, lingkungan, serta kehendak bebas manusia yang mampu mengalahkan
pengaruh hereditas dan lingkungan.
Hereditas adalah pewarisan sifat-sifat fisik dan
psikologi serta pola-pola pertumbuhan lainnya yang secara biologis diwarisi
oleh setiap anak dari orang tuanya melalui proses genetis. Hereditas juga merupakan
kecenderungan alami cabang-cabang untuk meniru sumber mulanya dalam komposisi
fisik dan psikologi.[1]
Hereditas itu akan membentuk
perkembangan dengan memberikan/menyediakan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinannya
yang akan diwujudkan melalui proses belajar belajar dengan ditunjang
oleh faktor-faktor lingkungan. Baik lingkungan
psikologi, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang
kompleks merupakan hasil interaksi dari pada hereditas dan lingkungan. Selain
dikarenakan hereditas dan lingkungan pembentukan pribadi seseorang juga
dipengaruhi oleh kehendak bebas diri sendiri, kehendak bebas didefinisikan sebagai kondisi keislaman
dan keimanan yang membuat manusia mampu mengerjakan atau meninggalkan sesuatu
sesuai kemauan dan pilihannya, dalam koridor sistem Islam, baik aqidah maupun
moral. Dengan adanya kehendak bebas
manusia, akan mampu mengalahkan pengaruh faktor al-waritsah dan lingkungan atas
pertolongan Allah SWT. Tak kalah juga, pembentukan kepribadian seseorang
dipengaruhi oleh pendidikan islam yang akan mengarahkan hereditas, lingkungan,
kehendak bebas dengan hidayah Allah SWT secara tepat.
Untuk itu kami membuat makalah berjudul “Peranan
Pendidikan Islam dalam memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, kehendak
bebas atas hidayah Allah SWT”. Makalah ini dimaksudkan untuk memberi gambaran
tentang bagaimana pembentukan kepribadian individu berlandaskan dengan proses
pendidikan islam dengan didukung oleh hereditas, lingkungan, kehendak bebas
atas hidayah Allah SWT. Makalah ini dititik beratkan pada pengertian pendidikan
islam, tujuan pendidikan islam, dan peran pendidikan islam dalam membentuk
karakter individu.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasar pada
uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka yang menjadi pokok masalah
dalam kajian makalah ini adalah bagaimana peranan pendidikan islam dalam
memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas hidayah
Allah SWT ?. Untuk
kajian lebih lanjut, makalah ini membahas tiga sub masalah yang menjadi
pertanyaan mendasar, sebagai berikut :
1. Apa pengertian pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam?
2. Apa hakikat hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas
hidayah Allah SWT?
3. Bagaimana peranan pendidikan islam dalam memberdayakan hakikat
hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas hidayah Allah SWT?
C.
TUJUAN MAKALAH
Makalah “Peranan Pendidikan Islam dalam memberdayakan hakikat
hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT” dibuat
bertujuan untuk :
1. Memahami tentang arti pendidikan islam dan tujuan pendidikan
islam.
2. Memahami hakikat hakikat hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas
hidayah Allah SWT.
3. Mengungkap
pentingnya konsep pendidikan islam guna memberdayakan hakikat
hereditas, lingkungan, kehendak bebas atas hidayah Allah SWT.
4. Agar bisa memaksimalkan hereditas, lingkungan,
kehendak bebas atas hidayah Allah SWT untuk mengaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari melalui pendidikan islam
5. Memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
Kata pendidikan
berasal dari bahasa Yunani, yakni paedagogie yang merupakan kata majemuk yang
terdiri atas kata paes dan ago. Kata paes berarti anak dan kata ago berarti aku
membimbing.[2]Dalam
bahasa Indonesia kata pendidikan tersebut berasal dari kata “didik” yang
didahului awalan “pe” dan akhiran “an”, yang mengandung arti perbuatan, hal,
cara dan sebagainya[3]. Dalam
bahasa Inggris disebut dengan education[4].
Dan dalam bahasa Arab disebut dengan tarbiyah[5]
yang berasal dari tiga kata yaitu: (1) raba;
(2) rabiya; dan (3) rabba.
. Kata raba-yarbu, dengan arti nama-yanmu yang berarti bertambah;
tumbuh menjadi besar. Kata rabiya-yarba dengan
wazan khafia-yakhfa artinya naik,
menjadi besar/dewasa, tumbuh dan berkembang. Kata rabba-yarubbu, dengan arti: aslahahu
(memperbaikinya), tawalla amrahu (mengurusi
perkaranya, bertanggung jawab atasnya), sasah
(melatih; mengatur; memerintah), qama’alaihi
(menjaga, mengamati, membantu), ra’ahu
(memelihara, memimpin).[6]
Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat.
Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga
sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama
pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.[7]
Bila
kata “pendidikan” dihubungkan dengan kata “Islam” sehingga menjadi kalimat
“Pendidikan Islam”, maka secara otomatis ia terdiri atas dua suku kata yakni
“pendidikan” dan “Islam”. Kata Islam jika ditinjau dari segi bahasa berasal
dari salima, yaslimu, islaman yang artinya selamat, damai, tunduk dan sentosa[8].
Dari sini dapat dipahami bahwa Islam adalah suatu agama yang menuntut sikap
ketundukan dengan penyerahan dan sikap pasrah, disertai sifat batin yang tulus,
sehingga intisari yang terkandung dalam Islam ada dua yaitu; pertama berserah
diri, menudukkan diri atau taat sepenuh hati; kedua sejahtera, damai hubungan
yang harmonis. Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat mem-berikan
kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam,
karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak ke-pribadiannya[9].
Pendidikan islam tidak hanya terbatas pada menumbuhkan, mengembangkan,
memelihara, memimpin, dan menjaga potensi-potensi peserta didik pada masa
anak-anak tetapi juga sampai dewasa bahkan sampai akhir kehidupan manusia itu
sendiri[10].
Hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam
se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian Pendidikan Islam: “Sebagai
bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan
hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya
semua ajaran Islam[11].
Dengan
keluasan dan keluesan pengertian pendidikan Islam di atas, ternyata sejalan
dengan pengertian pendidikan yang terdapat dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun
2003 bagwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa, dan Negara[12].
B.
TUJUAN
PENDIDIKAN ISLAM
Tujuan pendidikan dalam Islam
merupakan arah yang selalu diusahakan oleh pendidik agar tercapai. Tujuan ini
sangat penting artinya karena pada hakikatnya tujuan itu berfungsi sebagai (1)
pengakhir dan pengarah usaha pendidikan, (2) merupakan titik pangkal untuk
mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang lebih tinggi, (3) memberi nilai pada
usaha-usaha tersebut, apakah berhasil atau gagal sesuai dengan kriteria-kriteria
dalam tujuan tersebut, (4) memberi arah kepada proses yang bersifat edukatif,
dan (5) memberi motivasi terbaik pada pendidikan.[13]
Jika
kita berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti berbicara tentang
nilai-nilai ideal yang bercorak islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan
Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi identitas islami. Sedang
identitas islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung perilaku manusia
yang didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber
kekuasaan mutlak yang harus ditaati.[14]
Tujuan pendidikan islam identik dengan tujuan hidup seorang muslim yakni
menjadi kepribadian muslim. Penentuan tercapainya kepribadian muslim pada
seseorang, tidaklah terletak pada pendidikan sendiri, sebab pendidikan hanyalah
alat untuk itu.[15]
Tujuan
akhir dan tertinggi pendidikan Islam ialah menjadikan manusia bertakwa yang
beribadah/menghamba kepada Allah (ketundukan secara total kepada Allah) dalam
arti yang seluas-luasnya.[16]
Menciptakan peradaban dan kebudayaan yang positif juga ibadah, mengadakan
hubungan vertikal kepada Allah juga ibadah, mengembangkan dimensi-dimensi
psikologis manusia kearah yang positif juga ibadah, dan memakmurkan alam
semesta juga ibadah. Maka pada prinsipnya ibadah itu tercermin pada tiga
hubungan baik yakni hubungan baik kepada Allah,; hubungan baik kepada manusia
termasuk dirinya sendiri yang dilandasi nilai-nilai Islam; dan hubungan baik
dengan alam semesta selain manusia yang dilandasi juga nilai-nilai islam.[17]
Itukah ibadah dalam arti yang sesungguhnya dalam batas-batas takwa.[18]
Manusia
baru dapat menjalankan fungsinya sebagai hamba yang sesungguhnya apabila
potensi-potensi dan kemampuan-kemampuannya dikembangkan menjadi nyata secara
seimbang atau dari potensialitas menjadi aktualitas secara total dan seimbang.
Potensi-potensi itu antara lain dimensi material (jasmani) dan dimensi
immaterial (akal, roh, dan nafs/jiwa). Roh manusia mengandung tiga unsur yakni
akal, kalbu, dan nafsu.
Dengan
demikian tujuan-tujuan khusus pendidikan dalam Islam seperti, menciptakan
kebahagiaan dunia dan akhirat, pembinaan akhlak terpuji, pengembangan dimensi
kinestetik (jasmani), dimensi akal, dimensi rohani/kalbu dan emosi sehingga
memiliki ilmu dan malakah (dimensi
skill), membersihkan diri (tazkiyah
al-nufus), dan lain sebagainya adalah dimaksudkan agar manusia itu dapat
menjalankan fungsinya sebagai hamba sesuai garis-garis yang ditetapkan oleh
pemberi tanggung jawab (Allah) baik dalam hal-hal melaksanakan kebajikan maupun
menghindari segala bentuk kemaksiatan.[19]
C. HAKIKAT HEREDITAS, LINGKUNGAN, DAN KEBEBASAN MANUSIA ATAS
HIDAYAH ALLAH SWT
a.
HAKIKAT HEREDITAS
Hereditas merupakan kecenderungan alami cabang-cabang untuk
meniru sumber mulanya dalam komposisi fisik dan psikologi.
Ada
tiga teori tentang hereditas, yakni : Partiality, coalition dan association.
Hereditas
dengan Partiality ( Pernikahan) yakni anak yang lahir mewarisi salah satu dari
sumber aslinya secara keseluruhan atau sebagian besar sifat-sifatnya.
Hereditas
dengan Coalition ( penyatuan ) yakni sifat anak tidak menyalin cang-cabang dari
sifat aslinya (orangtua) nya, tetapi mungkin menyalin sifat-sifat dari kakeknya
baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.
Hereditas
Association ( Penggabungan ) yakni anak menyalin salah satu dari sifat tertentu
dari ayahnya dan sebagian dari ibunya.
Prinsip-prinsip
hereditas seperti yang ditulis oleh Ki. RBS.Fudyartanto ada empat, yakni :
1. Prinsip Reproduksi
Hereditas yang diturunkan kepada anak
oleh orangtua nya mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Misalnya, kepandaian anak
berbeda dengan kepandaian orngtuanya. Kepandaian anak berasal karena belajar
bukan dari sel-sel benih yang diturunkan oleh kedua orangtuanya.
2. Prinsip Konformitas
Setiap jenis atau golongan akan
menghasilkan jenisnya sendiri bukan jenis yang lain. Contohnya jenis manusia
maka akan menghasilkan keturunan dengan jenis manusia, bukan yang lain. Dan
antara anak dan oangtua nya bisa saja mempunyai persamaan-persamaan, namun
tetap saja diantara anak dan orangtua mempunyai perbedaan-perbedaan, maka dalam
prinip ini dilihat yang dominan ialah persamaan-persamaan nya.
3. Prinsip Variasi
Prinsip ini memberikan landasan
berpikir bahwa sel-sel benih berisi banyak determinan yang mempunyai mekanisme
percampuran atau perpaduan sehingga menghasilkan perbedaan-perbedaan
individual.
Variasi-variasi yang terjadi pada
anak umumnya lebih tampak dari orangtua yang terdekat, misalnya dari ayah atau
ibunya dibandingkan dengan kakek maupun neneknya.
4. Prinsip Regresi Filial
Bahwa sifat-sifat dari orangtua akan
menghasilkan keturunan dengan kecenderungan pada sifat rata-rata umumnya[20].
Islam sangat memperhatikan factor al-waritsah (hereditas)
ini dalam pembentukan kepribadian seseorang dan mengarahkan nya ke hal yang
postif. Seperti Allah melebihkan keturunan Nabi Ibrahim dan keturunan Imron
diatas bumi karena hereditas yang baik dan cenderung meniru dari generasi ke
generasi, seperti halnya dalm surat Ali Imron ayat 34[21].
ذُرِّيَّةً
بَعْضُهَا مِنْ بَعْضٍ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya : (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang
lain.Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Adanya pemilihan isteri
sebelum menikahinya memberikan indikasi yang halus bahwa factor hereditas ini
mempunyai pengaruh yang signifikan. Tentu tujuan pemilihan jodoh bukan sekedar
mempertimbangkan sisi kecantikan wanita, tetapi mempertimbangkan hereditas dan
kualitas agamanya sehingga mendapat keturunan yang tidak cacat mental/fisik,
seperti dalam QS. Al baqoroh ayat 221

Artinya
: Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita
musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih
baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun
dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga
dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
(perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran (
Al-Baqoroh :221 )[22].
Dalam Hadist juga disebutkan :
Artinya
: Jauhilah oleh kalian rumput hijau. Para
Sahabt bertanya: Apakah yang dimaksud dengan rumput hijau itu wahai Rasulullah?
Beliau menjawab, Yaitu wanita yang cantik, yang tumbuh ditempat yang tidak baik
(HR.Daruquthni).
Artinya
: Seleksilah untuk wadah air manimu untuk
istrimusekalian. Nikahilah yang sederajat dan nikahkanlah kepada mereka
(HR.Bukhori).
Artinya
: Seleksi untuk air mani (istri) kamu
sekalian. Karena sesungguhnya keturunan itu kuat pengaruhnya. (HR. Dailami
dan Ibnu Majah)[23].
Berbagai
ayat Al Qur’an dan hadist terdapat indikasi bahwa keturunan orang-orang kafir
yang secara genetic menerima sifat-sifat buruk dari ayah-ayah mereka, juga akan
mewarisi keyakinan mereka. Ilmu yang membahas tentang hereditas telah
menetapkan, bahwa anak kan mewarisi sifat-sifat dari kedua orangtuanya, baik
moral ( Al Khalqiyah ), kinestetik ( Al Jismiyah ) dan
intelektual ( Al ‘Aqliyah ) sejak masa kelahirannya.
Hereditas pada individu berupa
warisan “specific genes” yang berasal dari kedua orang tuanya. “ genes” ini terhimpun di dalam
kromosom-kromosom atau “colored bodies”. Kromosom- kromosom baik dari pihak
ayah ataupun dari pihak ibu berinteraksi membentuk pasangan-pasangan. Dua
anggota masing-masing pasangan memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Pasangan
kromosom dimana dalam masing-masing kromosom terdapat sejumlah genes dan masing-masing genes memiliki sifat tertentu, membentuk
persenyawaan genes yang demikian
menjalin sifat-sifat genes.[24]
Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa pembawaan ialah potensi-potensi yang dibawa setiap
individu ketika ia lahir merupakan warisan dari orang tuanya. Unsur-unsur
pembawaan yang berupa potensi-potensi fisik dan mental psikologis itu dalam
proses perkembangannya akan berfungsi sebagai faktor dasar atau faktor bahan
yang akan mempengaruhi proses perkembangan. Dalam setiap proses perkembangan
itu diperlukan bahan dasar sebab tanpa bahan dasar itu maka pertumbuhan fisik atau
perkembangan mental anak tidak akan terjadi. Tentunya makin baik potensi
kondisi pembawaan sebagai faktor dasar maka dapat diharapkan akan baik
pula perkembangan yang akan terjadi, dan sebaliknya.
Masing-masing
individu lahir ke dunia dengan satu heriditas tertentu. Ini berarti
karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan atau pemindahan
cairan-cairan “germina “ dari pihak orang tuanya. Disamping
itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik
lingkuntgan pisis, psikologis, maupun lingkungan sosial. Setiap
pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari dari
para heriditas dan lingkungan.
b.
HAKIKAT LINGKUNGAN
Lingkungan
atau alam sekitar punya peranan penting dalam pendidikan islam. Karena
lingkungan merupakan elemen yang signifikan dalam pembentukan personalitas
serta pencapaian keinginan-keinginan individu dalam kerangka umum peradaban.
Biasanya individu-individu di masyarakat mengikuti kebiasan yang ada
disekitarnya dengan sadar atau tidak sadar. Lingkungan itu mencangkup segala
materiil dan stimuli didalam dan diluar dari individu, baik yang bersifat
Fisiologis, psikologis maupun sosio kultural serta tradisi.
Secara
Fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan materi jasmani didalam tubuh
seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, system saraf, peredaran darah,
pernafasan, pencernaan makanan. Secara Psikologis, Lingkungan mencakup segala
stimulasi yang diterima oleh individu mulai sejak dalam kandungan, kelahiran
sampai matinya. Secara Sosio Kultural, Lingkungan mencakup segenap stimulasi
interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungan nya dengan perlakuan ataupun
karya orang lain. Nilai-nilai mental dan spiritual memainkan sebuah peran
efektif yang berharga dalam lingkungan social melalui pendidikan.
Setiap
individu mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan sekitar terutama lingkungan
pergaulan. Hubungan-hubungan antara manusia baik individu maupun antar
kelompok, tingkat keharmonisan yang dirasakan oleh masyarakat serta tingkat
kemampuan lingkungan untuk merealisasikan berbagai kebutuhan individu, semuanya
bisa mempermudah atau mempersulit proses pendidikan dalam rangka pembentukan
kepribadian. Manusia berkembang dalam dua dimensinya sekaligus, yakni
potensi-potensi internal manusia dan lingkungan alam maupun lingkungan social.
Al-Qur’an menyinggung ini dalam QS. Al A’raf ayat 58.[25]
وَالْبَلَدُ
الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ۖ وَالَّذِي خَبُثَ لَا يَخْرُجُ
إِلَّا نَكِدًا ۚ
كَذَٰلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ
يَشْكُرُونَ
Artinya : Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya
tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur,
tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda
kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.
Para ahli pendidikan membagi
lingkungan dimana umat manusia hidup menjadi dua. Pertama, Lingkungan alam
yakni bumi dengan semua yang ada diatas dan dibawah serta pada berbagai
kekuatan dan energinya. Ilmu Pengetahuan alam yang dimulai dengan informasi
sederhana yang diberikan kepada pembelajar sampai kepada biologi, kimia, fisika
adalah berkaitan dengan lingkungan alam. Kedua, lingkungan social yakni
masyarakat manusia serta berbagai hubungan antara individu-individu dan
kelompok-kelompok. Hubungan pergaulan, ekonomi, politik, profesi, budaya dan
psikologi semuanya itu berkaitan dengan lingkungan social.[26]
Namun demikian, Lingkungan
bukanlah factor yang tetap membentuk dan mengarahkan jati diri manusia, kaena
ternyata para Nabi tumbuh diantara lingkungan social yang kaumnya mencaci maki
dan keras hati untuk diajak kepada agama Allah. Allah juga memberikan contoh
istri Nabi Nuh dan Nabi Luth yang keduanya sangat tidak suka keberadaan kedua
Rasul tersebut. Iman istri Fir’aun kokoh sekalipun berada dalam genggaman
Fir’aun yang Dzalim bahkan mengaku
sebagai Tuhan[27].
c.
HAKIKAT KEBEBASAN MANUSIA
Islam mengakui keberadaan
pengaruh hereditas dan alam lingkungan alam maupun lingkungan social dalam
pembentukan kepribadian. Namun kedua factor yakni endogen ( hereditas ) dan
eksogen (alam lingkungan ) tidaklah berjalan secara otomatis. Sekalipun
seseorang berada pada lingkungan sekitar yang baik dan heredtasnya baik, belum
tentu ia menjadi baik pula. Begitu juga sebaliknya. Karena dengan kehendak
bebas manusia dan kemampuannya sesuai dengan batas-batas kemanusiaan nya akan
dapat mengalahkan dua factor pengaruh tersebut dengan pertolongan Allah ( Bi
Ma’unatillah) dan hidayah Allah[28].
Menurut Iman Ibnu Katsir
bahwa hidayah ini dibatasi masalah iman saja. Karena hidayah ialah sesuatu yang
ditetapkan dan dihujamkan dalam kalbu seseorang yakni iman. Apa yang diketahui
oleh manusia tentang hukum-hukum alam (sunnatullah) termasuk hereditas alam dan
alam lingkungan tentu sifatnya nisbi (masih bersifat mungkin) bukan absolut
(kepastian). Karena Absolut dan pasti sebenarnya hanyalah kebenaran yang datang dari
Allah. Kisah kafirnya Kan’an bin Nabi Nuh, keteguhan iman istri Fir’aun dan
lain-lain merupakan cerminan dari pernyataan bahwa ilmu manusia itu sifatnya
nisbi.
Dengan demikian, pendidikan
islam bersandar pada tiga nilai dasar yang saling berpengaruh dalam pembentukan
kepribadian, yakni : Tabiat individu, factor lingkungan (Lingkungan alam maupun
lingkungan social) serta factor kehendak
bebas manusia. Tiga hal tersebut di bawah naungan Pertolongan dan
hidayah Allah. Kepribadian seseorang tidak lain merupakan hasil interaksi
antara tabiat (nature) kemanusiaannya, kehendak dan kemauan bebasnya serta
factor-faktor lingkungan sosialnya[29].
D.
PERANAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBERDAYAKAN HAKIKAT HEREDITAS,
LINGKUNGAN, DAN KEHENDAK BEBAS ATAS HIDAYAH ALLAH SWT
Ilmu yang membahas tentang hereditas telah menetapkan, bahwa
anak akan mewarisi sifat-sifat dari orang tuanya, baik moral (al-khalqiyah), kinestetik (al-jismiyah) maupun inteklektual (al-‘aqliyah), sejak masa kelahirannya.
Namun harus diakui pula tidak selamanya faktor hereditas berjalan secara
otomatis. Karena dengan adanya kehendak bebas manusia, akan mampu mengalahkan
faktor al-warisah dan liungkungan
atas pertolongan allah. Seperti anak Nabi Nuh, yang bernama Kan’an, ia kafir
terhadap risalah bapaknya, sekalipun Nabi Nuh adalah manusia pilihan Allah dan
menjadi Rasun-Nya (QS. Hud [11]:43 dan 46). Azir, Bapak Nabi Ibrahim adalah
musyrik dan Ibrahim berusaha mengajaknya ke jalan Allah. Namun Azir menjawab
dengan perlakuan yang kejam dan mengancam dengan ancaman rajam kalau Ibrahim
tidak behenti dari mengajaknya ke petunjuk Allah (QS. Maryam,[19]:46). Dari
sini dapat dipahami pendapat al-azim, bahwa baik faktor hereditas maupun faktor
lingkungan secara signifikan ilkut membentuk kepribadian manusia. Namun harus
diingat pula bahwa kehendak bebas manusia akan mampu mengalahkan dua pengaruh
tersebut atas pertolongan Allah (bi
ma’unatillah) sekalipun hal ini dilupakan oleh ulama[30].
Lingkungan atau alam sekitar punya peranan penting dalam
pendidikan islam. Karena lingkungan merupakan elemen yang signifikan dalam
pembentukan personalitas serta pencapaian
keinginan-keinginan individu dalam kerangka umum peradaban. Biasanya
individu-individu dimasyarakat mengikuti kebisasaan yang ada dimasyarakat
dengan sadar atau tidak sadar. lingkungan itu sebenarnya mencangkup segala
material dan stimuli didalam dan diuar dari individu, baik yang bersifat
fisiologis, psikologis, maupun sosi-okultural serta tradisi. Dengan demikian,
lingkungan dapat diartikan secara fisiologis, secara psikologis, dan secara
sosio-kultural.
Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi
dan materi jasmani di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu,
sistem syaraf, peredaran darah, pernafasan, pencernaan makanan,
kenlenjar-kelenjar indokrin sel-sel pertumbuhan, dan kesehatan jasmani. Secara
psikologis, lingkungan mencangkup segenap stimulus yang diterima oleh individu
sejak dalam kandungan, kelahiran, sampai matinya. Secara sosio-kultural,
lingkungan mencangkup segenap stimulus interaksi, dan kondisi eksternal dalam
hubungannya dengan perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup keluarga,
pendidikan, pergaluan kelompok, pola hidup masyarakat, latihan belajar,
pendidikan pengajaran, bimbingan, dan penyeluruhan, budaya, dan tradisi. Selain
itu, ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah, geografis, pendidikan, ekonomi dan
politik, berkaitan dengan lingkungan sosial. Nilai-nilai mental dan spiritual
memainkan sebuah peran efektif yang berharga dengan lingkungan sosial melalui
pendidikan[31].
Islam telah mengenal aspek paling signifikan untuk
memunculkan reaksi-reaksi individu dalam mendapatkan berbagai kebiasaan dan
moralitas. Aspek ini ialah persahabatan, yang merupakan unsur pendidikan paling
kuat yang mentransfer sifat-sifat dan kecenderungan-kecenderungan individu.
Kehidupan sosial adalah kehidupan saling pengaruh. Setiap individu dipengaruhi
dan mempengaruhi lingkungan sekitar terutama lingkungan pergaulan.
Hubungan-hubungan antar manusia, baik individu maupun antar kelompok, tingkat
keharmonisan yang dirasakan oleh masyarakat, serta tingkat kemampuan lingkungan
untuk merealisasikan berbagai kebutuhan individu, semuanya bisa mempermudah
atau mempersulit proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian.
Manusia berkembang dalam dua dimensinya sekaligus, yakni potensi-potensi
internal manusia dan lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial[32].
Al-qur’an dan hadits memperhatikan faktor lingkungan
ini dalam pembentukan jati diri manusia. Pengaruh lingkungan ini dapat dijumpai
dalam Al-Qur’an, seperti tanah yang subur akan tumbuh dengan subur tanaman-tanaman :dengan seizin allah.
Dan sebaliknya tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana
(qs. Al-a’raf [7]:58). Allah melebihkan sebagian tempat daripada tempat lainya.
Seperti kelebihan kota Mekah, Baitul Maqdis, Bukit Sina yang merupakan tempat
besar para Nabi (QS. At-Tin, [95]:1-6, Al-Maidah [5]:21;Al-Isra’[17]:1).
Pengaruh lingkungan itu nampak pada pertumbuhan Maryam ketika allah
melindunginya karena kemuliaan keluarga yang baik (QS. Ali Imran [3]:37). Dalam
hadits juga disebutkan:
Artinya: bahwa nabi SAW bersabda: sekali sholat
dimasjidku (Nabi SAW) lebih utama dari pada 1000 kali sholat dimasjid lain
kecuali dimasjidil haram.
Artinya: bahwa sekali sholat dimasjid nabi lebih utama
dari pada seribu kali sholat dimasjid lainnya kecuali masjid haram dan sekali
sholat di masjid haram lebih utama seratus ribu dari pada sholat dimasjid
lainya[33].
Namun demikian, bahwa lingkungan itu bukan faktor yang
tetap membentuk dan mengarahkan jati diri manusia, karena ternyata para nabi tumbuh fokepada agama allah. Allah
memberikan contoh Nabi Nuh dan istri Nabi Luth yang keduanya dsangat tidak suka
keberadaan kedua rasul tersebut. Iman istri Fir’aun kokoh sekalipun berada
dalam genggaman Fir’aun yang zalim, bahkan Fir’aun mengaku dirinya sebagai
Tuhan (QS. Al-Tahrim [66]:1-12).[34]
Dengan demikian islam mengaku keberadaan pengaruh
hereditas dan alam baik lingkungan alam maupun lingakungan sosial dalam
pembentukan kepribadian manusia. Namun dua faktor yakni endogen (hereditas) dan
eksogen (alam lingkungan) tersebut tidaklan berjalan secara otomatis. Artinya,
sekalipun seorang berada dalam lingkungan yang jelek dan hereditasnya baik,
belum tentu ia menjadi baik pula. Sebaliknya, sekalipun seseorang berada dalam
lingkungan yang jelek dan hereditasnya yang kurang baik, mungkin saja ia
menjadi baik. Karena dengan kehendak bebas manusia dan kemanpuannya sesuai
dengan batas-batas kemanusiaanya akan dapat mengalahkan dua faktor pengaruh
tersebut atas pertolongan allah dan hidayah allah. Menurut imam ibnu katsir
bahwa, hidayah ini dibatasi masalah iman saja. Yang dimaksud dengan hidayah
adalah sesuatu yang ditetapkan dan dihujamkan dalam qolbu seseorang yakni iman.
Apa yang ketahui oleh manusia tentang hukum-hukum alam (sunatullah) termasuk
hereditas dan alam lingkungan tentu sifatnya nisbi (masih bersifat mungkin)
bukanlah suatu kepastian dan absolut. Absolut dan pasti sebenarnya hanyalah
kebenaran yang datang dari allah. Hal ini juga yang disinyalir Shihab,
seseorang ahli tafsir konteporer, bahwa setiapmuslim percaya sepenuhnya bahwa
tata kerja alam raya berjalan konsisten sesuai dengan hukum-hukum yang
ditetapkan oleh allah. Tetapi, pada saat yang sama, tidak tertuup kemungkinan
terjadinya peristiwa-peristiwa yang berbeda dengan kebebasan-kebebasan yang
dilihatnya sehari-hari, karena baik yang terlihat sehari-hari maupun yang tidak
bisa terlihat, keduanya sama ajaib dan mengagumkan. Apalagi sebagian banyak hal
yang oleh generasi masa kini dinilai ‘biasa’, pernah dinilai luar biasa oleh
generasi terdahulu. Kisah kafirnya Kan’an bin nabi nuh, keteguhan iman istri
Fir’aun dan lain-lain merupakan cerminan dari peryataan bahwa ilmu manusia itu
sifatnya nisbi. Dengan demikian, pendidikan islam bersandar pada 3 nilai dasar
yang asasi yang saling berpengaruh dalam proses pembentukamn kepribadian
manusia, yaitu : tabiat indibvidu, seperti kapasitas akal, kalbu, nafs, fisik,
dan lain-lain; Faktor lingkungan, baik lingkungan lam maupun sosial,
teristimewa lingkungan sosial; dan Faktor kehendak bebas manusia merespon
dirinya, dan lingkungannya. Tiga faktor tersebut berada dalam kawalan
pertolongan dan hidayah Allah. Kepribadian seseorang tidak lain merupakan hasil
interaksi antara tabiat (nature) kemanusiaan nya, kehendak dan kemauan bebasnya
dan faktor-faktor lingkungan sosialnya.[35]
BAB
IV
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Pendidikan
Islam merupakan suatu tabiat yang sekaligus amanat yang harus diperkenalkan
oleh suatu generasi ke generasi berikutnya, terutama dari orang tua atau
pendidik kepada anak-anak dan murid-muridnya. Dalam hal ini, konsep pendidikan
Islam mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman
pada syariat Allah SWT.
2. Tujuan
akhir dan tertinggi pendidikan Islam ialah menjadikan manusia bertakwa yang
beribadah/menghamba kepada Allah (ketundukan secara total kepada Allah) dalam
arti yang seluas-luasnya.
3. Pengaruh hereditas dan lingkungan tidaklah berjalan secara
otomatis dalam pembentukan kepribadian manusia, diperlukan kehendak bebas
manusia karena dengan kehendak bebas manusia dan kemanpuannya sesuai dengan
batas-batas kemanusiaanya akan dapat mengalahkan dua faktor pengaruh tersebut
atas pertolongan allah dan hidayah allah.
B.
SARAN
Pembahasan tentang konsep peranan pendidikan Islam dalam
memberdayakan hakikat hereditas, lingkungan, dan kehendak bebas atas hidayah Allah
SWT ini sangat menarik jika terdapat banyak referensi pembanding selain yang
penulis sampaikan dalam makalah ini. Dengan otomatis suasana akademik lebih
mewarnai bagi pembaca, dari sisi lain penulis menyarankan agar para pembaca
terus melakukan kajian lebih lanjut dan mendalam agar pemahaman yang lebih luas
akan diperoleh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar